Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
S2: Akhirnya Bertemu


__ADS_3

setelah menjalani tes anti virus dan dirinya dinyatakan bebas dari virus, Stella mulai menyiapkan semua keperluan yang ia butuhkan untuk bekerja. Tak lupa, dia juga mengabari Michael jika dirinya telah tiba di Manchester dan bertemu dengan teman-teman baru. Dirinya juga bercerita prihal cuaca dan kondisi di sana yang membuat dirinya sedikit terganggu. Namun, itu tidak terlalu bermasalah untuknya selama dirinya merasa vit dan baik-baik saja, Stella yakin dapat bertahan di cuaca ekstrem itu.


Ting... Ting... Ting...


Asrama khusus jurnalis malam itu di penuhi para wartawan di berbagai negara. Berkumpul menjadi satu di asrama yang semula adalah sekolah militer untuk mengejar berita mengenai perusahaan persenjataan Oxley General. Wartawan yang berjumlah lebih dari 60 orang itu serentak terdiam dan menghentikan aktivitas makan malam mereka. Kepala mereka menoleh secara bersamaan, manakala ketua asrama yang tak lain dan tak bukan adalah jendral besar tentara Britania mengetuk gelas menggunakan sendok makan.


"Mohon perhatiannya sejenak."


Semua fokus mendengarkan. Televisi yang menyiarkan berita demonstrasi di luar asrama melalui udara di matikan. Tak ada satu mata pun yang tak tertuju kepada jendral besar tentara Britania itu termasuk Stella.


"Kami baru saja mendapatkan kabar, jika pemilik Oxley General akan melakukan pidatonya di depan stadion old Trafford besok siang. Semua akses menujuh ke kawasan tersebut akan kami blokade untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan. Untuk para rekan-rekan jurnalis yang akan meliput pendiri Oxley General besok di harapan memakai tanda pengenal yang akan kami bagikan. Itu berfungsi untuk menghindari penyusup-penyusup dari luar. Kami harapkan rekan-rekan jurnalis memakai tanda pengenal ini, karena jika kalian tidak memilikinya maka kalian tidak akan bisa masuk."


Stella menerima tanda pengenal yang di maksud oleh jendral tentara Inggris itu. Sebuah kartu berlaminating dengan logo tentara Inggris dan bendera Inggris di sana. Segera dia memasukkannya ke dalam kantung bajunya dan melanjutkan menghabiskan makan malamnya bersama teman-teman jurnalis barunya. Sementara jenderal tentara Inggris tadi menyudahi pengumumannya dan pergi dari ruangan itu.


"Aku baru mendapatkan kabar."


Seorang wanita berhijab datang menghampiri meja Stella. Di tangannya sudah ada laptop yang terbuka dan menampakkan sebuah dokumen yang entah berisikan apa.


"Zalikha apa yang kau bawa?" Gwen wanita cantik asal Polandia bertanya.


"Sebuah dokumen rahasia Reza tersebar. Dokumen ini berisi surat perjanjian kerjasama Oxley General dengan negara-negara timur tengah yang sedang berseteru seperti iran, irak, Afganistan, Bangladesh, dan lain sebagainya. Dalam surat ini juga menyatakan jika Oxley General menyokong para pemberontak seperti talib*n, is*s, dan lain sebagainya. Mengirimkan senjata dan mendirikan markas-markas disana untuk membantu para pembelot itu. Alasannya tentu, untuk membuat Oxley general menjadi yang teratas di antara perusahaan persenjataan lainnya di dunia. Hal itu yang membuat dunia bahkan menjuluki Stark Industries."


Yang lain serentak terheran-heran, melongok, dan tercengang saking kagetnya mendengar berita yang dibacakan oleh Zalikha, wanita asal Mesir itu. Sedangkan Stella hanya diam, termenung sambil mengaduk-aduk makanannya tak berselera. Baginya berita itu sudah basi. Dia sudah pernah membacanya jauh sebelum kejadian itu berlangsung. Ketika meretas website Oxley general, dokumen rahasia yang memiliki sandi rumit itulah isi dokumen tersebut.


"Mau kemana, Stel?" Kate bertanya saat melihat Stella tiba berdiri dari duduknya.


"Ke kamar dulu. Aku lupa buat laporan," jawabnya yang langsung di barengi dengan langkah seribu meninggalkan meja itu cepat-cepat.


