Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 67


__ADS_3

"Halu lo, Stel. Hacker? Mana mungkin otak seukuran gue jadi hacker."


Stella memaksa untuk tersenyum mendengar jawaban dari Alisa. Jika dia buka hacker, sama dengannya dan Esocial, lalu bagaimana Alisa mendapatkan informasi mengenai Esocial secepat itu? Ok. Mereka memang seorang jurnalis, yang pekerjaannya memang mencari berita. Tapi secepat itu. Oh, ayolah! Itu tidak mungkin. Detektif dari badan intelijen negara tidak akan semudah itu.


"Terus lo tau informasi Esocial dari mana?"


Alisa memutar matanya jenggah. Meletakan penanya dan bersedekap menatap Stella jenggah.


"Liat." Alisa menunjukkan sebuah email di laptopnya dengan matanya. "beberapa menit yang lalu, unsername bernama Big Bos mengaku sebagai pimpinan mereka. Katanya dia seorang dokter, dan sedang berada di kawasan negara dengan populasi orang berkulit hitam."


Mata Stella menatap lekat layar laptop yang di tunjuk oleh Alisa. Seketika itu pula ia terbelalak kaget, melihat foto profil dari seorang bernama sama. Big Bos.


Dia... Dia akun yang sama, dengan akun yang akan membeli data Oxley General kepadaku.


Pandangan Stella perlahan mulai kabur dan kelabu. Berganti kabut yang seakan-akan menutupi matanya.


Dia disini.


"Lo kenal dia?"


Buru-buru kepalanya menggeleng. Dia berdiri, mengepak semua barang-barangnya dan pergi dari ruangan meeting tergesa-gesa, meninggalkan Alisa yang terperangah binggung dengan tingkahnya.


Saat ia akan berjalan menujuh mejanya. Tanpa Stella sengaja, tubuhnya menabrak Ridwan yang baru saja memfotokopi sesuatu. Menabrak lelaki itu, hingga membuat barang bawaannya terbang ke langit-langit.


"Hei, you kalau jalan pake mata, dong." Kedua tangan Ridwan terangkat, memberikan kode kepada Stella 'apa yang terjadi kepadanya.'

__ADS_1


"Ma... Maaf." Stella langsung jongkok dan membantu Ridwan membereskan kertas-kertas yang berserakan di lantai.


"Lo kenapa? Dari keluar kantor utama tuh muka pucat banget. Udah kaya orang yang ketahuan maling aja lo."


"Tadi di kantor pusat gue cuma panik," jelas Stella dengan suara lembut. Dan, Ridwan setia mendengarkan. "Lo tau di dalam sana, keadaannya benar-benar kacau. Karyawan yang kerja di kantor pusat, mereka langsung kucar-kacir berusaha mematikan siaran itu." Stella melanjutkan. Menceritakan apa yang terjadi di dalam kantor pusat Hartanto Grup saat teknologi di negeri ini di hack. "Semua orang menatap ke arah Mr.Oxley, berbisik, bahkan sampai ada yang bergunjing. Gue pikir kita harus segera kembali ke kantor, berita ini pasti luar biasa..."


"Ehmm, dan benar kita sampe di sini sama kacaunya." Ridwan melanjutkan.


"Ya." Mereka berdua berdiri. Menyusun kertas-kertas itu menjadi tumpukan tebal. Menjadikannya satu dan segera di ambil alih kembali oleh Ridwan.


"Gue ke meja dulu. Ada sesuatu yang mau gue kerja."


Refleks tubuh Ridwan menyingkir. Memberi jalan kepada Stella untuk pergi menuju ke meja.


"By the way, makasih lo udah mau anterin gue tadi," ucap Stella tulus sambil menyunggingkan senyum tipis.


Ada banyak sesuatu yang harus Stella telusuri. Mencaritahu siapa Big Bos, menambahkan daftar top rahasia yang di sembunyikan Reza, juga pastinya komunitas hacker yang baru saja meng-hack satu negara. Namun, dia binggung, dari mana harus memulainya?


Stella berpikir keras. Menyandarkan bahunya pada kursi putar, menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan devisi berita sambil terus berpikir. Berpikir keras. Darimana, ia harus memulai menelusuri ini semua?


