Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 89


__ADS_3

Stella POV on...


Pantai karnaval Ancol malam itu menebarkan pesona dengan keelokan dan keindahannya. Pasir putih yang membentang membentuk bukit-bukit kecil terasa lembut selembut sutra saat kaki-kaki menapak di atasnya. Air birunya begitu cantik bagai danau yang sangat luas. Luasnya tak terkira. Warna biru lautnya seakan-akan menyatu dengan temaram langit di atas cakrawala tanpa bintang. Ombaknya bergulung-gulung menari-nari saling berkejaran membasahi pasir putih pinggir pantai dengan buihnya.


Reza berjalan perlahan mengitari pantai bersebelahan denganku. Langkah kaki kami saling besejajar menyerupai kaki-kaki tentara yang sedang melakukan gerak jalan. Kami tak saling bicara, terlalu larut dengan keindahan di depan mata kami.


Angin pantai malam itu, tertiup lembut menelisik semua yang ada di sekitar. Menggoyangkan daun-daun kelapa yang berdiri menjuntai di atas cakrawala. Bau khas air lautnya menyeruak di indra penciuman ku, saat aku menghela napas untuk mengumpulkan oksigen. Baunya amat begitu khas, membuat sel-sel dalam diriku merasa sedikit tenang. Sejuk.


Kami berdiri di tepi pantai. Membuka alas kaki kami dan menggulung sedikit ujung celana, agar buih-buih air laut tidak bisa membasahi celana kami. Jantungku bergemuruh, seperti ingin keluar melalui kerongkongan dan mulutku. Entah mengapa, meskipun aku tau bahwa lelaki di sebelahku tidak lah berbahaya untuk sesaat namun tetap saja rasa was-was akan pekerjaannya dan sifat sadismenya menyelubung memenuhi otakku.


Bicaralah. Gumam ku dalam hati. Karena tak ada keberanian dalam diriku untuk memulai pembicaraan. Bahkan aku juga binggung mengapa aku ada di sini bersama dengannya.


"Ini tempat yang indah. Meskipun tak seindah tempat tinggal ku di Manchester."


Akhirnya untuk sekian lama hening itu terpecahkan. Dia yang pada akhirnya memulai pembicaraan, meskipun hanya sekedar basa-basi.


"Yah, setidaknya bisa menghilangkan penat sejenak karena banyaknya pekerjaan."


Kami kembali berjalan beberapa langkah dan memutuskan duduk di tepi pantai. Di atas pasir lembut itu dengan beralaskan tikar yang baru saja di sewakan oleh Jones asisten Reza, yang tanpa ku sadari diam-diam mengikuti kami.


Aku duduk bersebelahan dengan Reza. Mengangkat kedua kakiku dan bersedekap memeluk lutut-lutut itu. Sementara Reza menyilangkan kakinya, duduk dengan tegap di sebelahku sambil tetap pandangan awas menatap hamparan laut yang terbentang di depan kami.


"Apa hari ini pekerjaan mu banyak?"


Aku menoleh seperkian detik ke arah Reza.


"Ya, itu juga karena mu."


Reza tertawa kecil mendengar jawaban ku. Entah apa yang membuatnya tertawa. Apa karena aku yang terlalu jujur, atau dia melihat ekspresi wajahku yang merah padam menahan malu saat dia menatapku.


"Aku sudah berjanji kepada diriku sebelum aku terbang ke sini mengambil alih Hartanto Grup." Nadanya begitu rendah dan lembut. Tapi tetap terdengar dingin dan sedikit serak.


"Janji? Apa?"


"Sambil menjabat mengantikan posisi ibuku sementara, aku sudah berjanji kepada asisten ku Jones untuk menangkap siapa pembobol dan pencuri data pribadi milikku. Aku juga telah mempersiapkan kamar khusus untuk mengeksekusi pembobol itu, yang di dalamnya berisikan tali, pisau, ember, gergaji, tiang, suntikan, dan lain sebagainya..." Dia menghentikan ucapannya. Menoleh ke arahku dan menyeringai penuh sarkasme.


Dari gerak-gerik tubuhnya dan tatapan mengintimidasi penuh sarkasmenya, aku tau jika saat ini dia sedang mencoba membuat ku takut. Karena bagaimanapun juga kini dia tau siapa aku sebenarnya. Sial! Aku mati-matian berusaha untuk tetap tenang. Tidak berpengaruh akan ucapan Reza barusan.


"Namun, sayangnya ternyata orang yang sedang ku cari adalah kekasih adikku sendiri. Aku tidak mungkin menyakiti orang yang di cintai adikku sendiri, Stella. Meskipun orang itu musuhku seperti kau. Aku akan lebih memilih mengalah dan mencoba membuat dendam ku kepadamu. Meskipun di dalan tradisi ku, itu adalah sebuah keharaman."