Melihat tingkah aneh Stella, membuat keempat jurnalis yang terdiri dari kate, zalikha, Gwen, dan Douglas melempar pandangan binggung.

__ADS_1


"Dia benar-benar aneh." Seru Gwen sembari melahap makanannya.


"Ia. Biasanya jurnalis lain akan berkumpul dan menulis berita sepenting ini untuk di jadikan bahan beritanya. Namun dia malah pergi tanpa ingin tau lebih detail." Sambung Zalikha yang masih menatap bahu Stella.


"Aku dengar dia kekasih Judika Dwi Hartanto. Adik kandung pendiri Oxley General yang telah lama di rahasiakan publik." Kini gantian Kate yang membuat meja yang letaknya di ujung ruangan menjadi gempar.


"Serius. Aku pernah melihat satu artikel lokal Indonesia yang memberitakan kisah cinta Stella dengan Judika. Berawal dari persahabatan lama kelamaan jadi cinta. Bahkan menurut berita yang ku baca, dia sudah pernah makan malam satu meja dengan pemilik Oxley General dan asistennya itu."


"Huh, pantas saja dirinya seperti kurang berminat dengan segala sesuatu mengenai masalah Oxley general. Kecuali pendirinya, dia akan bersemangat bila kita membahas tentang wawancaranya besok siang."


Meninggalkan keempat Jurnalis yang masih bergosip ria di ruang makan. Stella yang telah kembali ke dalam kamarnya, kini sedang tepekur di depan laptop kerjanya. Memandangi foto-foto Reza yang di ambil dari internet. Entah mengapa, rasanya memandangi wajah tampan milik Reza seperti sebuah ramuan yang berhasil membuat Stella menjadi lebih bersemangat menjalani kehidupannya yang baru di negeri orang. Seperti sebuah sihir yang membuat suasana hati Stella yang semula muram menjadi bahagia dan hangat. Stella tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Dia bisa tahan tidak makan seharian. Namun, tidak sanggup jika sejam saja tidak memandangi foto-foto milik Reza. Meskipun di ambil tampan senyum entah mengapa bagi Stella, Reza nampak tetap begitu menawan.


Dirinya berpikir, dia benar-benar sudah gila karena merasa bersalah dengan apa yang terjadi bukan hanya kepada Oxley general tetapi juga korban-korban, hingga membuatnya menjadi candu untuk memandangi foto milik cowok itu. Namun, Stella tak mempermasalahkannya selagi akal sehatnya masih berfungsi dengan baik dan dapat menolong Reza tak masalah dirinya harus memandangi foto lelaki itu setiap saat.


"Aku harus tidur. Aku harus menyiapkan diri untuk bertemu dengan Reza besok siang. Tuhan bantu aku untuk memperbaiki keadaan ini." Stella menggosokkan kedua telapak tangannya sambil terpejam. Kemudian beranjak dari meja kerjanya untuk tidur malam.


Setelah selesai, semua tentara dan jurnalis membubarkan diri. Bergabung dengan team mereka masing-masing untuk mempersiapkan keberangkatan menuju stadion kebanggaan Manchester United itu. S


Stella bersama dengan Douglas dan kate untuk berita BBC, naik ke mobil anti huru hara yang telah di sediakan oleh tentara Inggris. Dengan pengawal cukup ketat mereka para jurnalis dan tentara pergi meninggalkan asrama untuk menuju stadion old Trafford.


Sepanjang perjalanan, Stella tak henti memotret keadaan kota manchester yang begitu ramai dengan lautan manusia. Di beberapa titik bahkan terlihat kobaran api dari pembakaran ban. Masyarakat yang bukan hanya datang dari dalam Inggris terus mengumandangkan protesnya terhadap scandal yang saat ini menjerat Oxley General. Masyarakat ingin, Reza segera turun dari jabatannya menjadi pemilik Oxley general dan menutup Perusahaan tersebut secara permanen. Masyarakat juga menuntut kepada Reza, untuk bertanggungjawab dengan ledakan reaktor nuklir di beberapa negara maju. Menyantuni para korban yang meninggal dan membantu semua masyarakat yang terkena dampak dari ledakan tersebut. Hal itu bukan tanpa alasan karena sebagaimana masyarakat tau jika Oxley general adalah perusahaan licik yang tidak mau bertanggungjawab dengan apa yang terjadi pada pegawai-pegawainya.


