Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 44


__ADS_3

Dieng, Jawa tengah


Jones tiba di dataran tinggi Dieng, setelah menempuh perjalanan melalui udara dari Jakarta. Bersama beberapa anak buahnya, ia segera menujuh ke tempat titik koordinat yang di berikan oleh Reza.


Sebuah hutan belantara berada tepat di bawah kaki gunung. Tak ada akses yang dapat di lalui dengan mobil atau kendaraan lainnya disana. Dengan tergopoh-gopoh, Jones dan beberapa anak buah yang semuanya berwajah bule itu berjalan, menelusuri hutan tersebut mencari keberadaan Saudara lelaki Leo. Menaiki bukit dan menyebrangi sungai. Hingga ia tiba di sebuah rumah kayu di pinggir hutan dengan penjaga super ketat. Rumah kayu lusuh tak terusus bahkan begitu kotor, di jaga oleh orang-orang berbadan tinggi tegap berbaju serba hitam lengkap dengan senjata laras panjang di tangan mereka.


Jones mengumpulkan semua anak buahnya yang beberapa saat lalu berpencar bersembunyi di balik pohon dan rerumputan. Mereka berkumpul, mulai menyusun strategi untuk menyerang dan melumpuhkan para penjaga itu. Namun, saat Jones hendak menyampaikan strateginya, beberapa orang muncul di balik semak belukar, menodongkan senjata kearah mereka dengan tatapan tajam. Dengan sigap parah anak buah Jones mengangkat senjata. Ada yang mengeluarkan pistol atau pisau. Mereka mulai bersiap-siap menyerang, Namun seketika saat mereka mulai saling menyerang, Jones menghentikannya karena tau siapa pemimpin mereka.


"Tuan Rendy, apa yang kau lakukan disini?" Jones menaik-turunkan alisnya. Melihat sebuah tubuh tegap berbalut jaket jeans berdiri di tengah kerumunan sekitar sepuluh orang itu.


Rendy menampakkan wajahnya, tersenyum kearah Jones dan berjalan mendekati. Mereka saling berjabat tangan untuk beberapa detik. Saling menyapa sambil tetap waspada menelisik hutan belantara itu.


"Aku pikir Reza yang akan datang kesini. Aku mendapatkan kabar jika saudara lelaki Leo di culik. Dia meminta tolong kepadaku untuk membantu membebaskannya. Bagaimana dengan mu?"


"Kita satu server, Tuan. Tuan Leo juga memintaku menolongnya untuk membantu membebaskan saudara lelakinya. Untuk tuan Reza, dia sedang dalam mode abnormal. Makannya dia tak dapat datang kesini."


Rendy mengerutkan keningnya. Binggung dengan ucapan Jones.


"Baiklah. Kita harus menyusun strategi untuk masuk ke sana, dan menyelamatkan Xiaonai. Dan setelah itu uhm..." Mengaruk-garuk tengkuknya. "Aku ingin membicarakan obrolan ku beberapa hari yang lalu dengan tuan mu. Tentang Elena, gadisku.

__ADS_1


Sementara itu di Jakarta, Stella melangkah dengan berat. Menujuh sebuah ruangan berdinding lusuh dengan meja dan kursi saling berhadapan. Ia duduk di sana. Meletakan bawaannya; tas dan beberapa dokumen di atas meja besi panjang. Matanya menelisik waspada. Menatap sekeliling ruangan berhawa pengap dan lembab.


Tak lama pintu ruangan terbuka. Dua orang petugas lapas berseragam lengkap membawa tubuh paruhbaya yang di tumbuhi jenggot masuk ke dalam. Seketika itu pula, Stella berdiri menyambut dengan sebuah senyuman smirk ke arah paruhbaya yang tak lain adalah Mr.Robinson.


"Waktu kalian 15 menit." Teriak salah satu petugas, sambil menutup pintu ruangan.


Kepala Mr.Robinson menunduk dalam, menatap jeruji besi yang mengingat kedua tangannya. Sementara Stella terus menatap penampilan berantakan Mr.Robinson, sesekali berdecak tak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya.


"Apa kau tidak memiliki pembantu? Atau anak buah yang membawakan mu baju atau perlengkapan lainnya?" Stella mengoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan. Benar-benar tak percaya dengan penampilan berantakan Mr.Robinson. wajahnya bahkan lebih lebam lebih parah. Di bandingkan dengan beberapa hari yang lalu. Sepertinya dia menjalankan kehidupannya di lapas dengan sulit.


