
Ada yang pedih, tapi bukan luka. Baru saja, Stella merasakan kebahagiaan akan kabar dari Judika yang jauh di sana. Kini kembali, wanita itu harus menelan pil pahit. Seperti tak ada manis-manisnya hidup dia, selalu saja lara menghampiri.
Dua bulan sudah berlalu, saking khawatirnya dia kepala keberadaan jduika sampai-sampai dia melupakan beasiswanya yang seharusnya sudah di cabut sebulan yang lalu. Kini, pihak terus mengubungi Stella berulang kali untuk membicarakan perihal pencabutan beasiswanya. Stella yang baru menyadari akan hal itu, hanya dapat terkulai lemas dan meratapi nasibnya.
"Padahal tinggal bikin skripsi dan sidang," gumamnya sambil terisak.
Dengan kesal, dia meleparkan ponsel pintarnya ke sebelah sofa. Merenggangkan otot-otot tubuhnya sambil memejamkan mata.
Sementara itu di tempat lain, Jones baru saja selesai mengangkat telpon dari LSM yang memberangkatkan Judika. Akhirnya setelah satu bulan menghilang, adik tuannya itu di temukan. Segera, dia berjalan meninggalkan halaman. Masuk ke dalam rumah dan menujuh ruangan bawah tanah, tempat Reza berada.
"Tuan..."
"Bagaimana? Apa ada perkembangan tentang Judika?" Reza masih sibuk merakit senjata ciptaannya. Bahkan terlihat baju, tubuh, bahkan wajahnya yang begitu kotor.
Mengangkat ponselnya. "Baru saja LSM yang memberangkatkan dan mendanai tuan Judika mengabari. Jika tuan Judika sudah di temukan dan akan di pulangkan dua hari lagi."
Seketika Reza menghentikan aktivitasnya. Melemparkan perkakas yang ada di genggamannya. Tubuhnya memutar dan perlahan berjalan mendekati Jones yang berdiri di dekat pintu masuk bengkel.
"Apa katanya? Dimana di selama satu bulan terakhir?"
"Mereka tidak memberitahukan perihal itu, sir. Akan tetapi, mereka berjanji akan menjelas sedetail-detailnya setiba tuan Judika di Jakarta."
Sejenak Reza menghela napasnya. Satu adiknya telah berhasil di temukan. Dia hanya menunggu kedatangan Judika dua hari lagi. Kini, hanya tinggalan Chris yang sudah hampir enam bulan benar-benar tidak ada kabarnya. Entah dimana keberadaannya, apakah dia hidup atau sudah mati. Reza tak tau. Sudah banyak anak buah Jones yang turun mencari keberadaannya. Mulai dari tentara, tim It, hingga detektif. Tak ada satupun yang berhasil menemukan keberadaan Chris.
"Apa kau sudah menemukan..." Reza tak kuasa melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
Dan, Jones tau apa yang ingin di tanyakan oleh Reza kepadanya.
"Maafkan aku, sir. Aku sudah berusaha mencari keberadaannya. Seluruh benua Afrika telah ku cari, tak nampak sedikitpun jejak keberadaannya. Seperti yang ku bilang, dia nampak terlihat di Sudan sekitar enam bulan lalu untuk merawat para penderita covid. Setelahnya..."
Reza mengangkat kedua tangannya, menganggukkan kepala mengintruksikan Jones untuk diam. Sebelum kemudian, dia berbalik dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
Meski terlihat biasa saja, dan bahkan cuek. Namun, Jones tau jika sebenarnya Reza amat sangat mengkhawatirkan Chris. Mereka tumbuh sama-sama, meskipun Chris bukan lahir dari rahim Liliana. Sedari, dia dibuang oleh Marinna, Reza lah orang yang merawat Chris, melindungi bocah itu dan menjaganya. Jones tau, jika selama enam bulan terakhir Reza bekerja tidak stabil karna memikirkan Chris. Lelaki itu sama berartinya dengan Judika, meskipun lagi-lagi Reza tidak mengungkapkannya secara langsung.
"Aku akan tetap berusaha mencarinya."
Sesaat kepala Reza menoleh menatap Jones. Hanya seperkian detik, sebelum kembali dan melanjutkan aktivitasnya. Tak terlalu memperdulikan ucapan Jones barusan.
