Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 84


__ADS_3

Setelah mengembalikan buku-buku yang pernah dia pinjam dari perpustakaan kampus, Judika keluar dan berjalan menelusuri lorong menujuh ruang dekan. Namun, urung juga kakinya sampai di ruangan tersebut sebuah suaranya menghentikannya. Dia menoleh melihat seorang lelaki berwajah bule dengan rambut gondrong tengah bertanya sesuatu kepada seorang security yang lewat. Merasa penasaran, Judika pun berjalan mendekat. Tidak menghampiri. Hanya saja mendekat saja beberapa meter dari keduanya. Samar-samar, Judika mendengar jika lelaki itu bertanya mengenai Stella dalam bahasa Inggris. Tentu hal itu membuat Judika binggung sekaligus penasaran akan sosok lelaki bule dengan rambut gondrong tersebut.


"Siapa dia? Kok nyariin Stella? Apa jangan-jangan pas gue pergi, tuh anak ada jalan ama cowok lain?"


Tanpa, ia sadari tiba-tiba hatinya terasa panas. Seperti tak terima jika Stella memiliki pacar baru.


Sementara di dalam ruang dekan, Stella di persilahkan untuk duduk oleh dosen yang membawanya. Tepat di hadapannya, seorang pria paruh baya berkacamata duduk menatapnya lekat. Sesekali, ia menghela napas dan memejamkan mata sebelum kembali menatap Stella dari ujung kaki hingga kepala.


"Selamat pagi, Stella." Akhirnya Setelah cukup lama membisu, lelaki paruhbaya yang tak lain adalah Dekan kampus tempatnya berkuliah.


"Pagi, pak." Mata Stella tertunduk menatap jari-jarinya yang saling bertautan di atas pahanya.


"Kamu sudah tau, bukan apa tujuan saya memanggil kamu ke sini?"


Kepala Stella mengangguk mengamini. Tentu, dia tau alasan dekan memanggilnya kemari itu sudah tertulis, bahkan dari dua dan satu bulan yang lalu.


Sesaat dekan menghela napas panjang, mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja sambil terus berpikir bagaimana dirinya menyampaikan perihal tak mengenakan ini.


"Sebelumnya saya minta maaf kepada kamu, Stella..." Kembali dia menjeda ucapannya. Sulit memang baginya untuk melepaskan mahasiswa sepintar Stella. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena itu sudah tugasnya. "Tapi saya harus menyampaikan perihal ini kepada kamu."


"Saya tau, pak. Tapi apa tidak ada kompensasi bagi saya untuk mengumpulkan uang dan melanjutkan pendidikan di sini? Tinggal selangkah lagi, pak saya akan lulus di sini." Mata Stella berbinar, tubuhnya sedikit condong memelas kepada pria paruhbaya di depannya itu.


Sekali lagi lidah dekan terasa keluh, ia tak dapat berkata-kata lagi. Selain mengusap wajah dengan kasar, dan menatap Stella tak tega.


"Maaf, Stella kau harus segera mengisi data untuk pemberhentian mu di universitas ini. Saya tidak dapat melakukan apapun, kau sudah saya beri kompensasi selama satu bulan. Saya tidak bisa memberikan kompensasi lagi. Maafkan saya."


Seketika tubuh Stella lemas. Angan-angan untuk menjadi seorang jurnalis sukses dan berkiprah di dunia internasional sudah hilang. Baru saja hilang beberapa detik yang lalu. Ia tak tau harus bagaimana lagi. Mungkin dia akan kembali ke rumah kakaknya dan duduk diam di depan komputer untuk menjadi seorang penulis introvert yang baru saja kehilangan secercah kehidupannya.


"Kau pergi."


"Terima kasih." Stella bangkit dari sana, menaikan tas jinjing kesayangan hingga ke bahu dan perlahan berjalan keluar dari ruangan dekan dengan langkah gontai.


Stella membuka pintu ruangan dekan kemudian kembali menutupnya saat ia tiba di luar ruangan. Sedetik itu pula, sebuah tangan kekar tiba-tiba meraihnya. Mata Stella mendelik menatap punggung lebar lelaki yang nampak tak asing untuknya.


"Judi..."


Yang di panggil tak bergeming. Dia tetap menyeret Stella hingga mencapai halaman kampus.


"Yudi lo ngapain di sini?" Stella berusaha menampik cekalan tangan Judika.

__ADS_1


Judika melepaskan cekalannya. Memutar tubuhnya dan langsung memasang wajah tak bersahabat. Stella mengeryitkan dahi, melihat wajah Judika yang nampaknya dalam keadaan mode marah kepadanya.


"Siapa laki-laki yang sama lo di kampus?"


"Hah?" Memasang wajah bego.


"Lelaki bule rambut gondrong baju serba hitam. Cowok baru lo?"


"Hah? Apaan sih mana ada gue punya pacar."


