
Stella terjebak dalam fiksi yang menghayutkan jiwa. Sentuhan sehangat fajar terasa menenangkan untuk ia rasakan. Senyuman sendu dan teduh bak senja membuatnya terhipnotis memasuki dunia ilusi yang tak terhingga. Dirinya jatuh terlalu dalam, di pelukan sang sahabat. Judika. Rasanya begitu tenang dan berharap pada sang waktu untuk berkompromi berhenti berputar sejenak.
Namun, rasa-rasanya waktu tak bersahabat kepadanya. Belum ada dua detik doa ia panjatkan di dalam lubuk hati, sang rembulan pun telah melepaskan dekapannya. Tangan berjari-jari panjang itu mencengkeram lembut kedua bahu Stella. Lengkungan garis indah melengkung sempurna di bibir sang raja. Mata keduanya saling bertemu, mengunci pandangan untuk beberapa saat dengan tatapan perasaan masing-masing. Tak di pungkiri pipinya bersemu merah muda bak buah ceri matang.
"Lo tapi lagi ga punya pacar atau gebetan, kan?" Tiba-tiba saja pertanyaan aneh bin ajaib melesat lolos dengan gamblang dari mulut Judika.
Mata Stella berhasil mendelik kesal. Tak disangka, tatapan begitu indah dari sang rembulan hanya ilusi yang menyesakkan jiwa. Bagaikan burung yang sedang terbang bebas di cakrawala, tiba-tiba saja jatuh terluka menghantam bumi. Tatapan maut judika, hanya sebagai kamuflase dirinya sedang menyelidiki status Stella.
"Lo ngeledek gue?" Mata bulat indah berwarna hitam khas orang asia tenggara mendelik menatap tajam Judika. Tak tau, darimana lelaki itu mendapat ide bertanya hal konyol macam itu. Judika bahkan tau semua keburukan dan kebaikan Stella, bahkan sedetail itu. Lantas, untuk apa lelaki itu harus mencaritahu lagi statusnya saat ini. Apa dia mau menegaskan kepada dunia jika selama dua puluh empat tahun Stella hidup memang belum pernah merasakan apa itu jatuh cinta? Dasar bedebah.
"Ya, kali diam-diam lo melepaskan gelar jomblo abadi di belakang gue gitu," ucapnya begitu santai tanpa dosa.
"Sialan, lo. Benar-benar lo ya ngajakin gue gelud. Udah lah batal aja jadi pacar pura-pura lo." Mulut Stella mengerucut kesal. Ia terlihat begitu cantik bak senja yang segera tergerus malam. Tangan nakal Judika hingga tak kuasa menahan untuk tidak menjawil hidung bangir Stella.
"Bapernya mulai deh."
"Ah, sakit Judi!" Ringis Stella berusaha melepaskan jawilan Judika.
Menyadari Stella kesakitan, Judika melepaskan jawilannya. Tangannya terangkat, mengaruk-garuk kulit kepalanya yang tak terasa gatal. Senyum kembali mengembang di bibir tipis pemuda itu. Kembali Stella terperangah dan masuk ke dunia fiksi ilusi. Ah, rasanya seperti mendapatkan sebuah lotre jika saja Stella bisa melihat senyum itu sepanjang hari.
"Yaudah, gue mau balik, ya. Gue ada kerjaan soalnya." Stella bersiap untuk beranjak dari halaman parkir kampus, dan tak ingin terlalu lama mengangumi maha karya sang pencipta yang nyata semu untuk di raih.
Alis Judika kembali saling bertautan. Pekerjaan? Pikiran negatif thinking lelaki itu langsung menerjang menguasai saraf-saraf otaknya. Ia begitu yakin, pekerjaan penting yang Stella maksud adalah meliput berita membahayakan nyawa atau bernostalgia dengan para cybercrime sambil menjelajahi dunia hitam internet.
__ADS_1
Urung juga Judika menjawab, seorang pria berambut gondrong dengan kumis tipis menghiasi wajahnya menghampiri mereka. Bergabung dengan kedua orang yang sudah berada di parkiran mobil sejak tadi.
"Jud, gue cariin lo juga di kelas malah gak taunya disini," pria gondrong itu berujar sambil satu lengannya terangkat dan di letakan di bahu lebar Judika.
"Ngapain lo nyariin gue?" Kepala Judika menoleh kearah pria berambut gondrong yang tanpa berdosa, meletakan satu tangannya di bahu untuk bersender.
"Nih, gue mau balikin buku lo."
Kamus terjemahan Inggris-Indonesia setebal lima ratus halaman diberikan kepada Judika. Cover lusuh dengan coretan disana sini nampak terlihat begitu eksotis menghiasinya.
"Itu kamus? Apa buku LKS anak SD? Lecek amat kaya bon utang di selipan dompet?" Komentar sarkasme Stella.