Tak ingin lebih lama menganggu tuannya. Jones pun segera undur diri dari sana. Pergi meninggalkan Reza, yang sedari tiga hari tidak keluar-keluar bengkelnya.
"Pasar saham Oxley General semakin menurun, sir." Seorang wanita muda, berawakan tinggi langsing menghampirinya. Membawa sebuah tablet di tangannya, dan menyerahkan kepada Jones.
Sudah lewat dari dua bulan setelah Esocial menyatakan perang secara terbuka kepada Oxley General, saham perusahaan persenjataan itu semakin hari semakin merosot. Pembajakan di mana-mana, para hacker kelas kakap bahkan tak lagi pandang bulu untuk mengeruk pundi-pundi penghasilan Oxley General. Bahkan, dua bulan ini mereka telah kehilangan lebih dari setengah miliar poundsterling. Dan, Jones tidak bisa berbuat apapun. Dia sudah berdiskusi dengan para dewan, elite politik, bahkan badan intelijen dunia. Meminta bantuan untuk memberantas Esocial yang terus menerus menganggu kestabilan perusahaannya. Namun, mereka tak dapat berbuat banyak. Karena pendiri dan pemilik Oxley General sendiri seperti tidak terlalu mempedulikan masa depan perusahaan. Berkali-kali, Jones berdiskusi dengan Reza mengenai saham perusahaan yang kian hari kian merosot. Juga pencurian-pencurian uang yang di lakukan baik dari anggota Esocial maupun diluar organisasi cyber itu. Namun, Reza tetap tidak menggubrisnya. Dia tetap sibuk di dalam bengkel, sesekali keluar hanya untuk menanyakan kabar kedua adiknya.
Setiap kali, Jones meminta saran dan pendapatnya akan masa depan Oxley General. Reza selalu bilang 'aku sedang menunggu seseorang yang dapat menyelesaikan kekacauan ini semua. Tunggulah hingga hari kebebasannya tiba. Kau akan melihat apa yang dia lakukan untuk menangkap para bedebah itu.'
Jujur saja, untuk beberapa alasan Jones tidak mengerti siapa orang yang di maksud oleh tuannya. Awalnya Jones mengira jika orang yang menjadi kandidat Reza adalah Stella. Tetapi Jones langsung menampiknya, mengingat prinsip hidup Reza yang tidak akan memaafkan seorang pengkhianat. Apalagi sampai meminta bantuannya. Lalu berpindah kepada seseorang yang dia kenal dulu begitu dekat dengan Reza. Adam. Seorang yatim piatu dan imigran asal Iran, yang kini bermukim di Inggris. Lelaki yang juga sama jeniusnya seperti Stella. Namun, lagi-lagi pikiran Jones salah.
"Berapa kerugian kita hari ini, Bella?" Jones mengembalikan tablet kepadanya Isabella, setelah melihat grafik berjalan saham Oxley General.
"Lima puluh juta poundsterling, sir."
__ADS_1
Mata Jones membelalak. "Li... Lima puluh?"
"Ya, sir." Kepala Isabella mengangguk lemah.
Kepala Jones menengadah. Berkacak pinggang, menatap langit-langit ruang tamu rumah berlantai dua itu dengan geram yang ia tahan mati-matian.
"Apa ada pencurian hari ini?"
Isabella terdiam. Membisu, dan tak berani menjawab.
"Kau tuli? Aku bertanya kepada mu?" Bentak Jones.
"Bu... Bukan uang yang di curi oleh mereka hari ini, sir."
Kembali Jones menegakkan tubuhnya. Mengeryitkan kening menatap tubuh wanita yang menundukkan kepala dalam itu lekat-lekat.
"Apa maksudmu?"
"Mereka mengambil tombol kapal selam yang berisikan senjata nuklir milik kita, sir."
"WHAT?!"
TO BE COUNTINUE....
***
__ADS_1
Author lagi kesel nih, maaf ya upnya lama. Karena karya Author yang lain tiba-tiba ngilang tanpa kejelasan, juga cover cerita ini di ganti Author jadi gak semangat update 😌😌🙏🙏🙏