
Setelah pergulatan penuh nafsu selesai, Stella beranjak turun dari tempat tidur meninggalkan Reza yang terlelap dengan tubuh telanjang bergulung selimut. Nadila masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa pergulatannya dengan Reza.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Nadila duduk di kursi dengan laptop nganggur entah milik siapa. Di nyalahkannya laptop tersebut sebelum kemudian dia masuk ke situs gelap dark web.
Di sana, dia berkomunikasi dengan sebuah komunitas yang Chris katakan mampu membantunya berkomunikasi dengan Anne. Tentu, hal itu tidak Stella sia-siakan.
Dia mulai masuk ke dalam sebuah website khusus milik komunitas bernama Xander itu. Beberapa pertanyaan pun di anjukan sebelum ia benar-benar dapat berkomunikasi dengan semua anggota Xander.
Bukan Stella namanya jika dia tidak lolos dengan pertanyaan verifikasi yang di ajukan oleh Xander. Hanya hitungan menit saja, dia bahkan sudah menyiapkan akun baru untuk dirinya berkomunikasi dengan Xander.
Begitu sayang dengan nama Dandelion666, Stella enggan menganti akunnya. Dia berbalas pesan dengan nama samaran Dandelion yang telah ia gunakan kurang lebih lima tahun.
[Dandelion666: Ada seorang informan yang mengatakan kalian bisa menolongku menemukan seseorang]
[Xander: Apa yang akan kau berikan sebagai imbalannya?]
[Dandelion666: Apapun kecuali uang]
[Xander: Kami tidak butuh uang. Informasi di bayar informasi.]
[Dandelion666: Baik. Apapun informasi yang kalian inginkan.]
[Xander: Kami ingin semua data organisasi IS*S lengkap dengan aktivitas aktif mereka.]
What?! Gila. Stella memaki dalam hati. Is*s dia bilang? Bagaimana dia melakukan itu? Jika Stella membobol situs resmi is*s itu sama saja dia bebas dari kandang macan dan masuk ke kandang harimau. Is*s dengan Reza baginya sama-sama dua kelompok yang harus di hindarkan oleh dunia. Satu seorang mafia, satu lagi seorang teror*s.
[Dandelion666: Tidak mungkin itu terjadi. Aku akan di lacak dan di buru oleh mereka.]
__ADS_1
[Xander: Kami tidak peduli. Jika kau mau informasi bayar kami juga dengan informasi.]
Permintaan luar biasa dari Xander sukses membuat Stella bimbang. Dia tak membalas pesan Xander. Malah tepekur memandangi Reza yang terlelap dengan wajah yang begitu damai.
Ini pilihan sulit untuknya. Dia tidak boleh gegabah memilih sesuatu hal lagi hanya karena ego. Cukup sekali, dia terjerat dalam dunia hitam. Bertemu mafia menawan sekaligus menakutkan seperti Reza beserta bonus Cyberfriend bebas di hadapan matanya.
Huft...
Apa yang harus dia lakukan? Bimbang dengan degup jantung mengebu-gebu, Stella tak bisa duduk diam memikirkan solusi. Sudah tinggal beberapa jam saja, dia dapat menemukan adik Anne. Hanya bagaimana caranya dia berkomunikasi kepada Anne saja yang belum dia dapati caranya.
Lama tepekur memikirkan solusi, hingga tiba-tiba sebuah pesan yang di kirimkan oleh Xander membuyarkan lamunannya. Cepat tangannya membuka pesan tersebut dan membacanya.
[Xander: Kami bekerjasama dengan pemerintah Amerika. Jika kau bisa meretas website is*s kami akan menjamin keselamatan mu 100%.]
Bullshit! Stella tidak percaya dengan power dari negara paman sam itu. Pemerintah Amerika menurutnya penuh dengan drama dan kebohongan belaka. Dia sama sekali tidak percaya akan tanggung jawab pemerintah Amerika tentang keselamatan hidupnya. Malah dia menyakini CIA setelah ini akan memburunya.
[Dandelion666: Baik tunggu satu jam lagi. Akan ku bawa apa yang kau inginkan. Tapi sebelum itu aku ingin kau mencari tahu berada seseorang.]
