
Stella benar-benar tak mengerti dengan dirinya sendiri, tiga hari sebelum hari ini datang dia sudah sangat-sangat mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Reza. Dia bahkan berdiri di depan cermin kaca kamarnya berakting untuk bicara kepada Reza menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi. Namun, entah mengapa tiba-tiba tubuhnya membeku bagaikan bongkahan es saat berada tepat di hadapan Reza. Jangankan untuk berkata menjelaskan apa yang terjadi, untuk menatap wajah lelaki itu saja Stella tak berani. Padahal, di asramanya hampir setiap saat ritunitas harian yang tak boleh ia lewatkan adalah memandangi foto lelaki itu.
Berdiri di barisan paling belakang para jurnalis yang sedang meliput gambar Reza, Stella mati-matian menyembunyikan wajahnya di balik syel yang melingkar di leher indahnya. Beberapa kali, Reza melirik ke arahnya selalu Stella membuang wajah dan berharap lelaki yang pernah tidur dengannya itu tak menyadari kehadirannya di sana.
Hingga, Reza melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam stadion, Stella baru memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Memandangi bahu lebar milik lelaki itu yang berlahan menghilang di balik pintu masuk stadion.
Stella menghela napas. Dia menjengut-jengut rambutnya frustasi dengan dirinya sendiri yang begitu amat pecundang. Bagaimana bisa, dia begitu takut berhadapan dengan Reza. Padahal dirinya sudah berlatih selama berhari-hari untuk menyambut hari ini.
Tidak! Ini tidak bisa di biarkan. Jika aku terus bersikap seperti ini, kehancuran Oxley General benar-benar akan terjadi.
Dengan hati yang menggebu-gebu, Stella menyakini dirinya dan memberanikan diri untuk bertemu dan berbicara kepada Reza. Dia mengenyahkan semua pikiran-pikiran negatif tentang Reza yang terus menerus menerjang otak dan pikirannya.
Dia pun melangkahkan kaki memasuki stadion old Trafford. Duduk di area lapangan besar milik team Manchester United itu bersama dengan kate dan Douglas.
"Apa dia akan memberikan pidatonya disini?" tanya Stella heran. Pasalnya, mereka saat ini benar-benar berada di tengah-tengah lapangan sepak bola yang mana di tengah-tengah lapangan itu juga sudah tersedia sebuah podium yang Stella yakini sebagai mimbar bagi Reza untuk berpidato.
"Ya. Apa sih, yang tidak bisa di lakukan oleh Reza. Jangankan Old Trafford, istana Buckingham saja kalau dia inginkan berpidato di sana pasti di ijinkan oleh Queen."
"Seberpengaruh itu kah seorang, Reza?" Gumam Stella sambil berkhayal mengenai sosok Reza. Dirinya tak pernah bisa membayangkan bagaimana enaknya hidup bergelimang harta seperti Reza. Hidup tanpa beban dan rasa takut luar biasa terhadap sesuatu dari masa lalunya. Ingin rasanya Stella merasakan itu, sejam saja melupakan pahitnya kehidupan yang selama inu dia jalani.
"Ya tetap aja meskipun seberpengaruh itu terhadap Inggris bahkan dunia, skandal yang berada di belakangnya dan mengiringi langkah kariernya gaakan bisa di maafkan."
__ADS_1
Mendengar penuturan Kate, seketika lamunan Stella tentang khayalan menjadi seorang Reza buyar. Benar juga apa yang dikatakan Kate, dirinya tak boleh melupakan sepak terjang Reza menjadi pengusaha persenjataan termuktahir di Eropa itu terluapkan. Tentang kekejamannya terhadap musuh dan wanita, keterlibatannya bukan hanya dengan organisasi gelap timur tengah saja tetapi juga para mafia Italia, dan tentang keberadaan penjara Oxley General yang hingga sekarang hanya terdengar sebagai sebuah rumor bahkan lelucon semata.
"Stella kau sudah siap dengan kamera mu?" Tiba-tiba Gwen datang menghampiri.
"Ya, sudah." Menjawab sambil mengangkat kamera di tangannya.
"Bagus. Kamera ku tiba-tiba Error tolong tangkap gambar yang bagus, ya. Aku akan minta beberapa gambar pada mu."
