
Mata hitam Stella tak dapat menutupi rasa keterkejutannya dengan kemunculan Jones secara tiba-tiba. Ia benar-benar berasa akan pingss saking terkejutnya.
"Kau... Kau dua kali mengangetkan aku, asisten Jones."
Tidak perduli dengan Stella yang tersungkur kaget, karena kedatangannya. Jones malah memasang wajah datar sambil terus menyoroti Stella dengan sorot mata menelisik.
"Sedang apa nona di sini? Setahu saya, nona bahkan melarikan diri saat Tuan Reza hendak bertanya kepada anda."
Stella bangkit dari sana. Berdiri dengan kaki-kakinya yang terasa limbung dan berusaha untuk meredam rasa takut akan sosok kedatangan Reza nantinya.
"Aku melarikan diri?" Suaranya terdengar tegas. Menahan kaki dan tangan-tangan yang bergetar hebat.
Jangan sampai Reza keluar dari dalam ruangannya dan menemukan dia berada di sini.
"Haha, tidak! Aku tidak melarikan diri. Memangnya Tuan Oxley mengejar ku tadi? Aku tidak melihatnya, tuh!" Stella bersedekap. Mencoba menyombongkan diri agar Jones percaya akan ucapannya. Namun, sialnya lelaki itu tetap saja tak bereaksi. Membuat Stella frustasi bukan main.
Jones menarik garis bibirnya. Tersenyum menampilkan gigi-giginya yang putih bersih.
"Kau bahkan menoleh dan menampilkan wajah ketakutan kearah kami." Menirukan ekspresi wajah Stella yang panik dan ketakutan saat dikejar olehnya dan Reza.
"Tidak, aku tidak melarikan diri." Kilah Stella dengan nada penuh percaya diri. "Aku berlari karena mengejar berita besar yang baru saja terjadi di depan mataku. Kau tau bukan, jika aku ini siapa?"
Kepala Jones mengangguk. Jelas dia tau siapa Stella, bahkan orang asing pun yang baru melihatnya tahu dari id card yang tergantung di lehernya. Tapi, lihat wajah Jones mengangguk namun memancarkan eksepsi sarkasme. Tersenyum tapi sambil mengedus.
"Aku tau, makanya kau berdiri di sini. Menempelkan kuping mu di daun telinga untuk mencuri informasi mengenai Esocial."
Skatmat. Sialan! Asisten itu benar-benar lebih parah dibandingkan oleh tuannya. Bukan hanya begitu tampan dan memikat seperti tuannya. Mulutnya, lebih pedas melebih Reza. Bahkan tanpa perlu basa-basi lagi, dia langsung menuduh Stella dengan kata-kata yang begitu uhm... Elegan.
"T... Tidak! Aku tidak menguping." Mati-matian Stella menyembunyikan gurat wajah kepanikan. Mencari seribu alasan di otaknya untuk keluar dari sana meninggalkan asisten menyebalkannya dan tukang bikin jantung orang ingin copot.
"Baiklah, jika kau tidak berniat menguping kau boleh pergi. Karena lima menit lagi jumpa pers akan segera di mulai dan lantai ini bukan tempat untuk jumpa pers."
__ADS_1
Dia benar-benar melepaskan ku? Gumam Stella menatap tak percaya kearah Jones yang menyingkir dan memberikan jalan untuk Stella.
Tanpa berkata apapun lagi, segera Stella berjalan dari sana. Begitu terburu-buru, takut jika Jones akan berubah pikiran dan kembali mengintrogasinya lagi, atau justru malah Reza yang keluar dari dalam ruangan.
Berlari. Stella berlari menujuh lift, sesekali memandangi Jones yang berdiri sambil melambaikan tangan kearahnya dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Stella benar-benar seperti sedang melihat sosok hantu. Hantu tampan yang memiliki mulut menyebalkan. Sekali di dalam hidupnya, dia tak ingin bertemu lagi dengan seseorang yang menyebalkan seperti Jones. Oh, dia tak bisa membayangkan setiap kali bertemu jantungnya akan berdebar begitu kencang. Bisa-bisa baru dua hari mengenal dan bertemu dengannya, jantung Stella benar-benar akan meninggalkan raganya.
Lift masih belum terbuka, saat Stella tiba di sana. Dia menekan-nekan tombol lift agar segera lift itu terbuka. Matanya tak berhenti memandangi silih berganti dari lift ke arah Jones. Sial! Asisten itu masih saja berdiri di sana. Entah untuk apa? Stella mengerutu kesal.
Dan, saat pintu lift terbuka dan Stella hendak menghambur masuk. Jantungnya kembali berdebar begitu kencang dan saraf-saraf tubuhnya bagai malfungsi. Dia terkejut bukan main saat mengetahui orang yang berada di dalam lift tersebut adalah Reza dan Liliana, serta dua lelaki yang tidak Stella kenali. Dia terlonjak kaget, hingga menjatuhkan tas bawaannya yang isinya langsung berserakan keluar.
"Stella." Liliana mengerutkan keningnya. Binggung dan sedikit terkejut dengan kedatangan wanita itu tiba-tiba di kantornya. Lebih-lebih lagi, di lantai itu.