"Sekali lagi, aku minta maaf," gumam ku pelan penuh penyesalan. Aku bahkan tak sanggup hanya untuk sekedar menatap wajah menyeramkan namun meneduhkan milik Reza. Itu terlalu sulit untukku. Benar-benar sulit. "Aku tak memiliki jalan lain selain itu, Mr.Oxley. Aku hanya ingin menjauh dari sini. Meninggalkan masalalu ku dan memulai kehidupan yang baru di tempat lain."

__ADS_1


Kepala Reza mengangguk-angguk. "Aku mengerti, Stella. Kau boleh melupakan itu dan aku juga akan melupakan kejadian itu, tapi dengan syarat..."


"Apa?"


Tiba-tiba Reza menjulurkan tangannya di depanku. Aku menatap tangan ku beberapa detik, sebelum kemudian mengalihkan pandanganku untuk menatapnya dengan tatapan tak sabaran.


"Kembalikan apa yang kau curi dari ku. Ikut aku untuk menghapus memori yang kau simpan tentang apa yang kau curi dari ku."


Jantungku tiba-tiba bergemuruh, ketika Reza berkata demikian. Entah bagaimana bisa aku melupakan satu hal penting itu. Bahwa aku melupakan jika flashdisk yang menyimpan seluruh hasil curian ku dari Oxley General hilang. Hilang tiga bulan yang lalu. Bagaimana aku harus menjelaskannya kepada Reza? Takut-takut aku salah berucap, Reza malah mengubah pikirannya dan membawaku pergi ke Sisilia untuk di eksekusi. Tidak! Sial, aku benar-benar tidak mau mati secepat itu. Aku bahkan belum merasakan bagaimana indahnya menikah. Masa aku harus mati dengan mempertahankan predikat ku menjadi jomblo abadi? Tidak! Aku benar-benar tidak mau.


"Stella, kau dengar aku?"


"Ah, ya... Iya aku dengar kok."


"Lalu dimana kau menyembunyikannya? Kau belum benar-benar menjual dataku, kan?"


Aku menggelengkan kepala cepat. Bagaimana aku bisa menjualnya, saat semua dagangan ku tiba-tiba hilang entah tau dimana keberadaannya. Apa di indekos lama ku, atau apartemen baru ku, atau malah terbuang. Mental entah kemana.


"Ya. Segera aku akan mengembalikannya." Sialan, mengapa mulut ini malah berkata bohong. Aku benar-benar tidak mengerti lagi dengan diriku ini.


"Baiklah, akan ku tunggu dua hari lagi. Datang ke kantor pusat dan bawa apa yang ku pinta."


Seperti sebuah sihir atau semacamnya, tiba-tiba tanpa di pinta kepalaku mengangguk patuh. Bibirku terangkat membentuk sebuah senyuman tipis. Entah itu hanya sebagai kamuflase menutupi kebohongan ku, atau memang aku benar-benar menyungingkan senyum untuk Reza tanpa alasan.


"Boleh aku bertanya?" kataku masih dengan mulut penuh jagung bakar.


"Katakan."


"Apa kau tidak memiliki seorang kekasih di luar sana atau semacamnya?" Tanpa dosa aku berkata seperti itu. Tak mempedulikan bagaimana mimik wajahnya yang seketika itu juga berubah. Jujur saja, melihat Chris beberapa waktu lalu yang mengenalkan aku dengan Anne istrinya membuat aku semakin penasaran dengan kehidupan pribadinya.


"Kau mulai bekerja lagi?"


Aku mengeryitkan dahi binggung menatapnya, sambil mengigit jagung yang terasa panas itu.


"Kali ini untuk siapa kau bekerja? Masih kepada Big Bos?"


Aku menaik turunkan alisku. "Tidak!" Aku menggoyangkan tangan kananku. "Aku tidak bekerja untuk siapapun. Aku hanya... Aku hanya penasaran saja dengan kehidupan pribadi seorang Mr.Oxley si Tony Stark dari Inggris."


Aku tau ucapan ku dan eksepsi ku barusan terdengar cukup berlebihan. Tapi, aku benar-benar tidak dapat menutupi rasa penasaran ku kepada lelaki di depan ku ini. Dia bukan Judika, si mulut ember yang akan membeberkan rahasia siapapun termasuk dirinya kepada semua orang. Jadi, tak masalah bukan jika aku sedikit bersandiwara agar Reza tidak menaruh curiga kepadaku?


"Aku..." Dia menggelengkan kepalanya. Dan, aku menatapnya dengan tatapan tidak sabaran mendengar jawaban darinya.

__ADS_1


"Aku tidak memiliki komitmen dengan wanita mana pun, Stella."


