Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 50


__ADS_3

Sudah kacau semakin kacau, kantor penerbit TTV sore itu. Mereka yang berada di devisi berita sore itu, harus bekerja ekstra dan lembur dengan berita kematian Mafia besar Robert Robinson alias Joseph Antonio, dan fakta mustahil jika kalau miliader muda terkenal dunia Reza adalah bagian dari bos mereka. Sebisa mungkin, mereka yang berada di sana bungkam seribu bahasa sebelum Marcelo, lelaki berkemeja garis-garis menulis dan mempublikasikan hasil temuannya ke khalayak.


Serentak semua yang berada di ruangan devisi berita ternganga. Terbelalak, dan tentu terkejut ketika mengetahui fakta yang mencengangkan.


Jadi ini alasan Reza datang ke Indonesia.


Sumpah, kaya di hempaskan ke dalam komik Marvel yang mustahil jadi muhasabah.


Semua tak dapat menutupi rasa keterkejutannya. Mereka melemparkan pandangan satu sama lain, berkelana di dalam otak mereka mencoba mensterilkan dengan apa yang terjadi.


"Dan yang lebih menggemparkan lagi, Reza atau Mr.Oxley bakal megang jabatan CEO eksekutif di Hartanto grup."


Seketika semua berteriak kegirangan. Melemparkan semua kertas diatas meja masing-masing, tak perduli mau kertas itu penting atau tidak penting. Mereka saling berpelukan, melanggar semua protokol kesehatan; membuka masker, saling berdekatan, bahkan berjabat tangan. Tanpa kecuali Alisa. Gadis berusia dua puluh delapan tahun itu, berdiri kegirangan memeluk teman sebelahnya dengan memakai seragam yang sama penuh suka cita. Keduanya bahkan berloncatan ria, dan berselebrasi bak seorang pemain bola yang baru berhasil membobol gawang musuh.


Hanya Stella yang mengeryitkan dahi binggung. Dengan suasana semula kacau, kini berubah riuh penuh kegembiraan. Entah mengapa mereka begitu senang sekali, dengan kehadiran seorang Reza yang akan menjabat sebagai CEO eksekutif Hartanto grup. Apa ada efeknya, dengan anak perusahaan kecil seperti TTV? Stella menerka-nerka di dalam pikirannya. 


Belum urung usai kebahagiaan yang terjadi di ruangan devisi berita. Lelaki tua tadi yang ternyata menjabat sebagai manajer di sana muncul dari balik pintu ruangan di ujung devisi berita. Dia berjalan tergesa-gesa menghampiri Marcelo. Dia langsung menghantam kepala Marcelo. Memukulnya tidak cukup keras, namun pasti tetap membuat kepala pening.


"Kau gila! Mendeklarasikan hasil temuan mu dengan berteriak-teriak seperti itu? Bagaimana ada jurnalis dari penerbit lain berada di luar ruangan? Mendengarkan hasil temuan mu itu? Bisa-bisa berita besar ini akan dia curi." Pak manajer tak dapat menahan gejolak kekesalannya kepada Marcelo. Sungguh, bagaimana lelaki itu bisa lupa dengan aturan pencari berita seperti mereka. Padahal dia sudah cukup senior di perusahaan TTV. 


Pria tua itu menarik baju belakang Marcelo. Menyeretnya masuk ke dalam kantor kerjaanya. Namun, sebelum mereka berdua benar-benar masuk ke dalam kantor manajer. Pria tua itu menoleh ke arah Alisa dan Stella. Menatap mereka lekat-lekat dan berkata.


"Alisa bersiap-siap cepat, untuk menghadiri acara jumpa pers Mr.Oxley. Bawa sekalian Stella untuk menulis artikel untuk surat kabar kita."


"Baik bos." Berbalik dan segera mengemas barang-barangnya. Memasukkannya ke dalam tas jinjing dan segera berdiri. "Ayo! Bawa keperluan yang lo butuhin buat nulis artikel."

__ADS_1


Sejenak Stella melongok. "Gue ikut?" tanyanya bodoh.


