
Kesel, jengkel, dan frustasi itulah gambaran yang kini terjadi pada diri Stella. Sudah lima belas hari semenjak kejadian mengerikan di Ancol itu, baik Reza dan Chris menghilangkan bak di telan bumi. Berkali-kali, Stella berusaha menghubungi Chris untuk membicarakan kesepakatan yang akan mereka jalani untuk memberi pelajaran kepada Oxley General, tapi sayangnya ponsel milik Chris mati. Tak hanya itu, markas tempat persembunyian Esocial pun tak luput Stella datangi. Mencoba mencari keberuntungan di sana. Namun, nyatanya gedung tua itu kosong melompong tak berpenghuni. Semua alat-alat canggih yang selama ini Stella inginkan pun lenyap bersama penghuninya. Stella yakin, jika Chris sedang mencari tempat persembunyian baru karena Nick telah di tangkap oleh Reza.
masalah hilangnya Chris bersama anggota Esocial dan Reza belum selesai, kini masalah baru datang menghampiri Stella. Beberapa saat yang lalu, Ardy kameraman kaum rebahan memberikan stella sebuah dokumen yang harus di publikasikan sore ini juga. Dokumen yang berisikan tentang kabar ketua Cyberfriend akan keluar dari penjara kurang dari dua minggu lagi.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, begitulah situasi yang saat ini dialami oleh Stella. Dia binggung harus berbuat apa, pergi dari negara ini seperti rencananya dulu pun tak mungkin ia lakukan. Mengingat tabungan yang ia punya takkan cukup untuknya bertahan di negara lain.
Stella menghela napas keras, mengaduk-aduk kopi yang sudah sejak dari satu jam lalu dia pesan itu. Tidak seperti biasanya, Stella yang sangat begitu mencintai kopi dan akan segera menenggak hingga habis kopi hangat. Berbeda dengan hari ini, kopi esspreso tanpa gula kesukaannya itu sedikit pun tak dia minum. Dia hanya mengaduk-aduk kopi itu dengan pandangan mata tak henti menatap layar ponselnya. Dia masih setia menunggu Chris dan menjalankan aksinya untuk membuat Oxley General merugi. Dia juga masih setia untuk datang setiap sore ke markas rahasia Esocial yang ada di Bogor sepulang bekerja. Meski itu terlalu berlebihan dan membuat Stella kepayahan, mengingat jaraknya yang lumayan jauh dan memakan ongkos.
"Lo di sini?" Alisya muncul dengan barang-barang kesayangan. Menghampiri Stella dan duduk di sebrang kursinya.
"Gue lagi gak mood aja kerja, Sil. Gak tau kenapa," jelas stella dengan wajah yang datar sambil terus mengaduk-aduk kopi yang sudah dingin.
"Lo sakit?" seru Alisya menelisik wajah Stella yang memang kelihatan sedikit pucat.
"Engga." Stella bukan sakit, dia hanya mencoba menutupi rasa ketakutannya karena ketua Cyberfriend sebentar lagi akan keluar dari penjara.
"Kalau lo emang gak enak badan mending lo balik aja. Biar kerjaan lo gue yang kerjain."
"Gak perlu, Sya. Makasih loh sebelumnya, tapi gue bisa kok selesai sendiri." Tidak ingin merepotkan Alisya. Buru-buru Stella merubah raut wajahnya menjadi ceria. Menyakini gadis itu jika dirinya memang benar baik-baik saja.
"Tapi emang lo lagi di suruh buat ngetik berita apaan?" tanya Alisya penasaran.
"Cyberfriend yang bentar lagi bebas," jawab Stella begitu datar.
"Akh..." kepala Alisya mengangguk-angguk. Tiba-tiba tanpa di duga, dia meraih tasnya mengeluarkan sebuah flashdisk dari dalam sana dan memberikannya kepada Stella. "Di dalam sana ada beberapa informasi penting mengenai Cyberfriend yang orang-orang ga tau. barangkali aja lo butuh."
Stella hanya termangu menatap flashdisk pemberian Alisya. Dalam hatinya dia tertawa, terhibur sejenak dengan sikap tulus Alisya. Andaikan saja Alisya tau, jika dirinya adalah bagian terpenting dari Cyberfriend dan mengetahui segala tentang Cyberfriend melebihi Alisya. Mungkin bukan Alisya yang sekarang memberikan flashdisk itu kepada Stella. Tapi justru Stella yang bakal di paksa menceritakan semua rahasia-rahasia Cyberfriend kepadanya.
Namun, untuk menutupi kecurigaan Alisya, Stella mau menerima itu. Hitung-hitung itu sebagai kamuflase untuk menutupi dan indentitas dirinya yang sebenarnya.