"Jadi ini kamus, LKS, atau bon utang?" Judika mengangkat kamus di genggamannya.
"Abute?"
Jelas Stella terperangah kaget melihat tulisan yang begitu jelas pada kamus itu. Pandangannya kini berganti menatap Judika dengan tatapan selidik dan penuh tanya.
"Kenapa lo, ngeliatin gue ke liat buronan lepas dari lapas?"
"Ini Abute apaan?" Stella mengangkat kamus setengah dada.
"Pake nanya. Kan lo tau Abute marga bapak gue," jawab santai Judika.
__ADS_1
"Eh, jelek-jelek gini, Judika keturunan orang Italia juga loh, Stel." Tambah pria gondrong di sebelahnya yang mendapatkan pukulan di bagian belakang kepalanya.
"Kembarannya Chris Evans di bilang jelek. Mata lu katarak."
Ini Stella yang benar-benar lupa, atau dia memang bodoh benaran? Kenapa dia sampai lupa, jika nama marga ayahnya Judika adalah Abute. Bahkan Judika kerap menceritakan bagaimana kehidupannya dulu sewaktu tinggal di Italia kepadanya. Ah, sial! Otak Stella tak bisa bekerja secara maksimal. Ia buntu, tak dapat berpikir secara rasional. Sejurus dengan beribu pertanyaan tiba-tiba muncul di benaknya. Tapi, satu pertanyaan yang begitu membekas di benaknya. Pertanyaan yang pasti orang lain tanyakan, jika juga tau masalah ini; apa hubungannya Judika dengan Reza?
Sementara selepas senja di terminal kedatangan bandara Soekarno-Hatta, beberapa awak media telah berkerumun memadati halaman bandara. Mereka berkerumun melanggar penerapan protokol kesehatan yang pemerintah tetapkan. Tak perduli akan mendapatkan sanksi berupa kurungan penjara, denda berupa uang, atau kerja secara sukarela untuk negara.
Tak beberapa lama, seorang wanita paruhbaya keluar dari terminal bandara. Melenggak-lenggok dengan indah di lantai bersih bandara. Serentak awak media mendekat, mencoba mengambil gambar dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada wanita paruhbaya yang tak lain adalah, Liliana Poetri Hartanto.
"Ibu Liliana tolong klarifikasi maksud anda tentang kedekatan anda dengan pendiri Oxley General? Apakah anda memiliki hubungan yang begitu spesial?" Seorang jurnalis wanita muda berambut panjang menjuntai mengajukan pertanyaan.
"Apa benar ibu, akan menyerahkan kursi Presdir sementara kepadanya? Apa sebegitu dekatnya kah ibu dengan keluarga Oxley?" Lanjut Jurnalis pria berbaju hitam dengan logo merah di bagian saku bajunya.
Langkah Liliana terhenti. Dengan angkuh, ia melepaskan kacamata hitam yang melingkar indah di matanya dan mengulas senyum mereka kepada kamera yang terus menyorotinya secara bersamaan.
"Oxley General akan melakukan wawancara pribadinya nanti. Mereka akan mengklarifikasi apa statusnya dengan keluarga Hartanto." Kembali Liliana melanjutkan langkahnya, langsung masuk ke sebuah mobil sedan mewah dan segera melesat meninggalkan bandara.
Di sebrang jauh disana. Reza mematikan tv layar datar besar dengan wajah geram menahan marah. Belum juga, ia menginjakkan kakinya di kampung halaman sang ibu kekacauan sudah terjadi. Tak tau apa isi di dalam kepala sang ibu, hingga membuat artikel konyol macam itu; menyebutkan jika Reza akan mengambil alih kedudukan Presdir sementara Hartanto Grup. Jelas sudah pasti, seluruh penjuru dunia akan gempar membicarakan tentangnya. Bagaimana bisa, seorang pengusaha persenjataan terkenal bisa berkenalan dengan seorang pengusaha tak sekelas dirinya. Di Indonesia pula, dimana semua orang tak pernah berpikir di negara itu. Jangan lupakan juga status yang jurnalis wanita tadi lontarkan. Sudah pasti akan banyak spekulasi bermunculan dimasyarakat dunia. Ah, Reza bisa gila. Belum masalah satu selesai kini datang masalah lainnya. Ia tidak akan mungkin mau mengakui jika Liliana adalah ibu kandungnya, dan Judika adalah adik kandung yang selama ini, ia sembunyikan dari dunia.
Tak ingin terlalu memusingkan masalah yang sedang menghampiri hidupnya. Reza lebih memilih menghubungi Jones.
"Bawakan aku seorang perawan sore ini," katanya dan langsung mematikan sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari Jones.
__ADS_1
TO BE COUNTINUE....