
Reza tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada dirinya. Entah mengapa, rasa tak suka, marah, dan tak rela merasuki dirinya ketika melihat Stella memeluk Judika. Lebih-lebih ketika Judika dengan rasa tak tau malunya menciumi kepala Stella berkali-kali. Rasanya, Reza ingin sekali memukuli adiknya itu.
Dia hanya dapat menahan geram. Mengepalkan tangannya kuat-kuat, sambil mati-matian berusaha tetap tenang. Meskipun tak dapat di tutupi wajah yang di tumbuhi kumis dan janggut itu terus memasang wajah begitu asam.
"Kau masih hidup?"
Keduanya melepaskan pelukan. Stella beringsut berdiri di sebelah Judika. Membenarkan rambutnya yang berantakan akibat di acak-acakan Judika saat berpelukan tadi.
"Lo ngeliatnya gue dalam hujud apa? Setan apa manusia?"
"Gelandangan."
"Sialan!"
Entah hanya perasaan Stella saja atau memang benar. Reza tidak seperti biasanya yang selalu memandangi dan memperhatikan dia dengan sorot mata yang tajam. Kali ini tidak. Lelaki itu, justru seperti menghindari tatapan mata dengan Stella. Lihat saja, matanya tak fokus. Jelalatan kemana-mana, tidak seperti biasanya. Entah apa ada dengan lelaki itu, lagi pula Stella juga tak terlalu memusingkannya.
"Ibu..."
"Gak bisa di sibuk, kan?" Judika menjeda ucapan Reza yang belum selesai itu. "Udah biasa kok. Gak perlu repot-repot jelasin."
Reza mengoyangkan kepalanya samar. "Baiklah, jika seperti itu saya pergi duluan. Ada sesuatu yang mesti saya kerjakan."
Tanpa menunggu jawaban dari keduanya, Reza membalikkan tubuhnya perlahan berjalan ke arah Jones.
"Lo lagi ga nyiptain se sesuatu yang aneh kan, bang?"
Reza menghentikan langkahnya, menoleh sejenak kepada Judika dan menarik garis bibir sebelah kanan. "Urus sekolah, kamu. Ambil alih Hartanto, dan jangan ikut campur dengan perusahaan saya."
Mendengar ucapan Reza kepada Judika, rasanya ingin sekali Stella berbisik di telinga Judika. Mengatakan, jika dia tau apa yang akan di kerjakan dan di ciptakan Reza. Apalagi, kalau bukan rangkaian senjata pemusnah massal. Tapi, jika ia berkata dan membocorkan rahasia Reza, bisa-bisa malam ini juga nyawanya melayang dan jari telunjuknya menjadi salah satu penghuni di museum Abute. Membayangkan itu, segera Stella menutup pikirannya. Terserah apa yang tengah di buat Reza. Stella tak perduli.
"Jadi apa kabar lo?"
Stella tersadar akan lamunannya. Dia melirik Judika dengan sedikit limbung. Di lihatnya juga sudah tak nampak keberadaan Reza disana. Ah, mungkin lelaki itu sudah benar-benar pergi dari sana. Sebuah senyum terpancar di bibirnya. Dia menatap Judika, dengan binar mata kebahagiaan.
"Luar biasa. Apalagi ngeliat lo."
"Wah, jadi lo benaran kangen nih sama gue?"
Mereka berjalan berjajar, saling bergandengan tangan meninggalkan bandara. Stella juga membantu Judika untuk membawakan koper kecil milik Judika. Mereka kembali menaiki kereta khusus bandara.
Di dalam kereta, Stella terus memeluk tubuh Judika. Seperti tak rela lagi kehilangan lelaki itu untuk kedua kali. Mungkin bagi orang yang mengetahui mereka hanya sepasang sahabat, akan berkata tak wajar akan sikap Stella. Namun, mereka tak perduli memang dari dulu pun mereka selalu sedekat ini. Selagi mereka dapat menjaga batas-batasan antara lelaki dan perempuan, mereka masih aman.
"Menyebalkan."
Sementara itu di dalam Audi, Reza tak henti-hentinya memukuli jok mobil Jones dengan kesal, sambil melontar umpatan-umpatan kasar. Jones yang sedang menyetir mobil, sesekali melirik tuannya. Memastikan jika tuannya tidak benar-benar gila.
__ADS_1
"Sir, kau tak apa?" Akhirnya untuk beberapa saat Jones melemparkan sebuah pertanyaan yang langsung di balas lirikan tajam oleh Reza.
