
Malam semakin larut, tetapi ibukota nampak tak berpengaruh. Tak ada istirahat untuk kota metropolitan itu, justru semakin malam wajah ibukota nampak semakin ceria dengan setumpuk kepenatan jalanannya.
Masih di dalam apartemen, Stella masih setia mendengarkan curhatan hati Chris. Entah mengapa, apa yang Chris rasakan dulu begitu sama dengan apa yang dia rasakan. Stella dapat memahami isi dan perasaan Chris, menjadi orang paling buruk dan hina di lingkungan.
Entah mengapa, Stella merasa iba mendengarkan curhatan Chris. Tanpa memandang lagi jika Chris adalah orang asing, perlahan dia menempelkan tubuhnya dengan tubuh kekar Chris, menaruh tangannya di punggung Chris dan mengusapnya dengan lembut. Dia mencoba menghibur lelaki itu, sedikit. Tak banyak.
"Ternyata aku, Stella." Chris kembali bercerita, setelah beberapa terjeda. Mungkin terlalu sulit untuk Chris berucap. Tak masalah, Stella mengerti itu.
"Saat Reza berhasil menciptakan senjata pertamanya di sekolah, betapa bangganya tuan Emmanuel memperkenalkan dia kepada kolega-koleganya. Mendeklarasikan, jika Reza akan mengantikan dia duduk di perusahaan miliknya. Tapi sikapnya berbeda kepadaku. Saat aku memenangkan kejuaraan sains tingkat internasional, tak ada yang memberikan ku selamat. Justru mereka bilang sains membosankan, menjenuhkan dan hanya orang kutu buku yang mau melakukan itu. Sungguh, itu sangat menyakitkan. Mereka tak tau bagaimana aku mati-matian menyiapkan diri menjadi seorang pemenang. Berusaha membuat mereka bangga kepada ku." Suara Chris terdengar semakin keras. Deru napasnya menggebu-gebu.
"Aku mengerti, Chris. Aku mengerti." Stella semakin mempererat kedekatan mereka. Bahkan kini mereka, nampak terlihat sedang saling berpelukan. Dengan tangan Stella yang merangkul dan mengelus bahu Chris. Juga posisi duduk Chris.
"Dan, ketika Reza berhasil membangun Oxley General betapa bahagianya tuan Emmanuel saat itu. Dia bahkan pesta di rumahnya untuk merayakan keberhasilan Reza. Sedangkan aku, ketika aku lulus menjadi profesor termuda di Inggris mereka malah menghina ku. Katanya pekerjaan ku tidak keren." Dia menghela napas, menengadah kepalanya dan menertawakan dirinya sendiri. Betapa pencundangnya dia yang selalu kalah dengan Reza dan disalahkan atas apa yang terjadi kepada Reza.
"Tak ada surga bagi mereka yang masih menerakakan orang lain. Itu sifat alami manusia, Chris."
Chris menganggukkan kepala, mengamini kata-kata bijak Stella.
"Aku tau kau sakit hati dengan hidup yang kau jalani. Tapi kau juga harus ingat, jika tak ada Reza mungkin kau akan mati kelaparan di pinggir kota Roma belasan tahun yang lalu. Kau tau betapa kerasnya perjuangan Reza saat itu untukmu."
Chris diam membisu. Memandangi langit-langit apartemen Stella. Dia tak menampik akan hal itu. Memang benar, Reza-lah orang yang telah menyelamatkan hidupnya dulu. Jika tak ada dia, mungkin Chris tak akan bisa menjadi seperti sekarang. Mungkin dia sudah mati dan mayatnya menjadi santapan anjing kelaparan kota.
Tapi, sungguh tak dapat di pungkiri juga dia begitu muak, sakit hati, dan iri kepada kakaknya itu. Sedari lahir, hidupnya tak menyenangkan. Selalu dihina, di salahkan, dan di anak tirikan.
"Stella kau mengerti keadaan ku, bukan?"
"Ya, aku sangat mengerti keadaan mu, Chris," jawab Stella dengan penuh percaya diri. "Kau menginginkan kasih sayang yang selama ini di ambil sepenuhnya oleh Reza. Kau iri dengan kasih sayang melimpah yang Reza dapatkan. Tapi bukan berarti kau mau menghukumnya dengan apa yang tidak Reza perbuatan. Konsepnya tidak seperti itu, Chris."
"Lalu apa, huh?" Chris memundurkan tubuhnya. Kini gurat sedih menghilangkan bergantikan geram di wajahnya.
"Aku mengerti keadaan mu, Chris. Masa lalu mu, dan rasa sakit mu. Tapi langkah dan cara mu menghancurkan Reza itu tidak benar. Bagaimana pun, dia saudara mu. Dia menyayangi mu lebih dari dia menyayangi adik kandungnya sendiri."
