Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Langkah


__ADS_3

Setelah beres dengan bekerjanya, Stella beranjak naik ke ranjang. Membungkus tubuhnya dengan selimut tipis berbulu. Sejenak pikirannya melayang, kembali mengingat akan memori pertemuan pertamanya dengan Reza. Lelaki itu begitu tampan, dan sangat mirip dengan Judika. Namun, karisma yang di miliki lelaki itu begitu kuat, Stella yakin takkan ads wanita yang dapat tahan dengan pesonanya. Termasuk juga dirinya. Namun, ia juga tak dapat menampik dengan mata tajam bak mata burung elang yang membuatnya bergedik ngeri setiap kali mengingat. Sorot matanya yang biru indah, yang begitu tajam, seperti menyimpan banyak luka dan dendam yang telah lama. Entah, luka dan dendam seperti apa yang bersemayam di dalam dirinya. Stella pun tak tau, tetapi satu yang jelas dia merasa sedikit iba melihat sorot mata itu.


Lama, Stella berkelana memikirkan sosok Reza tanpa ia sadari berlahan Stella mulai terpejam berjalan pelan-pelan meninggalkan fana dan menuju dunia mimpi.


Aku terjerambab saat Nick mendorongku. Tersungkur di padang ilalang layu berbau busuk. Tanah di sana nampak berbeda. Berlumpur dan berwarna agak kemerahan. Bau bangkai yang begitu busuk, sangat menganggu indra penciuman ku. Aku mencoba bertanya kepada Nick tetapi dia diam seribu bahasa. Wajahnya tak terlihat karena Nick selalu memakai topeng kemanapun. Tapi aku kenal dengan dirinya, karena diantara anggota kami hanya Nick lah yang berpenampilan paling nyentrik; berbaju serba hitam, dengan topeng hampir menutupi semua bagian wajahnya.


Sebuah mobil Van hitam terlihat berhenti tak jauh dari tempat ku dan Nick berdiri. Seorang wanita paruhbaya juga tiga lelaki berbadan besar dan tegap keluar dari dalamnya. Wanita paruhbaya itu berjalan menghampiri ku dan Nick, sementara ketiga lelaki berbadan besar mengeluarkan sebuah karung cukup besar dari bagasi mobil.


Tergopoh-gopoh mereka membawa karung itu. Seperti sangat berat, terlihat jelas dari cara mereka mengangkatnya. Aku terus mengawasi mereka, tak rela melepaskan pengelihatan ku dari aktivitas mencurigakan itu. Cukup jauh mereka membawa karung besar itu, hingga mereka tiba di kubangan lumpur di tengah padang ilalang. Dengan kasar, mereka meleparkan karung itu ke dalam lumpur. Kemudian tak lama salah satu dari mereka menyeret derigen minyak. Mengguyurkan semua isinya di atas karung itu dan mengeluarkan pemantik. Berlahan percikan api mulai terlihat, menjadi sebuah api sedang yang lama-kelamaan membumbung tinggi. 


Entah sejak kapan wanita paruhbaya itu tiba di dekatku. Aku tak menyadari itu. Aku terlalu fokus melihat aktivasi tiga lelaki berbadan besar itu. Hingga sebuah jambakan amat menyakitkan menyadarkan ku. Aku meringis, mendongakkan kepala menatap siapa yang berani menjambak rambutku. Sebuah mata hitam legam tajam menyorotiku. Wanita paruhbaya itu mengedus kesal menatapku dan sesekali mencengkram dengan kuat jambakannya.

__ADS_1


"Dasar bocah lemah. Kau Nadila lemah, Nadila bodoh tak berguna. Kau akan menjadi orang paling sial di dunia ini, sekalipun ada pangeran yang datang mencintaimu. Takdirmu akan tetap sama baik dulu sekarang atau nanti. Nadila lemah, tak berguna, bodoh."


Dengan sekuat tenaga aku meronta. Tidak mendengarkan ucapannya dan mencoba melepaskan diri dari Jambakannya. Tapi semakin aku berusaha bergerak, wanita paruhbaya itu semakin kuat mencengkram rambutku. Dia mendorong ku, begitu kasar hingga aku tersungkur dan jatuh di dalam kubangan lumpur. Seketika tubuhku kotor, bak seekor babi yang sedang bermain di lumpur. Uh... Sangat menjijikkan, bau busuk bangkai semakin tercium di hidungku. Rasanya aku ingin muntah, mengeluarkan semua isi di dalam perutku.


Namun, dari banyaknya hal menjijikkan yang aku rasakan ada satu hal yang membuatku binggung dan di susul dengan rasa terkejut bukan main. Saat aku mencoba bangkit tanpa sengaja tanganku menyentuh sesuatu. Sesuatu yang begitu kenyal. Aku menoleh, mencoba memastikan apa yang tanganku sentuh. Seketika itu pula mataku terbelalak kaget. Aku berteriak histeris ketika tau apa yang aku sentuh ada sebuah perut. Perut manusia yang sudah nyaris hancur.