Mobil pun tiba. Berbeda jauh dari jalanan yang tadi Stella lewatin, halaman stadion old Trafford begitu sepi dan di jaga begitu ketat oleh aparat negara. Kate yang baru saja turun dari dalam mobil segera menghampiri Stella yang baru saja di periksa suhu tubuh oleh petugas.


"Kau lihat, bahkan orang bersalah seperti Reza masih di perlakuan luar biasa oleh penegak hukum. Aku berharap semoga adiknya tidak mengikuti jejak kriminal sang kakak." Berlalu begitu saja masuk ke dalam stadion.


Stella hanya mengernyitkan dahi binggung menatap bahu kecil Kate. Entah apa maksud wanita itu berbicara seperti itu. Stella tak tau kalau kate baru saja menyindir Judika yang telah mana masyarakat ketahui adalah kekasihnya.


Sirene mobil iring-iringan berbunyi menandakan Reza telah tiba. Tak banyak basa-basi, Stella yang masih berdiri di pos keamanan segera berlari dan mengambil kameranya untuk merekam kedatangan Reza tersebut.

__ADS_1


Dua mobil anti peluru di depan berjalan memasuki halaman stadion. Di ikuti oleh mobil Audi yang Stella yakinin adalah milik Jones dan kembali di ikutin oleh dua mobil anti peluru lainnya di belakang mobil audi. Stella berdecak kagum.


Presiden Indonesia aja kalah sama seorang pengusaha kaya Reza.


Semua jurnalis berkumpul, berkerumun menggerubungi mobil Audi mewah itu. Kamera sudah sedaritadi menjepretan kedatangan mobil tersebut. Memantulkan flash yang membuat mata sedikit terasa silau itu.


Tak beberapa lama, mobil pun terbuka. Jones keluar dari dalam kursi pengemudi. Berlari menuju bangku penumpang sambil menghalangi para jurnalis yang mencoba mendekati mobil kesayangannya itu. Stella yang berada di antara puluhan jurnalis menatap begitu fokus sembari terus merekam. Hatinya berdebat begitu kencang bersamaan dengan tangan Jones yang membuka pintu penumpang Audi.


Darah berdesir begitu hebat di dalam tubuhnya, ketika irisnya menangkap sosok Reza yang turun dari dalam mobil dengan keadaan yang nampak terlihat baik-baik saja dan malah semakin tampan serta berkharisma. Tak terlihat seperti seseorang yang sedang menghadapi masalah yang begitu amat berat. Reza justru terlihat begitu santai dan baik-baik saja.


"Mr.Oxley bagaimana keadaan ada? Apakah anda siap untuk memberikan klarifikasi dengan apa yang terjadi dengan Oxley general saat ini?" Mulai para jurnalis bergantian menanyakan pertanyaan kepada Reza. Tak peduli Reza menjawabnya atau tidak.


"Mr.Oxley bagaimana dengan tuntutan para pendemo? apakah anda akan mengabulinya atau justru tetap diam seperti biasanya?"


"Reza apakah kamu baik-baik saja?"


Deg...


Langkah kaki Reza tiba-tiba berhenti, ketika mendengar salah satu pertanyaan yang terdengar begitu samar di telinganya dari para jurnalis yang terus menggerubunginya. Matanya menyapu setiap jurnalis yang mengelilinginya. Mencari sosok di balik suara yang menanyai keadaanya itu.


Namun, saat dirinya masih tengah mencari siapa pemilik suara itu earpod di telinga berbunyi. Salah satu anak buahnya yang memang sengaja Reza siagakan di beberapa titik Stadion berkata


"Sir, wanita itu ada di sini. Arah jarum jam 5 mu."


Tubuh Reza reflek mengikuti kemana arah yang di tujukan oleh anak buahnya. Dia menangkap sosok seorang gadis berpakaian tebal dengan syel yang menutupi lehernya hingga mulutnya tengah merekam dirinya dengan menggunakan kamera. Sebuah seringaian tiba-tiba muncul di bibir Reza.


"Keluarkan Abraham. Dia pasti merindukan ayah baptisnya." Menatap kearah wanita yang berusaha menutupi wajahnya dengan syel yang melingkar di lehernya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2