
Pernyataan cinta yang tiba-tiba diucapkan oleh Judika, sukses membuat Stella bungkam seribu bahasa. Dia melongok, tidak langsung percaya begitu saja dengan apa yang baru saja Judika ucapkan.
"Jangan bercanda." Menampik keras genggaman tangan Judika.
"Gue gak bercanda, Stel. Gue benaran suka sama lo." Berusaha kembali meraih tangan wanita itu, tetapi segera mungkin Stella menjauh. Menyembunyikan tangannya dengan cara bersedekap.
"Apa perlu gue ingatin bagaimana caranya lo ngebongkar penyamar kita?" Stella mendelik menatap Judika lekat. "Lo sendiri, kan yang nembak cewek di depan abang lo sendiri. Eh, eh sekarang malah nyatain cinta sama gue. Ini pasti ada udang di balik bakwan."
Ah, kejadian itu ternyata Stella telah mengetahui. Pikir Judika.
"Gini-gini biar gue jelasin."Judika merubah posisi duduknya. "Dia itu Laras, anak sastra Inggris semester terakhir..."
"Terus?"
"Gue gak pacaran sama dia, Stella. Sumpah." Mengangkat dua jarinya membentuk huruf V. "Ya, emang waktu itu niat gue nembak dia. Tapi lo tau sendiri, kan gue kaya gimana. Gue ga serius sama dia, sumpah. Dia cuma salah satu mainan gue aja."
"Oke. Jadi lo nembak gue juga buat di jadiin salah satu koleksi lo, atau ada alasan lain? Yah, kaya takut kalah saing gitu sama abang lo yang super tajir itu?"
Judika mengaruk-garuk kepalanya yang tak terasa gatal. Dia binggung bagaimana cara menjelaskan kepada wanita di depannya ini. Jikalau, dirinya benar-benar mencintai Stella dengan tulus berbeda dengan perasaannya kepada wanita-wanita atau mantan-mantan yang lainnya.
"Stella percaya sama gue, gue emang playboy cewek gue banyak. Tapi please percaya, kalau gue cinta sama lo tulus. Gak ada niatan gue nyakitin lo, apalagi mainin lo. Gak ada!" tegasnya dengan napas yang menggebu-gebu dan mata yang berbinar-binar.
Jujur saja, Stella sebenarnya ingin sekali percaya dengan ucapan Judika dan mau menerima lelaki itu sebagai kekasih. Mengingat dirinya juga menyukai Judika sedari dulu. Tetapi, entah mengapa hatinya ragu dan takut jika Judika hanya mempermainkannya saja yang berujung akan menyakiti dan meninggalkannya. Stella tak ingin itu terjadi, apalagi sampai harus berdampak kepada persahabatan mereka. Stella benar-benar tak ingin persahabatannya yang telah lumayan lama terjalin itu hancur hanya karena sebuah perasaan saja.
"Gue benar-benar tulus sama lo, Stella. Gue gak perduli bagaimana masalalu lo, keluarga lo, dan apapun itu. Gue benar-benar gak perduli. Tolong! Tolong percaya sama gue, Stella."
"Jud..." Stella menyibak rambut. "Gue bukan gak mau jadi pacar lo, gue cuma gak mau mengotori persahabatan kita hanya karena sebuah rasa, Jud. Please ngerti."
Judika terdiam. Termenung dengan posisi duduknya yang telah kembali memegang setir mobil. Dia tak menjawab, dan langsung menancap gas mobil sport itu kembali.
Stella sedikit merasa bersalah telah menolak cinta Judika, hatinya juga meronta sakit karena membohongi diri sendiri dengan menolak orang yang di cintai. Tapi persahabatan yang telah terjalin lama, itu lebih penting dari apapun. Stella tak ingin, benar-benar tak ingin mengotori persahabatan mereka.
Hingga keduanya tiba di rumah sakit, Judika tetap bungkam. Dia memang setia mengantarkan Stella, menunggu dia di periksa dokter, hingga membayar semua tagihan rumah sakit. Namun, sikap lelaki itu berubah. Dia diam tak berbicara sepatah katapun kepada Stella. Meskipun sesekali dia terlihat begitu khawatir ketika dokter memberikan salep di punggung tangan Stella yang terluka.
