Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 70


__ADS_3

Malam telah menjemput alam. Merubah warna langit yang biru menjadi hitam kelam. Kilat dan petir menyempurnakan kengerian malam, tidak ada bintang yang menghiasi langit malam ini, justru mungkin hujan-lah sebentar lagi akan datang.


Setelah kejadian di kantor pusat, Stella bersama tiga rekan lainnya kembali ke kantor dengan raut wajah muram. Seharusnya Alisa sebagai pemimpin team tidak melakukan perbuatan kotor seperti tadi. Menyuruh Stella untuk diam-diam menyelinap masuk ke gedung pusat dan mencari informasi penting mengenai Esocial. Alisa jadi tak enak hati, terlebih ketika tau Stella ketahuan oleh Jones dan Liliana. Ingin rasanya Alisa meminta maaf kepada wanita itu, tetapi sayangnya gengsinya lebih besar. Alhasil baik dia maupun Stella tetap bungkam hingga mobil yang di bawa pak Bakrie tiba di kantor.


Sama halnya dengan Stella, dia juga memasang muka muram. Bukan perihal Alisa yang tidak mau meminta maaf kepadanya, atau perkataan Liliana tadi pagi. Dia memikirkan ucapannya kepada Reza, seharusnya dia tidak langsung mengaku tentang dirinya yang menjadi dalang peretas data Oxley General. Seharusnya Stella tidak gegabah seperti tadi, ya meskipun memang bukan salah dia sepenuhnya. Mengingat penghinaan yang di lontarkan Reza. Sungguh, begitu menusuk hatinya. Tapi, ia juga tidak semestinya mengakui. Ah, entahlah Stella juga binggung dengan dirinya sendiri, apa karena dia sudah lebih dari sepuluh tahun tidak melakukan kejahatan cyber semua yang pernah di ajarkan oleh Cyberfriend berlahan menghilang dari pada dirinya? Kecerdikannya, otak briliannya mengatur strategi, juga ambisi yang biasa di miliki seorang hacker sepertinya.


"Stella." Langkah kaki Stella terhenti tepat setelah dirinya absen untuk pulang. Dia menoleh dan mendapati Alisa berdiri tak jauh darinya. Melipat kedua tangannya di bawah perut, dengan menyertakan gigi-giginya.


"Kenapa, Sa?" Stella menghampiri. Mengelus lembut punggung gadis itu. Dia tau saat ini Alisa merasa tak enak kepadanya, tapi sungguh Stella tak merasa seperti itu.


"Gue mau minta maaf," suaranya terdengar lemah. Antara malu-malu juga gengsi. "Karena gue lo tau..."


"Is ok. Gak masalah." Stella memotong perkataan Alisa. Stella benar-benar tau, jika Alisa tak nyaman dan canggung dengan suasana seperti ini, dan sama dengannya. "Jangan kaya gitu. Lo itu kan ketua team, sekali dua kali pimpinan salah menyusun strategi itu wajar. Tapi mungkin satu yang gue minta sama lo."


Kepala Alisa terangkat, terdapat mata berbinar dari dalam sana. Dia tersenyum tulus memperhatikan wajah Stella yang selalu terlihat ceria dan penuh energi.


"Jangan pernah lo lakuin itu lagi. Lo harus cari berita yang jujur, bukan dari hasil mencuri. Itu bahaya buat karier lo, Sa."


Alisa menganggukan kepalanya. Menyadari akan kesalahan fatalnya. "Gue benar-benar terobsesi jadi pembawa berita, Stel. Akhir-akhir ini gue kaya setan banget. Gak perduli mau berita yang gue dapatin dari mana sumbernya jelas atau tidak yang menurut pasaran itu laku gue tulis dan terbitkan. Asal gue bisa di pilih jadi kandidat baru, buat jadi presenter berita."


"Gue ngerti. Gue juga pernah ada di posisi lo. Berambisi untuk menggapai apa yang menjadi cita-cita gue, apapun gue tulis yang menurut atasan gue itu bagus, gak perduli mau berita itu benar atau gaknya. Dan, lo tak hasil apa? Gue ketahuan menyebarkan berita hoax, dampaknya gue ga di percaya lagi sama masyarakat. Mau berita apapun yang gue tulis, mereka sebut itu palsu. Termasuk tentang politik dan agama yang nyatanya memang gue tulis dengan sumber terpercaya. Mereka tetap ga percaya dan mengecap gue sebagai pengkhianat negara. Dan, finalnya gue di pecat dan beasiswa S2 gue di cabut bulan depan."


Tak ada yang tak tau tentang berita itu. Berita mengenai skandal Stella yang menulis berita hoax tentang seorang penjabat negara. Bahkan Alisa sendiri pun dulu pernah terang-terangan menghujat dan menganggapnya jurnalis tak tau malu. Berita itu meluas, viral di sosial media dan ramai di angkat menjadi topik di beberapa talk show tv.


"Sekarang gue tau, kenapa lo kaya gitu dulu."

__ADS_1


Kepala Stella mengangguk. "Obsesi bercampur ambisi itu gak baik untuk diri kita, Sa. Gue udah pernah merasakan itu. Bukan keringat yang gue harapkan terhujud justru karier dan masa depan gue hancur."


