Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 13


__ADS_3

Salah satu hal mengasikan tidak memiliki kendaraan pribadi, adalah saat Stella naik bus atau kereta ia dapat berbaur dengan orang-orang asing yang baru ia temui. Itu sedikit mengurangi sifat introvertnya. Setidaknya, ia mencoba untuk berbaur dan berinteraksi dengan yang lain meskipun hampir seluruh orang asing tersebut tak menganggap ada dengan keberadaan Stella.


Selain meretas, dan mengumpulkan berita, hobi lain dari Stella adalah mengulik secara detail kehidupan pribadi orang-orang sekitar melalui sistem bernama phising. Itu sangat mudah, hanya butuh waktu tiga menit, Stella bisa menghancurkan bisnis, hidup, dan keberadaan seseorang. Ia bahkan bisa menghapusnya! Menghapus semua sistem yang orang lain punya. Rahasianya adalah, mencari yang terburuk dari diri mereka.


Namun, tetap saja semua itu tidak mengobati rasa kesepian pada dirinya. Berapa kali pun ia mencoba, untuk berinteraksi dengan yang lain, dengan cara memasang wajah dua. Tetap saja, Stella tak pernah cocok dengan dunia. Gadis itu kembali tersingkirkan oleh sesuatu yang bernamakan, materi. Ia begitu kesal, amat membenci. Andaikan saja dia memiliki materi seperti yang orang lain inginkan, apa kehidupan tetap akan sepelik ini?


Siang itu, setelah menghubungi BIG BOS kaki Stella melangkah menelusuri jalanan ibukota tanpa tujuan. Ia sudah menaiki kereta api selama tiga kali, menaiki busway mengelilingi kawasan harmoni sebanyak empat kali. Saat ia tiba di Monas, senja sudah berada di akhir pengunjung. Ia tersenyum menatap langit jingga yang begitu indah. Dalam hati, gadis itu sedikit bersyukur dengan adanya pademi yang melanda negeri ini. Membuat jalanan ibukota yang tadinya di penuhi jejal, kini bersih dan sedikit asri. Sepertinya manusia harus banyak-banyak bersyukur dengan pandemi yang melanda dunia.


Stella berdiri di depan pintu masuk Monas yang tutup. Ia memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam udara senja di pusat ibukota. Ah... Rasanya menyenangkan. Melepaskan beban di dalam otak dengan cara sederhana seperti ini. Ia masih terus berpijar menatap langit yang berlahan mulai tenggelam. Bersama-sama dengan seseorang yang jauh disana juga berpijak di bawa malam dingin mencekik tulang bersama cahaya bintang-bintang indah bertaburan di langit kota Manchester.


****


Panggung megah berdiri kokoh di sebuah aula besar dengan beberapa pengunjung yang telah hadir mengisi kursi penonton. Lampu tembak menyalah, memancarkan cahayanya di langit kota Manchester malam itu. Reza yang berdiri di belakang panggung tengah bersiap, mendemonstrasikan ciptaannya terbaru. Degup jantungnya berdebar begitu kencang, entah mengapa? Padahal itu bukan kali pertamanya muncul di depan khalayak untuk mempromosikan hasil ciptaannya yang luar biasa.


"Sir, kau siap?" Jones muncul dari arah kanan dirinya. Membawa koper yang kemarin ia ambil dari gedung Oxley House.


Reza hanya mengangguk. Ia tak ingin terlihat dengan jelas oleh Jones, jika sekarang dirinya sedang gugup. Bisa malu, dia jika Jones tau ia sekarang begitu gugup. Bisa-bisa Jones akan meledeknya habis-habisan dengan komentar savagenya.


"Kau butuh air, sir?"


"Tidak."


"Butuh makanan manis?"


"Tidak."

__ADS_1


"Atau, kau butuh..."


"Jones, kau bisa diam? Kau sangat berisik seperti kecoak." Mata Reza mendelik kesal ke arah Jones. Entah mengapa asistennya itu senang sekali mengganggu dirinya, saat ia dalam keadaan gugup seperti sekarang. Ah... Ayah kenapa kau bisa bertahan dengan lelaki ini selama bertahun-tahun. Desah Reza dalam hati.