"Makasih ya, Jud," ucap tulus Stella, saat tiba di depan apartemennya.
Dia sudah berdiri di luar mobil, menutup mobil itu dengan gerakan pelan dengan masih berharap Judika membalas ucapannya.
Namun, sampai pintu mobil sport itu telah tertutup rapat tak ada ucapan atau jawaban sedikit dari mulut Judika. Lelaki itu justru pergi begitu saja, meninggalkan Stella yang melongo menatap mobil mewah itu hingga menghilang.
Sepertinya Judika marah kepadanya. Karena ucapan Stella, dan juga penolakan cintanya. Andai saja, Stella bisa jujur akan perasaannya kepada Judika. Mungkin ceritanya akan berbeda. Namun, sudahlah Stella tak ingin ambil pusing. Lagi pun, Judika bukan lah lelaki pemarah. Stella yakin beberapa hari kedepan, dirinya sudah kembali seperti semula. Dan, persahabatannya itu adalah yang terpenting di bandingkan apapun.
__ADS_1
Setelah meyakini mobil yang di kendarai Judika benar-benar telah pergi, Stella beranjak masuk ke dalam apartemen. Dia menekan-nekan sandi pintu apartemen dan masuk ke dalamnya dengan rasa tubuh yang lelah dan tangan yang terasa sakit, meskipun tak sesakit tadi.
Apartemen kosong, dan gelap seperti biasa. Stella melangkah menanggalkan sepatunya dan meletakannya di rak sepatu tepat berada di depan pintu masuk.
Keningnya mengeryit, saat dia menemukan sepasang sepatu lelaki mengkilap yang juga telah berada rapi di rak sepatu.
Deg...
Stella melongok sekilas ke arah ruang tamu apartemennya. Sayang, dirinya tak dapat melihat apapun di sana karena gelap gulita. Jantungnya berdebar cukup keras, keringat tiba-tiba mengalir keluar dari pori-pori kulitnya. Sepatu itu... sepatu itu milik orang asing. Stella menyakini, jika ada seseorang yang menyelinap masuk ke dalam apartemennya.
Matanya melirik kesana kemari, mencari-cari benda yang bisa ia gunakan untuk memukul orang yang telah berani menyelinap masuk ke dalam apartemennya tanpa permisi. Ada sapu yang memang ia letakkan di pojok rak sepatu. Stella langsung meraihnya, mengangkat tinggi-tinggi sapu itu dan bersiap melangkah menangkap orang yang berani menyelinap ke apartemennya itu.
Tap... Tap... Tap
Perlahan, Stella melangkah dengan pelan dan mengendap-endap.
"Stella..."
"Akhh..." Pekik Stella, mendengar suara seorang lelaki di dalam ruang tamu apartemennya.
Dia mengedarkan pandangannya, mencari-cari siapa lelaki itu di tengah kegelapan apartemen. Tanpa pikir panjang, dia meraih tombol lampu dan menyalahkannya.
"What wrong, Stella?" Reza duduk dengan tenang di sofa single ruang apartemennya.
"Se... sedang apa anda di sini, Mr.Oley?" tanya Stella dengan nada terbata-bata dan napas yang naik-turun.
"Menepati janji. Kita akan bertemu sore ini, bukan?"
"Ya. Tapi ini masih jam lima sore, Tuan," seru Stella. "Dan kau masuk ke dalam sini, bagaimana bisa?"
"Itu mudah untukku." Beranjak bangun dari sofa, berjalan menuju dapur dan mengambil sebotol air minum dari kulkas dua pintu.
"Ya, I no." Stella tau maksud perkataan Reza. Bagaimana pun, dia juga seorang yang jenius teknologi. Untuk membobol rumah dengan keamanan serendah itu baginya sangat lah mudah. "Tapi ini masih siang, tuan. Untuk apa kau datang sekarang."
