
Stella terasa tertohok mendengar perkataan Reza. Tak pernah ia sangka jika kelainan yang di miliki lelaki ini didapat dari masalalunya. Pikirannya melayang, mengingat akan sosok Judika yang di kenal playboy begajulan yang tak kenal hukum. Stella juga berpikir, mungkin sikap dan sifat Judika yang seperti itu juga di dapat karena masalalunya yang menyakitkan.
Suasana di antara mereka kembali hening. Tanpa di sadari, Stella kembali menggenggam tangan Reza dengan erat. Mengusap punggung tangan itu, dengan pandangan mata berbinar penuh kasih. Sekali dalam hidupnya, Stella berdekatan dengan lelaki dengan jarak sedekat itu. Menggenggam tangannya dan mengelus tangan itu tanpa paksakan dan siksaan. Itu sedikit aneh bagi Stella. Seperti ada sesuatu yang mengelitik hatinya dan mencoba keluar dari dalam sana, hingga membuat napasnya sedikit tersengal.
Mati-matian, Stella menahan itu. Tidak lucu jika dalam kondisi seperti ini Reza tau jika Stella gugup dan salah tingkah seperti ini.
"Aku juga memiliki masalalu kelam, Mr.Oxley."
Kepala Reza menoleh, mengeryitkan kening menatap Stella.
Stella tersenyum tipis. "Ibu ku menjual ku ketika usia ku kecil. Hingga sekarang aku tidak tau alasan dia menjual ku."
"Dengan siapa kau di jual?"
Sebuah hembusan napas yang cukup berat terdengar. "Sebuah kelompok Hacker yang sebentar lagi bebas dari masa hukumannya."
"Cyberfriend?"
Kepala stella mengangguk mengamini.
Terlihat jelas airmuka Reza yang berubah kaget seketika. Dirinya benar-benar tak tau, jika Stella adalah salah satu korban dari kejahatan Cyberfriend. Dan lebih uniknya juga, Stella lah yang berhasil menjebloskan dan mengungkap kejahatan Cyberfriend.
"Kau..." Reza tak dapat melanjutkan perkataannya.
Stella mengangkat satu bahunya. Melepaskan genggaman tangannya dan sedikit menjauh dari Reza.
"Aku tidak terlalu mengingat kejadian itu." Stella mulai bercerita. "Saat itu usiaku masih kecil. Yang ku tau ibuku membawaku ke sebuah tempat gelap di daerah Bekasi. Dia meninggalkan ku dengan dua lelaki berbadan kekar yang ku tau bernama Lucas dan Martin. Dia bukan orang Indonesia, dia sama dengan mu orang Italia. Mereka membawa ku ke suatu kota di jawa timur, menyekap ku dan mulai memblender otakku."
"Stella..." Reza menjeda ucapannya Stella. Suaranya begitu pelan namun terdengar berat. "Aku berusaha mencari semua indentitas mu. Menyuruh anak buah ku mengikuti mu. Namun, kau begitu misteri tak ada apapun tentang mu yang ku temukan selain skandal-skandal tentang mu yang di cap sebagai anti negara dan jurnalis anti mainstream. Dan, sekarang kau menceritakan kisah mu kepada ku? Why?"
Kepala stella menggeleng. Dia menundukkan kepalanya menatap jari-jarinya yang saling bertautan.
"Aku tidak tau alasannya apa. Padahal kita ini kan bermusuhan. Aku yang membobol perusahaan mu. Menimbulkan kekacauan di Oxley General."
Baik Stella maupun Reza tak dapat menyembunyikan gelak tawa mereka. Mereka terbahak mendengar ucapan Stella yang entah mengapa itu menggelitik diri mereka. Reza yang notabene terkenal kejam dan tak memiliki hati pun, merasa lucu mendengar pengakuan kejahatan dari musuhnya sendiri.
"Mungkin kau mulai menyukai ku, Stella."
Alis Stella mengerut. Dia menarik bibirnya keras. Menatap Reza dengan tatapan penuh sarkasme.
"Oh, come on aku ini kekasih Judi mana mungkin aku menyukai abang kekasih ku?"
__ADS_1
Reza mengangkat alis membuat Stella memerah seketika. Lelaki itu menunjukkan sebuah ekspresi yang sukses membuat Stella mendadak salah tingkah.
"Kau yakin kekasih, Judika?"
"Tentu. What wrong?"
Tiba-tiba Reza merogoh sesuatu dari celana bahannya. Mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu kepada Stella.
"Aku memiliki bukti jika Judika baru saja menyatakan cinta kepada seorang mahasiswa sastra Inggris di kampus tempat kalian berkuliah."
Mata Stella mendelik, mulutnya ternganga tak percaya dengan ucapan Reza. Secepat kilat, Stella langsung menyambar ponsel Reza. Melihat foto-foto yang di tangkap oleh ponsel tersebut.
