
Mata, Stella terus menari-nari membaca biografi lengkap keluarga McGregor yang tak lain adalah pendiri Esocial yang sesungguhnya. Ibu Anne, Renne McGregor adalah mantan anak buah VIVA yang memiliki penyakit kanker yang di sebabkan oleh radiasi nuklir. Dia meninggalkan beberapa bulan setelah memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya. Ayah Anne, Phil McGregor menutut VIVA dan Oxley General untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Renne, istrinya. Dia melaporkan VIVA dan Oxley General ke serikat pekerja internasional dengan mengandeng pengacara kelas atas dan beberapa korban VIVA lainnya.
Di dalam artikel itu juga di jelaskan selama lebih dari satu setengah tahun, Phil berjuang mencari keadilan untuk mendiang istrinya. Siang malam, dia terus mencari bukti-bukti untuk membuka kedok bobrok yang selama ini VIVA dan Oxley General sembunyikan.
Ada beberapa bukti yang di berikan Phil kepada hakim, yang juga gambarnya di perlihatkan di artikel yang sedang Stella baca. Tentang bagaimana perusahaan nuklir terbesar di Amerika itu bekerja, tentang mereka semua yang sangat buruk memperlakukan karyawan, hingga para petinggi perusahaan yang meminta bantuan dari mafia-mafia penguasa bawah tanah untuk melindungi bisnis bobrok mereka agar tetap berdiri. Di tengah banyaknya karyawan yang mendapatkan dampak tidak baik bekerja di VIVA.
Namun, semua usaha Phil terbuang sia-sia. Pada tahun 2015, hakim mengetuk palu dan menyatakan baik VIVA atau Oxley General tidak bersalah akan hal ini. Mereka tidak wajib membayar denda kepada korban yang terkena radiasi atau membayar santunan kepada keluarga korban yang meninggal dunia. Kontrak yang di buat VIVA dan Oxley General sudah mutlak dan kebal akan hukum.
Setelah kejadian itu, Phil mulai beraksi dengan caranya sendiri untuk membalaskan dendamnya atas kematian sang istri. Dari sana, dia mulai mengumpulkan para hacker-hacker di dunia dan membuat Esocial bukan hanya untuk memberantas orang-orang seperti VIVA dan Oxley General, juga para mafia yang secara terang-terangan membantu berdirinya perusahaan bobrok VIVA.
Terperangah, Stella tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya atas isi artikel yang baru dia baca. Dia tak menduga jika selama ini, Anne istri Chris juga memiliki dendam pribadi kepada Oxley General. Tidak! Lebih tepatnya Reza. Tapi jika memang, Anne memiliki dendam pribadi kepada Reza, apa Chris mengetahuinya?
Pikiran, Stella melayang-layang. Mengingat ucapan Anne pertama kali Stella bertemu dengannya. Dia mengatakan jika tidak mengetahui dunia Cyber. Dirinya hanya seorang mantan perawat di bangsal pengungsian di Afrika.
Apa mungkin, Chris telah di tipu oleh wanita itu? Dimanfaatkan untuk mengadu domba antara dirinya dan Reza?
Pikiran-pikiran negatif mengenai siapa diri, Anne sebenarnya tiba-tiba menerjang otak Stella. Stella yakin jika wanita itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya dan Chris.
Tak mau pikiran-pikiran negatif yang hampir saja membunuhnya terus mengusik otaknya, Stella segera meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Chris.
Namun sebelum panggilan itu tersambung telinga, Stella menangkap suara keributan yang bersumber dari luar warung warnet. Merasa suara yang cukup bising itu mengganggu dirinya, Stella pun bangkit dan memutuskan untuk keluar dari dalam warung internet melihat apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.
Stella berjalan perlahan dengan ponselnya yang terus memanggil Chris. Saat tiba di ambang pintu masuk, Stella dapat melihat sebuah mobil Audi yang tak asing untuknya terparkir disana bersama dengan dua mobil Panjero berwarna hitam yang nampak terlihat mencurigakan.