"Aku hanya berusaha datang tepat waktu." Meletakan botol air minum yang tinggal setengah itu di atas meja makan yang letaknya menyatu dengan dapur. Kemudian duduk di kursi makan, bersedekap menatap Stella dengan tatapan sensualnya.
"What?" Binggung dan memerah, karena Reza menatapnya begitu intim.
"Tidak ada?"
"Ok..." Menghela napas, mencoba mengumpulkan akal sehatnya. "Aku akan ke atas untuk bersih-bersih lebih dulu." Menunjuk ke lantai atas dengan ibu jarinya, di mana kamarnya berada.
__ADS_1
"Silahkan."
Bruk...
Stella menghela napas, sembari menyenderkan tubuhnya di daun pintu. Degup jantungnya seakan baru saja ikut lomba lari maraton. Oh, kenapa dua kakak beradik itu sungguh sangat menyusahkan Stella. Baru saja selesai dengan keposesifan Judika, kini berganti dengan intimidasi dan menakutkannya wajah Reza. Stella tak bisa berpikir jernih. Dia menggipas-ngipas tubuhnya yang di banjiri penuh dengan telapak tangannya.
Sedetik dia masih mengumpulkan kesadaran dan akal sehatnya, sampai sesuatu yang begitu penting tiba-tiba menerjang otaknya.
Flashdisk itu...
Mata Stella membeliak lebar. Menyadari jika flashdisk yang berisi data-data Oxley General belum ketemu sampai sekarang.
Dengan tergesa-gesa Stella pun menghambur, membuka lemari bajunya dan mengeluarkan semua isinya.
Tak ada di dalam lemari baju. Dia mendesah frustasi memegang keningnya.
Setelah itu, dia beranjak membongkar isi lemari tasnya, mengeluarkan semua tas kerjanya yang jumlahnya tak seberapa itu guna mencari apakah flashdisk tersebut ada di sana.
Namun, lagi-lagi flashdisk itu tidak ketemu. Berhasil membuat Stella semakin di dera rasa ketakutan.
Tak gentar, Stella meninggalkan begitu saja tas dan baju-bajunya yang berserakan di lantai. Menghambur menuju ke meja kerjanya. Disana terdapat sebuah tas besar yang di letakan begitu saja di ujung tas, menyenderkan dengan dinding jendela apartemen.
Ini kesempatan terakhir Stella. Karena tak ada lagi tempat yang ia bisa simpan untuk flashdisk sepenting ini.
Tangannya terangkat hendak mengambil flashdisk, tetapi sebelum membuka sleting tas tersebut. Mulutnya terlihat komat-kamit tak jelas, nampak seperti Stella sedang mengucapkan mantra yang tak jelas.
Matanya terpejam, dia menghela napas keras sambil berkata. "Tolong ada, dan selamatkan hidupku kali ini saja."
Sret...
Tas terbuka, mata Stella berbinar cerah. Tangannya masuk ke dalam tas dan keluar kembali dengan benda kecil berbentuk panjang mengilat. Dia tersenyum, menampakkan gigi-gigi putihnya.
"Akhh akhirnya, setelah sekian abad ternyata lo disini flashdisk." Gembira karena menemukan flashdisk yang hilang itu. Stella nampak seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan balon.
Setelah lega flashdisk yang selama ini dia cari-cari sudah ketemu, kini waktunya Stella untuk ganti baju.
Dia memakai kaos yang super ketat, celana jeans. Dia mengumpulkan rambut-rambutnya, mengikatnya tinggi-tinggi. Dan, tanpa dia sadari, dia memakai bedak, lipstik, dan dandanan lainnya. Itu tidak seperti biasa. Karena, Stella tidak pernah make-up dan tidak bisa make-up.
Stella juga menyemprotkan parfum yang sudah empat bulan tidak habis-habis itu ke seluruh tubuhnya begitu banyak. Hingga wangi menyeruak memenuhi seisi kamar tidurnya.
Senyap, dia terdiam, berdiri menatap pantulan dirinya di cermin meja riasnya kaku.
__ADS_1
"Apa yang gue lakukan? Kenapa gue melakukan ini semua?" Menatap bingung botol parfumnya.
TO BE COUNTINUE...