Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 49


__ADS_3

"Waktu kematiannya pukul 11.45 siang. Ada sebuah jeratan di lehernya, nampak jelas jika pembunuhan dengan sebuah tali pancing, atau senar gitar." Pemuda berkemeja bergaris itu menjelaskan. Dengan kedua tangan di tempel ke leher, memperlihatkan seolah-olah dia sedang di cekik. Gambar yang terpampang di proyektor menghilang, berganti dengan gambar lainnya yang menampilkan bagian tangan kanan Joseph, yang nampak terlihat layaknya mayat biasa. Hanya saja di bagian jarinya hanya berjumlah empat buah. Ya, jari telunjuk mayat itu hilang. Hilang hingga mencapai telapak tangannya. "Kalian lihat ini?" Pemuda ber-Id card Marcelo itu menunjuk bagian dimana jari telunjuk Joseph hilang. "Pembunuh itu memotong jari telunjuknya. Ini pasti bukan pembunuhan biasa, pasti pembunuhan ini sudah direncanakan. Di lihat dari lokasi,waktu, dan lain sebagainya pun seperti sudah di rancang sedemikian rupa oleh sang pembunuh."


"Pembunuhan yang mengingatkan kita dengan mafia asal Sisilia, Abute." Seorang gadis berseragam hitam TTV berujar. Membuat seketika, Stella menoleh terkejut.


Dia mengenal mafia bermarga Abute? Darimana?


"Abute?" Marcelo mengeryitkan dahi binggung.


"Dari musim panas 1996 sampai dengan 1997, kota Roma hingga Sisilia di gemparkan dengan banyaknya kasus pembunuhan berantai. Semua korbannya sama, mati di jerat tali dan jari telunjuknya menghilang. Hingga seorang penyelidik dari Amerika mengusutnya, dan menemukan bukti jika Marco Abute adalah pelakunya. Yang mana kalian tau, dia adalah ayah dari pewaris tempat kita bekerja." Mengoyangkan kepalanya ke kanan, sambil tersenyum penuh muslihat.


"Gak mungkin." Protes Marcelo tidak terima. "Tahun itu Marco udah di penjara, bahkan udah menerima vonis hukuman matinya."


"Apa yang ga mungkin? Dia seorang mafia. Sindikatnya tersebar luas. Meskipun dia di penjara, gak akan ada yang bisa mencegah anak buahnya melakukan kejahatan yang lain, kan?" Gadis yang ternyata berprofesi sebagai wartawan tv TTV itu mengangkat kedua bahunya. Mendelikkan mata dan menegaskan jika pendapatnya benar.


"Baiklah, cukup. Jangan mengungkit hal yang belum pasti apalagi mengkaitkan dengan pewaris perusahaan ini." Pria tua tadi yang membawa Stella masuk, berdiri. Berjalan maju mendekati Marcelo dan berdiri disana sambil berkacak pinggang. Dia menghela napas sejenak. "Aku ingin kalian mencari semua berita tentang Robert Robinson ini. Apapun, sekecil apapun yang mampu membuat peminat pembaca meningkat. Tapi aku berharap tak ada yang kalian tambah-tambahkan atau kurang-kurangkan dengan artikel atau berita yang kalian sampaikan. Dan kau Stella, ini adalah tugas pertama mu. Bergabung dengan mereka semua untuk menulis artikel untuk surat kabar elektronik kami. Tinggalkan profesi mu sebagai jurnalis politik."


Kepala Stella mengangguk patuh. "Baik, pak."


Mereka semua berdiri dengan kepayahan. Mengepak semua barang-barang mereka, dan mulai keluar satu persatu dari ruangan itu. Stella paling terakhir, dia masih tepekur menatap tubuh tak bernyawa Robert. Ada sedikit rasa bersalah dan tenang menyelimuti dirinya. Bersalah karena beberapa jam yang lalu, dia berniat ingin menghancurkan hidup banjing*n tua itu, dan ada rasa tenang karena mungkin Robert tidak akan berhasil mengirimkan rahasianya kepada Reza. Mungkin!


Pikirannya meluncur kembali tanpa bisa dicegah, kembali kepada Reza. Sebuah pikiran negatif tiba-tiba menggelayuti otaknya. Apa dia yang membunuh Mr.Robinson?


"Apa ada masalah?" Stella terperangah dan hampir jatuh saat mendengar suara tiba-tiba seorang perempuan tepat di sebelah. Diliriknya perempuan yang ternyata wartawan tadi itu. Dia mengulas senyum pada Stella, yang langsung di tanggapi Stella.


"Aku mengenalnya."


Kening wartawan itu mengeryit. "Maksud lo Robert?"

__ADS_1


"Ya! Sebelum kematiannya, aku menemuinya di lapas."


"WHAT?"


"Hanya untuk wawancara saja, tidak lebih kok." Tersenyum dan berusaha menyakinkan diri tidak ada hubungan dia dengan mafia kejam itu. Apapun.


