Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 20


__ADS_3

Alunan musik dari biola terdengar begitu merdu di telinga keempatnya. Mereka begitu menikmati makan malam hari itu. Makanan pun telah tersaji di atas meja. Sebotol, wine Barossa Valley Shiraz sebagai pembuka. Bukan, wine mahal yang biasa di minum Reza paling tidak cocok sebagai pembuka acara.


"Aku juga mau minum." Rengek Shena meminta Wine yang terlihat begitu menggugah selera.


“Tidak! Kamu tidak boleh minum ini. Apa kamu tidak ingat terakhir kali minum wine? Kamu langsung tidak sadarkan diri. Dan itu membuatku ingin memakan mu saat itu juga. Aku tidak ingin dua bujang lapuk di depanku ini melihat kamu mabuk. Cukup aku saja yang tahu.” Tegas Leo, yang membuat Shena cemburu.


Jones mendesah, menghela napas kesal menatap kedua pengantin baru itu. Sepertinya mereka sengaja memamerkan kemesraan di depan dia dan tuannya. Sementara, Reza hanya duduk dengan memamerkan wajah tampannya yang begitu dingin tak terbaca.


"Hello, Mr.Oxley." Seorang wanita berpakaian chef datang menghampiri meja mereka. Meletakan hidangan spesial yang keempatnya pesan. "Aku tidak mengira, jika yang datang malam ini adalah engkau. Pantas saja aku bersemangat untuk pergi bekerja, walaupun semestinya restoran ini tutup."


Reza tak terpengaruh. Ia tetap fokus menatap pintu masuk Restoran, menunggu keempat orang tamu lagi yang diundang oleh Leo.


"Nona Shakira, saya pikir anda harus ke dapur kembali untuk menghidangkan pesanan kami yang lainnya." Jones bangkit dari duduknya, menarik tangan wanita berambut hitam pendek itu dan segera membawanya pergi dari sana.


"Baiklah. Aku bisa menenuimu lain waktu, Tuan Oxley." Shakira mengedipkan satu matanya dan beringsut pergi dari sana.


Mulut Shena ternganga, dengan tingkah laku begitu centil yang ia yakini eksekutif chef di restoran ini. Dia tak menyangka jika ada wanita secentil itu, menggoda secara terang-terangan seorang lelaki. Terlebih lelaki berpengaruh seperti Reza.


"Apa anda mengenal dia, Tuan Oksel?"


"Dia mantan kekasih Tuan Oxley yang ke 165." Jones duduk kembali membuka kancing jasnya dan menghela napas.


Shena berdecak tidak percaya. Apa dia tidak salah dengar? Mantan ke seratus enam puluh lima? Seberapa banyak mantan lelaki di hadapannya ini? Refleks, Shena menatap secara bergantian Reza dan Leo, menggelengkan kepala pening memikirkan urusan percintaan kedua orang ini.


"Jika Leo saja ada alasannya menjadi Playboy, pasti Reza juga demikian." Pikir Shena dalam hati meyakinkan diri, jika didalam hati playboy itu terselip cinta begitu besar untuk satu orang wanita seperti suaminya.


Makan malam pun, berjalan dengan khidmat. Mereka berbincang masalah bisnis yang keduanya jalankan. Baik Leo dan Reza terlihat begitu akrab saat membicarakan perihal bisnis, begitu berbeda sekali dengan yang tadi. Keduanya bahkan tertawa dan tak jarang saling melemparkan umpatan. Shena hanya tersenyum memandangi wajah teduh dan tampan suaminya. Jika seperti ini, entah mengapa Shena berpikir Leo jauh tampan.

__ADS_1


Sementara itu sebuah Koenigsegg CCXR Trevita hitam berhenti di depan restoran. Ekor mata Reza menangkap itu, tak beberapa lama muncul seorang wanita cantik bergaun hitam yang berjalan anggun hendak memasuki restoran. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat lelaki yang datang bersamanya mengintegrasikannya untuk diam menunggu sejenak.


Elena, nama wanita cantik berwajah asia itu termangu diam mematuhi ucapan Rendi kekasihnya. Ia menatap lekat punggung lebar lelakinya itu, saat sebuah telpon menjeda waktu mereka.


Reza terus menyoroti Elena. Menatapnya dengan lekat dari ujung kaki hingga kepala, ia seperti pernah melihat wanita itu di sebuah tempat. Namun, entah dimana. Otaknya mencoba berpikir, tetapi tak menemukannya. Hingga akhirnya ia menyerah, dan kembali berbincang dengan Leo dan Shena.


