Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 51


__ADS_3

"Tetap saja kita ini seorang mafia. Bukan hakim agung. Kita bahkan membunuh banyak orang tak bersalah dengan senjata yang kau ciptakan sendiri," lanjutnya dengan mulut mengerucut, bak seorang bocah lima tahun yang merajuk minta di belikan mainan.


Reza berjuang untuk menjaga wajahnya agar biasa tetap biasa saja, tak terpengaruh atau bahkan sampai emosi dengan ucapan menjengkelkan Jones. Ketika Jones memberanikan diri untuk menatap Reza, lelaki itu tersenyum geli membuat tubuh Jones semakin bergedik ngeri.


Apa yang terjadi kepadanya?


Apa sakit kepalanya semakin bertambah parah?


Atau jiwa psikopatnya keluar lagi?


Atau... Jangan-jangan dia jatuh cinta?


Ah, sialan. Semua pertanyaan bodoh dan idiot itu tiba-tiba menerjang otak Jones. Jones seperti bocah bodoh yang sedang menerka-nerka seseorang di dalam benaknya.


"Daripada kau banyak bicara, lebih baik kau pergi turun ke ruang bawah tanah." Melepaskan tangan dari bahu Jones.


Alis Jones mengeryit binggung.


"Ada sesuatu di sana, sir?"


Kepala Reza mengangguk, seraya berjalan menjauh dari Jones. Menyadarkan bok*ngnya di sofa single, sambil bersedekap. "Rubah ruang bawah tanah menjadi bengkel ku. Lalu sekat bagian kiri pojok menjadi tempat bermainnya ku. Kau boleh melihat-lihatnya dulu, selagi menunggu ku bersiap-siap untuk jumpa pers nanti malam." Dia terus berceloteh panjang lebar, memperintahkan asistennya itu tanpa memperdulikan dan menunggu jawaban darinya.


"Sir, apa kau akan mengunakan ruang bawah tanah untuk menyimpan barang-barang mu?"


"Tentu." Berbalik badan dan berjalan mundur. "Itu tempat yang cocok. Oh, ya jangan lupa hubungi Leo untuk mengatur pertemuan ku dengannya. Juga cari tau pesan yang di kirimkan Joseph kepadaku tentang Nadila... Uhm maksudku Stella."


"Baik, sir."


Reza mengangkat tangannya, membentuk huruf O sebelum kemudian beranjak berjalan menaiki satu persatu anak tangga dan menghilang di balik pintu kamarnya.


Mata Jones terus mengawasi pergerakan tuannya. Hingga, ia benar-benar menghilang di balik pintu kamar. Sesaat setelah tuannya telah masuk ke dalam, Jones mengeluarkan kotak hitam berpita kuning. Meletakan kotak itu diatas meja kaca bundar tinggi bersebelahan pas dengan vas keramik biru berisikan beranekaragam bunga. Setelahnya, Jones melangkah pergi. Memasuki pintu kecil di bawah tangga besar dan menghilang juga.

__ADS_1


****


"Kau sudah siap?" Alisa mengeratkan sabuk pengamannya. Meletakan dengan hati-hati kamera kantor di sebelah tempat duduknya dan menghela napas panjang.


"Aku sudah biasa meliput ini," jawab Stella.


"Aku tau." Dia menoleh, mengibaskan rambutnya ke belakang. "Huft, entah mengapa aku merasa gugup. Mungkin ini kali pertama ku melihat seorang miliarder seperti Reza."


"Dia akan menjadi bos besar kita dalam waktu beberapa hari. Pasti ada saatnya kini bakal bertemu dengannya." Mati-matian Stella menyembunyikan raut wajah cemasnya dari Alisa. Sungguh, degup jantungnya berdebar begitu kencang saat mengetahui tugas pertamanya adalah meliput jumpa pers yang akan di lakukan oleh Reza.


Bagaimana jika dia kembali bertemu. Ah, pertanyaan sialan macam apa itu? Sudah pasti dia akan bertemu.


Bagaimana jika Reza melihat kedatangan. Berusaha mengajaknya bicara seperti pagi tadi. Oh, rasa takut dan cemas semakin mendera pikirannya. Ia memutar matanya. Menggigiti kukunya sambil melihat ke luar jendela mobil.


"Lo gak apa-apa?"


Stella terlonjak kaget, saat Alisya menepuk punggungnya tiba-tiba. Jantungnya seperti baru saja keluar saking terkejutnya.


"Oh, ya lo kan tadi nanya tentang mafia Abute tuh mau gue jelasin? Daripada bete nungguin sampe."


"Abute?" Juru kamera bernama Ridwan yang sedang duduk di sebelah supir menoleh. Antusias mendengar nama seseorang yang begitu familiar di sebutkan.


"Iya. Itu loh nama marga asli Pak Judika."


Hah, bahkan Alisa tau jika marga asli Judika bukan Hartanto melainkan Abute. Ah, gila lo darimana aja Stella? Ketelen bumi, sampe berita ginian aja lo gak peka dan sadar. Stella mengaruk-garuk kepalanya sambil terus menggerutu di dalam hati.


