Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 102


__ADS_3

Malam panjang baru akan di mulai, ketika Stella harus kembali tidur di atas ranjangnya yang beberapa jam terakhir membuat ia muak karena adegan semalam yang masih menari-nari di benaknya. Dia mengambil beberapa butir Tyfenol dari dalam kotak obatnya. Untuk membantunya pergi tidur lebih cepat. Meskipun Tyfenol bukanlah obat tidur, melainkan obat pereda nyeri tapi itu berhasil membuatnya tidur lebih cepat. Stella ingin malam ini cepat berakhir, agar dirinya bisa kembali bekerja dan memastikan jika Michael benar-benar membantunya.


Saat jam sudah menunjukkan tengah malam, Stella tertidur begitu pulas. Dan malam itu, dia tak lagi memimpikan masa lalunya melainkan bermimpi tentang Reza.


Di sudut ruangan divisi berita pagi itu nampak, Michael tengah berbincang perihal penting bersama kepala bagian HRD. Saat, Stella masuk setelah absen karyawan dia melambaikan tangan dan tersenyum ramah kepada Stella. Bergumam seraya berjalan ke meja kerjanya, Stella berdoa dan berharap jika Michael sedang membicarakan keinginan kepada HRD untuk di pindah tugaskan ke Inggris. Syukur-syukur, dia bisa berangkat secepatnya.


Di balik meja kerjanya diam-diam, Stella menguping pembicaraan Michael dengan kepala HRD. Samar-samar terdengar, karena jarak antara Michael dan meja kerja Stella hanya lima langkah saja. Sungguh, dia amat keterlaluan ingin tau pagi itu. Tapi sayangnya belum sempat, dia menguping pembicaraan Michael dan kepala HRD Alisya sudah berdiri menghalanginya dengan dua cangkir kopi seperti biasa. Dia tersenyum, meletakan satu cangkir di meja kerja Stella dan beranjak pergi tanpa berkata sepatah pun kembali ke mejanya.


Melongok, Stella terheran-heran dengan kelakuan teman satunya itu. Sepagi ini, dia membuat kopi? Apakah lambungnya tidak akan kenapa-kenapa? Stella hanya menggelengkan kepala, dan diam-diam menyembunyikan cangkir kopi di belakang monitor komputer untuk dia buang nanti, jika Alisya tidak melihat.


Kembali kepada misinya, Stella menyelipkan rambut-rambut nakalnya di belakang kuping dan berusaha kembali untuk menguping pembicaraan Michael dan kepala HRD. Tapi lagi-lagi sialnya Michael dan kepala HRD sudah mengakhiri obralan mereka. Kepala HRD pun juga telah meninggal ruangan. Sementara Michael berdiri dengan pandangan menatap meja Stella dengan mata penuh binar.


Stella menundukkan kepalanya, tangannya menyalahkan komputer dan pura-pura menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


"Anak baru keruangan ku, ya." Michael berteriak. Stella menoleh kearahnya dan menganggukkan kepala patuh dengan pipi merona menahan malu yang entah beralasan apa.


"Apa kau buat masalah?"


Stella terkejut bukan main, ketika tiba-tiba saja Alisya berbisik di telinganya. Rasanya geli, hingga bulu kuduk di lehernya meremang.


"Tidak." Stella memutar matanya jengah. Berdiri dan berjalan meninggalkan Alisya, tanpa peduli dengan pertanyaan tadi.


Di depan pintu ruangan Michael, Stella berdiri. Bergumam terus menerus membacakan mantra aji guna sebagai doa kepada Tuhan sebelum dirinya masuk ke dalam. Pelan, dia mengetuk pintu kaca ruangan Michael. Dari dalam, Michael mempersilahkannya masuk.


"Pak... Uhm maksudku Michael." Stella mendongakkan kepala di balik pintu. Dia belum sepenuhnya masuk ke dalam ruangan.


"Ah, anak baru. Masuk-masuk, aku ada berita untukmu."


