
Jarum pendek jam baru saja bergeser dari angka lima pagi. Mentari pun masih malu-malu menampakkan sinarnya menyapa penghuni bumi. Kepakan sayap sang merpati, menari-nari indah di langit cakrawala yang tadinya temaram perlahan membiru. Manusia-manusia berjas rapih dan berdasi licin, kembali sibuk setelah semalam sejenak mengistirahatkan tubuhnya. Diantara ribuan para manusia pemburu dollar itu, terdapat juga Stella yang bersiap berangkat menujuh ke bandara Soekarno Hatta menjemput Judika.
Dua hari terlewatkan begitu cepatnya. Tak terasa hari ini akhirnya, Judika kembali kepadanya dari perjalanan panjangnya yang pasti melelahkan. Mengenakan kereta khusus bandara, Stella berangkat hanya sendiri tanpa seseorang yang menemani.
Saat tiba di bandara, dia menempatkan diri untuk duduk di bangku pintu kedatangan bandara. Kepalanya menengadah, melirik dengan jeli setiap manusia yang keluar dari pintu tersebut dan melewati dirinya. Sepertinya dia datang kepagian. Menurut informasi, pesawat yang membawa Judi akan tiba sekitar pukul sembilan pagi. Sedang sekarang masih pukul tujuh kurung.
Tak masalah. Menunggu dua jam bukanlah apa-apa untuk Stella. Dibandingkan dengan penantian satu bulan yang dia lewatkan untuk menunggunya.
Namun, saat dia masih setia menunggu Judika sambil memainkan gadgetnya, tiba-tiba seorang pria mengenakan jaket tebal dan menutupi kepalanya mengenakan kupluk jaket dan masker duduk di sebelahnya. Melirik ke arahnya sesaat sebelum kemudian memandangi setiap pengunjung bandara yang datang. Pria itu hanya diam, tak berbicara apapun kepada Stella. Tetapi lambat laun Stella menjadi risih akan ke datangan. Di buka masker yang menghiasi mulutnya, dan di tatap pria itu dari bawah hingga atas kepala. Nampak tak asing bagi Stella. Dia seperti mengenalnya, tapi siapa?
"Permisi?"
Pria itu menoleh ke arah Stella. Mengeluarkan tangan kanannya yang sedari ia masukkan ke dalan kantung jaket dan melambai kepada Stella.
Stella mengeryitkan dahi. Pria itu sangat aneh.
"Apa saya mengenalmu?" tanya Stella dengan mata menelisik dan ribuan pertanyaan di dalam benaknya.
"Oh, ya. Ini aku." Pria itu menegakkan duduknya, memutar tubuhnya untuk duduk mengarah pada Stella dan membuka maskernya sedikit.
"Kau!" Teriak Stella begitu keras, hingga membuat mata pengunjung langsung mengarah kearahnya.
"Surrtt." Pria yang tak lain adalah Big Bos itu kembali menutup mulutnya dengan masker. Membekap mulut Stella agar diam dan tidak berteriak.
"Kau bisa diam? Akan bahaya jika kau berteriak. Mengundang curiga orang-orang suruhan Jones."
Stella semakin dibuat tak mengerti oleh ucapan yang di katakan oleh Big Bos.
"Apa maksudmu?"
Tubuh pria itu merapat, mendekati Stella. "Lihat." Menunjuk kearah seorang pria yang sedang membaca koran tak jauh darinya, kemudian berpindah kearah seorang lagi yang sedang minum kopi. "Mereka semua adalah anak buah Jones. Kau tau bukan, Jones siapa?"
Kepala Stella mengangguk. Kembali otaknya di serang beribu pertanyaan-pertanyaan.
Masih dalam mode mencerna apa yang terjadi. Tiba-tiba Big Bos bangun dari duduknya. Stella yang melihat refleks sedikit terkejut dan ekor matanya terus memperhatikan.