Wanita paruhbaya dan Nick melihat ku histeris seperti itu malah tertawa terbahak-bahak, bertepuk tangan sesekali bersorak menertawakan ku. Saat itu juga sebuah dentuman keras seperti menghantam kepalaku. Tubuhku goyang, tak stabil. Seperti ada sebuah gempa dengan guncani yang cukup keras. Tawa Nick dan wanita paruhbaya itu semakin keras, bersamaan dengan mataku yang mulai buram. Aku mencoba menggosok-gosok mataku, tetapi itu malah bertambah buruk. Aku seperti terlempar di dunia dimensi lain, semua di sekitarku tiba-tiba menghilang. Warna hijau ilalang dan langit biru seperti di tumpuk di campur menjadi satu menjadikan dua warna yang semakin membuat kepalaku sakit. Telingaku pun berdengung, cukup keras hingga semua berlahan-lahan mulai menjadi hitam dan gelap.


Keringan dingin membanjiri kening dan leher. Untuk beberapa saat, Stella menoleh melihat jam Walker yang terletak di atas nakas kecil kasurnya. Jam delapan pagi. Itu sudah pagi. Stella mengelap keringatnya dengan kasar, menghela napas lega dan berusaha menenangkan diri.


Mimpi buruk yang baru dia alami, adalah salah satu ingatannya di masa lalu. Saat, ia masih berada di bawah kuasa Cyberfriend. Itu sangat menakutkan. Sungguh, benar-benar sangat menakutkan. Saking takutnya, Stella bahkan tak menyadari sinar matahari yang sudah mulai meninggi menyinari kamar indekosnya. Kicauan burung merpati pun terdengar di balik jendela kaca kamar indekos. Sekali lagi, ia menghela napas. Namun kali ini di barengi dengan pejaman mata.

__ADS_1


Saat dirinya yakin kewarasan dan kesadarannya telah kembali. Stella beringsut turun dari kasur. Berjalan dengan tergopoh-gopoh menujuh kamar mandi. Ia menyalahkan keran air, langsung membasuh wajahnya untuk mengusir sisa-sisa mimpi buruk tadi.


Mentari dan mendung bagai sedang berlomba menguasai langit pagi itu. Beberapa saat yang lalu, matahari dengan gagah menyinari seluruh bumi, sinarnya bahkan menantang masuk ke dalam cela jendela kamar indekos Stella. Namun, sesaat kemudian saat Stella selesai mandi, kini mendung mulai bergelayut. Menampakkan awan abu-abu kelabunya dan siap mengeluarkan kesedihannya. Tetapi seperti pepatah bilang; mendung belum berarti hujan. Dan pagi pun sama meskipun mendung menghujami bumi tak sedikitpun tetesan air hujan yang membasahi bumi.


Stella menyandarkan bahu di mobil taksi online. Berkelana di dalam otaknya sambil menatap jalanan mendung kota Bekasi. Otak Stella serasa di hujami belati begitu sakit dan nyeri. Pertemuannya dengan Reza secara tiba-tiba, lalu seorang penyusup yang ia yakini adalah anak buah Mr.Robinson menambah daftar panjang kehidupan suram yang harus ia jalani. Ia bahkan kehilangan lebih dari separuh nyalinya untuk menghadapi semua itu. Ia seperti berada di dasar jurang yang dalam dan dangkal. Stella harus keluar, entah bagaimana caranya. Mau itu berteriak meminta pertolongan atau merangkak dengan luka berdarah sekalipun. Maka langkah pertamanya adalah datang ke tempat itu. Tempat dimanaimana permasalahan pertama bermula.


Taksi online yang di naiki Stella berhenti di depan sebuah pintu gerbang besi tinggi menjuntai. Sejenak Stella berdiri di sana. Kepalanya menengadah, menatap pintu gerbang besi besar itu beberapa saat. Lapas klas 11A Salemba terpampang jelas di atas pintu gerbang. Stella terus menatap pintu gerbang itu, sebelum kemudian memantapkan diri untuk masuk ke dalam sana.


Saat dirinya telah melangkah masuk ke dalam lapas. Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan lapas itu juga. Tak beberapa lama seorang lelaki berjaket Boomber dengan kacamata hitam keluar dari dalamnya. Sejenak sama seperti Stella, dia berdiri dan menatap pintu gerbang lapas itu. Sebelum kemudian dia membuka kacamatanya dan melangkahkan masuk ke dalam lapas.


TO BE COUNTINUE...

__ADS_1


__ADS_2