Melihat barang-barangnya jatuh di lantai marmer berselimut karpet mahal, Stella segera jongkok merapihkan barang-barangnya dan memasukkannya lagi ke dalam tas jinjing. Tidak memperdulikan panggilan Liliana
Namun, saat dirinya tengah sibuk memasukkan barang-barang bawaannya. Tiba-tiba ekor matanya menangkap sebuah tangan kekar berbalut jas navy tengah membantunya memasukkan barang-barang yang berserakan. Stella menegakkan kepalanya, mencoba melihat siapa sosok lelaki yang begitu baik hati mau membantunya.
"Mr.Oxley." bisik Stella sambil memandangi wajah Reza.
Kini pandangan mereka saling bertemu. Mengunci untuk beberapa detik, sebelum akhirnya tersadar dan kembali bangkit berdiri setelah membereskan semuanya.
"Terimakasih," jawab Stella dengan malu-malu.
"Untuk apa kau disini?" Liliana maju satu langkah. Tangan kanannya terangkat, menyuruh kedua lelaki asing yang datang bersamaanya untuk pergi dari sana dengan menggoyangkan tangan kanannya.
"A... Aku..."
"Mencari tuan Judika."
"Eh..."
Kepala Stella menoleh, saat tiba-tiba saja suara Jones memotong perkataannya.
__ADS_1
Mencari Judika?. Kembali Stella bermonolog. Sebenarnya apa si yang di rencanakan asisten satu ini? Kaya melindungi kejahatan gue banget.
"Judika tidak ada! Dia ke Papua kemarin," kata Liliana ketus. Dia bahkan berbicara enggan melihat kearah Stella.
"Saya sudah tau," balas Stella sedikit merenggut.
"Kalau sudah tau ngapain masih disini? Kamu kan wartawan harusnya di gedung sebelah tunggu saya melakukan jumpa pers, bukan malah nyariin cowok kamu. Dasar wartawan ga profesional. Makanya di pecat dan di cap pengkhianat negara. Orang kerjaanya begini, nyari berita ga sesuai fakta asal dapat cuan bodo amat itu berita benar atau gaknya."
Sabar Stella. Sabar. Berkali-kali Stella memincingkan matanya. Menghela napas panjang berkali-kali berusaha mengendalikan diri agar tidak terpancing emosi.
"Maaf." Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulutnya. Bukan tak ada lagi, atau tiba-tiba keluh. Hanya saja, dia takut satu kata saja yang keluar dari mulutnya akan membuat wanita itu makin menjadi menghina dirinya.
"Pergi! Kantorku bukan tempat orang-orang seperti mu." Tanpa memperdulikan perasaan Stella, atau menunggu jawaban dari gadis itu. Liliana segera berjalan dengan angkuh meninggalkan Stella.
Stella berdecak. Menengadahkan kepalanya terus mencoba mengendalikan emosinya agar tak meluap mengambil alih tubuhnya. Dia membiarkan Liliana pergi begitu saja, yang langsung di ikutin oleh Jones dari belakang. Berjalan masuk ke dalam ruangan CEO Hartanto Grup.
"Huft!" Stella mengipas-ngipas tubuhnya, mendinginkan otaknya agar kembali waras seperti semula. Entah bagaimana bisa, dua lelaki yang begitu sopan, berpendidikan tinggi, kaya akan rasa hormat lahir dari dalam rahim wanita bermulut pedas, sombong, angkuh, dan pendendam seperti Liliana. Kini, Stella amat yakin meskipun Marco adalah seorang mafia, tetapi dia memiliki sifat yang masih bisa dikatakan baik dan kini menurun kepada anak-anaknya. Stella tak akan bisa membayangkan, jika Reza dan Judika memiliki sifat sama seperti ibunya.
Pintu lift yang tadi sudah tertutup kini kembali terbuka. Stella segera mengeratkan pegangan tasnya dan berjalan hendak masuk ke dalam lift. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah tangan tiba-tiba mencengkramnnya dan menahan langkah Stella. Kepala Stella menoleh kembali, dan langsung menangkap tubuh Reza yang berdiri di depannya.
Oh tuhan, saking frustasinya dia menahan emosi akan sikap Liliana, Stella bahkan melupakan sosok Reza yang masih setia menunggu dirinya di sana.
"Ikut aku. Aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu."
Tanpa permisi Reza menarik tangan Stella berjalan melawan arah dari arah ruangan CEO berada. Menelusuri lorong panjang yang berdinding kaca besar, kemudian menghilang, masuk ke dalam ruangan pintu ganda dengan tulisan yang menyembur keluar di atas daun pintu dengan tulisan 'Ruangan Rapat'.
TO BE COUNTINUE...
**NP:
Maaf ya baru update, soalnya Authornya lagi sibuk banget akhir-akhir ini. Jangan lupa Vote, Like, dan Komen yang guys agar Authornya semangat terus. Dan, jangan lupa jaga kesehatan. Ingat pesan ibu, jaga jarak dan ikut instruksi dari pemerintah. Pakai masker dan tetap di rumah aja🤗🤗🤗🙏🙏**
__ADS_1