
Pertama kali yang Stella rasakan ketika bangun adalah rasa sakit yang amat mendera menjalar di seluruh tubuhnya. Dia terjaga, ketika waktu menunjukkan pukul enam pagi. Matanya menelisik ke sekeliling kamar, mencoba meraba-raba ingatan akan kejadian malam tadi.
Air matanya luluh seketika membayangkan betapa bodohnya, dirinya merelakan kembali tubuhnya untuk di jarah oleh lelaki lain. Rasa hina, dan jijik akan dirinya sendiri menguasai hati Stella. Bodoh, Stella menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi. Mengapa, dia tidak bisa menjaga kehormatannya dari laki-laki seperti Reza? Mengapa, dia begitu lemah hingga tak mampu melawan dan mempertahankan kehormatannya sendiri? Stella terus menyalahkan dirinya. Tangis yang semula suara rintihan, kini berganti dengan raungan dan kehisterisan.
Suara shower kamar mandi berbunyi, mengeluarkan air. Dengan langkah tertatih-tatih, Stella berjalan masuk ke kamar mandi. Sejenak, dia menyadari jika sprei putihnya kotor dengan bercak darah. Stella menyungingkan senyuman, dan kembali berjalan membawa tubuhnya dengan tergopoh-gopoh dan tatapan mata kosong.
Di dalam kamar mandi setelah selesai membersihkan diri, Stella termenung, berdiri di depan cermin wastafel, memandangi dirinya lama dengan tatapan kosong lurus menatap pantulan cermin kaca westafel. Airnya kembali luruh, jatuh dari sumur beningnya. Di tengah tangisan yang terdengar memilukan itu, Stella justru menyungingkan senyuman. Senyuman yang terlihat begitu menyayat hati. Tangannya terkepal erat, memegang sebuah pengering rambut.
Air mata yang tidak sinkron dengan raut wajah Stella yang tersenyum, terlihat begitu mengerikan. Stella nampak seperti wanita kurang waras.
"Aku akan buat kamu merasakan apa yang selama ini aku rasakan, Reza. Aku bersumpah akan menghancurkan Oxley General dan bisnis mafia kamu!" Prank... Stella melemparkan pengering rambut yang ada di genggaman ke cermin kaca westafel, hingga membuat tak hanya cermin kaca westafel saja yang hancur, tetapi bagian-bagian pinggir westafel dan keran airnya.
Stella mengeram, meraih satu pecahan cermin kaca yang berhamburan di lantai kamar mandi. Dia meremasnya. Meremas erat-erat, sampai cairan kental berwarna merah keluar dari telapak tangannya. Dia tersenyum kembali, seraya berkata. "Aku hancur, kau juga hancur, Reza!"
Duduk di bibir kasur, Stella terdiam sambil perlahan-lahan membungkus tangannya yang terluka akibat pecahan cermin kaca westafel menggunakan perban. Saat dirinya selesai mengobati lukanya, dirinya tersadar jika ponselnya kemarin malam terjatuh. Buru-buru, dia turun kebawah dengan sesekali meringis kesakitan di bagian inti miliknya.
Stella meraih gagang telpon kabel miliknya. Menekan-nekan nomer resepsionis apartemen untuk menanyakan apakah mereka melihat ponselnya yang jatuh kemarin.
"Hallo, selamat pagi, mba Stella." Suara hangat dan ramah dari seorang wanita terdengar dari seberang telpon.
"Uhmm, pagi," Stella menjawab dengan nads suara sedikit bindeng. "Mba, saya mau tanya. Kemarin petang menjelang malam, sayang gak sengaja menjatuhkan ponsel saya. Apa mba atau staf apartemen melihat ponsel saya?"
"Jenis ponsel mba Stella apa, ya?"
"Samsung S20 ultra. Warna violet."
"Baik, kemarin sore salah satu staf kami menemukan sebuah ponsel dengan ciri-ciri sama yang baru saja di sebutkan oleh mba Stella tadi."
Sejenak, Stella menghela napas lega karena ponselnya ketemu dan baik-baik saja.
"Mba mau ambil ke bawah, atau mau di antarkan?"
"Boleh tolong antarkan ke unit, saya?" tanya Stella meminta tolong.
"Tentu, mba. Saya akan mengirimkan salah satu yang akan mengantarkan ponsel mba ke atas."
"Ok, makasih."
Stella menutup telponnya dan kembali ke kamar. Dia mengunci pintu kamarnya. Saat dirinya berjalan ke arah lemari, matanya tiba-tiba menangkap secarik kertas asing yang tergeletak begitu saja di atas nakas kosong di sebelah tempat tidurnya. Stella meraih kertas tersebut, dan membaca tulisan yang tertera di surat berbentuk segi panjang itu.
Itu adalah sebuah cek, dengan nominal uang sebanyak 150 juta dan dengan atas nama Reza Eerste Oxley.