Saat kedua jurnalis cantik itu masih terus bercengkrama, tiba-tiba suara mic di ketuk terdengar membuat semua jurnalis yang semua riuh dengan berbincangan mereka masing-masing senyap seketika dan fokusnya teralihkan ke sumber suara.
"Untuk para rekan jurnalis di mohon perhatiannya." Seseorang wanita berkata. "Sebentar lagi Mr. Oxley akan naik ke atas podium untuk memberikan klarifikasinya mengenai apa yang sedang terjadi."
Tak nampak baik tentara atau pihak keamanan lainnya di sekitar arena stadion. Hanya orang-orang berbaju serba hitam yang dia yakini adalah anak buah Reza, dan yang lebih membuatnya menaruh curiga adalah beberapa dari mereka sesekali menatapnya sambil berkomunikasi satu sama lainnya menggunakan earphones yang terpasang di telinga mereka.
Ada yang salah di sini.
Stella terus menyapu pandangan di sekitar area stadion. Menelusuri satu demi satu para anak buah Reza yang memakai baju serba hitam terus menatap kearahnya dengan tatapan mata lekat dan waspada. Hingga netranya berhenti di satu titik dimana Reza berdiri dan sedang juga memandanginya. Jantungnya berdebar sangat kencang, melihat lelaki itu sedaritadi ternyata sedang mengawasi dirinya.
Tak beberapa lama, tiba-tiba muncul sesosok laki-laki berjaket kulit tebal hitam panjang, bersarung tangan kulit, dan bertopi koboi menghampiri Reza. Berdiri di sebelah Stella dan juga ikut menatap stella dibalik kacamata hitamnya.
Stella menyipitkan matanya, menegaskan siapa lelaki yang berdiri di sebelah Reza tersebut. Nampaknya, dia tidak asing dengan sosok lelaki berjaket tebal dan bertopi koboi itu. Lekuk tubuhnya, cara jalannya, dan wajahnya yang dia liat samar-samar seperti mengingatkan dirinya entah kepada sosok siapa. Stella terus berpikir, mencari satu nama yang ada di dalam otaknya. Namanya yang menggambarkan sosok lelaki yang tengah berdiri di samping Reza karena dirinya amat menyakini jika sosok itu tak asing baginya.
__ADS_1
*Tubuh itu...
Cara jalan itu*...
Deg...
Mata Stella melebar mengingat satu nama pemilik tubuh yang berdiri di sebelah Reza. Kamera yang dia bawa pun sampai terjatuh dan lensanya pecah. Pandangan kembali tertuju kepada kedua lelaki yang mulai berjalan mendekati podium. Melihat hal itu, Stella panik bukan main.
Segera, dia memungut kameranya yang rusak itu. Berniat hendak bergegas dari stadion untuk melarikan diri. Namun, benar sesuai dugaannya stadion itu sudah di jaga oleh para anak buah Reza. Para lelaki berbaju hitam dengan badan kekar itu berdiri pasang badan mencegah Stella untuk berlari.
Stella menatap Reza yang sudah naik ke atas podium yang di sambut gemuruh tepuk tangan dan jepretan kamera dari para jurnalis. Stella berteriak hendak memanggil teman-teman satu asramanya, tetapi mereka yang berdiri tepat di tengah kerumunan para jurnalis lain tak mendengar.
Jantungnya semakin berdegup dengan kencang, keringat keluar membasahi pelupuk. Berkali-kali, dia menghela napas melalui mulutnya dan menghitung langkah lari ke arah pintu keluar yang terbuka di depannya.
Dan dalam hitungan ketiga, Stella pun berlari. Namun belum langkahnya tiba di ambang pintu keluar stadion, seseorang menyelenggkat kakinya hingga membuat dia jatuh tersungkur ke rumput lapangan.
Belum kesadaran sepenuhnya karena terjatuh kembali, tiba-tiba dua lelaki datang menghampiri. Memaksanya untuk berdiri dan membawanya keluar dari dalam stadion melewati pintu darurat.
Di masukknya, Stella ke dalam sebuah mobil Jeep, tetapi sebelum itu mulut Stella di bekap sampai wanita itu pingsan dan wajahnya di tutupi menggunakan karung berwarna cokelat.
TO BE CONTINUE...
__ADS_1