"Kau lihat mereka berdua tadi, huh? Aku ini kakak tertua, aku sangat mengkhawatirkan dia saat hilang kemarin sampai-sampai aku mengirimkan tim sar. Tapi coba lihat, dia malah lebih memilih memeluk Stella sampai mencium kepala berulang kali. Dasar bucin. Seperti baru pacaran saja. Norak, kampungan, dan berlebihan. Sangat menjijikkan, merusak pemandangan saja."
Tak ada jawaban dari Jones. Lelaki itu tetap diam di tempat. Fokus menyetir mobil, meskipun telinganya terasa panas dengan umpatan-umpatan yang keluar dari mulut Reza.
"Mereka terlihat sangat norak sekali." Kembali Reza berceloteh. Tak mempedulikan sedaritadi Jones menghela panas panjang mendengarkan. "Seperti anak ABG yang baru kenal pacaran. Rasanya aku ingin sekali memanggil security tadi, saat Stella menghambur memeluk Judika. Benar-benar memalukan. Ahh..." Mengacak-acak rambutnya frustasi. "Menyebalkan sekali."
"Sir, apa kau cemburu?"
Seketika itu juga Reza terdiam. Perlahan ekor matanya melirik Jones dari kaca spion mobil.
"Kau mau mati, ya?" Teriak Reza yang membuat Jones terkejut bukan main. "Mana mungkin aku cemburu kepada Judika. Tidak. Terserah dia mau pacaran sama siapapun juga, bukan urusanku."
"Sir, aku tidak berkata kau cemburu kepada siapa."
Reza mengeryitkan dahinya.
"Jika aku jadi kau, aku justru cemburu kepada Stella yang di peluk tuan Judika. Bagaimana bisa gadis itu tanpa dosa memeluk adikku yang selama satu bulan ku pikirkan, ku cari keberadaannya. Itu tidak adil, seharusnya pelukan itu untukku bukan malah untuk Stella yang hanya berstatus kekasihnya tanpa melakukan apa-apa ketika dia menghilang kemarin."
Sialan, Reza ketahuan memikirkan Stella. Bagaimana bisa ia berkata demikian.
"Ah... Ah, ya maksudku begitu. Bagaimana bisa Stella dengan wajah tanpa dosa memeluk Judika. Padahal selama dia menghilang bukan gadis itu yang mencarinya. Aku yang mencari."
"Sir, boleh aku bertanya kepadamu?"
"Hmmm..."
"Apa kau benar-benar menyukai Stella? Jika ya, kau akan melawan adikmu yang penuh keromantisan dan ke uwuan memperlakukan wanita. Sangat jauh berbeda denganmu, yang setiap melihat wanita seperti melihat makanan yang wajib di habisi."
Plak...
Satu pukulan telak mendarat dengan mulus di kepala Jones. Seketika setir Audi yang di jalankan Jones miring ke kanan, membuat Reza nyaris terjungkal.
"Sekali lagi kau berkata kurang aja, aku akan bilang kepada Cassie untuk membatalkan surat rujukmu."
****
Tak langsung kembali kerumah, Judika dan Stella malah menghabiskan hari jalan-jalan mengelilingi kota Jakarta. Mereka menyimpan barang-barang Judika disebuah tempat penitipan di pinggir kota Jakarta. Mereka bernostalgia, dengan apa yang dahulu sering mereka lakukan. Seperti mengunjungi perpustakaan negara, mengunjungi museum Fatahillah setiap minggu, hingga mengelilingi Ancol dengan bus khusus pengunjung.
Stella merasa kembali ke masa-masa dia masih menjadi Junior di kampus. Pasalnya, setelah Stella dan Judika bekerja mereka memang amat jarang main-main seperti dulu lagi. Hampir seluruh waktu mereka, habis untuk bekerja. Mereka hanya memiliki waktu luang di hari libur, namun itupun mereka pergunakan untuk beristirahat untuk menyambut hari esoknya.
Dan, setelah sekian purnama mereka tak merasakan kebahagiaan sederhana itu. Hari ini, mereka akhirnya dapat lagi merasakan. Meskipun suasananya tak seseru dulu sebelum pademi, tetapi mereka tetap merasa bahagia dan puas.
Hingga di penghujung malam, keduanya berjalan-jalan di tepi pantai. Merasakan suara gemuruh ombak yang indah di malam hari, juga bintang yang berkilauan menghiasi langit temaram ibukota. Di bawah jembatan panjang yang membentang di tengah lautan, Stella berdiri di sebelah Judika. Memandangi hamparan air laut berwarna biru yang tertutup gelapnya malam. Sesekali wanita itu menyeka rambut yang tertiup angin laut.