"Kita akan bertemu lagi nanti. Setelah kau menjemput pacar pura-pura." Mengedipkan satu matanya, dan berjalan meninggalkan Stella.
__ADS_1
Stella hanya mampu tercengang dan membisu. Saraf-saraf otaknya seperti tak dapat lagi mencerna situasi yang ia hadapi kini. Selain memata-matainya, apa dia juga menyadap semua aktivitas Stella?
Masih melihat ke arah mana pria itu pergi dan menghilang. Dia kembali di kejutkan dengan sebuah suara seseorang lelaki dari arah berlawanan. Tubuhnya bergetar hebat, karena terkejut ketika mendengar lelaki itu memanggil nama lengkapnya.
"Stella Sasmita."
Stella memutar tubuhnya, matanya langsung menangkap dua orang lelaki berpakaian rapih dengan setelan jas dan juga dasi berdiri di depannya.
Mr. Oxley." Bibirnya bergetar hebat. Sial, mengapa dua lelaki ini ada disini? Apa mereka tadi melihat dia sedang berbicara kepada Big Bos? Jika ya, maka matilah.
"Kau datang?" Reza duduk di bangku bandara. Sedangkan Jones beringsut berdiri di belakangnya.
"Tentu."
Entah mengapa baik Reza maupun Jones merasa, jika Stella tak nampak takut sedikitpun dengan kedatangan mereka. Atau minimal memasang wajah khawatir dan bersalah, karena sudah mencuri data Oxley General dan memasukkan Rootkit ke dalam sistem mereka. Tapi, ini tidak. Gurat wajah wanita itu, nampak bersinar cerah dan berseri-seri. Memancarkan kebahagiaan di ekor matanya. Belum lagi tampilannya pagi itu, sangat berbeda dari hari-hari lainnya. Dress santai selutut dengan sepatu kets dan rambut yang di ikat dan jangan lupakan hari ini dia memakai riasan wajah. Stella benar-benar tak memperdulikan kehadiran Reza atau bahkan nyawanya yang bisa kapan saja Reza habisi.
"Ehem."
Stella yang terus fokus melihat ke arah pintu kedatangan, melirik sesaat kearah Reza. Mengeryitkan kening heran dengan deheman lelaki itu. Sebelum kemudian kembali fokus menatap pintu kedatangan bandara.
"Ehem."
"Ehem."
"Nih." Stella mengeluarkan permen sakit tenggorokan dari dalam tasnya. Memberikannya kepada Reza.
"Apa-apaan kau?"
"Anda sakit tenggorokan, kan? Daritadi berdehem tidak kelar-kelar. Nih, aku berikan permen untuk meredakan sakit tenggorokan anda." Menggoyang-goyangkan kaleng permen tersebut.
Sialan. Gerutu kesal Reza di dalam hati. Jadi benar-benar wanita itu tak takut dan merasa bersalah sedikitpun kepadanya? Huh, benar-benar kurang ajar sekali.
"Anda tidak mau?"
Reza melirik dan menatap mata Stella. Mengunci pandangan dengan tatapan yang begitu mengerikan dan sangat mengintimidasi.
"Apa Anda takut saya racuni?" Bibr Stella mengerucut. Bagaimana bisa lelaki itu berpikir demikian kepadanya.
__ADS_1
Dengan rasa kesal yang menggerogoti hatinya, Stella menyandarkan bahunya di bangku bandara. Membuka tutup kaleng permen tersebut dan mengeluarkan isinya. Dia langsung melahap beberapa butir permen tersebut. Seperti memberikan bukti kepada Reza, jika permen yang dia bawa tidak mengandung racun.
"Kau benar-benar mengujiku, Stella." Tiba-tiba merebut permen itu, mengeluarkan seluruh isinya dan langsung memasukkan ke dalam mulut semua.
"Ah, pencurian data itu." Stella menoleh kembali menatap Reza. "Flashdisk tempat penyimpanan data mu hilang entah kemana. Kau tidak perlu khawatir, tanpa flashdisk itu aku tidak mungkin dapat menjualnya."