"Brengs*k! Dia pikir aku ini salah satu jal*ngnya? Yang kapan saja dia bisa tiduri, dan pergi begitu saja dengan selembar cek ini." Geram, Stella langsung merobek-robek cek itu. Membuangnya ke tempat sampah.
Dia mengambil koper besar di dalam lemari, memasukkan semua baju-bajunya dan barang-barangnya semua ke dalam koper. Dia sedang mengepak barang. Mungkin akan pergi, entah kemana.
__ADS_1
Tet... Tet... Tet
Suara bel apartemen berbunyi, Stella menyakini jika itu adalah salah satu staf apartemen yang mengantarkan ponselnya. Segera, dia bergegas kembali turun ke bawah dan membuka pintu apartemen. Dan,m benar saja saat, Stella membuka seorang pria berseragam lengkap tengah berdiri di depan pintu apartemen dengan senyum yang mengembang tulus.
"Selamat pagi, Mba Stella?" sapanya sopan.
"Pagi."
"Saya mau mengantarkan ini." Petugas itu menjulurkan tangan berjari-jari panjangnya yang menggenggam sebuah ponsel berukuran 6 inci.
Stella menerimanya dengan penuh sukacita. "Terimakasih banyak."
"Sama-sama."
Stella menutup pintu apartemennya setelah selesai dengan petugas apartemen. Dia bersyukur ponselnya ketemu, meskipun dengan keadaan agak retak di bagian layarnya.
Kini, dia duduk di sofa ruang tamu dimana itu kemarin tempat Reza duduk. Menyandarkan tubuhnya sembari mengeser-geser benda pipih itu.
"Chris dimana, kau?" Stella menghubungi Chris.
"Stella, are u oke?"
"No. Aku ingin bertemu denganmu. Kau di mana?"
Stella terdiam. Dia tidak mungkin pergi ke sana begitu saja dan meninggalkan pekerjaannya sebagai jurnalis.
"Stella, what happened?"
"Apa kau sudah menghubungi red army?"
Terdengar di sebrang sana, Chris menghela napas. "Mereka mundur. Oxley General mulai menampakkan jati diri sesungguhnya."
"Maksudmu?"
"Reza menyuruh Jones bekerjasama dengan Mafia penguasa bawah tanah lainnya seperti mereka. Kita tidak mungkin dapat melawannya, terlebih Cyberfriend baru saja menyatakan kesediaannya membantu Oxley General mencari kita."
"Chris, Reza tau aku bekerja sama dengan mu."
Sekejap Chris terdiam, sebelum kemudian kembali berkata. "Aku sudah mengirimkan sebuah video kepada Reza."
****
Reza tiba di rumahnya di kawasan kota Bogor. Saat tiba, Asistennya Jones sudah berdiri menyambut kedatangannya bersama dengan beberapa pelayan pengurus rumah di sana. Reza turun dari mobil, dan berjalan di ikutin oleh Jones dari belakang masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Dia merebahkan diri di sofa panjang yang letaknya di ujung ruangan. Dengan telaten, Jones melepaskan satu persatu sepatu yang melekat di kaki Reza. Keningnya mengerut, terheran-heran saat manik hijaunya melihat baju Reza robek cukup lebar di bagian pinggang belakang. Usil, dia pun berkata.
__ADS_1
"Sepertinya kau menikmati malam minggu mu bersama dengan nona jurnalis itu, Sir."
Reza tersenyum. "Entah mengapa aku merasa kasihan dan bersalah setelah menidurinya, Jones."
"Itu karena kau menyukai nona jurnalis itu, Sir."
"Jones, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu?"
"Silahkan, sir."
"Apa ada sesuatu yang kita lewatkan tentang diri, Stella?"
"Misalnya, sir?"
"Dia yang masih Virgin?"
Termangu. Jones berdiri sambil menatap tangan-tangannya berjari panjang yang saling bertautan.
"Sorry, sir aku tidak menyebutkan jika Stella pernah melakukan operasi Virgin beberapa tahun lalu. Itu di lakukan oleh negara, salah satu bentuk tanggungjawab negara akan dirinya."
Kepala Reza menoleh, dahinya mengernyit binggung akan maksud Jones. "Operasi Virgin? apa maksudmu?"
"Operasi itu di lakukan untuk mengembalikan keelastisitas..." mengerakkan-gerakkan tangannya.
"I no." Reza mengangkat tangannya. "Tapi apa ada operasi semacam itu?"
"Jaman sudah modern, sir tentu saja ada."
Reza bangkit dari tidurnya, menyenderkan tubuhnya ke sofa dan terdiam beberapa saat. Membayangkan operasi yang baru saja Jones katakan. Dia masih belum percaya, jika di dunia ini ada operasi gila macam itu.
"Sir?"
Kepala Reza menoleh, kearah Jones.
"Aku ingin bertanya kepadamu, tentang maksud ucapan mu tadi di telpon."
"Yang mana?"
"Tentang kau tau siapa jati diri Big Bos."
TO BE COUNTINUE...
__ADS_1