"Jadi gini." Alisa mulai bercerita. Baik Stella, Ridwan ataupun juru kamera yang sedang tertidur di bangku belakang berkonsentrasi mendengarkan ucapan yang akan di ucapkan Alisa. "Marco Davis Abute itu adalah keturunan klain Mafia terbesar di Sisilia. Bahkan usut punya usut, kakek buyutnya itulah yang pertama kali menyiptakan nama Mafia yang kita kini kenal sekarang sebagai penjahat kelas kakap di dunia."


"Tunggu," Ridwan menjeda ucapan Alisa. "Bukannya dulu waktu organisasi Mafia itu di bentuk bukan sebagai sindikat kejahatan, ya? Malah mereka berdiri karena tergabung untuk menentang agresi tentara Prancis di Sisilia."


"Nah itu." Alisa membunyikan jarinya, membuat Stella yang sedang fokus mendengarkan dan menulis di notesnya sedikit terkejut.

__ADS_1


"Usut punya usut katanya mafia jaman dulu itu gak sebengis yang kita kira di jaman modern seperti sekarang ini, malah kebalikannya. Meskipun gaada fakta yang membuktikan, tapi memang sejarah pertama berdirinya Mafia itu adanya di Sisilia. Dan bukan organisasi kejahatan."


"Tar dulu..." Stella berucap lemah. "Terus kaitannya apa sejarah mafia dengan Hartanto Grup. Sumpah, gue ga mudeng."


Alisa memutar matanya jengah. "Makanya gue ngomong jangan di jeda-jeda." Omelnya kesal.


"Seperti yang di bilang Ridwan tadi, kalau sejarah awal terbentuknya Mafia itu ada di Sisilia, Italia. Mereka mendirikan itu sebagai bentuk pemberontak terhadap Prancis. Dan, banyak yang bilang kalau orang yang pertama kali mencetuskan nama Mafia adalah kakek buyut buyutnya lagi dari Marco Davis Abute, yang sekarang kita kenal bapaknya pak Judika itu."


Wajah antusias Stella seketika berubah pias. Bahkan, ia dapat mendengar suara deru napasnya sendiri yang begitu berat.


"Meskipun gak ada buktinya. Tapi banyak yang bilang Mafia jaman dulu dan jaman sekarang itu berbeda. Ya, ada yang bilang karena mereka masuk ke kawasan Amerika dan berubah menjadi bengis di sana. Tapi satu yang jelas, gue pernah baca satu artikel dari seorang anonim yang bilang, kalau mafia Abute itu sebenarnya gak jahat. Ya, bukan gak jahat dalam arti kata memeras kaum miskin, menjual barang haram, membunuh dan lain sebagainya ya. Klain Abute itu beda. Beda sama mafia lainnya."


"Bedanya?" tanya tak sabaran Stella.


"Nah ini ada sangkut-pautnya dengan pembunuhan berantai musim panas di Roma yang tadi gue singgung. Jadi banyak yang bilang, kalau klain Abute ini hanya membunuh orang-orang yang berbuat dosa dan banyak menyebabkan kerusuhan di lingkungan sekitar. Mereka itu membunuh kaya penjahat kelas kakap, penculikan dan pemerkosaan anak, terus politikus yang menyengsarakan rakyat. Ya, mereka tuh seolah-olah membunuh demi menegakkan keadilan, padahal nyatanya mereka monster dari segala monster."


Sejenak Stella teringat dengan ucapan yang dikatakan oleh Mr.Robinson beberapa hari lalu ketika ia bertemu pertama kalinya dengan Mr.Robinson "Jika kau menyebutku seorang monster. Monster sesungguhnya ada pada dirinya. Dia adalah monster dari segala monster."


"Monster dari segala monster?" Stella bertanya dengan raut wajah binggung.


"Ya. Kakeknya pak Judika, diketahui dia pernah membunuh senitator Inggris karena dia ketahuan melakukan pelecehan terhadap dua puluh lima anak di bawah umur, terus dia juga pernah menggal kepalanya hakim agung Italia karena ketahuan menerima suap dari seorang pelaku pedofil. Terus ayahnya pak Judika, diketahui pernah motong-motong seorang rentenir di Sisilia karena dia ngeliat itu rentenir nendang seorang wanita tua, terus dia juga ngebunuh dengan brutal salah satu menteri Afrika karena ketahuan korupsi dan menyengsarakan lebih dari 12.000 orang Afrika. Dan lo tau apa yang membuat mereka semua sama?"


"Apa?"


"Metode pembunuhannya."


TO BE COUNTINUE...


NP:


Semua histori dalam cerita ini hanya fiktif, tak ada sangkut pautnya dengan sejarah sebenarnya. Mohon bijak untuk para pembaca dalam memberikan komentar. Terimakasih sudah mendukung Author. Jangan lupa tinggalkan komentar ya, sebagai penyemangat Author nulis. 🙏🙏 Tetap jaga kesehatan ya guys, selalu patuhi protokol kesehatan untuk memutus mata rantai Covid 🤗🤗🤗 Semoga kalian sehat selalu. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2