
Sudah masuk ketegangan, dimana musuh sebenarnya Oxley General menampakkan dirinya, dan mulai mempengaruhi Stella untuk bergabung dengan mereka. Ayo Vote, like, dan komen cerita Author supaya Authornya semangat nulis.
****
"Maafkan saya tuan, pengemis wanita ini mencoba menerobos masuk ke dalam gedung untuk bertemu dengan tuan Judika." Salah satu security itu berkata. Dengan kepala yang masih terus tertunduk dalam dan nada suara yang sedikit agak kaku.
Bruk... Bruk... Bruk...
Mata Stella melotot, dia melayangkan pukulan kepada security itu dengan sekuat tenaganya.
"Apaan lo bilang gue pengemis? Nih liat nih." Menunjukkan Id card-nya yang ia gantungkan di leher kepada security yang tadi bicara. "Gue jurnalis. Jurnalis bukan pengem..."
"Stella Sasmita!" Reza membentak Stella begitu kencang. Membuat gadis itu diam sekejap itu juga.
"Katakan padaku, apa tujuanmu datang ke gedung ini?"
"Saya ingin bertemu Judika." Lihat, gadis itu mati-matian menyembunyikan rasa takutnya kepada Reza. Berpura-pura sok berani, dan tidak berpengaruh dengan bentakan yang baru saja Reza teriakan melantunkan namanya.
"Judika tak ada di sini."
Mulut Stella terperangah.
"Kemarin dia pergi untuk membuat film dokumenter mengenai Papua."
Merasa tiba-tiba saja di sekitar tak ada udara, tubuh Stella limbung nyaris jatuh saking lemasnya. Judika pergi? Pergi? Pergi? Hanya satu kata itu yang terngiang-ngiang di pikiran.
"Apa yang terjadi? Kalian bertengkar?"
"Hah?" Stella menatap Reza seperkian detik, sebelum kemudian menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak! Hanya saja saya sibuk dua hari ini, hingga tidak sempat menjawab panggilannya."
"Aku paham," katanya singkat. "Rapat untuk menentukan CEO terbaru Hartanto Grup sebentar lagi akan di mulai. Jones?" Reza menjentikkan tangannya. Mengintruksikan Jones untuk mendekatinya. "Antar Miss Sasmita keruangan tunggu ku. Setengah jam lagi aku akan menemuinya."
__ADS_1
"Ah, tidak-tidak." Langsung Stella mengangkat kedua tangannya. Menggoyangkannya. "Tidak, aku memiliki banyak pekerjaan. Aku harus mengerjar berita. Ya, berita." Memaksa tersenyum untuk meyakinkan Reza agar melepaskan dirinya.
"Apa yang berita kau kejar."
"Kematian Joseph." Sial, kembali mulut itu tak bisa diajak bekerjasama. Segera Stella menutup mulutnya dengan tangan, menajamkan mata dan mengerutu memaki dirinya sendiri.
"Bagus." Terdengar suara desahan keluar dari mulut Reza. "Aku kenal dengan dirinya. Kau bisa mendapatkan informasi lengkap tentangnya dariku. Maka dari itu Jones, segera bawa Miss Sasmita keruangan tunggu ku."
"Baik, sir."
"Eh tunggu dulu..." Stella berusaha mengikuti dan menghentikan Reza yang telah berjalan memasuki kantor. Namun, sayangnya langkah lelaki itu cukup besar dan cepat membuat Stella kehilangan jejaknya saat Reza memasuki sebuah lift khusus di ujung kantor.
Dia menghentak-hentakan kakinya. Mengeram kesal, sambil berloncat-loncat kecil mengepal kedua tangannya. Jones hanya mampu menonton tingkah aneh Stella dari lobi gedung. Memandanginya terus menerus sambil sibuk merekamnya. Ya! Merekam tingkah aneh Stella.
Masih terus mengerutu kesal, sambil terus menghentak-hentakan kakinya, mengepalkan kedua tangan kesal dan berputar-putar seperti sebuah gangsingan.
"Nyebelin, ngeselin, saiko. Kenapa gue mesti ketemu lagi sama dia sih? Akhhh...." Terus Stella meluapkan kekesalan hatinya dengan mengeram.
"Astaga."
Stella terlonjak kaget ketika mendengar suara lelaki dari belakang tubuhnya. Dia menoleh dan mendapati lelaki bernama Jones berdiri dengan raut wajah tanpa ekspresi menatapnya.