__ADS_1
"Udah lama, kita gak kesini."
Kepala Stella mengangguk mengamini.
"Kita terlalu sibuk, sampai-sampai ada kebahagiaan sederhana yang hampir aja kita lupain."
Stella tersenyum masih tetap memandangi lautan biru. "Sebagai manusia kita seharusnya patut bersyukur. Meskipun sibuk dengan urusan dunia, dan sampai melupakan kebahagiaan diri kita sendiri, tapi setidaknya hari ini kita masih di berikan napas oleh tuhan. Lihat orang-orang di sana yang sudah tidak lagi dapat merasakan kebahagiaan ini, benar-benar melupakan rasa bahagia ini karena nyawa mereka telah di ambil akibat pandemi yang melanda bumi."
"Ya benar. Kita yang masih hidup memang harus banyak-banyak bersyukur. Bukan atas pencapaian yang kita raih saja, tetapi setiap napas dan peristiwa yang mengelilingi hidup kita."
Mereka berdua saling berdekatan. Judika merangkul Stella, membawa tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Dan, untuk menghabiskan waktu hari itu mereka berdiri di atas jembatan panjang membentang laut. Menengadahkan kepala melihat ke langit-langit penuh bintang. Mereka berdecak, seraya bersujud syukur atas apa yang mereka lewati hari ini. Sambil tetap melantunkan doa untuk keselamatan mereka dan orang-orang di sekitar.
"Makasih ya buat hari ini." Stella melambaikan tangan di ambang pintu masuk apartemennya.
"Sama-sama. Yaudah masuk gih, gue pulang ya?"
Kepala Stella mengangguk. "Tiati."
Judika melambaikan tangannya, sambil berjalan dan menjauh dari apartemen Stella. Stella masih masih tetap berdiri memperhatikan Judika hingga sosoknya hilang di persimpangan jalan. Setelah sosoknya benar-benar hilang, dia melangkah kaki masuk ke dalam apartemen, berjalan memasuki lift untuk mencapai unitnya.
Ketika ia sampai di lantai unit apartemennya berada, di kejutkan oleh sosok pria berjaket dengan tudung kepala sedang berdiri tepat diambang pintu unit apartemennya. Stella sudah tau siapa dia. Makanya dia bersikap biasa saja dan malah terlihat bodo amat.
"Apalagi sekarang," katanya sambil membuka kunci apartemen.
Lelaki yang tak lain adalah Big Bos itu, menyerahkan beberapa lembar foto kepada Stella.
"Beberapa minggu lalu, Reza datang ke lapas tempat ketua Cyberfriend ditahan."
Stella meraih foto tersebut dengan tangan yang mulai bergerak. Perlahan tangannya mulai berkerja, membulak-balikan foto-foto tersebut satu demi satu.
"Reza membuat kesepakatan dengan Cyberfriend."
"Kesepakatan?" Stella menatap Big Bis nanar.
"Jika Cyberfriend dapat menghancurkan Esocial, Reza akan membantu Cyberfriend membangun kembali kerajaan mereka seperti dulu."
Mata Stella membelalak kaget. Mulut ternganga, tidak dapat mempercayai perkataan Big Bos.
"Musuh kita saling bersekutu. Apa kau masih akan tetap diam dan bersembunyi? Saat terang-terangan Reza menuduh mu bagian dari Esocial." Sejenak dia menghela napasnya. "Jika Cyberfriend menemukan aku, maka Reza akan menang. Dia akan membantu Cyberfriend membangun kembali kerajaan Cybernya, merekrut orang-orang baru untuk melakukan kejahatan jaringan. Dan kau tau apa? Itu tandanya kau juga dalam bahaya. Ketua Cyberfriend pasti akan mencari keberadaannya mu Stella."
Stella memejamkan matanya. Menggelengkan kepala dan memijat-mijat keningnya yang tiba-tiba saja terasa pening.
"Musuh kita sama Stella. Aku tau kau ketakutan akan kebangkitan Cyberfriend lagi. Maka dari itu bantu aku menghancurkan Reza. Jika Reza hancur, maka dengan begitu untuk selamanya Cyberfriend tidak akan bangkit kembali. Kau akan aman disini, terus memainkan drama percintaan konyol antara kau dengan Judika."
TO BE COUNTINUE...
__ADS_1