Judi. Dasar Playboy cap kuda. Gumam kesal Stella dalam hati sambil mencengkram kuat-kuat ujung kemeja kerjanya.
Melihat tingkah Stella, Reza hanya dapat menahan tawanya.
"Kalian adalah dua aktor dan aktris yang begitu sangat memukau aktingnya. Jika ada penghargaan untuk kalian mungkin gelar Jennifer Lawrence sebagai artis terbaik di academic award akan di ambil alih oleh mu, Stella."
Stella tak menjawab. Gadis itu menundukkan kepala diam seribu bahasa.
Melihat reaksi Stella yang hanya diam membisu, membuat Reza sedikit merasa bersalah. Bagaimana pun, dirinya tau dari gelagat dan bahasa tubuh Stella, gadis itu menyimpan rasa kepada adiknya. Dan perkataannya barusan memang sedikit berlebihan.
"Kau menyukai Judika, Stella?"
"Kau tidak perlu menyembunyikannya. Semua itu sangat jelas terlihat."
Mata Stella mengerjap cepat. Apa iya sebegitu bucinnya Stella kepada Judika hingga Reza saja bisa mengetahuinya dengan gampang.
"Kasta ku dan dia berbeda, Reza. Bagaimana pun besarnya cintaku kepada dia akan selalu ada tembok penghalang antara kami dan itu tidak akan mungkin pernah ku tembus."
"Aku mengerti." Suara Reza terdengar lembut dan tulus.
Tanpa di duga, Reza beringsut duduk mendekati Stella. Meraih dagu gadis itu dan mendekatkan ke wajahnya. Matanya terpejam, dan seperti sebuah sirih Stella pun memejamkan matanya mengikuti Reza. Perlahan wajah mereka semakin saling berdekatan. Reza menempelkan bibirnya di bibir ranum Stella. Mengecup bibir gadis itu untuk beberapa saat, sebelum kemudian kecupan itu berubah menjadi sebuah lumutan yang menggairahkan.
****
Flashback on...
Di sebuah kafe bintang lima di kawasan Jakarta pusat, Judika duduk dengan setelan jas rapih, dan sepatu kulit mengkilap di depan meja bundar besar yang sudah di hias oleh lilin cantik. Di sebrang kursinya, duduk seorang gadis bergaun pink berenda yang terus menunjukkan ekspresi malu-malu.
"Aku suka sama kamu. Kamu mau kan jadi pacarku?" Satu kalimat melesat dari mulut Judika. Membuat gadis itu sedikit tersentak kaget mendengarnya.
__ADS_1
Prok... Prok... Prok
Belum gadis itu menjawab, sebuah tepukan tangan terdengar dari belakang bangku Judika. Judika menoleh dan langsung terkejut melihat sosok Reza berdiri di belakangnya.
Judika bangkit dari duduknya, di ikutin oleh gadis yang diketahui bernama Michael itu.
"Ba... Bang lo di sini?"
"Kenapa? Ini sebuah kafe yang bisa di kunjungi oleh siapapun, kan?"
"Bang, gu... Gue bisa jelasin sama lo."
Reza mengangkat tangannya, mengintruksikan Judika untuk berhenti bicara. "Jadi Stella bukan pacar kamu, kan?"
Lantang Judika menggelengkan kepalanya. "Tidak! Dia pacar gue... Pacar gue."
Reza tergelak mendengar jawaban Judika. Lelaki itu tau betul, jika saat ini adiknya sedang berbohong. Reza tau jika adiknya itu tidak pantai berbohong. Terlihat jelas dari gelagat dan bahasa tubuhnya. Dia gugup, salah tingkah, dan pandangan tak fokus.
"Kau tidak pandai berbohong, Judika. Dan aku tau itu. Katakan siapa wanita ini? Atau akan ku adukan kau..."
"Ok,ok..." Judika menyela ucapan Reza. "Ok gue ngaku, dia Michael mahasiswa sastra di kampus gue dan Stella. Gadis ini yang sebenarnya orang yang lagi dekat sama gue bukan Stella."
"So?"
Diam-diam Judika melirik Reza. "Gue... Gue sama Stella gak pacaran. Gue minta bantuan dia untuk jadi pacar gue supaya mama gak maksa gue ngambil jabatan itu, dengan make Stella sebagai alibi mama pasti gak mau ngangkat gue jadi CEO karena malu punya calon menantu miskin kaya Stella."
FLASHBACK OF...
TO BE COUNTINUE...
**NP
menurut kalian sosok Stella Sasmita cocok ga di perani oleh Jung so min? komen di bawah ya guys cocok gaknya**.
**Bonus pict
Mr.Oxley**
__ADS_1
Dan Judika Dwi Hartanto