Kepala Chris menggelengkan. Dia tidak ingin ucapan Stella merasuki pikirannya, dan membuat dia malah mengurungkan niatnya. Dia berdiri, dan Stella ikut juga berdiri. Seketika atmosfer di dalam ruangan itu memanas.
"Kau tidak mengerti, Stella."
"Aku mengerti, Chris."
"Kau tidak tau bagaimana dia."
"Aku menyadapnya, aku bertemu bahkan mengancam dia. Aku tau bagaimana dia."
"Tidak, Stella. Dia tidak seperti yang kau lihat."
Adu mulut pun terjadi malam itu disana. Chris yang mencoba menyakini Stella jika Reza adalah lelaki yang patut untuk di hancur terus menjelek-jelekkan Reza. Sementara, Stella yang mencoba menyadarkan Chris akan perbuatan kepada kakaknya itu tak benar berkali-kali terus membanggakan Reza. Ya, meskipun sebenarnya hatinya sedikit tak terima. Mengingat Reza adalah seorang mafia dan pembunuhan yang sadis.
Dan, ketika kedua orang itu masih saling melemparkan argumen masing-masing. Tiba-tiba layar televisi yang menyiarkan film laga Hollywood berubah menjadi tayangan berita terkini. Mereka berdua pun menghentikan adu mulut, saat mendengar nama Oxley General di sebut oleh sang pembawa berita terkini tersebut.
"Oxley General kembali memperkenalkan ciptaan terbarunya."
__ADS_1
Baik mata Stella maupun Chris serentak langsung melihat ke arah layar tv. Sesaat saling melemparkan pandangan, sebelum kemudian kembali fokus mendengarkan pembawa berita berkata.
"Elizabeth dead, adalah sebuah senjata yang rancang khusus oleh Reza sebagai antisipasi perang besar yang mungkin saja terjadi di dunia. Perpaduan antara senjata modern dan teknologi masa kini, Elizabeth dead di gadang-gadang akan menjadi senjata terbaik abad ini. Dengan ukuran seperti pukulan tenis, Elizabeth dead mampu meratakan satu kota, dan daya ledaknya melebihi ledakan bom nuklir yang terjadi pada perang dunia ke dua lalu."
"What?"
"Apa ini salah satu rancangan senjata pemusnah massal yang sedang ia buat?" Kepala Chris menoleh menatap Stella yang begitu shock dengan penayangan berita di televisi.
"Ya. Maybe. Tapi... Tapi tidak secepat itu, Chris. Jarak antara Mark 666 dan Elizabeth Dead hanya dua bulan. Ini gila. Benar-benar gila."
"Dan kamu masih membela, jika dia bukan orang jahat yang tidak patut untuk di hancurkan." Chris berkacak pinggang, tersenyum sinis kepada Stella dan menatap wajah wanita itu nanar.
"Ya. Mungkin dia gila. Tapi menghancurkan orang sejenius dia, itu salah besar, Chris."
"Come on, Stella." Chris tak dapat lagi menahan rasa geramnya akan sosok Stella. Bagaimana bisa, wanita itu mati-matian membela Reza. Padahal jelas-jelas, dia sudah tau bagaimana bobrok dan jahatnya Reza. "Apa lagi yang baik pada dirinya? Tidak ada Stella. Dia sudah berubah menjadi monster dan tirani yang kejam."
"Ya, aku tau itu. Dia monster dan tirani kejam yang harus kita hentikan..."
Kepala Chris mengangguk. Dia menatap Stella lekat tak sabar dengan kelanjutan ucapan wanita itu.
"Tapi bukan gitu konsepnya, Chris."
"Terus apa? Bagaimana, huh?"
Sejenak Stella terdiam, tak menjawab pertanyaan Chris dan memilih untuk menstabilkan dirinya. Memejamkan mata, dan menghela napas panjang berkali-kali. Setelah merasa dia dapat mengontrol dirinya, kembali Stella mengerjapkan matanya dan menatap Chris dan tatapan begitu tulus.
"Chris dengarkan. Aku mau membantu mu, tapi bukan untuk menghancurkan Reza."
Melihat reaksi Chris yang nampak kecewa, Stella berusaha meraih tangan Chris. Mencoba membuat lelaki itu sejenak mendengar dia hingga ia selesai menjelaskan.
"Hei dengarkan aku dulu. Chris, bagaimana pun Reza adalah kakak mu. Dia yang yang menyelamatkan mu ketika ibu kalian dengan tega membuang kalian begitu saja. Dia sangat menyayangi mu, Chris. Dan, kau tau jauh di lubuk hatimu, kau tau jika semua yang menimpah kepada hidup dan dirimu bukan lah saya Reza..." Stella menjeda ucapannya. Memperhatikan gurat wajah Chris yang terlihat mulai melunak.