"Mau apa kau ke sini? Jangan katakan kau sudah ketahuan oleh Oxley General."


"Untuk beberapa alasan, aku tidak mungkin ketahuan oleh Oxley general. Salah satunya, karena mereka menuduh kau lah dalang dari serangan Rootkit itu. Dan kau lah pencuri data rahasia Oxley General, karena..."


Gelak terdengar dari mulut Mr.Robinson. Stella menjeda perkataannya, menautkan alis binggung menatap Mr.Robinson.


"Kau yakin seorang jenius seperti Reza akan percaya begitu saja?" Menegakkan kepalanya dan menatap Stella lekat. "Lebih dari 10 tahun aku bekerja sebagai kacungnya. Dan selama itu pula aku mengenal dengan baik siapa monster bajing*n bernama Reza itu. Jika kau berani bertaruh kepadaku malam itu. Kini giliran aku yang menantang mu bertaruh. Hidup mu akan berantakan, Stella sebuah hadiah aku kirim ke Reza. Satu persatu rahasia masalalu mu akan terkuak, dan Reza akan tau siapa dalang yang sebenarnya di balik pembobolan sistemnya. Aku bertaruh kau akan mati berlahan di tangan dia. Dan disaat itu, aku akan melihatmu sambil tertawa bahagia di atas sana." Menunjuk ke atas dengan jarinya.


"Jadi benar. Kau yang mengirim seseorang masuk ke dalam kamar indekos ku? Mencuri data-data pribadi milikku tanpa seijin ku?"

__ADS_1


"Itulah yang kau lakukan kepadaku beberapa hari yang lalu. Dan jangan kau pikir, setelah kau menghapus website gelap ku, aku tunduk dan mematuhi perkataan mu. Kau salah Stella. Aku bukan Cyberfriend yang bisa di jebak dengan jebakan tikus buatan penipu amatir seperti mu."


Stella mengerjapkan mata cepat. Degup jantungnya berdebar tak karuan. Ini kacau. Sungguh amat kacau. Semua meleset dari ekspetasinya. Seharusnya dia yang mengancam dan membuat Mr.Robinson terguncang serta mengakui dan mengambil data miliknya yang telah ia ambil. Namun, realitanya semua terbalik. Stella yang merasa terancam. Hidupnya di ujung tanduk, jika sampai Reza benar-benar membaca masalalunya dan menemukan jati diri Stella sebenarnya. Lelaki itu pasti dengan mudah, mengetahui siapa dalang di balik pembobolan sistemnya.


"Kau harus ingat satu hal Stella." Berdiri dan berniat beranjak pergi dari sana. "Reza tau. Tak alasan untukku, untuk membobol sistemnya apalagi mencuri data pribadinya. Karena dia tau, aku dan dia sama-sama memiliki rahasia kita masing-masing." Benar-benar berjalan dan pergi meninggal ruangan.


Stella tertegun dengan pernyataan Mr.Robinson. Jadi apa maksudnya, selama ini mereka adalah teman? Meskipun Mr.Robinson pernah berkhianat kepadanya. Atau, apa ada rahasia lain yang hanya di ketahui oleh Mr.Robinson tentang Reza, begitu juga sebaliknya?


Saat Stella masih melongok di kursinya dengan dokumen yang niatnya akan ia berikan kepada Mr.Robinson. Tanpa sepengetahuannya, seseorang lelaki tengah menatap dirinya di balik ruangan CCTV. Reza berdiri disana dengan mata menatap tajam ke arah layar monitor yang menampilkan Stella dan Mr.Robinson duduk saling berhadapan. Ia mendengar setiap kata demi kata yang kedua manusia itu bicarakan tentang dirinya. Sadar atau tidak, darah pembunuh kembali mencuat di dirinya. Kali ini bukan ia tunjukkan untuk Mr.Robinson, melainkan untuk Stella.


Ketika Reza melihat Stella berdiri dan hendak bergegas keluar dari dalam ruangan. Buru-buru ia melepaskan earphonenya, berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan ruangan CCTV. Saat tiba di koridor lapas, dengan santai ia berjalan. Berjalan keluar meninggalkan lapas. Hingga langkahnya tiba di halaman lapas dan melihat punggung kecil milik seorang wanita bersurai panjang bergelombang Reza mendekat, berdehem sambil berkata.


"Stella Sasmita?"


Penasaran siapa Rendi? Mampir kesini ya guys



TO BE COUNTINUE...

__ADS_1


__ADS_2