Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 88


__ADS_3

Bukan Reza namanya jika terus larut dalam kesedihan dan rasa kesepiannya. Hanya beberapa menit setelah dia meluapkan isi di hatinya kepada Jones, dia sudah bersiap untuk acara pengesahan jabatan barunya. Bersama Jones, mereka bersama-sama turun dari ruangan Reza menujuh ruangan rapat yang berada di gedung sebelah.


Saat lift yang membawa Reza dan Jones berhenti di lobi perusahaan, kerumunan wartawan yang telah mendapati lobi langsung berkumpul dan mengerubungi Reza. Jones langsung sigap, menjauhkan tuannya dari wartawan yang pasti tiada hentinya untuk mengejar dia.


"Mr. Oxley apakah benar anda akan memegang kursi Presdir Hartanto Grup? Lalu bagaimana dengan Oxley General yang sebentar lagi akan meluncurkan produk baru untuk menyambut hari kemerdekaan Inggris?" Seorang wartawan wanita melontarkan sebuah pertanyaan, tak perduli sebagaimana pun Jones mencoba menghalau dirinya.


"Mr. Oxley tolong klarifikasi lebih jelas mengenai pernyataan anda tentang anda anak kandung ibu Liliana Hartanto?" Seorang wartawan lainnya mengajukan pertanyaan.


Reza tetap bungkam, terus melanjutkan langkahnya hingga keluar dari gedung utama. Diam-diam matanya menelisik halaman gedung Hartanto seperti mencari seseorang. Dia bahkan sesaat menghentikan langkahnya, memandangi sepenjuru halaman Hartanto.


"Kau mencari seseorang, sir?" Bisik Jones.


Reza tetap tak bergeming, dia tak mempedulikan pertanyaan Jones dan kembali melanjutkan langkahnya memasuki gedung di mana acara pengangkatannya menjadi CEO sementara di laksanakan.


Masih berada di area yang sama dan waktu yang sama, Stella diam-diam berdiri di ujung halaman gedung Hartanto. Berdiri di bawah pohon rindang yang sengaja di tanam untuk meneduhkan halaman gedung Hartanto yang terik. Dari sana, dia dapat melihat segerombolan wartawan dan juru kamera terus mengejar Reza, mencecar pertanyaan kepada lelaki tampan dan kharismatik itu.


****


Senja sudah membentang di cakrawala saat kaki-kaki mungil Stella melangkah keluar dari gedung TTV. Dia merentangkan tangannya ke atas kuat-kuat. Mengoyangkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk melenturkan otot-ototnya yang terasa tegang.


Rasanya begitu sangat lelah. Setelah pernyataan Reza yang mengatakan anak dari Liliana beberapa bulan lalu dan hari ini dia akan meninggalkan Oxley General untuk beberapa waktu untuk mengantikan Liliana hingga Judika siap memegang kursi jabatan CEO. Itu berhasil membuatnya kerja ekstra. Karena kurang dari lima menit pengangkatannya menjadi seorang CEO Hartanto Grup seluruh sosial media trending namanya. Fotonya terpasang di mana-mana. Hastag Oxley General, Reza Eerste Oxley, dan Hartanto Grup memenuhi Twitter. Stella harus bekerja ekstra, terpacu melawan waktu untuk menulis artikel tentang Reza.


Ketika, Stella masih merenggangkan otot-ototnya yang kaku tiba-tiba sebuah Audi hitam berhenti tepat di depannya. Stella menghentikan aktivitasnya, meletakan sweater pinknya di lehernya dan menatap lekat Audi yang nampak tak asing untuknya.


Perlahan jendela Audi terbuka, mata Stella membelalak sempurna saat seorang yang amat sangat ia hindari tengah duduk dengan santai tanpa ekspresi apapun di kursi penumpang. Reflek, Stella melangkah mundur. Menjauh dari Audi hitam itu dan bersiap untuk berlari.


Namun, belum juga ia lari dari sana penumpang Audi hitam yang tak lain adalah Reza itu turun. Membuka kaca mata yang melingkar di matanya dan menatap Stella sambil menyender pada pintu Audi.


"Selamat sore, Miss Sasmita."


Sejenak Stella melongok. Mulutnya sampai ternganga melihat kehadiran orang yang tak ia duga tiba-tiba.


"Oh... Ya, selamat pagi... Eh maksudnya sore." Tersenyum kikuk sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


Stella menundukkan kepalanya. Mengigit bibir bawahnya sambil bermonolog di dalam hatinya. Untuk apa sih, lelaki ini ada di hadapanku? Apa dia mau menyeret ku dan membawaku ke penjara Oxley General?


"Kau tidak apa-apa, kan?" Reza mendongakkan kepalanya mendekati Stella. Mengoyang-goyangkan tangan di depan wajah Stella.


"Eh, ya aku tidak apa-apa." Menegakkan kepalanya dan tersenyum kikuk menatap Reza.


"Kau ada waktu? Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan kepada mu."

__ADS_1


Deg...


Jantung Stella tanpa di suruh tiba-tiba saja berdebar begitu kencang. Dengan beraninya, dia menatap lekat-lekat wajah Reza. Menelisik wajah yang di tumbuhi kumis dan jenggot itu lekat-lekat. Sepertinya hari ini akan menjadi senja yang ia lihat.


"Ma... Mau apa?"


Reza bersedekap, menatap Stella dengan tatapan yang tidak Stella mengerti. "Mengajakmu makan malam."