Tangan Stella mendorong gagang pintu ruangan Michael lebih dalam. Dia menghambur dan masuk ke dalam ruangan. Michael mempersilahkannya duduk.


"Permintaan mu kemarin sore."


Stella mengubah posisi duduknya. Jantung berdebar tak karuan. Gugup, penasaran, dan was-was.

__ADS_1


"Aku sudah bicara dengan pihak HRD. Dia mengatakan, jika ada satu posisi di Inggris untuk jurnalis Indonesia. Namun, sayangnya bukan di posisimu."


"Aku bisa bekerja di posisi mana pun, Michael."


"Kau yakin?" Michael bertanya dengan nada tak yakin dengan ucapan Stella.


"Apapun, asalkan aku bisa di pindah tugaskan Inggris."


"Apa kau siap menjadi jurnalis kemanusiaan? Yang sewaktu-waktu di tugaskan meliput ke negara berkonflik seperti Afrika, timur tengah, India, dan lainnya? Jika siap, kau akan bergabung dengan jurnalis kemanusiaan lainnya di Inggris. Kami akan membiayai semuanya disana, mulai dari tempat tinggal, makan, dan segala keperluanmu."


"Michael, apa kau mau tau apa impian ku selama ini?"


Kening Michael mengerut binggung. "Apa?"


"Aku berharap suatu saat nanti aku bisa menjadi jurnalis kemanusiaan. Dan, hari ini kau menawarkan ku untuk menjadi itu. Apa ada alasan ku untuk menolaknya?"


Michael menggulum senyum. "Baiklah. Aku akan mengurus kepindahan mu secepatnya ke Inggris. Kau akan di tempatkan di kantor BBC bagian Manchester. Tempat itu indah, dan asal kau tau banyak penyanyi terkenal yang sering konser di sana."


"Terimakasih, Michael."


Setelah selesai dengan Michael, Stella keluar dari ruangan Michael dengan hati yang menggebu-gebu bahagia. Rona kebahagiaan memancar jelas di wajahnya. Selama dua puluh tujuh tahun, dia hidup sudah sangat lama sekali dia tidak merasakan sebahagia ini. Jelas, itu semua karena Reza. Meskipun jika di tela'ah lebih dalam, kepergian Stella ke Manchester bukanlah untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang jurnalis kemanusiaan.


Langkahnya penuh bunga-bunga, sesekali ia melompat seperti anak kecil menyapa setiap orang-orang dari divisinya yang lewat. Tetapi, tiba-tiba semua terkejut termasuk dirinya saat semua monitor komputer, layar yang tertempel di dinding ruangan mati secara tiba-tiba.


Seketika langkah penuh bunga-bunga Stella terhenti. Sama kagetnya dan binggungnya dengan yang lain, Stella hanya melongok menulusuri semua monitor dan layar yang tiba-tiba mati tanpa alasan.


"Apa mati listrik?" Salah satu karyawan berkomentar.


"Tidak mungkin, lihat dispenser menyalah, dan lampu pun juga menyalah," timpah yang lainnya.


"Lalu apa yang terjadi? Apa semua elektronik kita rusak?" karyawan yang lain kembali bertanya.


"Divisi lain tidak. Ruangan Editor dan Siaran berita langsung masih berjalan baik-baik saja."

__ADS_1


Semua di dalam divisi berita terheran-heran, termasuk dengan Stella. Binggung, sudah jelas karena tak mengerti dengan keadaan di dalam ruangan itu.


Dan entah mengapa perasaan, Stella menjadi tak enak seperti akan terjadi sesuatu luar biasa yang menimpa TTV.


Saat semua masih dalam keadaan panik. Tiba-tiba semua monitor dan layar kembali menyalah. Semua berubah menjadi saluran berwarna hitam putih. Stella langsung menebak, jika saat ini mereka sedang di retas.


