Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 91


__ADS_3

Lama Reza mencium bibir Stella. Tak ada pelawanan dari gadis itu. Tapi, Reza dapat merasakan dengan jelas ciuman itu begitu basah. Basah karena tangis yang tiba-tiba keluar dari telaga bening milik Stella.


"Is ok, Stella." Melepaskan ciuman dan membelai lembut rambut gelombang milik Stella dengan lembut.


Kepala Stella tertunduk dalam. Hatinya berkecamuk penuh emosi meluap-luap, terbawa suasana yang di ciptakan oleh seorang Casanova seperti Reza.


"Aku mengerti keadaan mu, Stella." Suaranya begitu rendah. Pandangan biru menakjubkan itu tersimpan sebuah kesedihan dan iba melihat keadaan Stella.


"Aku tak seharusnya menyimpan rasa kepada Judi, Mr.Olex."


"Why? Karena kasta kalian berbeda?"


Stella menarik bibirnya. Menganggukkan kepala mengamini ucapan Reza.


"Tak ada cinta memandang kasta Miss Sasmita. Beribu aral melintang pun jika Judika terlahir untukmu dia akan tetap menjadi milikmu."


Stella tak menjawab. Dia terkagum-kagum mendengar perkataan Reza yang begitu bermakna. Benar-benar tak dapat di sangka, seorang mafia seperti Reza dapat berkata demikian puitis seperti itu. Bagaikan Judika namun dengan versi wajah lain.


Saat Reza dan Stella masih larut dalam obrolan mereka dan ciuman yang begitu menggairahkan bagi keduanya. Di sebrang tak jauh dari mereka, Jones berdiri terus mengawasi baik keduanya maupun sekitar pantai. Matanya begitu awas bagai mata seekor burung elang yang sedang menandai mangsanya.


Di sebrang sana pula, dia dapat mendengar semua obrolan tuannya dengan wanita yang sejujurnya amat tidak dia sukai melalui sambungan suara yang terpasang di telinganya. Tapi, Jones menahan rasa ketidaksukaannya kepada Stella mati-matian karena dia yakin jika tuannya, Reza sedang merencanakan sesuatu kepada gadis itu.


Terbukti, Jones yang sedikit terkejut saat mendengar tanggapan Reza tentang Stella yang menceritakan masa lalunya. Lelaki itu bahkan membual, jika dirinya tidak tahu menahu tentang masa lalu Stella. Padahal jelas-jelas beberapa bulan lalu, sebelum berita menghilangkan Judika tersebar Jones sendiri yang membeberkan semua masa lalu Stella. Bagaimana gadis itu tumbuh, siapa kedua orangtuanya, dan apa hubungannya Stella dengan Cyberfriend.


Saat dirinya masih terus mengawasi sekitar area pantai yang semakin malam semakin sepi, ekor matanya tiba-tiba menangkap sebuah sosok lelaki bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam tengah berdiri bersembunyi di balik pohon kelapa yang menjuntai tinggi di sekitar pantai. Gerak-gerik lelaki berkepala plontos itu amat mencurigakan. Pandangannya terus mengarah menatap Reza dan Stella dengan pandangan yang penuh awas. Jones yang penasaran perlahan berjalan mendekati sosok tersebut. Namun, sialnya saat hampir saja Jones menangkap sosok tersebut dia justru terlebih dulu ketahuan. Sosok lelaki itu menyadari kedatangan Jones, segera tanpa basa-basi sosok itu melesat berlari menghindari Jones. Tak mau kehilangan lelaki tersebut, Jones segera ikut berlari mengejarnya hingga menimbulkan suara bising yang dapat di dengar oleh Reza dan Stella.


"Ada apa? Siapa yang asisten mu kejar, Mr.Oxley?" Pandangan Stella beralih mengikuti kemana Jones berlari.


Reza tak menjawab pertanyaan Stella. Lelaki itu justru lebih memilih bangkit dari duduknya dan begitu saja pergi mengejar Jones dan meninggalkan Stella. Stella yang binggung, hanya mampu terdiam membisu sambil mengumpulkan akal sehatnya yang tiba-tiba saja menghilang entah kemana.

__ADS_1


Setelah merasa yakin akal sehatnya telah pulih, dan dirinya menyadari ada sesuatu yang tidak beres dia memutuskan untuk ikut mengejar Reza dan Jones. Stella berlari menjauh dari pantai, menelusuri trotoar hingga tiba di sebuah halte yang masih berada di dalam kawasan Ancol.