[Xander: Siapa?]
[Dandelion666: (mengirimkan sebuah foto) aku ingin kalian melacak keberadaannya. Sertakan nomer telponnya yang aktif.]
[Xander: Beri kami waktu dua jam.]
[Dandelion666: Satu jam. Atau transaksi kita batal.]
[Xander: Ok satu jam.]
__ADS_1
Mengenyangkan segala keganasan dan kebiadaban kelompok terorisme itu, tak ingin membuang-buang waktu Stella segera keluar dari situs dark web dan mulai meretas situs resmi milik militan Is*s.
Cukup sulit meretas situs resmi itu, mungkin karena mereka ingin menjaga kerahasiaan anggota juga dengar-dengar situs resmi mereka beberapa waktu lalu di sabotase oleh seorang agen Amerika. Tentu hal itu pasti membuat mereka menambah pengamanan situs mereka.
"Ah, sial!" Berdecak kesal, berkali-kali Stella membobol situs resmi itu tetapi tetap tidak tidak bisa.
Situs itu benar-benar di jaga ketat. Tak mudah untuk seseorang hacker amatir dapat bisa membobolnya. Stella yang sudah menjadi hacker ulung tetapi sulit masuk.
"Come on... Come on." Sudah login dan siap di ambil alih kepemilikannya. Manik indah itu terus menatap jam dinding yang terus berputar menujukkan waktunya yang kurang dari lima belas menit lagi. Stella terus terpacu dengan waktu. Berlomba untuk menyelesaikan tugasnya sebelum waktunya habis.
"Berhasil." Dia memekik cukup kencang, hingga membuat Reza menggeliat tapi syukurnya tidak membuat lelaki itu terbangun.
Susah payah membobol website resmi militan itu, akhirnya Stella berhasil masuk. Dokumen pribadi milik militan itu satu persatu ia buka. Keterlibatan beberapa elite dunia semua tertulis jelas di sana. Stella berdecak, menggelengkan kepala tak percaya. Orang yang selama ini paling depan menyerukan kebenciannya terhadap militan itu nyatanya adalah pemasok dan penyokong biaya militer mereka.
Bukan hanya itu saja, foto serta video yang memperlihatkan beberapa gambar petinggi militan itu terpampang jelas lengkap dengan nama dan gelar mereka. Juga ada video tentang latihan militer, pembantaian musuh, dan daftar nama-nama orang yang akan menjadi sasaran mereka.
Semua nampak tidak begitu mencolok untuk Stella, selain satu nama tadi dirinya tak terlalu terkejut dengan fakta-fakta baru yang ia temukan. Sedikit mengurangi pekerjaannya. Stella bisa membuat artikel yang memuat tentang kebiadaban militan itu nanti.
Di ambilnya pulpen dan sebuah buku kecil, dengan telaten dia menulis semua yang dia lihat di layar monitor. Meringkas semua hal yang penting dan bisa menjadikan bahan membuat artikel baru.
Namun, tiba-tiba hingga ia mencapai satu dokumen penting bertuliskan 'pemasok senjata' dalam bahasa arab hatinya tiba-tiba terusik. Penasaran, dia mengeklik dokumen itu dan membukannya.
Otot-otot wajahnya mengencang seketika, melihat barisan foto Reza bersama Jones yang duduk bersama dengan pendiri militan itu. Bersalaman di satu frame foto dengan raut wajah begitu bahagia.
Bukan hanya itu, di sana juga tertulis sebuah kesepakatan perdagangan senjata senilai lebih dari tujuh ratus juta dollar atas nama Oxley General. Stella terkejut, ternyata selama ini Reza adalah pemasok utama persenjataan militan itu.
Gemetar, dia menyudahi semuanya. Mengunduh semua berkas dan menyalinnya ke dalam flashdisk baru kecuali dokumen terakhir yang ia lihat. Buru-buru, dia kembali ke situs dark web untuk menghubungi Xander. Menyelesaikan transaksi jual beli itu dan menyelesaikan pekerjaannya. Baru lah setelah itu, Stella akan menyelidiki semuanya secara terperinci. Tentang keterlibatan Reza dengan ter*ris nomer satu di dunia.
__ADS_1
TO BE CONTINUED...