Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 99


__ADS_3

Setelah pergulatan panasnya semalaman, Stella pingsan dengan keletihan dan rasa sakit yang amat mendera. Sementara, Reza merasa begitu puas meskipun ada rasa penyesalan dan sedikit rasa bersalah di hatinya. Dari sekian banyak wanita yang di tiduri dirinya, baru Stella lah wanita yang tidak ia kasari. Walaupun kenyataannya, untuk sebagai wanita normal termasuk Stella perbuatan Reza masuk dalam kategori kekerasan seksual.


Dia tidur di bersebelahan dengan Stella. Tapi, dirinya terjaga sepanjang malam, seperti biasa ketika selesai menuntaskan hasratnya dengan wanita lain.


Kamar itu temaram, tetapi Reza dapat dengan jelas melihat lekuk tubuh Stella yang begitu indah terbungkus sprei putih dengan bercak darah. Sejenak, Reza terheran-heran. Bukankah, Jones berkata jika Stella sudah tidak lagi Virgin di usianya ke 12 tahun? Namun mengapa Reza merasa baru saja meniduri seorang perawan?


"Kau itu siapa, Stella?" Reza bermonolog, sembari memutar tubuhnya memandangi Stella yang terlelap dengan air mata yang mulai mengering. "Apa saja yang kau jalanin selama ini?"


Drrt... Drrtt...


Reza meraih ponselnya yang bergetar dia atas nakas kecil sebelah Ranjang. Di layar, terpampang jelas, nama asisten Jones menelpon dia. Ini baru pukul lima subuh, tumben sekali Jones mengganggunya di waktu istirahat Reza.


Dia pun merangkak, turun dari ranjang dan memungut celananya lalu memakainya. Dia berjalan ke balkon kamar, membuka balkon itu dan mengangkat telpon dari Jones.


"Ada apa?" Suaranya terdengar sedikit serak, tetapi tidak meninggalkan kesan dingin dan angkuhnya.


"Sir, Esocial baru saja meliris sebuah video kepada kita."


"Video?"


"Ya. Sebuah video yang menampakkan wujug asli, Big Bos."


Tenang. Reza terlihat tidak terkejut sama sekali dengan ucapan yang di katakan Jones. Dia nampak seperti sudah tau dan memprediksi akan hal itu.


"Sir, kau mendengarkan ku?" Tak mendapatkan jawaban berarti dari Reza, Jones berkata dengan nada sedikit lebih keras dari sebrang sana.


"Siapa? apa dia Judika? Ataukah Chris?" tanyanya masih dengan nada yang begitu tenang


"Christopher. Dia adik mu, yang selama ini kita cari keberadaannya. Sir, bagaimana kau bisa menebak jika Chris adalah Big Bos?"


"Itu mudah. Aku akan menemui mu satu jam lagi." Tanpa menunggu jawaban dari Jones, Reza mematikan panggilannya.


Reza kembali masuk ke dalam kamar Stella. Memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai lalu menujuh kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak beberapa lama, dia keluar sudah dengan kondisi tubuh yang menyegarkan dan pakaiannya yang sedikit rapih meskipun kotor dan sedikit robek karena perlawanan Stella semalam. Dia tak langsung pergi dari sana. Lama memandangi Stella yang masih terlelap di ranjangnya dengan tenang.


Tangan berjari-jari panjang milik Reza terangkat, merogoh celana bahannya, mengeluarkan dompetnya kulit berwarna cokelat bata. Dia mengeluarkan secarik kertas dari dalam sana. Meletakan kertas tersebut di atas nakas kecil, lalu bergerak keluar meninggalkan Stella begitu saja.

__ADS_1


Sementara di kediaman Hartanto, Judika sama terjaganya seperti sang kakak. Dia duduk menyender di sebelah ranjang, dengan gitar kesayangannya di pelukannya.


Matanya jauh menerawang ke arah langit-langit kamar yang baru di renovasi itu. Pandangan lurus menatap satu titik lampu yang menjadi penerang utama kamar itu. Tangannya tak henti-hentinya memetik senar gitar secara tidak teratur. Memainkan note-note yang tak jelas, namun begitu menyedihkan untuk di telinga mendengar.