Awalnya Stella berlari menujuh Atlantis, tetapi dirinya tidak menemukan mereka. Dia terus mencari, tak memperdulikan rasa sakit di kakinya yang tiba-tiba merajam. Hingga dirinya tiba di pasar seni yang masih dalam satu kawasan Ancol, dan tetap tidak ada satupun baik Reza, Jones, ataupun sosok yang keduanya kejar.


Stella yang frustasi dan lelah, kini hanya mampu mengacak-acak rambutnya frustasi. Sungguh, dirinya begitu penasaran dengan siapa sosok lelaki yang di kejar oleh asisten Reza tadi. Dia berdiri di trotoar jalan yang berdekatan dengan sebuah halte. Untuk meredakan rasa sakitnya, Stella memutuskan untuk sejenak beristirahat di halte tersebut.


Namun, belum dirinya dapat duduk di halte kosong tak berpenghuni suara tembakan terdengar dari arah SeaWorld.


Dor... Dor...


Seketika, mata Stella membeliak menatap ke arah suara tembakan itu terdengar. Rasa lelah dan letih yang mendera pada dirinya, lagi-lagi berubah menjadi rasa penasaran yang begitu amat mendera di dirinya. Stella beranjak pergi dari sana, berlari begitu kencang menujuh suara tembakan berasal.


Kaki-kaki yang mulai lecet dan mengeluarkan darah semakin memacu adrenalinnya untuk semakin mendekat kearah tembakan itu berasal. Sampai dirinya tiba tak jauh dari SeaWorld, samar-samar dirinya melihat dua lelaki yang tengah berdiri mengelilingi seseorang yang tergeletak bersimbah darah.


Stella amat terkejut, saat mengetahui jika lelaki yang tergeletak itu adalah Nick salah satu anggota Esocial yang Chris bawa dari Afrika. Lelaki itu tergeletak bersimbah darah begitu banyak sambil menggeliat dan mengeram kesakitan.


Tubuh Stella benar-benar ambruk ketika mengetahui jika Nick telah tertembak di bagian dada dan kaki oleh senapan yang di tarik pelatuknya oleh Reza. Stella ingin sekali memekik, berteriak minta tolong untuk menyelamatkan Nick.


"Stella, tenang. Ini aku Chris."


Dengan gerakan patah-patah Stella menoleh dan memberanikan diri melihat lelaki yang tengah membekapnya yang mengaku sebagai Chris.


"Chris, Nick..." Ucap Stella terbata-bata saat Chris melepaskan dekapannya.


"Shutt!!" Chris meletakan jari telunjuknya di bibir, mengintruksikan Stella untuk tetap diam. "Diam lah, ini sudah resiko menjadi musuh seorang pembunuh berdarah dingin seperti Reza."


Mata Stella kembali membelalak, terkejut dengan jawaban yang begitu santai dari Chris yang melihat temannya sendiri sekarat di depan matanya.


"Kau gila!!"

__ADS_1


"Stella diam lah." Chris kembali membekap mulut Stella. Sungguh suara gadis itu amat begitu nyaring. "Kau bisa membuat Reza dan Jones mendengar kita."


Dengan kasar, Stella menampik bekapan Chris. Mulai menjauh dari lelaki yang tidak memiliki hati itu.


"Aku tidak mau mengambil resiko mati seperti, Nick." Menggelengkan kepala dan berjalan mundur menjauh dari Chris.


"Oh come on, Stella bukan itu maksud ku." Chris menghela napas jengah melihat Stella yang terus saja terbawa perasaan melihat orang-orang yang sedang mereka hadapi.


"Bukan begitu? Kau membawanya kesini bergabung bersama kita, dan kau tidak dapat berbuat apa-apa saat dia sekarat dan mau mati, Chris." Emosi meluap-luap pada diri Stella. Tak perduli lagi Reza dan Jones dapat mendengar dirinya atau tidak.


"Stella, tenangkan dirimu." Chris mengangkat kedua tangannya. Mencoba untuk menenangkan Stella yang sudah di rasuki api emosi. "Aku bisa menjelaskan kepada mu, Stella."


Stella terdiam, membuang pandangannya ke lain arah sambil menghela napas keras.


"Dia, Nick tidak pernah aku suruh untuk mengikuti kalian. Ini kemauannya. Dan asal kau dia, adalah anak Joseph."


"What?"


TO BE COUNTINUE...


Siapa yang rindu dengan asisten Jones



Dan menurut kalian antara Judika dan Chris lebih ganteng siapa



NP;

__ADS_1


Hati Author lagi muram kelabu dan merana jadi alhasil pake foto hitam putih... Tapi tetap kan keliatan gantengnya mereka😂😂


__ADS_2