
Selama tiga puluh tahun Jones hidup di dunia, dirinya menyakini jika semua manusia memiliki monster yang begitu menakutkan pada diri mereka sendiri. Hanya saja, setiap manusia punya cara mereka masing-masing untuk mengendalikan dan menaklukkan monster tersebut agar tidak mengambil alih tubuh mereka. Selama tiga puluh tahun itu pula, Jones mengenal dua orang manusia yang tidak dapat mengendalikan monster di dalam diri mereka sendiri, dan menjadikan monster itu untuk kesenangan dan candu mereka menikmati dunia. Dan kedua orang itu adalah; tuanya Reza dan tentunya dia sendiri.
Namun, hari ini ia tersadar ternyata begitu banyak manusia yang tidak dapat mengendalikan monster pada diri mereka sendiri. Begitu terbuka dan bersenang hati membiarkan monster tersebut menguasai diri mereka. Salah satunya adalah, Rendi lelaki yang baru lima menit ia kenal dan sudah berhasil membuat Jones tercengang dengan aksi yang begitu luar biasa; memotong jari seorang hanya karena tak sengaja menganggu wanitanya. Tak pernah, sekalipun Jones melihat ada lelaki yang begitu seposesif Rendi kepada wanita, termasuk dirinya sendiri yang notabene sudah pernah merasakan jatuh cinta hingga menikah dan memiliki dua orang putra.
Apa ini yang di sebut wanita racun dunia? Jones berpikir keras.
Jones berdiri terpaku menatap kagum Rendi yang berdiri di samping Elena dengan berumuran darah di tangannya. Tangannya ingin sekali bertepuk, mengagumi seorang seperti dirinya. Namun, ia tersadar akan satu hal. Rendi melakukan semua itu karena satu nama, nama yang membuatnya ingin muntah seperti Leopard tadi yakni wanita. Huh, sungguh entah mengapa baik Jones maupun Reza begitu amat membenci wanita. Padahal jelas-jelas wanitalah yang membawa mereka pada dunia ini.
"Tuan jika ada lowongan pekerjaan di Oxley General untuk anda, saya sangat merekomendasikan untuk mengajukan bagian algojo kepada kepada anda, karena itu sangat cocok untuk anda." Setelah bicara demikian, Jones tersenyum, dan berjalan dengan percaya diri kembali masuk ke dalam restoran.
Rendi mendengus kesal mendengar perkataan Jones yang seperti menghina dirinya. Algojo? Kurang aja sekali dia. Belum tau siapa aku. Gumam Rendi dalam hati.
Darah untuk membunuh pada diri Rendi kembali mencuat. Rasa-rasanya, ia ingin sekali menggunting mulut Jones. Segera ia berjalan mendekat dengan raut wajah geram. Namun, cepat-cepat Elena menarik tangan Rendi, mencoba mencegah Rendi untuk berbuat lebih jauh lagi. Sudah cukup kejadian di bar semalam dan barusan, membuatnya pening bukan kepalang. Jika, ia melakukan di negaranya sendiri itu tak terlalu masalah. Tapi, Elena sadar jika ini bukan di negaranya. Dirinya tak ingin terjadi sesuatu kepada Rendi.
"Paman, sudah ya jangan terpancing. Aku mohon. Kita disini kan untuk acara makan malam."
Rendi menghela napas panjang, memejamkan matanya mencoba mengembalikan sisa kesadaran pada dirinya sendiri. "Baiklah, ayo kita masuk."
Mereka berjalan beriringan, saat tiba di dalam restoran Rendi menyuruh Elena untuk ke meja yang telah di pesan terlebih dahulu. Sementara, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan darah pada tangannya.
"Silahkan, Mrs." Seorang pelayan lelaki menghampiri meja dan menyodori Elena buku menu, ketika dirinya telah duduk di hadapan Jones.
Tak selang beberapa lama Rendi kembali dan ikut duduk disana, di sebelah Elena. Di ikutin Reza, yang kembali duduk disebelah Jones. Wajahnya terlihat muram, entah apa yang terjadi di ruang VVIP. Nampaknya Leopard dan Shena menganggu dirinya lagi.
__ADS_1
"Aku Rendi." Rendi mengulurkan jari-jari panjangnya. Dengan senang hati Reza menyambut dengan senyuman ala kadarnya.
"Reza. Reza Eerste Oxley."
"Aku sering mendengar tentang mu. Prestasi mu juga karya-karya menakjubkan mu. Seorang Tony Starknya Inggris." Rendi melepaskan jabatannya, meraih gelas yang telah berisikan minuman.
Reza tersenyum lagi, tetapi kali ini senyuman lebih merekah. "Tidak. Aku tidak sejenius itu. Dunia mekanik hanyanya hobi yang tidak sengaja membawaku ke dunia ini."
Keduanya tergelak, bersulang merayakan perkenalan mereka dengan suasana menyenangkan.
"Ngomong-ngomong apa profesi mu hanya seorang mekanik pencipta senjata?" tiba-tiba Rendi kembali bertanya, yang membuat Reza dan Jones sedikit terkejut.