Tubuh, Stella bergetar hebat ketika satu persatu lelaki bertubuh tegap dan kekar turun dari mobil. Matanya mengerjap-ngerjap tak percaya dengan apa yang dia lihat di depannya.
Delapan orang lelaki berbadan kekar dan tegap yang tak lain merupakan sedikit dari sekian banyaknya anak buah Cyberfriend yang baru saja bebas dari penjara. Stella tak percaya, jika kedelapan orang itu akan bebas pada hari itu.
Kedelapan lelaki itu sudah turun semua. Mereka berjalan, membuat sebuah barisan dan seperti berniat mengepung dan menangkap Stella. Dalam pikirannya, Stella menghitung-hitung kesempatannya untuk mencapai halte yang berada di seberang jalan sana sebelum kedelapan lelaki itu bisa menangkapnya.
Hap...
Berhasil, Stella lari dari sana. Dia berdiri diantara kerumunan orang-orang yang memadati halte dan bersembunyi di sana. Pikirannya menerka, jika kedelapan lelaki itu tidak akan mungkin menangkapnya di sana. Mereka pasti tidak akan mengambil resiko untuk masuk kembali ke dalam penjara untuk ke dua kalinya.
Di dalam persembunyiannya, Stella diam-diam mengintip ke arah kedelapan lelaki itu. Terlihat samar-samar, Reza turun dari Audi dengan raut wajah kesal dan marah. Satu lelaki menujuk ke arah halte bus, yang di ikuti tatapan Reza. Stella membuang wajahnya dan berusaha menyembunyikan diri agar Reza tak melihat. Dan, tak beberapa lama bus pun datang. Segera, Stella masuk ke dalam bus itu dan pergi dari sana.
Di dalam bus, Stella duduk dengan deru napas yang menggebu-gebu. Dia berusaha menyetabilkan dirinya, mengumpulkan sisa-sisa akal sehatnya yang semula tadi hilang di telan rasa ketakutan. Stella tak mengerti untuk apa, Reza membawa kedelapan anggota Cyberfriend ke hadapannya. Apa mau lelaki itu? Apakah, dia benar-benar ingin menyeret Stella ke Sisilia.
Kepala Stella menggeleng cepat. Tidak! Dia tak ingin berakhir di Sisilia dan mati sia-sia. Dia masih ingin hidup, mengejar impiannya menjadi jurnalis kemanusiaan dan mencari keberadaan orangtuanya. Dia tidak boleh tertangkap oleh Reza. Apapun caranya.
__ADS_1
Membayangkan Sisilia, Stella baru teringat tentang dirinya yang tadi sedang berusaha menghubungi Chris. Stella merogoh ponselnya di kantong celananya dan menemukan jika panggilan itu sudah tersambung sekitar sepuluh menit yang lalu. Segera Stella menempelkan benda pipih itu di telinganya dan berkata
"Chris, apa kau di masih Yogyakarta?"
"Stella, ada apa? Kenapa suara mu seperti orang ketakutan?" Stella tak dapat menyembunyikan rasa ketakutannya, bahkan kepada Chris sekalipun. Meskipun, dia bersusah payah menstabilkan napasnya tetap saja deru napas memburu masih begitu terdengar jelas dari dirinya.
"Ini penting. Reza mengejar ku. Dia membawa anggota Cyberfriend yang baru saja keluar dari penjara hari ini."
"Kau serius?"
"Ya..." Sejenak Stella terdiam. Dia baru mengingat apa yang tadi, dirinya temukan di warung Internet. "Ada yang lebih penting, Chris. Ini tentang Anne. Istrimu."
"Anne? Ada apa dengannya, Stella?"
Baru ingin Stella menjawab, tiba-tiba seseorang duduk di sebelahnya mengeluarkan pisau lipat dari dalam kantongnya dan menodongkan ke arah perut Stella.
Kepala Stella menoleh, dan mendapati seseorang yang amat dia kenal duduk dengan di sebelahnya. Seorang wanita berwajah cantik dengan kepala di sembunyikan di dalam tudung, duduk dengan memegang pisau lipat dan menodongkannya ke arah Stella.
"Greta?"