Kedua mata orang itu membelalak. Dengan kasar, Reza menarik lengan dress Stella.
"Kau benar-benar mau mati, huh." Reza berbisik di telinga Stella dengan nada marah yang tak dapat tertahan lagi. "Jika flashdisk itu hilang dan di temukan oleh orang..."
"Tenang saja." Menepis tangan kekar Reza dari lengannya. "Flashdisk ku memiliki tingkat keamanan yang rumit. Jika siapa saja yang salah membuka kata sandi keamanan ku, komputer mereka akan langsung rusak dengan virus." Bersedekap dan kembali fokus memperhatikan pintu kedatangan yang kini terlihat begitu ramai dengan orang-orang yang baru saja mendarat.
Jam sembilan lewat sepuluh menit, saat pesawat yang membawa Judika mendarat. Stella tak dapat lagi menyembunyikan rasa ketidak sabaran. Berkali-kali, ia berjalan mondar-mandir tak karuan karena merasa terlalu lama menunggu.
"Duduklah. Kau seperti setrika."
"Lama banget. Bisa mati penasaran gue." Stella menghentak-hentakan kakinya kesal.
"Kau takkan bisa mati, selain di tanganku."
"Cih." Stella menghentikan langkahnya. Membungkukkan tubuhnya tepat di depan Reza. Sedikit dia mendekatkan wajahnya kearah Reza dan kemudian berbisik di sana. "Dengar, sebelum aku mengenal mafia seperti mu, kematian selalu menghampiriku setiap waktu. Jadi simpan semua ancaman mu, karena sedikit pun aku tidak takut." Kembali menegakkan tubuhnya dan melanjutkan mondar-mandir menunggu cemas kedatangan Judika.
Jujur saja, sebenarnya ucapan setelah hanya bualan belaka. Untuk menutupi rasa cemas dan ketakutan akan hadirnya Reza di depan matanya. Kematian memang selalu saja menghampiri Stella. Tapi untuk kasus Reza itu beda halnya. Dan sepertinya bualan itu, mempengaruhi Reza. Diam-diam setelah melirik Reza yang menggeram kesal akan ucapannya. Dibalik diam dan terus mondar-mandir dia menahan senyum yang liriknya melihat seorang mafia seperti Reza terpengaruh dengan ucapan konyol kurbannya sendiri. Ada rasa kebanggaan sendiri yang meluap di dadanya dapat mengalahkan seorang mafia bengi seperti Reza adalah hal yang sangat sangat langkah.
Saat Stella masih menertawakan tingkah Reza yang menahan geram akan dirinya. ekor matanya tiba-tiba melihat sosok lelaki yang sedari tadi sudah dia tunggu kedatangannya.
Lelaki itu berdiri dengan kumis dan janggut lebat. Kulitnya cokelat karena terlalu lama terbakar sinar matahari. Rambut juga sedikit pirang, mungkin dia mengecatnya saat di sana. Jaket jeans lusuh dan ransel yang di gendong dengan muatan penuh.
Stella tak dapat membendung lagi rasa rindunya. Dia segera berlari menghampur mendekap erat tubuh Judika. Tangisan tak dapat ia tahan lagi dan pecah di tengah keramaian bandara.
"Gue kangen elo, Judi." Satu kata melesat dari mulut wanita itu masih dengan posisi memeluk.
"Gue juga kangen sama lo." Tak memperdulikan yang lain, Judika membalas pelukan Stella. Sesekali mencium rambut gadis itu, dan memainkannya hidungnya di sana.
Disaat kedua anak manusia itu saling memperlihatkan keromantisan mereka, dan tidak memperdulikan yang lain. Tak jauh dari mereka, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan raut wajah tak suka. Mengepalkan kedua tangan erat-erat, sambil menahan geram dan amarah melihat keduanya.
TO BE COUNTINUE...
__ADS_1