"Memangnya apa lagi? Bisnis ini membawaku menjadi miliader terbesar di Eropa saat ini." Reza mengangkat gelasnya, meletakan gelas kosong tersebut keatas meja dengan angkuh.
Kepala Rendi mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum keterpaksaan. Entah, mengapa ia tidak percaya jika Reza hanya berprofesi sebagai pengusaha persenjataan saja. Ya, walaupun tak dapat di pungkiri bisnis di bidang tersebut paling menguntungkan di dunia. "Tidak, bukan aku tidak percaya. Mungkin saja, kau memiliki kesenangan di luar sana yang membuat ardenalin mu terpacu. Hmmm semacam..."
Rendi tersenyum, mengangkat kedua bahunya. "Maybe. Apalagi sepertinya kau berbakat dalam dunia itu. Sama seperti kami. Leo dan aku."
Tak beberapa lama, sebuah mobil Mercedes-Benz mewah keluar terbaru berhenti didepan restoran. Keempatnya serempak menoleh menatap lekat siapa pemilik mobil mewah tersebut. Anita dan Dimas, berjalan beriringan masuk ke dalam restoran memamerkan senyum mereka kepada pelayan-pelayan yang menyambut. Mereka segera di bawa mendekati meja yang sudah di pesan dan bergabung dengan keempat orang lainnya.
"Dimana Leo?" tanya Anita lalu membuang senyuman menyapa Elena.
"Mungkin sedang di kerokin sama istrinya di sana." Reza menunjuk sebuah ruangan pintu ganda tertutup dengan wajahnya.
__ADS_1
Baik Anita dan Dimas saling melemparkan pandangan. Binggung dengan ucapan ngaco orang didepannya.
"Leo habis muntah-muntah melihat darah," ucap Rendi menjelaskan.
"Astaga benarkah?" Anita ternganga tak percaya dengan ucapan yang dikatakan Rendi barusan.
"Aku serius." Gelak pecah tak tertahankan baik dari mulut Rendi maupun Reza. Mereka yang berada di sana, membayangkan kejadian lucu yang baru saja menimpa seorang playboy dan berandal ulung macam Leo.
keenam orang disana masih terus berbincang ria sambil menikmati hidangan yang telah tersedia. Semua menikmatinya, kecuali Jones yang seperti tidak asing dengan sosok Anita dan Dimas. Seperti, dirinya pernah bertemu dengan mereka di suatu tempat. Namun entah dimana. Hingga tiga puluh menit berlalu, akhirnya Leo dan Shena kembali.
Segera beberapa pelayan mengambil kursi untuk Leo dan Shena duduk. Mereka bergabung dengan yang lainnya, memperlihatkan tampak wajah yang uhmm... Aneh untuk dilihat; merah padam dan sedikit kikuk. Entah apa yang baru saja mereka lakukan di dalam sana, tapi satu yang jelas itu sangat mempengaruhi Leo. Lelaki itu nampak terlihat sudah kembali bugar seperti sedia kala.
Tak bisa dapat di elak, keenam orang disana langsung meledek Leo habis-habisan saat dia dan Shena duduk disana. Tak terkecuali Reza dan Jones yang mana biasa antipati kepada orang lain. Namun, rasa senang akan meledek Leo terganti geram saat Shena secara spontan mengejeknya tidak orisinil lagi karena sering berganti-ganti pasangan tidur. Hingga, ia takkan bisa menikah karena tidak ada wanita yang pantas untuk dirinya yang sudah bekas. “Dia sudah tidak ori, kasihan calon istrinya. Tuan Reza lebih pantas menikah dengan wanita yang tidak ori juga, baru mereka seimbang," begitu katanya.
Tubuh Reza bangkit dari kursi, ia tak dapat lagi menahan rasa geramnya kepada istri Leo. Persetan siapa dia dan kekuasaannya seperti apa, Reza tak perduli. Namun, saat Reza hendak melakukan sesuatu dengan sigap Leo memberikan sebuah isyarat. Secarik kertas yang bertuliskan jika Shena saat ini sedang hamil dan hormonnya tak stabil. Maka itu, dirinya bertingkah seperti ini.
Reza mendesah frustasi. Meraup wajahnya kasar dan kembali duduk. Shena yang melihat, menatap secara bergantian suaminya juga Reza. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang terjadi pada Reza, apakah ia salah bicara?
"Apa ada yang salah dengan apa yang aku katakan?” tanya Shena pada Leo
“Tidak, Sayang. Tidak ada yang salah dengan ucapan mu, tapi biarlah itu menjadi urusannya. Kau jangan ikut campur lagi, oke. Sepertinya pesanan mu sebentar lagi datang, bagaimana kalau kau menikmati saja hidangan yang ada di sini. Kau tinggal pilih, kelihatannya semuanya enak.”
Kening Reza mengeryitkan menatap kedua orang di depannya dengan tampang yang begitu kecut, sambil mengepalkan kedua tangannya dibawah meja bundar. Sedetik kemudian, dirinya kembali bangkit. Mendekati Leo sambil memijat bahunya hingga membuat Leo sedikit meringis.
__ADS_1
"Temui aku di ruangan tadi. Aku akan membawakan apa yang kau minta."
TO BE COUNTINUE...