****
Ketika, Chris ingin berkata lagi dengan Stella tiba-tiba Stella mematikan panggilannya begitu saja. Chris yang sudah dimakan rasa penasaran, mencoba menghubungi Stella. Namun, sayangnya wanita itu tak menjawab teleponnya sama sekali.
"Anne." Chris turun dari tangga dan menghampiri Anne.
"Hay, kau ingin memakan sesuatu?"
Kepala, Chris menggeleng cepat. Dia telah meletakkan ponselnya dia atas meja makan, tangannya mencekal tangan Anne dan membawanya naik ke atas dan masuk ke kamar.
"Chris, ada apa?" Anne bertanya.
"Stella baru saja menghubungi ku."
Mata Anne berbinar bahagia. "Bagaimana apa dia baik-baik saja? Dia masih akan meneruskan rencananya untuk menghancurkan Oxley General bersama kita, kan?"
"Aku tidak yakin. Di Jakarta, Dia sedang di buru oleh Cyberfriend yang baru saja keluar dari penjara."
Seketika raut wajah cemas terpancar di wajah Anne. Chris mengeryitkan dahi binggung. "Anne?"
__ADS_1
"Chris, tanpa Stella kita tidak mungkin bisa menghancurkan Oxley General. Selama ini, kita mengetahui jika Stella adalah orang satu-satunya di negeri ini yang dapat membuat virus untuk menghancurkan sebuah perusahaan."
"Anne, apa kau tidak khawatir dengan keadaan Stella? Mengapa kau selalu saja membahas tentang cara menghancurkan Oxley General terus menerus? Padahal aku yang memiliki dendam pribadi kepadanya, bukan kau."
Anne terlihat sedikit terkejut dengan ucapan suaminya itu. Sejenak dia terdiam, seperti sedang menimbang-nimbang untuk menjawab perkataan Chris.
"Chris, kau tau aku sayang mencintaimu. Semua kisah yang kau ceritakan kepadaku tentang Reza dulu, itu sangat melukai hatiku. Belum lagi fakta tentang ibu mertua ku ternyata di bunuh oleh Reza. Itu sangat-sangat membuat ku terluka, Chris."
Chris tau, jika itu yang akan di ucapkan Anne. Karena memang selalu itu jawaban Anne ketika Chris bertanya mengapa dirinya berambisi ingin menghancurkan Reza. Atas dasar cinta kepada Chris.
Dari sini, Chris masih berusaha percaya kepada Anne. Dia tak berpikir yang macam-macam akan istrinya itu. Dia juga tak terlalu menanggapi perkataan Stella tadi, dan mulai melupakannya.
Kembali kepada, Stella kini wanita itu mematikan panggilan teleponnya dengan Chris. Menatap ngeri pisau mengkilap dan tajam itu, sambil berusaha menjauh dari wanita yang ia panggil Greta.
"Greta, kau tidak perlu melakukan ini."
Greta tersenyum. "Kau sudah kehabisan waktu, Stella."
Kening Stella mengeryit binggung, sesekali dia masih menatap ngeri pisau yang sudah menempel di blazer cokelatnya.
"Apa maksudmu?"
"Kau sudah kehabisan waktu untuk meretas sistem Reza. Kau gagal menjalankan misi mu."
"Aku masih punya kesempatan, Greta." Pelan, Stella berusaha meyakini gadis yang ternyata diketahui mantan anggota Cyberfriend yang juga bernasib sama dengan dirinya.
"Reza sudah mengetahui segalanya tentangmu, masa lalu mu, bahkan rencana mu. Kau gagal..."
"Tapi dia belum tau siapa Big Bos, dan musuh sebenarnya."
Kini gantian, Greta yang mengeryitkan dahi binggung. Dia membuka tudung sweaternya, menengadahkan kepalanya, menelisik setiap sudut bus yang lengang.
"Apa maksudmu?"
"Jika aku memberitahukan mu, kau berjanji akan membantu ku dan mengungkapkan teka-teki ini?"
"Teka-teki?"
"Teka-teki sebenarnya musuh Oxley General."
__ADS_1
TO BE COUNTINUE...