Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
S2: Menjadi Sultan Sehari


__ADS_3

sudah hampir tiga jam, Stella mengelilingi Bond Street. Namun, hanya ada dua papper bag yang dia tenteng. Satu papper bag berisikan jam tangan merek Rolex, dan satu papper bag berisikan baju hamil milik Dior. Kakinya tak henti, terus melangkah mengitari kawasan elit bond street. Hanya dengan mengelilingi tempat mahal itu saja, Stella sudah senang dan bahagia bukan main. Dia tak pernah menyangka akan dapat menginjakkan kakinya di tempat keluarga kerajaan Buckingham berbelanja.


Langkahnya terhenti di sebuah toko pengerajin keramik. Hatinya terketuk untuk melangkah masuk ke dalam sana dan melihat kerajinan keramik yang toko serba putih itu buat.


"Selamat datang di toko kami." Beberapa pelayan baik wanita dan pria menyambut kedatangan Stella.


Bau tanah liat menyeruak memenuhi indra penciuman Stella. Entah mengapa, dia sangat menyukai bau itu. Dirinya bahkan tersenyum sembari menghirup kuat-kuat aroma tanah liat yang sebetulnya tidak terlalu kuat.


"Apa aku boleh melihat-lihat kerajinan yang kalian buat?" tanya Stella ramah kepada salah satu pelayan wanita yang menghampiri dirinya.


Dengan sopan dan seulas senyuman, pelayan itu menganggukkan kepala menyetujui permintaan Stella. Dengan sabar dan lihainya, pelayan itu mengajak Stella berkeliling toko untuk melihat koleksi keramik yang toko itu miliki.


"Ini adalah guci antik yang langsung kami datangkan dari Yunani. Dahulu, guci ini di miliki oleh dewa Zeus untuk menyimpan senjata kesayangan." Teliti Stella membaca informasi mengenai sebuah guci antik yang terlihat begitu kuno sambil telinganya mendengarkan ucapan si pelayan wanita.


"Ini adalah tembikar atau keramik Tiongkok. Seperti banyak orang tau, orang-orang eropa sangat menyukai keramik-keramik buatan Tiongkok. Selain karena memiliki nilai sejarah yang panjang dan kuno, keramik Tiongkok juga memiliki corak yang rumit dan amat sulit untuk di tiru. Seperti contoh bangku taman peninggalan dinasti Yuang."


"Apa semua ini di jual?" tanya Stella heran. Pasalnya semua yang berada di toko ini adalah kerajinan keramik yang berasal dari jaman dahulu yang biasanya di temukan di museum bukan toko, yang biasanya di pamerkan untuk di simpan sebagai aset negara dan budaya, bukan di jual untuk kepentingan pribadi.


"Ya. Tentu semua yang berada di toko ini di jual. Anda tidak usah khawatir akan melanggar hukum, karena toko kami sudah memiliki tanda legal untuk berjualan."


Berdecak dengan mata berbinar kaget, Stella tak menyangka akan menemukan toko unik ini. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan langkah memiliki barang peninggalan sejarah, Stella berniat ingin memiliki sah satu barang yang di miliki toko tersebut dengan nilai dan filosofi yang paling unik.


Dia kembali melangkah, membaca satu persatu informasi mengenai keramik yang di jual di sana. Pelayan di sebelahnya pun, seakan tak ada capeknya mengikuti kemana langkah Stella sembari terus menjelaskan sejarah di balik keramik yang membuat mata Stella terpana.


Terus berjalan menemukan barang yang menurutnya memiliki arti dan filosofi unik, tetapi sayang bagi Stella tak ada satupun yang membuat dirinya terpana untuk segera memiliki. Sedih, Stella pun mulai lemas dan berjalan gontai. Sedangkan pelayan wanita itu tetap terus berceloteh menjelaskan satu persatu kerajinan keramik yang di mereka lewati.


Tak mendapati barang sesuai keinginannya, Stella bersiap pergi meninggalkan toko. Dia kecewa dan sedih. Dengan murung, Stella mengucapkan terimakasih kepada pelayan baik hati yang mau menjelaskan detail satu persatu barang yang di miliki toko tersebut. Namun, saat dirinya hendak keluar dari toko mata hazelnya menangkap sebuah barang dengan bentuk untuk. Stella terpana, mengurungkan niatnya untuk pergi dari toko tersebut dan memilih melihat barang yang berhasil membuat dirinya terkesima.


Stella berdecak, matanya berbinar indah ketika melihat satu set peralatan minum teh khas Chinna terpajang. Ada teko kecil berwarna hijau army polos lengkap dengan tiga gelas ukuran kecil berbentuk tabung tanpa gagang.


Tangannya terangkat, terjulur menunjuk barang antik itu.


"Itu apa?" tanya Stella penasaran.