"Jadi apa kau sudah menemukan Ramdan? Aku butuh semua data kejahatannya."


Kepala Reza mengangguk, meraih gelas winenya dan menenggak hingga habis tak tersisa. "Dia ada dalam pengawasan ku. Jika kau menginginkannya, kau bisa datang ke Sisilia satu bulan lagi. Aku akan memenjarakan di sana."


Dahi Leo mengeryit binggung. "Sisilia? Kau memenjarakannya disana? Apa ada hubungannya?"


"Penjara khusus Oxley General berada disana. Terlalu bermasalah, jika aku mendirikan di Inggris. Pasti banyak warga Inggris yang memprotesku, mereka akan menganggap ku pengkhianat negara dengan mendirikan hukum ku sendiri."


Baru saja Leo ingin menjawab, tiba-tiba terdengar suara begitu bising bahkan pekikan dari seorang pria dari arah luar. Keempat orang yang masih asik berbincang di sana, serempak menatap kearah sumber keributan itu terdengar.


Mata Reza memandangi wanita yang tadi berdiri di luar restoran berjalan mundur dengan gontai. "Ada apa?"


"Jones, ikuti Leo." Titah Reza kepada Jones.


Segera, Jones mengiyakan instruksi tuannya. Dengan cepat Jones berlari mengejar Leo dan membuntutinya dari belakang.


Ekor mata Reza terus mengawasi dari dalam restoran. Sementara Shena duduk dengan pikiran was-was. Ia begitu takut, jika terjadi sesuatu hal yang malah akan berakhir pada Leo.


"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Kau ada di dalam kawasan ku." Suara Reza terdengar begitu berat mencoba menenangkan Shena yang terlihat begitu ketakutan.


"Aku takut dia terkena masalah."

__ADS_1


"Sudah kebiasaannya," jawab singkat Reza yang langsung mendapatkan tatapan tajam Shena.


Namun, keduanya terlonjak kaget saat suara Leo yang terdengar seperti seorang sedang muntah-muntah.


Hoek... Hoek... Hoek


Shena berdiri dan segera berlari menghampiri suaminya. Sementara Reza berjalan santai di belakang Shena yang nampak begitu khawatir.


Saat tiba di luar, betapa terkejutnya Reza melihat Leo yang muntah-muntah melihat ceceran darah yang begitu banyak. Entah, apa yang terjadi disana tetapi satu yang jelas keadaan begitu berantakan hingga membuat Jones harus memanggil beberapa pengawal.


"Ada apa?" Reza berjalan dengan angkuh mendekati kerumunan itu.


"Sepertinya, suamiku sedang sakit tuan Oksel. Apakah tidak ada ruangan lain yang bisa kami buat untuk istirahat? Aku sangat mengkhawatirkannya. Tidak biasanya dia seperti ini.” Jawab Shena gelisah.


"Kau muntah, huh?" tanya Reza menepuk punggung Leo.


"Diam kau, sialan!"


Gelak terdengar dari semua orang yang menyaksikan Leo yang tiba-tiba saja muntah tak jelas. Ini adalah momen yang begitu langka bagi seorang berandal ulung macam Leo. Ingin sekali rasanya Reza dan Jones meledek, namun melihat Shena yang terlihat begitu cemas tak sampai hati Reza dan Jones melakukan itu.


“Tentu, ikutlah denganku. Apa dia kuat berjalan? Apa perlu aku menggendongnya?” Reza menatap Shena. Menyeringai penuh dengan tatapan mengejek.


“Aku masih kuat berjalan es Kimo! Aku tak selemah yang kau lihat! Jangan coba-coba menyentuhku selain istriku!”


Reza menyeringai menatap Leo dengan tatapan sarkasme. "Terserah," ucapnya kemudian berlalu masuk kembali ke dalam restoran.


Sementara dua pasangan yang menjadi dalang keributan tadi, malah saling melemparkan pandangan. Bergumam-gumam dengan diri mereka sendiri, sambil menatap punggung ketiga orang itu dengan raut wajah tak bisa di artikan.

__ADS_1


"Mr dan Mrs?" Tiba-tiba saja Jones berdiri sambil berkacak pinggang di hadapan keduanya. Menghela napas sambil geleng-geleng kepala melirik darah segar yang masih berceceran di lantai beranda restoran. "Kalian luar biasa."


TO BE COUNTINUE....


__ADS_2