"Kenapa? Apa kau tidak ingin menikah dan berkeluarga?"


"Menikah? Berkeluarga?"


Aku tak menjawab, hanya sebuah anggukan kecil yang sudah mewakilkan jawaban ku.


"Hati ku telah mati akan namanya cinta. Di dalam sini, hanya tertinggal sebuah luka, dendam, dan kesakitan. Bagiku cinta dan wanita itu sama. Sama-sama sampah tak berguna yang hanya membuat hidupku hancur tak tersisa. Keduanya layak di buang dan perlakuan seperti kotoran."


Aku tak menduga, jika seorang Reza memiliki kebencian yang amat dalam kepada sosok wanita. Entah apa alasannya.


"Kau membenci cinta dan wanita, Mr.Oxley?"


"Ya. Amat sangat membenci."


"Tapi kau lahir dari seorang wanita. Selama 9 bulan wanita yang kau sebut ibu, yang mengandung mu. Banyak perjuangan yang tidak pernah dapat kau balaskan. Dia bahkan rela bertaruh nyawa demi mengeluarkan mu."


Tanpa aku sadari, aku menyentuh tangan Reza. Meraih tangan itu dan menggenggamnya erat. Dia tak menampiknya. Ia justru menggeser tubuhnya agar lebih mendekat denganku. Tubuh kami saling menempel, saling menggenggam satu sama lain.


"Bagaimana pun masalalu mu dengan wanita, kau tidak boleh membencinya. Bagaimana pun, wanita yang telah melahirkan mu dia juga yang akan merawat mu nanti. Bahkan, jika kau menikah dia juga yang akan melahirkan anak-anak mu. Penerus dari Oxley General."


"Aku memiliki seorang ibu tiri yang kejam, Stella. Setiap hari, setiap ku pulang sekolah aku selalu di pukuli dengan tubuh setengah telanjang. Aku bawa olehnya berkeliling mengitari sekitar rumahku, di pertontonkan oleh warga-warga yang melihat ku dengan sekujur tubuhku penuh luka. Entah itu pecutan, sayatan pisau, atau sudutan dari bara rokok. Setiap hari aku merasakan sakit itu, hingga rasanya tubuhku sudah kebal tak dapat merasakan lagi yang namanya rasa sakit."


Aku tak menduga, jika sosok kejam dan bengis seperti Reza memiliki masalalu kelam juga. Jika Chris amat merindukan kasih sayang dari ayah, berbeda dengan Reza yang merindukan kasih sayang dari ibu. Mereka berdua hanyalah korban dari sebuah keluarga yang tidak harmonis. Keluarga yang berdiri bukan atas dasar cinta, tetapi ego dan nafsu belaka.


"Jadi apa karena masalalu mu, kini kau memperlakukan wanita layaknya binatang? Memperkosa dan menyiksa mereka hingga mereka mati mengenaskan?"


"Haha kau pintar, Stella. Tak heran jika kau bagian dari Cyberfriend."


Aku menampiknya. "Tidak! Jika kau menceritakan ini kepada semua orang, mereka pasti akan berkata hal yang sama dengan mu, Mr.Oxley. Sudah sangat jelas jika kau memiliki dendam yang membara kepada ibu tiri mu yang kau lampiaskan kepada semua wanita."


Reza tergelak mendengar penuturan ku. Aku tak mengerti mengapa dia tertawaan. Padahal aku meyakinkan jika perkataan ku sama sekali tidak mengandung unsur komedi.


"Ya, memang aku memiliki dendam yang membara kepada ibu tiri ku, Stella." Dia melepaskan tautan tangan kami. Kembali menjaga jarak. "Kau tau, karenanya aku harus terpisah dengan adik kandung ku Judika dan kehilangan ibu ku. Di saat keterpurukan ku, dia tanpa dosa membawa Chris dan mengatakan jika Chris adikku. Aku bertanggung jawab atas kehidupan Chris apapun yang terjadi. Dan, dengan semena-mena dia menciptakan sistem monarki di rumahku saat ayahku tidak ada. Menyiksa ku, melecehkan ku, bahkan memperlakukan aku layaknya seekor binatang. Sekarang, aku ingin semua wanita merasakan apa yang aku rasakan dulu, Stella."


Stella Pov Of...


TO BE COUNTINUE...


**Np

__ADS_1


Maaf tiga hari gak bisa update dikarenakan keluarga author baru aja berduka. Ibu Author hari kamis kemarin baru aja meninggal dunia, karena sakit yang udah lama banget dia derita. Makanya kemarin-kemarin juga Author sibuk gak bisa up karena ngurusin ibu Author. Sekali lagi maaf, jika Author gantung cerita ini tidak ada maksud seperti itu. Semoga kalian mengerti 🙏🙏🙏**


__ADS_2