"Gue mengerti. Beberapa teman gue juga sempat datang ke sana untuk bertemu, tapi tak ada yang di ijinkan. Maka itu, gue sedikit terkejut ngedenger lo menemuinya."


"Itu hanya keberuntungan jurnalis saja." Stella menyungingkan bibirnya miring ke atas.


"Perkenalkan gue, Alisa." Wartawan muda itu mengulurkan jari-jari panjangnya untuk berjabat tangan dengan Stella.


Sejenak Stella termenung menatap tangan yang terjulur kearahnya itu. Melihat, Stella yang nampak ragu berjabat tangan dengan langsung menyungingkan senyuman geli. "Tenang aja gue negatif covid kok."


Stella tak dapat menghindari gelaknya, mendengar ucapan Alisa. Segera ia meraih uluran tangan itu, menjabat dengan hangat diiringi senyum tulus.


Mereka keluar ruangan. Berjalan beriringan dengan setumpuk kertas dan laptop di pelukannya mereka. Melewati beberapa staf yang masih sibuk dengan kekacauan mereka masing-masing.


Pandangan Stella kembali berkelana tanpa dapat di cegah lagi. Itu masih tentang Reza. Namun, lebih tepatnya keluarga Reza dan Judika. Dia menoleh ke arah Alisa, yang tengah sibuk mengutak-atik monitor di depannya. Tangannya begitu lihai mengetik papan keyboard, lalu pindah menulis ke notes kecil bercover peach.


Daripada, dia terus dihantui rasa penasaran. Akhirnya Stella mendorong kursi putarnya. Mendekati Alisa dan langsung mengajukan pertanyaan yang kini terus menghantui isi pikirannya.


"Sa?"


"Kenapa, Stel?"


"Gue boleh nanya sama lo?"

__ADS_1


Alisa menghentikan aktivitasnya. Menyenderkan bahunya dengan nyaman di kursi putar sambil bersedekap menatap Stella, dengan wajah enak di lihat itu; kulit putih mulus tanpa jerawat, alis hitam tebal, mata sedikit sipit dengan bulu mata lentik, dan senyum yang begitu indah dengan lesung pipi di sebelah kanan.


"Gue penasaran sama cerita mafia Abute yang tadi lo ceritain itu. Boleh lo ceritain detailnya?"


Tak dapat di hindari, Alisa sedikit terkejut dengan perkataan Stella. Entah untuk apa anak baru itu ingin tau mengenai kehidupan seorang mafia sadis dan kejam dulu? Apa dia akan membuat biografi? Atau mau mengangkat topik berita mafia asal Sisilia itu di dalam jurnalnya? Alisa menerka-nerka.


"Lo mau gue ceritain?" tanyanya dengan nada bergumam.


Stella menganggukkan kepala cepat. Meraih notes di meja kerjanya juga tak ketinggalan sebuah pena.


"Lo tau kan gue sahabatan sama Judika? Pewaris perusahaan ini?"


Alis hitam lebat yang sudah di poles begitu rapih milik Alisa mengeryit. "Gue tau, lo bahkan jadi trending topik sebelum bos mutusin merekrut lo dan menerima lo di bandingkan pelamar lainnya karena tau lo itu sahabat klop pak Judika."


"Ia, makanya gue penasaran banget sama masalalu keluarganya. Karena selama sahabatan sama tuh anak, ga pernah sekalipun dia menyinggung-menyinggung masalalu keluarganya." Stella berkata penuh percaya diri. Sambil mengingat-ingat dengan persahabatan dirinya dengan Judika. Memang kenyataannya, tak sekalipun Judika pernah membicarakan siapa ayahnya. Walaupun sering kali Stella menanyakannya. Dia akan selalu berkata, dia sudah mati karena kesalahannya. Selebihnya Stella hanya mengetahui dia anak seorang mantan mafia, yang tak pernah Stella perdulikan bagaimana sepak terjangnya.


"Ok. Gue bakal ceritain."


Stella terlihat begitu antusias. Ia membuka notesnya dan mulai berkonsentrasi mendengarkan perkataan yang akan di sampaikan oleh Alisa.


"Marco Davis Abute adalah..."


"Guys kita dapat berita besar."


Alisa menjeda ucapannya, saat pria berkemeja garis-garis tadi tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan devisi berita. Melangkah dengan deru napas tersengal-sengal, sambil membawa handycam di tangannya. Serentak semua orang di dalam sana, tanpa kecuali Stella dan Alisa menoleh. Menatap pria tersebut sambil menerka-nerka. Ada apa?


"Pengusaha Oxley General. Si miliader muda itu, ternyata kakak kandung pak Judika. Anak pertama dari ibu Liliana dan..." Menjeda ucapannya sejenak. "Mafia Marco Abute."

__ADS_1


"APA!!!" Teriak kaget bersamaan semua orang di dalam devisi itu.


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2