"Tiba-tiba?"


"Ya. Kenapa ada masalah?"


Stella mengerjap-ngerjap mata cepat. Curiga dengan sikap tiba-tiba Reza. Mengingat terakhir mereka bertemu di bandara masih dalam kondisi kurang baik. Stella juga tau betul bagaimana seorang Reza, yang tidak akan pernah melepaskan begitu saja musuhnya.


"Ada apa? Kau takut aku akan menculik mu? Membawa mu ke Sisilia untuk eksekusi."


Kepala stella menggeleng cepat. Segera alam bawah sadar berkumpul.


"Baiklah." Membuka pintu Audi lebar-lebar. "Silahkan masuk."


Ragu, Stella melangkah kakinya. Tak rela melepaskan pandangannya dari Reza yang terus memasang senyum anehnya. Entah senyum penuh muslihat macam apa yang di tunjukkan. Satu yang pasti itu membuat rasa takut dan ngeri Stella berkali-kali lipat.


Reza benar-benar menepati janjinya, mengajak Stella makan malam di sana. Duduk berdua saling berhadapan dengan meja yang di hiasi lilin cantik. Sementara, Jones sang asisten setia juga ikut makan malam bersama tapi dengan duduk berpisah. Mengamati keduanya tak jauh dari meja itu.


"Terima kasih atas makan malamnya, Mr. Oxley."


Reza mengangguk dan kembali membukakan pintu Audinya, setelah mereka selesai makan malam penuh dengan drama pertanyaan yang menggelikan.


"Oh, tidak Mr. Oxley." Stella menggeleng kepala cepat. Menolak tawaran Reza yang sepertinya akan mengantarkan dia kembali ke apartemennya. "Aku bisa pulang mengenakan ojek online."


"Aku tidak akan mengantarkan mu pulang Stella. Aku ingin mengajak mu keliling Jakarta untuk sebentar. Hanya sebentar. Tidak masalah, bukan?" Suaranya terdengar begitu lembut. Matanya juga memancarkan biru indah dan tulus menatap Stella. Dan, tanpa Stella sadari alam bawah sadarnya berkerja begitu cepat. Ardenalin pada dirinya mengalir begitu kencang pada tubuhnya. Untuk pertama kali dalam dua puluh tujuh tahun dia hidup, rasanya ingin sekali menyentuh bibir milik Reza. Menyentuhnya dan mengecup bibir itu.


Oh, sadar Stella. Stella mengendalikan dirinya. Mencoba menemukan kewarasan pada dirinya, sedikit demi sedikit. Hingga, ia kembali tersadar dan berdiri di atas kaki-kakinya.


"Jalan-jalan? Apa harus? Untuk apa? Bukan..."


"Stop, stop. Jangan bawa sifat jurnalistik mu saat bersama ku. Kau sangat bawel sekali jika sudah seperti itu."


Stella berdecak tak terima. Jujur saja, untuk beberapa alasan setelah makan malam bersama dan mengobrol rasa takut akan sosok Reza sedikit agak berkurang. Stella bahkan seperti telah menghapus ingatan akan video mengerikan mengenai sarkasme yang di miliki Reza. Lelaki ini memiliki sisi yang baik juga. Pikir Stella.


"Aku tidak tau dapat ikut atau tidak."

__ADS_1


"Come on, apa yang kau ragukan? Aku akan menculik mu? Ayolah Stella, bagaimana bisa aku menculik kekasih adikku sendiri."


Itu poinnya. Gumam Stella dalam hati. Andai saja dia tau jika mereka bukanlah sepasang kekasih, apakah sikapnya akan tetap sama?


"Jam sepuluh aku sudah harus di rumah?"


Reza menaik-turunkan alisnya.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Stella binggung dengan ekspresi Reza.


"Jam 10? Untuk apa? Ah, jangan bilang gagal meretas sistem ku kau mau meretas perusahaan besar lainnya?"


Sedetik itu juga Stella mendelikkan mata tak terima.


"Kau pikir aku ini apa? Kau harus tau, ya Cyberfriend itu seperti apa tidak sembarang orang yang menjadi target serangan ku, tau."


Reza tergelak mendengar ucapan Stella yang bernada merajuk itu. Ia juga nampak begitu imut, mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap. Entah mengapa melihat tingkah Stella, membuat Reza amat begitu gemas. Percaya lah, pertama di dalam hidupnya Reza merasakan sebuah perasaan aneh, menggelitik, dan menggelikan macam itu.


"Baiklah, baiklah. Sekarang masuk."


Stella masih tetap diam. Bersedekap dan memancarkan tatapan tajam menghujami Reza.


"Katakan dulu, kau mau mengajakku kemana?"


"Jujur saja, aku tidak tau Jakarta, Stella. Terserah kau mau kemana, asal tempat itu mengasikkan."


"Ok," Stella memainkan matanya. "tapi janji kau tidak akan menculik ku?"


"Ya tuhan harus berapa kali aku berkata, Stella?"


"Baiklah," Stella beringsut, berjalan beberapa langkah untuk mengetuk kaca Audi yang berisikan Jones di dalamnya.


"Ada yang bisa saya bantu, nona?"


"Kau tau kan rute ke Ancol?"


"Jika saya tidak tau, Audi saya yang akan memberitahukannya."


"Baiklah, kita pergi ke pantai."


TO BE COUNTINUE...

__ADS_1


__ADS_2