"Makasih ya, Sya," ucap tulus Stella menerima flashdisk pemberian Alisya.
"Sama-sama, Stella."
Sore menyapa penjuru ibukota, senja yang begitu cantik dan indah terbentang di atas cakrawala langit. Stella yang baru selesai mengerjakan artikel barunya, bergegas keluar gedung untuk pulang.
Namun, saat dia baru saja sampai di halaman gedung ekor matanya langsung menangkap dua sosok laki-laki yang tidak asing baginya sedang bertengkar dan di lihatin oleh karyawan TTV, mereka diantaranya bahkan merekam pertengkaran yang tak lain adalah Reza dan Judika itu.
Tak ingin terlibat masalah oleh kedua kakak beradik itu. Meskipun Stella penasaran kemana saja Reza selama lima belas hari terakhir itu. Perlahan Stella berjalan hendak bersembunyi untuk menghindari kedua. Dia memutar tubuhnya bersiap berjalan masuk kembali ke dalam gedung.
Tapi sial baginya, baru kakinya melangkah sekali sebuah bariton mengangetkan dirinya.
"Stella Sasmita!" Judika sudah lebih dulu melihatnya, sebelum Stella pergi dari sana. Lelaki itu bahkan memanggil namanya panjangnya dengan kencang, membuat semua orang yang pada mula melihat kepada dirinya dan Reza, kini berbalik menatap Stella terheran-heran.
Dengan gerakan patah-patah, Stella terpaksa memutar tubuhnya. Melihat ke arah mereka berdua yang saling berhadapan dan orang-orang sekitar yang menatap Stella binggung dan terkejut.
__ADS_1
Samar-samar, diujung jalan dekat pos penjaga Alisya terlihat tengah duduk santai bersama dua lelaki yang tak lain Ardy dan Ridwan. Mereka nampak tidak terkejut, malah tersenyum-senyum melihat Stella.
"Sini!" Judika mengayunkan tangannya, menyuruh Stella untuk mendekat.
"Why?" Binggung, Stella mengangkat kedua tangan tanganya dan bahu.
"Gue jemput lo, Stella! Ayo masuk ke dalam mobil." Tak peduli Reza yang membelikan matanya mendengar ucapan Judika, lelaki itu beranjak pergi menghampiri Stella dan meraih lengan gadis itu. "Ayo," serunya menarik tangan Stella hendak membawanya masuk ke dalam mobil.
Namun, tiba-tiba saja Reza datang menghampiri. Mencekal tangan Judika hingga membuat genggaman kepada tangan Stella terlepas.
"Saya yang tiba duluan di sini. Jadi saya yang berhak antar Stella pulang."
"Enak ajak. Gue sahabatnya, dia lebih aman pulang bareng gue." Tak terima Judika melawan.
"Kamu mau melawan saya, huh?" Reza menantang Judika.
Merasa berani, Judika dengan penuh percaya diri menantang Reza balik, "Kalau iya kenapa? Lo pikir gue takut?"
dua orang bodoh pemarah keras kepala saling melotot satu sama lain. Tak perduli orang-orang disana yang sebagian besar wartawan melihat mereka. Memotret mereka, bahkan memvideokan mereka.
"Jawab gue, lo deketin Stella atas tujuan apa?" Bisik Judika yang kini posisi mereka kembali seperti semula. Saling berhadapan, mengisahkan jarak hanya beberapa sentimeter.
"Kalau saya bilang menyukai gadis itu kenapa, huh?"
"Lo mau mati, ya bang?"
"Dia punya gue. Sampai kapan pun lo gak boleh deketin dia, apalagi pacarin dia," bisik Judika mengancam abangnya tanpa mengenal takut.
"Kamu pikir, kamu siapa melarang saya, huh? kamu tidak ada hak atas diri Stella."
Jengah melihat kedua kakak itu saling bertengkar dan bergumam-gumam tak jelas membicarakan apa, Stella mendekat, mendorong tubuh keduanya untuk saling menjauh dan berdiri tepat di antara mereka.
"Stop! Kalian bisa berhenti gak si?" bentak Stella kencang. "Gak malu kalian di lihatin sama orang-orang? Ini itu kantor, kantor penerbit. Kalian ga takut berita pertengkaran kalian bakal masuk berita beberapa menit lagi?"
"TIDAK!" jawab serentak keduanya.
Kesal, Stella meraih lengan kedua orang itu, menarik dan membawa dua adik kakak itu meninggal gedung TTV. Melewati kerumunan yang jumlah semakin banyak, dengan langkah tergopoh-gopoh menyeret kedua tubuh besar, kekar berisi itu.
"Asisten Jones, urus mobil kedua bocah ini." Melewati Jones yang sedaritadi berdiri di depan Audi kesayangannya.