"You the new majestik." Monitor dan layar tiba-tiba berubah lagi. Kini, sebuah tayangan yang memunculkan sosok seseorang tengah duduk dengan baju yang begitu glamor dan topeng badut menggemparkan seisi ruangan devisi berita.


Mereka semua berkumpul, membentuk kerumunan kecil yang mengelilingi satu layar di depan mereka. Mereka semua memasang telinga baik-baik, untuk mendengarkan dan mencerna setiap ucapan yang akan keluar dari dalam mulut orang dalam siaran itu.


"Kami Black Army siap membantu mu, menghancurkan tirani yang selama ini berusaha menguasai dunia. Bergabunglah dengan kami untuk menghancurkannya." Tit..... Siaran berakhir. Semua kembali seperti semula lagi. Layar-layar yang menempel di beberapa sudut tembok kembali menyalah dan menyiarkan berita yang sedang live di lantai atas. Sedang monitor-monitor itu, kembali menampilkan pekerjaan-pekerjaan mereka kembali.


Ada yang tak beres. Stella berpikir. Ini seperti sebuah pesan. Pesan untuknya. Dia segera menghambur, dan kembali duduk di mejanya. Ruangan divisi berita, seketika itu pula menjadi ricuh dan tak karuan akibat sebuah hacker yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka tanpa sebab. Sama halnya dengan Stella, mereka berpikir jika itu adalah sebuah pesan. Pesan yang menjadi tugas mereka menemukan penerimaannya.


Di meja kerjanya, Stella sudah tepekur mencari di papan pencarian tentang siapa Black Army. Namun, sialnya tak ada satupun papan pencarian internet yang tau siapa sebenarnya Black Army.


Berdiri, dia meraih jaket dan tasnya, lalu berlari pergi dari ruangan divisi. Tak ada yang menyadari kepergian Stella, mereka semua yang berada di dalam sana sibuk dengan peretasan yang baru saja terjadi.


Stella pergi ke sebuah warung internet yang cukup jauh dari kantornya. Menepati komputer yang berada di paling ujung ruangan.


Komputer menyalah, Stella mulai menjelajahi Dark internet. Mencari siapa Black Army, Red Army, dan juga Esocial. Degup jantungnya terus terpacu, entah mengapa dirinya seperti sedang di perhatikan oleh seseorang saat itu. Sesekali dia menengadahkan kepalanya, menelisik setiap sudut warung internet itu dengan perasaan tak tenang dan tak karuan.


Internet berjalan dengan stabil, tak butuh waktu lama dirinya berhasil masuk ke dalam dark internet dan menemukan sejarah dari nama-nama organisasi hacker yang saat ini berhubungan dengannya. Semua memiliki ciri khas dan cara bekerja beda-beda. Red Army, begitu handal membuka kedok para petinggi elite dunia, sementara Black Army begitu handal meretas waktu para penjahat kelas kakap, dan Esocial begitu handal meretas dan membuka kedok para mafia bengis dunia.


Stella terus membaca, hingga tiba-tiba dia berhenti membaca pada sebuah tulisan 'Meskipun mereka berbeda dalam segi peretasan. Namun, semua nasib pemimpin mereka sama. Mati di tangan penguasa Sisilia yang mendapat julukan wolf man.'


"Wolf Man?"


Mata, Stella tak kalah mendelik saat sebuah foto yang amat sangat ia kenal terpampang di layar monitor. foto seorang wanita cantik, berambut pirang tengah memeluk seorang laki-laki tua.


Stella terperangah membaca judul pada foto itu. Judul yang bertuliskan 'pemimpin Esocial dengan anak sulungnya.' Di bawah foto itu juga menjelaskan, apa alasan pimpinan Esocial di bunuh secara brutal di Sisilia beberapa tahun lalu; mencoba meledakkan tangki nuklir milik VIVA yang tak lain dan tak bukan adalah anak cabang perusahaan Oxley General.


"ANNE!!"

__ADS_1


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2