"Tuan kau membuat jantungku hampir copot." Dia menghela napas, mengelus-elus dadanya, sambil satu tangannya bersender pada dinding lift.
Jones tak bergeming. Dia diam dengan ekspresi muka datar tak memperdulikan Stella yang sedang menyetabilkan jantungnya.
"Kau bisa dengan ku, jika ingin bertemu dengan Mr.Oxley.
"Aku justru mengejarnya tadi karena aku tidak ingin bertemu dengan." Stella melotot geram menatap Jones.
Sebuah senyuman tiba-tiba muncul di bibir Jones. Stella yang melihatnya malah bergedik ngeri melihat senyuman yang menyeramkan itu. Dia seperti seorang hantu yang sedang tersenyum.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang lucu, Mr. Jones?"
"Asisten. Kau boleh memanggilku dengan itu."
Kepala Stella mengangguk mengamini.
Keduanya sejenak terdiam, saling memandangi satu sama lain. Baik Stella maupun Jones mencoba menelisik arti tatapan masing-masing. Jones yakin, jika Stella memiliki sejuta rahasia di balik senyum dan energi kuatnya. Juga Stella yang menyakini jika, Jones memiliki rahasia untuknya. Menjebaknya.
"Apa saya setampan itu melebihi tua Judika, hingga anda terus menatap saya dengan lekat."
Buru-buru Stella mengerjapkan matanya, membuang pandangannya dan bersemu. Stella tak menyangka jika asisten seorang Mr. Oxley memiliki jiwa narsis yang cukup tinggi.
"Aku akan kembali ke kantor. Ada temanku yang menunggu ku di luar."
"Baiklah. Aku akan mengatakan kepada Mr.Oxley jika kau pergi."
Stella perlahan mulai berjalan, berjalan meninggalkan Jones sambil terus memandangi lelaki itu dengan tatapan sulit diartikan. "Baiklah. Selamat pagi. Bye." Berlari. Stella segera berlari dari sana. Tak mau menoleh kembali melihat wajah Jones untuk ke dua kali.
Namun, saat dia tiba di lobi luas berdinding kaca dan lantai marmer dengan beberapa banner menjuntai di atas langit-langit, tiba-tiba langkahnya terhenti. Stella menengadahkan kepalanya. Berputar-putar melihat layar seperti tv yang banyak terpasang di beberapa titik lobi kantor Hartanto Grup. Layar yang tadinya menyiarkan berlangsung acara rapat menujuk CEO baru Hartanto Grup berubah menjadi gambar hitam. Mata Stella menatap lekat salah satunya. Hanya persekian detik hingga layar itu berubah menjadi sebuah saluran yang menyiarkan sesosok manusia berbaju serba hitam tengah berdiri dengan topeng badut terpasang di wajahnya.
"Good Morning Hartanto Grup and Oxley General." Suaranya telah di rubah. Stella yakin jika sosok di balik topeng itu adalah seorang laki-laki juga hacker sepertinya.
Semua karyawan Hartanto grup berkumpul, saling melemparkan komentar binggung dengan siaran yang tiba-tiba terganti.
"IT, mana ada IT." Teriakan seorang laki-laki mengema di lobi pagi itu. "Cepat hentikan siaran itu," katanya menyuruh tim IT Hartanto.
"Pak, mereka bukan hanya meng-hack siaran kita saja. Ponsel, dan komputer, dan YouTube juga."
Stella segera merogoh kantong celananya. Mengambil ponsel dari dalam sana. Ponselnya tak berfungsi. Ponsel layar sentuh itu malfungsi, hanya dapat melihat video siaran yang sama dengan layar di depannya.
"Keserakahan yang telah Hartanto Grup dan Oxley General akan mempengaruhi hingga ke ujung rantai kehidupan. Untuk apa mereka melakukan itu? Kekayaan? Uang? Tidak! Tapi untuk dendam dan tradisi. Elite-elite dunia bahkan menyokong berdirinya Oxley General, untuk memborbardir negara timur tengah dan menyebabkan perang teluk. Banyak rahasia yang di sembunyikan oleh Oxley General dari dunia dan sekarang Hartanto telah menerima seorang tirani yang sangat mengerikan itu masuk ke dalam perusahaan mereka. Bergabunglah para jenius jaringan dengan Esocial untuk menghancurkan kekaisaran tirani Oxley General."
__ADS_1
TO BE COUNTINUE....