Judika berkacak pinggang, menengadah kepalanya menatap langit-langit kota Bekasi sambil tergelak. Sungguh, Stella benar-benar tak mengerti lelaki apa dan siapa yang di maksud oleh Judika. Dan, tentunya dia juga tidak mengerti ada apa dengan Judika hingga bersikap semarah ini kepadanya.


"Judi, jelasin sama gue lo itu kenapa?" Stella meraih lengan Judika. Berusaha membuat tubuh lelaki itu menghadap dan menatap ke arahnya.


"Tadi ada cowok yang nyari lo..."


"Stella..."


Judika menghentikan ucapannya saat ada suara bariton yang memanggil nama Stella. Serentak kedua orang bodoh yang saling menyukai namun begitu pencundang untuk mengatakannya menoleh dan melihat siapa seorang yang menggangu.


"Big Bos..." Reflek Stella berkata.


"Big Bos?" Judika menoleh kearah Stella. Melihat wanita itu dengan tatapan penuh tanya.


"Dia pacar lo, kan?" ucap Judika sambil sedikit mengerucutkan bibirnya.


"Pacar dari mana? Ogah banget gue pacaran sama dia."


"Terus?"


"Partner in job, judi." Stella mendelikkan mata. Menatap Judika dan menaikan matanya itu.


"Serius? Lo ga bohong, kan?" Kini Judika mencengkeram kedua bahu Stella. Menatap wanita itu dengan tatapan lekat.


"Ya, ngapain gue bohong."


"Oke." Dia tersenyum, melepaskan cengkeramannya dan bertepuk tangan. "Itu berarti status lo masih pacar gue."


"Pacar pura-pura." Koreksi Stella.

__ADS_1


"Iya... Iya itu maksudnya. Yaudah gue pamit ya. Masih ada kerjaan yang perlu gue selesaikan." Tangan Judika terangkat. Dia melambai kepada Stella sebelum akhirnya berlari dan menghilang menujuh ke tempat parkir kendaraan.


Melihat tingkah aneh Judika yang tadi marah dan tiba-tiba kembali ceria, Stella hanya mampu menggelengkan kepalanya dan berdecak menatap punggung lelaki itu. Entahlah apa yang terjadi kepada diri Judika, dia lelaki aneh yang mampu menjungkir-balikkan kehidupan Stella.


"Senyum aja. Jadi dia itu pacar pura-pura lo atau benaran?"


Tanpa Stella sadari, Chris lelaki yang di sangka Judika adalah kekasih Stella sudah berdiri di sebelah Stella. Memandangi kemana mata Stella tertuju, sambil kedua tangannya ia masukkan ke dalam jaket kulit hitam.


Kepala Stella menoleh, memperhatikan Chris dari ujung kaki hingga kepala. Sungguh, entah mengapa ketiga bersaudara itu memiliki kekhasan yang sama; tubuh tinggi, mata memikat, suara yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Stella berdiri, juga sikap yang seenaknya.


"Chris, what are u doing?"


"Menemui mu," jawabnya cepat.


"Untuk apa? Bukankah kita sudah bertemu kemarin dan membicarakan sesuatu panjang lebar?"


Kepala Chris menoleh, tangan kanannya terangkat untuk membuka kacamata hitam yang melingkar di matanya. Dan, saat itu juga keduanya mengunci pandangan untuk beberapa detik sebelum akhirnya Stella tersadar saat Chris kembali berucap.


"Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat. Semacam markas." Berjalan meninggalkan Stella.


Ajaibnya, Stella juga mengikuti langkah Chris tanpa di minta. Berjalan di belakang lelaki itu dengan sedikit tertatih-tatih menyeimbangkan langkah besar lelaki itu.


"Tunggu. Kita akan kemana? Aku harus bekerja nanti siang, Chris."


"Ini hanya sebentar. Nanti akan ku antar kau ke tempat kerjamu." Chris terus berjalan, tanpa menoleh sedikitpun melihat langkah Stella yang berusaha mengimbanginya.


"Satu pertanyaan untukmu yang sedaritadi malam mengganggu otakku." Stella masih terus berceloteh sambil mengikuti langkah Chris menujuh parkiran mobil kampus.


"Apa?"


"Mengapa kau memilih ku, untuk membantu mu?"


Bruk...


Tiba-tiba saja, Chris menghentikan langkahnya membuat Stella yang tak melihat itu sukses terpentuk bahu lebarnya.


"Akhh..." Ringis Stella sambil memegang keningnya. "Kenapa si kamu berhenti gak bilang-bilang? Sakit tau?"


Chris memutar tubuhnya. Beberapa detik melihat Stella yang memegang keningnya menahan sakit.

__ADS_1


"Simple. Kita memiliki musuh yang sama, dan kau adalah orang yang polos dan jujur." Kembali dia membalikkan tubuhnya dan melanjutkan perjalanannya.


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2