"Itu adalah cangkir minum teh peninggalan dinasti Joseon dari korea Selatan. cangkir minum teh itu pernah di gunakan oleh Raja ke 10 Dinasti Joseon yang dikenal ditaktor dan kejam. Mitos menyebutkan sang sejak meminum di cangkir keramik itu, sifat sang Raja perlahan mulai berubah menjadi lebih halus."


"Benarkah?" Jelas itu hanya sebagai mitos dan karangan semata. Semua mereka gunakan tentu untuk membuat barang-barang yang mereka jual laku. Namun, anehnya Stella malah terpancing dan hatinya ingin sekali memiliki cangkir teh itu untuk dia gunakan menghidangkan minuman untuk Reza.


Tanpa pikir panjang lagi, Stella langsung menyuruh pelayan itu membungkus cangkir teh tersebut dengan bungkusan khusus. Juga, dia lebih memilih menunggu cangkir miliknya di kemas dan tak ingin cangkir minum teh itu di kirim ke alamat rumahnya yang membuat dirinya menunggu lebih lama.

__ADS_1


"Totalnya seribu tujuh ratus pound."


Woah, itu harga yang cukup mahal hanya untuk satu set cangkir yang bisa ia temui di pasar loakan di kota bandung. Tapi tak mengapa, ini barang antik dari luar negeri yang memiliki bukan hanya nilai sejarahnya saja yang tinggi tetapi juga nilai kemistisannya.


"Aku bayar pakai ini." Menyerahkan black card yang di berikan oleh Reza kepadanya.


Sejenak kasir di toko itu terheran-heran melihat Stella menyerahkan black card milik Reza. Pasalnya para pegawai di toko itu tidak percaya kalau Reza membelanjakan uangnya di toko kami. Jangankan untuk belanja, menginjakkan kakinya di halaman toko pun amat sangat mustahil.


Namun, dia berusaha untuk tetap profesional. Dia segera menyelesaikan transaksi Stella dan mengemas dengan rapih dan aman barang yang telah Stella beli.


Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, akhirnya satu set cangkir minum teh berada di tangannya. Stella tersenyum bahagia berjalan meninggalkan toko. Dia terus bermonolog dalam hati, berharap penuh kepada cangkir minum teh tersebut dapat membantunya mengubah kepribadian Reza.


"Kau beli apa?"


Sebuah sergahan sukses membuat Stella nyaris menjatuhkan semua barang yang di bawa tak terkecuali set cangkir minum teh. Dia terkejut setengah mati melihat sosok Reza berdiri di depannya dengan raut wajah datar.


"Kau... Kau sedang apa di sini?" Sambil memenangi dadanya yang berdebar keras, Stella menyoroti siluet Reza nanar.


Reza hanya berdecak dan membuka kacamata hitam yang melingkar indah di matanya. Sedang Stella terdiam menggerutuki dirinya sendiri karena melemparkan pertanyaan tetoris.


"Kita pulang?" Gugup dan canggung Stella bertanya.


"Belanjaan mu hanya segitu?" Sambil menunjuk barang bawaan Stella, Reza bertanya.


Dia wanita yang langkah. Gumam Reza dalam hati. Di saat wanita lain pasti akan membelanjakan apa saja yang ada di sini mengunakan kartu kredit yang di berikan oleh Reza, lain halnya dengan Stella. Wanita itu bukan tipikal wanita serakah dan banyak gaya.


"Letakkan belanjaan mu ke dalam mobil. Ikut dengan ku setelah itu, akan ku ajarkan bagaimana caranya belanja menghabiskan uang lelaki."


Mata Stella mengerjap heran. Dia tercengang mendengar ucapan Reza. Namun karena takut membuat lelaki di depannya marah, Stella lebih memilih menutup pikirannya yang terheran-heran akan sikap Reza dan lebih memilih menuruti perkataan Reza.


Pada akhirnya mereka kembali berjalan bersama, namun dengan kini Stella yang berjalan di belakang Reza sedangkan Reza menjadi pemimpin. Mereka menelusuri semua toko yang berada di kawasan Bond street, membeli barang yang sekiranya cocok di gunakan Stella. Tak peduli berapa pounds yang harus Reza keluarkan, dia hanya terus berjalan hingga tak terasa barang yang di bawakan oleh tiga bodyguard Reza yang entah datang darimana sudah penuh.


"Tadi kau belanja apa saja?" Karena penasaran belanjaan apa saja yang Stella beli dengan waktu tiga jam tadi.


"Dua gaun hamil, satu jam tangan couple rolex, dan sebuah cangkir minum teh peninggalan dinasti Joseon."


Tubuh Reza berbalik seketika. Menelisik wajah ayu Stella penuh tanya. Benar-benar bagaimana bisa, dia di tinggal selama tiga jam lamanya hanya membeli tiga barang saja. Apakah, Stella termasuk tipekal wanita pemilih.