"Hei, kau bilang saya bocah? dia itu yang bocah."
"Enak aja. Lo tuh bocah. Muka doang ama umur tua, sampe sekarang belum kawin-kawin."
"Ihh, kalian bisa stop gak sih?" Geram Stella berteriak mendengar ocehan kedua adik kakak yang tak ada habisnya.
__ADS_1
Terkadang Stella binggung dengan sikap dan sifat kedua lelaki di sebelahnya itu. Seakan-akan mereka berdua memiliki kepribadian ganda yang dapat berubah-ubah sesuai mood mereka.
Sebut saja Judika, terkadang lelaki itu bisa menjadi seorang yang puitis dan romantis, yang selalu ingin terlihat cool di depan banyak orang. Tetapi kadang pula bisa berubah menjadi lelaki jenaka yang tidak kenal malu.
Juga Reza seorang yang perfeksionis yang menyiapkan segalanya terlebih dahulu, seorang yang begitu hangat, misterius, dan ambisius. Tetapi kadang juga berubah menjadi sosok yang dingin, kejam, dan menakutkan meskipun hanya untuk di pandang.
"Sekarang jelasin, kenapa kalian bertengkar?" Stella membawa kedua orang itu ke coffee shop langganannya dengan Alisya, Ardy, dan Ridwan.
"Kita perang," seru Judika keras.
"Oke," Reza menjawab cepat.
Mereka benar-benar tidak memperdulikan pertanyaan Stella, dan mungkin keberadaannya.
"Hello Mr. Abute saya lagi nanya, harap di jawab. Mentang-mentang kacang murah!" Seluruh pengunjung Coffee shop menoleh, ketika mendengar teriak begitu keras dari Stella.
"Gue suka sama lo..." Tiba-tiba saja, juga berucap. Menyatakan cinta kepada Stella.
"Saya juga suka sama kamu, Stella." Kini gantian Reza tak mau kalah. Mengungkap isi hatinya kepada gadis itu.
"Tunggu-tunggu, kalian nyatai cinta gitu sama saya?"
Serentak keduanya mengangguk.
"Jangan terima abang gue. Dia tua, otaknya cuma di penuhi rumus matematika dan fisika buat nyiptain senjata."
"Jangan terima adik saya. Dia jelek, tak punya kerjaan yang bisa membuat masa depanmu cerah, dan jangan lupakan dia seorang playboy cap buaya."
Stella menghela napas panjang. Mungkin jika wanita lain yang berada di posisinya akan merasa seperti seorang putri, yang di rebutkan oleh dua pangeran tampan, kaya, dan jenius dalam bidang tertentu. Namun, itu tidak berlaku untuk Stella. Entah mengapa Stella mencium aroma-aroma konspirasi di antara mereka.
"Lo cuma manfaatin Stella, karena dia hacker kan, bang?" Judika mengebrak meja hingga membuat Stella yang melamun tersentak kaget.
"Kamu yang adanya memanfaatkan Stella, karena dia wanita lugu tidak seperti mantan-mantan kamu."
"Enak aja lo kalau ngomong." Tak terima lagi, Judika berang. Berdiri dan melototi Reza.
"Liat, tersinggung kan kamu? Berarti memang benar apa yang saya ucapakan."
Judika meraih cangkir yang berisikan kopi panas, "Lo kalau ngomong jangan seenaknya." Ancang-ancang hendak menyiram kopi panas itu ke wajah Reza.
Melihat emosi Judika semakin meluap-luap dan hendak menyakiti kakaknya sendiri. Stella segera bangkit dari duduknya, dan mencoba menghentikan aksi nekad Judika.
Namun, naas kopi yang hendak di siramkan ke wajah Reza justru mengenai pergelangan tangan Stella. Stella memekik kesakitan, dan jatuh kembali ke kursinya serta langsung meringis kesakitan.
Melihat Stella yang terluka, kedua lelaki itu nampak panik. Reza segera meraih tangan Stella dan meniup-niup tangan Stella dengan penuh kehati-hatian sambil berteriak memanggil Jones yang berada di luar. Sementara itu, Judika tak mau ketinggalan lelaki itu segera meminta es batu kepada pelayanan coffee shop, dan langsung mengompres tangan Stella mengenakan es batu tersebut.
__ADS_1
Melihat perilaku keduanya, bukan merasa bahagia Stella justru merasa was-was dan ketakutan. Entah mengapa, pikiran akan konspirasi yang sedang mereka berdua rencanakan untuknya terngiang-ngiang di pikiran. Semoga saja ini hanya pikiran Stella, Dan, semoga saja kedua lelaki ini benar-benar mencintainya dengan tulus, tanpa ada konspirasi di baliknya.
TO BE COUNTINUE....