Alisa memutar mata malas. "Iya, nama Stella di divisi ini cuma lo doang. Gak ada yang lain."


Masih tetap melongok, dan terus mencoba mencerna keadaannya sekitar. "Kenapa musti gue?" tanyanya lagi dengan begitu polos.


"Terus lo ga kerja gitu? Uncang-uncang kaki di sini tinggal nerima gaji? Udah buruan, tar gue tinggal, nih!"


Stella bergegas mengepak bawaannya. Memasukan barang-barangnya; notes, pulpen, alat perekam, laptop, dan lain sebagainya ke dalam tas ransel. Memakainya dan berlari menyusul Alisa yang telah duluan keluar meninggalkannya.


Mereka berdua berangkat mengenakan sebuah mobil van hitam berlogo TTV dengan di temani dua satu orang juru kamera dan supir kantor.


****


Jones menjentikkan tangan. Menginterpretasikan kepada anak buah untuk melacak keberadaan bosnya melalui GPS yang terpasang di smartwatch Reza. Mereka segera bekerja cepat. Membuka laptop dan mulai melacak keberadaan bos besarnya. Namun, baru setengah jalan pekerjaan mereka. Semua orang di dalam rumah besar dengan di kelilingi tempo kaca itu terkejut, dengan ke datangan Reza secara tiba-tiba dari ruang bawa tanah.


Sejak kapan rumah ini ada ruangan bawah tanah? Jones mencoba mengingat.


Reza melenggang dengan wajah tanpa dosa melewati anak buah Oxley General yang sedikit terperangah dengan keadaan baju yang di kenakan Reza. Dia belum ganti baju. Sialnya baju sipir yang ia kenakan banyak darahnya. Tentu itu pasti adalah darah Joseph yang muncrat.


"Sir, anda baik-baik saja?" tanya Jones cemas.


Reza menjatuhkan dirinya di sofa single. Menaikan satu kakinya di kaki sebelahnya dan menyalahkan sebatang rokok. Asap membumbung tinggi ke langit-langit rumah, dan menghilang sekejap mata. Dia berdehem, di ikutin gelak tawa yang membuat bukan hanya anak buah Oxley General saja tetapi juga Jones bergedik ngeri.


"Aku bahagia. Rasanya sudah lama tidak merasakan jiwaku sehebat ini."

__ADS_1


Jones mengeryitkan dahi.


"Sir, apa kau..."


"Ya, aku sudah membunuh bedebah tua itu. Takkan ada lagi mafia sindikat perdagangan organ manusia di Indonesia atau dunia bernama Robert Robinson." Menyesap kuat-kuat nikotin di tangannya.


Kelima anak buah Oxley General saling melemparkan pandangan. Sama-sama berdiri dan saling berdempetan menelan saliva kasar. Jones yang menyadari akan ketakutan anak buahnya, segera mengintruksikan mereka pergi dari sana mengenakan tangannya. Tanpa basa-basi lagi, mereka pun segera lari ketakutan dan pergi dari sana tanpa permisi.


"Sir, kau sudah lama sekali tidak melakukan itu, apa kau baik-baik saja?"


Reza menoleh dan memandangi wajah Jones lekat. Alisnya bertautan membentuk sebuah busur. Ada sedikit tatapan ketersinggungan jelas dari tatapan itu.


"Apa kau khawatir jika penyakit psikopat ku kembali keluar?"


"Tentu, Sir..."


Reza mendelikkan matanya.


"Maksudku, kau ingat apa yang dikatakan tuan Chris sesaat sebelum ia terbang dan menghilang seperti mantan istriku ke Afrika. Dia mengatakan, kau jangan sesekali melakukan pembunuh apalagi dengan cara yang sama seperti Joseph ajarkan kepada mu dulu."


"Kau tau..." Reza berdiri dari duduknya. Berjalan mendekati Jones dan menepuk bahunya beberapa kali. "Aku sama dengan mu, membunuh seseorang yang melanggar hukum dan norma kemanusiaan."


"Tetap saja kita ini mafia. Bukan hakim agung."


TO BE COUNTINUE...

__ADS_1


__ADS_2