Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 35


__ADS_3

Sejenak semuanya terdiam membisu. Merasakan kehilangan dan keprihatinan kepada Stella. Mereka bungkam, diam menundukkan kepala. Kecuali Reza yang terus menatap Stella lekat, dan juga Jones yang kini sibuk dengan tablet di tangannya. Mengetik papan pencarian internet dengan kata kunci aksi rutin Kamis di istana negara.


"Saya turut berdukacita, Stella." Reza berkata lembut.


Stella mengulas senyum. Hatinya terasa begitu getir, ketika memori-memori dulu tentang perjuangannya menutut keadilan melintas kembali dan terputar di dalam benaknya.


"Terimakasih Mr.Oxley."


"Lalu apa yang terjadi dengan ibu mu?"


Deg...


Kepala Stella menengadah. Menatap Reza lekat dan berani. Hatinya tak yakin untuk menceritakan perihal masalalu ibunya kepada keluarga besar Judika. Ia yakin, jika ia menceritakan masalalu ibunya, Judika pasti akan malu.


"Uhm..." Stella menyeka bibirnya yang terasa kering. Menggerak-gerakkan bibirnya, kemudian mengigit bibir bawahnya. Reza bersedekap, menangkap gurat gugup dari wajah Stella.

__ADS_1


Sementara Judika, lelaki itu melirik Stella. Meraih tangan gadis itu dan mencengkeramnya dengan lembut. Dia mengusap pucuk tangan Stella dan berbisik dengan begitu pelan di telinga Stella. "Jika ini berat buat lo. Gak usah di jawab. Abang gue pasti ngerti. Yang miliki masalalu kelam bukan lo doang, dia juga."


Stella menatap Judika penuh dengan arti. Matanya berbinar. Tangannya terangkat membalas sapuan lembut di tangan Judika, lalu tersenyum. Jika seperti itu, mereka nampak benar-benar seperti sepasang kekasih, yang saling mencintai dan menguatkan satu sama lain. Tolong, jika ada penghargaan untuk aktor dan aktris terbaik, mungkin mereka akan memenangkannya.


"Apa itu terlalu berat untuk kau ceritakan Stella?"


Kepala Stella menoleh kearah Reza. Kemudian segera melepaskan cengkeraman tangan Judika dan mengubah posisi duduknya, agar kembali tegak lurus ke depan.


"Tidak, tuan." Kepala Stella menggeleng. "Saya tidak terlalu mengenal ibu saya. Saat ayah saya menghilang, tak lama beliau meninggal dan beliau meninggalkan saya bersama kakak perempuan saya." Tersenyum ceria menutupi getir yang menyeruak di dadanya. Meninggal? Oh, sungguh kali ini Stella sudah berhasil menjadi anak durhaka yang menyumpahi ibunya sendiri mati. Meskipun kenyataannya memang sampai sekarang ia tak tau di mana keberadaan sang ibu. Sama seperti ayahnya yang entah masih hidup atau malah benar memang sudah meninggal.


Bibir Stella bergetar, ia menelan salivanya kasar. Mencoba untuk tetap tenang menghadapi pertanyaan-pertanyaan menjebak dari seorang Mr.Oxley. Dia tua segalanya tentang ku. Aku harus berhati-hati dengan jawaban ku. Batin Stella.


"Ya! Itu termasuk dari identitas baru ku, tuan. Kau tau cyberfriend bukan hanya kriminal berbahaya pada jaringan komputer. Tetapi juga bahagia untuk nyawa-nyawa manusia. Maka itu negara menyembunyikan indentitas keluarga ku agar tetap aman." Menaiki kedua bahunya, dan menekan bibir membentuk garis panjang.


"Hidup kamu sangat menarik." Meraih gelas berisikan air dan menenggaknya. "Kau mempunyai bakat di dunia Cyber. Memberantas kriminal jaringan seperti mereka dan memejarakan mereka." Menjentikkan tangan memanggil Jones untuk mendekat. Berlahan Jones berjalan patuh mendekati Reza, tanpa aba-aba dia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung jasnya. Jantung Stella semakin berdebar kencang. Entah apa yang di keluarkan lelaki itu, yang jelas Stella berpikir jika indentitasnya kini telah ketahuan sebagai orang yang membobol pertahanan perusahaannya.

__ADS_1


"Saya memiliki masalah dengan sistem perusahaanku." Menerima sebuah kartu kecil berwarna hitam pemberian Jones. "Beberapa waktu lalu seseorang telah mencuri data pribadi ku. Membobol pertahanan perusahaan ku, dan mencuri uangku. Untuk saja peretas itu tidak mengambil data senjata yang sedang ku buat, juga departemen teknologi ku telah berhasil mengambil kembali uang yang mereka curi. Saya ingin membahas ini denganmu, Stella. Karena ku pikir ada yang tidak beres dengan alamat IP yang di temukan oleh tim It ku." Reza meletakan kartu itu, menggeser dan memberikannya kepada Stella.


Mata Stella melongok, menatap lekat wajah Reza. Namun, tangannya tetap terangkat dan berlahan meraih kartu tersebut. Ia mengambil kartu itu, kemudian berlahan pandangannya tertuju untuk membaca kartu berwarna hitam tersebut. Logo Oxley General yang begitu cukup khas; bergambar hewan Chita yang sedang melompat dengan huruf O melingkar hewan tersebut, juga angka 666 di bawah huruf O dan nama Oxley General di bagian atas. Itu sebuah kartu nama, yang di tulis dengan huruf berwarna putih yang berembros (timbul). Ada nama asli pemilik dan pendiri Oxley General disana. Juga tak ketinggalan nomer ponselnya. Mata Stella mengerjap-ngerjap cepat. Binggung dan linglung dengan apa yang sedang ada di tangannya.


"Anggap saja, saya meminta bantuanmu. Menyelidiki apa yang sedang aku curigai."


Mulut Stella ternganga. Dia tidak dapat percaya Reza meminta bantuan kepadanya. Kepadanya, orang sebenarnya yang membobol dan meretas sistemnya. Oh, semesta apa yang sedang kau rencanakan untuk hidupku? Gerutu Stella di dalam hati.


"Tuan, sepertinya anda salah paham?"


"Jelaskan kesalahan pahaman saya, Stella?"


"Ya..." Memainkan kepalanya. "Saya memang berhasil menangkap dan membongkar sindikat kejahatan cyber terbesar dalam sejarah Indonesia. Tapi bukan berarti aku juga bisa menangkap penjahat cyber sekelas dunia seperti itu, terlebih dia berhasil masuk ke dalam sistem perusahaan mu yang saya yakini pasti begitu amat sulit." Menatap Reza nanar dan mencoba menyakini lelaki itu, bahwa dirinya hanya seorang jurnalis biasa. "Itu hanya keberuntungan saya, tuan. Hanya keberuntungan."


"Dan, saya ingin menguji keberuntungan kamu lagi Stella. Jika kamu berhasil, apapun yang kamu akan saya hujudkan."

__ADS_1


TO BE COUNTINUE....


__ADS_2