"Ya, seharusnya kita bersyukur dengan hidup ini. Masih dapat pekerjaan dan bisa menyambung hidup ditengah pandemi seperti sekarang. Bukannya malah mengeluh dan berlomba-lomba meraih impian dengan cara kotor. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kita ingin. Duit, harta, jabatan, dan nama itu semua kan gak abadi."


Entah mengapa ucapan Alisa seperti tamparan bagi Stella. Dia merasa seperti di tampar begitu keras dengan ucapan yang secara tidak langsung menyindir dirinya. Dia pandai menasehati seseorang untuk menjalankan hidup yang baik dan jujur. Sementara dirinya sendiri, malah melakukan perbuatan jahat dan kotor untuk mendapatkan apa yang dia mau. Uang.


"Yaudah lo gak usah mikirin apa-apa lagi. Mending sekarang kita pulang, bentar lagi ujan."


Mereka berdua akhirnya berjalan bersama keluar dari gedung TTV, melupakan kejadian tadi pagi dan saling memaafkan serta bersikap kembali seperti semula.


"Tiati ya, Stel." Alisa melambaikan tangannya, saat sebuah ojek online datang menjemput dia.


Dengan senyum yang selalu mengembangkan di bibir ranumnya, Stella membalas lambaian tangan. Memandangi Alisa yang perlahan menghilang di balik keramaian jalanan ibukota.


"Huft..." Stella menghela napas panjang. Memasukkan tangan berjari-jari panjang ke dalam saku jaket tebalnya.


Saat ini, dia tengah berdiri di sebuah shalter yang nampaknya baru di baru. Terlihat warna cat yang masih begitu mengkilap, juga besi penyangga yang masih kokoh tanpa berkarat.


Entah mengapa, baik ketika pulang kuliah ataupun bekerja Stella selalu saja berhenti dan beristirahat terlebih dahulu di halte arus sebuah shalter. Memandangi hamparan kapas berwarna temaram sambil berlama-lama. Terkadang, sialnya dia saking keasikan memandangi hasil lukisan tuhan, dia sering ketinggalan kereta atau justru kehabisan kereta yang akan membawanya pulang ke kota patriot. Alhasil dirinya harus memutar, dan mencari transportasi umum lainnya seperti busway untuk pulang ke rumah.


Namun, meskipun sering ketinggalan dan kehabisan kereta, itu tak membuat Stella menjadi trauma akan kebiasaannya itu. Dia masih terus duduk memandangi langit malam selepas pulang pekerjaan ataupun kuliah. Katanya, itung-itung refreshing otak setelah seharian bekerja. Dan, sama seperti malam-malam sebelumnya di dalam hidup Stella, malam ini dikala yang manusia yang lain buru-buru untuk pulang karena takut hujan akan datang, Stella justru kembali duduk di shalter berwarna cokelat itu. Memandangi langit sambil bergumam tak jelas seorang diri. Kadang-kadang dia tersenyum, bersemu, bahkan marah-marah hingga membenturkan kepalanya di besi penyangga shalter. Sungguh, malam ini pikirannya benar-benar kalut.


Masih dengan posisi kepala Menyender di tiang besi shalter, Stella memejamkan matanya. Perlahan ingatan akan pertengkarannya pagi tadi bersama Reza memenuhi isi otaknya. Bodoh, idiot, liar. Seharusnya dia tidak berkata seperti itu. Stella memukul-mukul kepalanya sendiri, mengerutu frustasi dengan apa yang dia katakan tadi.


Sekarang bagaimana? Apa Reza akan membawanya ke Sisilia?

__ADS_1


"Akhhh..." Stella berteriak keras. Tak perduli ada orang yang lewat atau tidak, yang penting dadanya merasa lega.


Namun, saat dirinya masih terpejam dan berteriak-teriak seperti orang tak waras. Tanpa dia sadari seorang lelaki berwajah enak di pandang dengan rambut sedikit gondrong duduk di sebelahnya. Berdehem hingga membuat Stella kaget setengah mati. Mata Stella mendelik menatap lelaki tampan itu beberapa detik. Menelisik dan kembali memejamkan mata tak perduli.


"Stella Sasmita."


Mata Stella kembali terbuka, kali ini ia membuka mata itu lebih cepat. Menoleh langsung memandangi lelaki di sebelahnya dengan tatapan penuh tanya.


Apa lelaki ini memanggilnya?


Bagaimana dia tau nama panjang Stella?


Beribu pertanyaan langsung merajam otak Stella. Kembali Stella menatap lelaki itu penuh selidik. Memastikan kembali kepada otaknya jika lelaki di sebelahnya tidak pernah dia temui sebelumnya.


"I am sorry. Who are you?"


Lelaki itu kembali tersenyum. Kali ini, di barengin dengan bangkit dia dari kursi dan berdiri di depan Stella. Kepala Stella menengadah, memperhatikan setiap gerak-gerik laki-laki itu. Memandangi penampilannya dari atas hingga bawah. Sampai ekor matanya berhenti di sebuah name tag yang terpasang di bagian sisi kanan jaketnya. Matanya terbelalak, reflek dia bangkit dan tak sengaja menjatuhkan tas jinjingnya. Tangannya terangkat, menunjukkan lelaki itu sambil bergumam.


"You Big Bos?"


Laki-laki misterius dengan wajah yang enak di pandang dan memiliki name tag di jaketnya dengan tulisan Big Bos.. Siapa dia?



TO BE COUNTINUE...

__ADS_1


__ADS_2