"Maafkan saya, sir. Anda nampak terlihat begitu gugup. Saya khawatir anda akan pingsan, sebelum melakukan demonstrasi itu."


"Kau mau mati, ya? Meledekku."


Baru saja Jones hendak menjawab ucapan Reza, sebuah panggilan masuk mengangetkan dirinya. Jones berjalan menjauh dari Reza, dan mengangkat telpon tersebut. Tak lama hanya dalam hitungan detik, lelaki itu sudah kembali lagi berdiri di sebelah Reza.


"Siapa?" tanya Reza sambil memandangi dari balik panggung pengunjung yang telah memenuhi kursi.


"Anak buah saya melaporkan, jika tuan Leo berserta istrinya sudah tiba dengan selamat di London."


"Dia gila, ya?" Bentak Reza, sejurus mendelikkan matanya kembali menatap Jones. "Saya kan berada di Manchester, untuk apa di malah berada di London?"


Reza menautkan alisnya binggung.


"Balas dendam?"


"Iya, karena anda telah membohonginya dengan mengatakan, jika Joseph berada bersama anda."


"Memang dia ada bersamaku." Kilah Reza. "Hanya saja aku belum mengintruksikan mu untuk membawanya."


Jones diam tak menjawab, dia mendesis yang mana membuat Reza menatap binggung kerahnya. "Apa yang kau pikirkan?"

__ADS_1


"Saya hanya bertanya-tanya pada diri saya. Apa yang sebenarnya anda rencanakan kepada tuan Leo. Anda tidak biasanya langsung mau membantu seseorang. Pasti ada timbal-balik dari itu semua."


Mendengar ucapan Jones, Reza terkekeh. Ia mencengkram kedua bahu Jones dengan kuat. Membuat Jones sedikit meringis menahan sakit.


"Aku kan akan menjadi Presdir di Hartanto Grup. Aku butuh suara dia dan keluarganya untuk memenangkan kursi itu melawan dewan eksekutif."


Jones menganggukan kepala paham. Jadi ini alasan, tuannya mau membantu Leo menangkap Joseph. Tapi, tunggu... Jones menoleh kembali kearah Reza yang sudah pergi menjauh darinya dan bersiap tampil. Jika Reza meminta bantuan tuan Leo untuk membantunya memenangkan suara, apa itu berarti tandanya dia akan menerima kursi jabatan sementara Presdir? Oh... Sial, otak Jones kini di penuhi keingintahuan akan itu. Dia ingin segera menanyakan perihal itu kepada tuanya. Tapi entah mengapa, sepertinya waktu berjalan dengan lambat.


Sudah hampir satu setengah jam, Jones menunggu Reza dengan rasa penasaran mendera pada dirinya, di belakang panggung. Namun, urung juga tuannya selesai mendemonstrasikan produk baru ciptaannya. Ia terlihat begitu gusar, tak fokus dan terus penasaran dengan apa yang sebenarnya menjadi keputusan tuannya. Hingga dering ponsel kembali masuk membuyarkan dia. Dengan cepat dan sedikit kesal Jones menerima panggilan itu.


"Apa, kau menelpon disaat yang ti..."


"Tuan Leo membuat kekacauan, tuan."


"APA?"


Saat anak buah Jones hendak menjelaskan, Reza muncul. Cepat-cepat Jones mematikan panggilannya, dan menghampiri tuannya. Namun, saat dirinya hendak berucap, dering panggilan masuk dari ponsel Reza berbunyi. Reza mengangkat telunjuknya, mengintruksikan Jones untuk diam sejenak. Ia melangkah pergi hendak menerima panggilan itu, dan mata Jones terus mengekorinya.


Selang tak lama, Reza kembali dengan muka begitu kecut. Ia mendorong tubuh Jones, hingga hampir tersungkur.


"Sir, apa ada masalah?"


"Bereskan kekacauan yang di buat si playboy itu. Ah sial, baru dua jam saja dia berada di Inggris sudah membuat onar." Reza meminjat keningnya yang terasa pening. Sementara Jones mengangguk berlahan dan siap pergi ke kota London. Namun saat hendak melangkah, kembali Reza memanggil. "Pastikan mereka membayar ganti rugi kepada Leo."


"Baik, sir."

__ADS_1


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2