"Chris aku mau membantu mu. Tapi bukan untuk menghancurkan Reza, tetapi untuk menyadarkan dia dengan apa yang dia lakukan kepada dunia. Menyadarkan dia, dan membuat dia kembali ke jalan yang benar."
Seketika kepala Chris yang tadinya menunduk menahan kesal dan emosi yang meluap pada dirinya, kini menegakkan. Menatap wajah Stella amat begitu lekat.
"Kita hancurkan perusahaannya, dan kembalikan Reza seperti yang dulu. Jangan bohongi dirimu sendiri, Chris jika jauh di dalam lubuk hatimu kau masih amat menyayangi dia."
Mata Chris terpejam. Tiba-tiba, ia merasakan ada sesuatu yang menghantam tulang belakang lehernya. Begitu hebat hingga membuatnya sedikit limbung.
"A... Aku tak tau Stella." Membuang pandangannya dari Stella.
"Kita buat di berubah. Kau akan tau apa yang terjadi setelah dia berubah Chris."
Chris kembali memandangi wajah Stella, menelisik tatapan mata Stella untuk mencari keraguan dari pandangan gadis itu. Namun, sayang Chris tak menemukannya. Stella begitu yakin ingin membantu Chris bukan untuk menghancurkan Reza tetapi mengembalikan Reza seperti dulu.
"Apa rencana pertama mu?"
Stella mengembangkan senyumnya kepada Chris. Kemudian, dia kembali duduk di sofa dan meraih satu cemilan dari atas nampan.
__ADS_1
"Meretas lalu lintas Reza. Itu pasti. Hal pertama, yap."
Kepala Chris mengangguk, ia ikut duduk di sofa bersama Stella. Meraih jus yang tersedia dan segera menenggaknya hingga habis.
"Aku dengan mudah meretas lalu lintas jaringan komputer miliknya. Tapi satu yang sulit bagiku."
"Apa?"
"Meretas ponselnya. Aku butuh ponselnya. Uhmm maksudku aku akan mengirimkan sebuah kode token ke dalam ponselnya dengan begitu aku dapat meretas lalu lintas ponselnya. Kau punya rencana, bagaimana aku bisa mendapatkannya ponsel milik Reza?"
Sejenak Chris terdiam. Mencoba memikirkan sebuah ide untuk menyempurnakan rencana Stella. Beberapa menit, sampai akhir ia menepuk tangannya sambil berkata
"Bingo. Aku menemukan caranya."
"Apa?"
Chris menjentikkan jarinya, mengintruksikan Stella untuk sedikit mendekat kepada. Saat wajah Stella mendekat ke wajahnya, Chris pun berbisik.
"Kau bisa menggodanya. Uhmm seperti seorang perempuan muda yang bergairah."
"What!? Are u crazy?" Teriak Stella shock.
Oh, bagaimana bisa Chris memberikan ide mengerikan itu. Menggoda Reza layaknya lelaki dan perempuan. Oh tidak-tidak, Stella tidak akan pernah melakukan itu.
"Come on Stella, hanya merayu tak lebih."
Kepala Stella menggeleng cepat.
"Tidak. Tidak." Berdiri dan berkacak pinggang.
"Hanya ini caranya, Stella. Setelah kau berhasil menggodanya dan membuat dia jatuh cinta, bukan hanya ponsel yang kau dapatkan mungkin akses ke dalan ruang rahasia Oxley General." Mengedipkan satu matanya dan tersenyum sarkasme.
"Kau gila, Chris. Bagaimana aku berani menggoda dia. Terlebih saat aku mengetahui jika dia memiliki kelainan sadisme. Oh, tidak-tidak aku bisa habis mati di tangannya."
"Hei, lihat aku." Chris berdiri. Meraih tangan Stella dan membawanya untuk menghadap ke arahnya.
"Tak akan terjadi apa-apa kepadamu, Stella. Aku jamin. Reza..." Menghela napas sejenak. "Aku beri tahu rahasia kepada mu tentang dirinya."
Stella diam mendengarkan.
"Ok. Dengarkan aku..." Kembali Chris menjeda ucapannya. Menghela napas panjang dan seperti ragu untuk mengatakan itu kepada Stella.
"Woah, ini akan terdengar gila untuk mu, Stella. Ini adalah aib." Menganggukkan kepalanya sambil memamerkan gigi putihnya.
Melihat tingkah konyol Chris, tanpa sadar Stella ikut melakukan apa yang Chris lakukan. Mengangguk-anggukan kepala sambil tersenyum konyol.
"Apa rahasia Reza?"
"Dia bucin, melebihi Jones asisten pribadinya jika jatuh cinta."
__ADS_1
"What?"
TO BE COUNTINUE...