Oh, ya flashdisk! Flashdisk tempat ia menyimpan rahasia Oxley General. Stella ingat, belum semua file dia buka. Masih ada dua file yang memiliki password bukan hanya ganda tapi twins.


Dimana flashdisk itu? Stella meraih tasnya, mencari flashdisk itu. Namun, mengapa tak ada. Di tempat penyimpanan pena dan alat-alat kantor pun tak ada. Di gantung kunci indekos, juga tidak ada. Sialan. Dia melupakannya. Dia berdiri, mengerutu frustasi dengan kecerobohannya.


"Sial!" Geramnya kesal.

__ADS_1


"Stella! Siapkan segala peralatan mu. Ikut Alisa ke gedung Hartanto Grup sekarang." Tiba-tiba suara teriakan dari pak manajer mengema memerintahkannya. Stella yang masih di landa binggung, kalut, dan takut karena lupa menaruh flashdisk miliknya dimana terkejut bukan main.


Segera, ia melupakan pencarian flashdisk itu. Bergegas merapihkan peralatannya dan berlari menujuh mobil yang sudah di siapkan di gedung halaman TTV.


"Ok, guys beberapa menit yang lalu ibu Liliana bilang kalau dia akan melakukan jumpa pers untuk mengklarifikasi mengenai serangan hacker tadi. Kita harus membagi tugas..." Alisa, sih wartawan kepo tingkat dewa juga seorang yang ulet akan pekerjaannya mulai berkata. Menyusun strategi kepada mereka berempat. Baik Stella, Ardy, maupun Ridwan fokus mendengarkan. Sesekali menganggukan kepala untuk mengamini strategi cemerlang yang Alisa katakan. Mereka harus mendapatkan video jumpa pers dari Liliana yang bagus, juga tentunya informasi mengenai siapa Esocial. Apapun caranya.


Maka saat mobil TTV tiba di gedung Hartanto Grup, mereka berpencar. Stella berlari masuk ke dalam Hartanto Grup, tanpa ada pengawasan yang berarti. Sendirian menujuh lift di mana Reza tadi naiki. Sementara Alisa dan Ardy bergegas menujuh gedung sebelah yang masih menjadi kantor pusat yang akan di laksanakannya jumpa pers. Di dalam gedung itu, sudah banyak wartawan yang berkumpul. Memadati gedung, tanpa memperdulikan sosial distancing. Sedangkan Ridwan, berdiri diam di gedung utama. Tempat tadi Stella dan dua security adu mulut. Mengawasi setiap pergerakan orang-orang di sekitar sana.


Entah apa yang mereka lakukan, untuk mendapatkan informasi mengenai siapa Big Bos dan kembalinya Esocial. Namun, satu yang jelas apa yang sekarang mereka lakukan akan membuat mereka dalam bahaya. Khususnya Stella.


"Gimana? Semuanya aman?" Samar-samar Stella mendengar suara Ridwan melalui chipset yang terpasang di telinganya.


"Gue baru sampe. Lantainya kosong. Gak ada orang sama sekali," jawab Stella, yang baru saja tiba di lantai tujuh di mana ruangan CEO berada.


Dia mengendap-ngendap berjalan menelusuri lorong panjang berlantai marmer dan berdinding keramik hitam perlahan. Berhari-hari, sambil terus memasang mata penuh kewaspadaan.


Hingga dia tiba di ujung lorong. Langkahnya terhenti. Dengan jelas ekor matanya menangkap pintu kayu ganda besar bertuliskan CEO di depannya. Stella mendekat, melangkah senyap tanpa bersuara dan menempelkan daun telinganya di pintu ganda itu. Samar-samar dia mendengar, teriakan dan makian seorang lelaki dari dalam sana. Berbicara dalam bahasa Inggris yang amat begitu fasih.


Stella menelan salivanya, tetap terus mendengarkan apa saja yang laki-laki di dalam sana ucapkan. Hingga sebuah suara serak dan tegas membuat dirinya terlonjak kaget hingga nyaris mati karena serangan jantung.


"Miss Sasmita..."


"Akhhh..." Pekik Stella terkejut. Dia tersungkur ke lantai marmer dengan tubuhnya yang mengenai pintu ganda.


"Tu... Tuan."

__ADS_1


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2