
"Lo udah ga waras, ya? Ngelakuin itu semua di depan mereka. Lo tau cyber itu ilegal di negara kita, bahkan dunia. Ga ada yang setuju hacker kaya lo hidup di dunia, Stel. Mereka nyebut kaum kaya lo toxic, yang bisa ngerusak keberlangsungan kehidupan mereka."
Perasaan kesal menghinggapi diri Judika. Ia tak dapat lagi menahan itu semua. Mungkin, ia tak sadar kata-kata yang baru saja melesat lolos pada mulutnya begitu menghujami hati Stella. Bagaikan busur panah, yang melesat mengenai dadanya hingga sesak.
"Kaum seperti gue?" Wajah Stella berpaling. Menatap jendela kaca besar yang berada tepat di sebelahnya. Kini mereka berada di beranda belakang kantor. Judika menariknya paksa kemari. Sengaja, karena tempat itu tidak banyak di lalui dan diketahui oleh orang. Jadi baik dia dan Stella aman karena tak akan ada yang mendengar apa yang sedang mereka katakan.
"Jadi sekarang lo liat gue dan nilai gue dari derajat juga? Bahkan menamai sesuai kaum? Apa aja kaum-kaum itu?" Stella bertanya, lalu tersenyum sarkasme. "Kaum Sultan kaya nyokap lo, dan Inggit first love lo? Kaum jelata kaya orang-orang di pinggir jalan yang ngandelin belas kasih dari keluarga Sultan kaya lo buat makan sehari-hari? Kaum menjijikkan kaya jalang yang menjajalkan tubuhnya demi uang dan harta? Dan kaum Toxic kaya gue yang memaafkan data pribadi seseorang demi kepentingan diri sendiri?"
Mata Judika terpejam. Ia menghela napas, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasan pada dirinya. Ia tau, akan panjang jika ia meladeni ucapan Stella. Gadis itu terlalu sensitif, jika sudah menyinggung urusan kehidupannya dan ekonomi. Seharusnya, Judika lebih berhati-hati dengan ucapannya. Bukan hanya karena kesal pada Stella ia dengan gamplang langsung berkata yang membuat Stella tersinggung. Meskipun nyatanya, ia tak berniat demikian.
"Bukan gitu maksud gue." Suaranya melembut. Kembali ia mengerjapkan matanya dan menatap Stella dengan tatapan khasnya; begitu teduh, dan menenangkan.
__ADS_1
Judika sadar ucapannya telah menyakiti perasaan Stella. Ia tidak seharusnya berkata demikian, namun tak dapat juga di pungkiri jika rasa sayang pada Stella begitu besar. Judika tak ingin, gadis itu salah melangkah hingga membuatnya jatuh terlalu dalam pada sumur hitam. Sudah cukup Stella sengsara, merasakan nelangsa kepanjangan hingga membuatnya sulit untuk hidup di masa modern seperti saat ini. Judika hanya ingin, Stella hidup normal sepertinya. Mengikuti jalannya dan meraih kesuksesannya sendiri.
"Ma... Maksud gue ga gitu, Stel." Dua tangan kekar itu mencengkeram dengan lembut bahu Stella. Mencoba menjelaskan maksud perkataannya kepada sang gadis. Namun naas, Stella sudah di tutupi api kemarahan dan kesalahan pahaman. Kini, dirinya di bungkus rasa marah dan kecewa amat besar kepada Judika. Dia bahkan tega menyebut dirinya toxic. Racun untuk keberlangsungan hidup manusia.
Dengan kasar, Stella menepis cengkraman tangan Judika. Menghela napas sekali lagi dalam-dalam dan membuang pandangannya, tak ingin melihat wajah yang selama ini ia impi-impikan sebagai pasangan hidupnya. Dia mendesis, sejurus tergelak dan menitihkan airmatanya.
"Gue sadar gue toxic." Judika mengerutu kesal. Meninju udara mendengar kalimat pertama Stella. "Makanya orang-orang selalu menjauhi gue, menganggap gue ga ada bahkan secara terang-terangan mau menyingkirkan gue. Karena toxic tetaplah toxic, yang keberadaannya akan selalu membunuh semua yang pernah hidup."