Namun, yang membuat pikiran Reza terganggu bukan hanya karena heran dengan sikap Stella yang tidak serakah seperti kebanyakan wanita lainnya. Justru karena barang yang di beli Stella, yang menurut Reza aneh bin ajaib. Cangkir teh dari peninggalan dinasti Joseon. Bagaimana bisa? Apa dia pikir di rumah Jones tidak ada cangkir minum teh apa, hingga membuatnya menghamburkan uang Reza dengan membeli barang tak penting.

__ADS_1


Penasaran menggerogoti dirinya, Reza pun bertanya. "Untuk apa kau membeli cangkir aneh itu? Kau pikir di rumah Jones tidak tersedia cangkir untuk minum teh?"


Stella menghela napas menanggapi perkataan Reza. Sambil tersenyum, wanita itu pun menjelaskan dengan sangat halus dan penuh kelembutan.


"Cangkir itu antik dan langkah. Itu bagus untuk oleh-oleh ku. Selain itu, menurut mitos yang berkembang di korea katanya siapa saja orang yang meminum dari cangkir milik raja ke 10 dinasti Joseon itu dapat mengubah wataknya menjadi lebih baik."


Ucapan Stella tentu membuat Reza mengernyitkan dahi. Konyol sekali rasanya bagi seorang Reza mempercayai mitos aneh macam itu di jaman sekarang. Sungguh selain jenius dalam dunia Cyber, Stella adalah sosok wanita aneh bin ajaib yang masih tersisa di dunia.


"Kau percaya dengan mitos aneh macam itu?"


Mengangkat kedua bahunya, "course. Aku orang asia yang hidup dengan tradisi dan kepercayaan masa lalu yang masih di anut masyarakatnya. Jadi untuk urusan seperti ini jelas aku mempercayai, meskipun di jaman sekarang mungkin aneh dan konyol mempercayai mitos seperti itu."


Ada benarnya juga ucapan Stella. Bagaimana pun, dia lahir dan di besarkan di asia. Yang mana notabene orang-orangnya hidup berdampingan dengan adat istiadat dan kepercayaan leluhur dahulu. Tentu hal mistis dan tabu di jaman sekarang macam itu masih berkembang kental mengelilingi lingkup kehidupannya.


Puas dengan jawaban Stella, kini beralih Reza bertanya berapa harga cangkir teh yang Stella beli. Karena, Reza meyakini jika cangkir teh yang Stella beli pasti berharga mahal bahkan fantastis. Mengingat cangkir itu bukan cangkir sembarangan.


Dengan santai Stella pun menjawab, "Seratus tujuh puluh ribu pounds."


Mendengar harga yang dikatakan Stella, Reza yang sedang menenggak minumannya tersendak saking kaget mendengar nominal harga yang bukan kaleng-kaleng.


Matanya membeliak nyaris copot karena terkejut dengan harga yang harus dia bayar untuk sebuah cangkir kuno yang mungkin sudah ada retakkan sana sini.


"Kau bercanda, huh?"


Sekali lagi, dengan wajah tanpa dosa Stella menjawab datar. "Tidak. Aku serius. Ini struk pembayarannya." Memberikan struk dari toko pengerajin keramik kepada Reza.


Tenggorokan Reza terasa tercekat, melihat angka yang tertera pada kertas panjang berwarna biru itu. Dia terduduk diam, sambil menyenderkan tubuhnya lemas di kursi kafe yang baru saja mereka singgahi. Sial, jadi ini alasan Stella tidak membelanjakan uangnya untuk membeli pakaian atau aksesoris branded lainnya. Karena wanita itu baru saja membeli sebuah barang antik yang harganya sangat fantastik. Sungguh, Reza benar-benar tidak menduga.


"Apa kau marah aku menghabiskan uang mu untuk membeli barang-barang ini?"


Mata Reza melirik Stella sekilas, sebelum kemudian kembali tepekur menatap jalanan Bond street yang begitu sepi akibat pandemi.


"Aku hanya tidak menyangka, kau menghamburkan uangku lebih dari 3 milyar rupiah hanya untuk membeli sebuah cangkir."


"Itu bukan sembarang cangkir." Tiba-tiba stella berbisik. "Dan aku bukan hanya membeli satu buah. Tapi satu set lengkap dengan teko dan piring sajinya."


Kembali Reza menghela napas pasrah. Terserah, Stella akan mendapatkan apa untuk harga cangkir yang mahal itu. Yang jelas sekarang pasti Reza akan kena omel asistennya karena telah mengeluarkan banyak sekali uang dalam waktu kurang dari sehari.


To Be Continued...

__ADS_1


NP:


Semua kejadian dalam cerita baik latar, waktu, sejarah, dan barang-barang yang di ucapkan tokoh hanyalah fiktif semata. Tak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata atau realita.


__ADS_2