"Lo bilang gue toxic? Lo gak sadar, apa yang sedang di kerjakan sama nyokap lo melebihi Toxic? Sok berpura-pura menjadi orang paling baik untuk membuat masyarakat memercayai dia. Padahal nyatanya, nyokap lo korupsi uang negara sampe bermiliar-miliar. Itu faktanya!" Stella berteriak cukup keras. Suaranya bahkan menggema mengisi beranda kosong yang hanya di huni oleh mereka saja. "Seracun-racunnya kaum rendahan seperti gue. Kaum gue ga akan pernah memperdaya rakyat miskin dan mengeruk harta mereka sampai habis kaya yang nyokap lo lakuin. Mencuri uang rakyat sampe bikin mereka jadi miskin bahkan gembel di jalanan. Seharusnya kata toxic itu lo sematkan pada diri nyokap lo dan orang-orang rendahan seperti kaum kalian itu." Stella mendorong tubuh Judika kasar. Meraih tas jinjing yang terlempar tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri dan meninggalkan Judika yang berdiri termenung seorang diri.
Stella berlari meninggalkan gedung penerbit dengan hati yang porak-poranda. Ia menelusuri trotoar kawasan Slipi, dan berhenti di depan halte harmoni.
__ADS_1
Kepalanya menengadah, menatap cakrawala luas tak terhingga di atasnya. Biru Lazuardinya begitu cerah, dan indah berwarna. Berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang hitam tak berwarna, terasa muram dan kelabu.
Tubuhnya tergopoh-gopoh menopang beban yang amat sangat berat di bahunya. Berjalan mendekat sebuah kursi besi panjang yang sengaja di sediakan di atas trotoar untuk para mengguna bahu jalan. Ia termangu, seorang diri. Diam seribu bahasa, menatap jalanan ibukota yang nampak tak pernah tidur hingga langit jingga menjemput alam.
Sementara di ujung bahu jalan, di seberang sana. Judika duduk diatas motor tua keluaran tahun tujuh puluhan. Menatap menyesal, Stella di balik helm murah yang ia beli di pasar loak tiga bulan silam. Tubuh kekarnya begitu kaku, hanya untuk mendekat meminta maaf dan memberi penjelasan kepada gadis itu tak kuat. Rasa gengsi yang memang sudah menjadi keturunan di keluarganya lebih berarti untuk dia. Tak dapat di tampik, jika Judika juga marah dengan kata-kata kasar yang Stella ucapkan kepada sang ibu. Bagaimanapun, yang berkata adalah Judika bukanlah ibunya. Seharusnya, Stella tidak menyangkut-pautkannya kepada kerjaan sang ibu. Walaupun, dirinya sendiri tak menepis jika apa yang di katakan Stella adalah fakta.
Motor tua yang sering kali mogok di tengah jalan itu menyalah. Berlahan berjalan di tengah keramaian senja ibu kota. Mata Judika memanas, tak konsentrasi dengan pandangan yang ada di depannya. Antara rasa marah, dan penyesalan kini menggerogoti isi otaknya. Berkecamuk, memaksa Judika antara meminta maaf atau menjauhi Stella. Tentunya termasuk mengakhiri hubungan dia sebagai kekasih pura-pura.
Jingga berganti temaram. Malam kini menjemput sang surya. Namun, Stella masih setia duduk di sana termenung seorang diri. Kata-kata menyakitkan yang keluar dari dalam mulut Judika, bagaikan tamparan keras baginya, untuk lebih mengerti tentang arti hidup. Stella kini sadar, tak ada tempat untuk dirinya di dunia ini. Meskipun, tak terlihat dan berusaha menjauhi dunia dengan indentitas baru yang ia peroleh sepuluh tahun silam. Toxic tetaplah toxic, seperti yang Judika katakan. Yang akan selalu berhasil membunuh siapapun dan kapanpun makhluk-makhluk di sekitarnya karena ulahnya sendiri.
TO BE COUNTINUE...
__ADS_1