Entah mengapa, Judika merasa ada yang tidak beres dengan interaksi yang di tunjukkan oleh Stella kepada Reza. Begitupun sebaliknya. Mereka berdua nampak terlihat seperti sedang menutupi sebuah rahasia besar satu sama lainnya. Itu sangat jelas, saat Reza abangnya menatap Stella penuh dengan kecurigaan dan rasa kepalsuan yang tidak bisa di jelaskan. Begitupun dengan, Stella yang memandangi Reza dengan tatapan mata berkabut penuh ketakutan. Judika mencoba menelaah dan mencari tahu apa yang terjadi antara abangnya dan kekasih pura-puranya itu. Ada rasa takut, yang sedikit mengelitik hatinya. Bukan rasa takut akan Stella yang bisa saja jatuh hati kepada Reza. Namun, takut yang jauh lebih berbahaya. Nyawanya.


"Kamu belum tidur?"


Lamunan, Judika akan Stella buyar saat sosok Inggit tiba-tiba muncul dan berdiri di ambang pintu kamarnya. Jangan ditanya, untuk apa gadis itu subuh-subuh ada dirumahnya. Jawabnya sudah tentu, itu di suruh ibunya Liliana untuk terus gencar mendekati Judika agar mau menikah dengannya dan melupakan jurnalis tak berguna seperti Stella.


"Aku boleh masuk?" Inggit bertanya.


"Masuk aja. Biasanya juga masuk gak minta ijin dulu."


Tersenyum, Inggit melangkah masuk ke dalam kamar Judika. Judika mengeser tubuhnya, dan membiarkan Inggit duduk di sebelah. Bersedekap, memeluk lutut-lutut kecilnya dalam balutan baju terusan bermotif batik.


"Tadi siang, aku ketemu Fadli." Inggit mulai bercerita.


"Lalu?"


"Dia ingin melamar ku."


Kepala Inggit menoleh, memandangi Judika dengan tatapan mata yang begitu meneduhkan.


"Kamu gak marah?" tanya Inggit dengan polosnya.


Judika tersenyum. "Buat?"


"Fadli yang deketin aku lagi?"


Untuk beberapa alasan memang sebenarnya Judika amat sangat membenci nama Fadli itu. Dia tidak akan pernah lupa, bagaimana lelaki itu mengambil Inggit darinya. Fadli yang tau Judika amat begitu mencintai Inggit sedari kecil, bukannya membantu malah merebut Inggit dari Judika. Lelaki itu bahkan berani menabuhkan genderang peperangan kepada Judika.


Fadli yang memiliki sifat sama dengan Reza, jauh di depan Judika dalam urusan materi. Lelaki itu bisa dengan mudah menghujudkan apa yang Inggit inginkan. Jauh berbeda dengan Judika yang pada masa itu, masih hidup terlunta-lunta di jalan. Tak mau dan bersikeras hidup tanpa bantuan dari sang ibu. Bahkan untuk makan pun, terkadang Judika harus mengutang kepada teman-temannya termasuk Stella. Tentu hal itu membuatnya kalah telak untuk mendapatkan hati Inggit. Inggit pun lebih memilih Fadli yang memiliki masa depan yang lebih baik ketimbang Judika.


Mati-matian, Judika berusaha merelakan dan mengikhlaskan Inggit untuk Fadli. Itu tak berlangsung cepat, bertahun-tahun lamanya dia terus hidup di masa lalu dengan kenangan menyedihkan akan sosok Inggit. Jatuh bangun, dia melupakan gadis itu. Dari menjadi cowok kalem, berubah menjadi seorang bad boy, dan playboy yang suka gunta-ganti pasangan.


Dan, ketika dirinya sudah benar-benar melupakan Inggit, Fadli justru bermain api kepada gadis itu. Dia tega menyakiti hati Inggit dengan berselingkuh bersama wanita lain. Ingin rasanya Judika membunuhnya, tapi dirinya sadar akan porsinya sekarang yang bukan apa-apa Inggit.

__ADS_1


"Kalau kamu masih cinta sama dia, terima aja. Asal satu, kalau dia selingkuhin kamu jangan jadiin aku buat pelarian kamu."


Inggit memicingkan matanya. "Ih, aku gak gitu, kok." Mengerucutkan bibirnya tak terima.


"Loh aku benar, dong. Apa yang selama ini kamu lakukan setelah putus sama Fadli? Deketin aku lagi kan."


"Ya, deh ya. Aku ngaku."


Judika hanya manggut-manggut saja tanpa menjawab ucapan Inggit lagi.


"Terus kamu sama Stella gimana?"


Ada apa dengan gadis ini? Kenapa tiba-tiba dia menanyakan Stella? Tumben sekali.


"Baik kok."


"Masa? kalau baik kenapa muka kamu di tekuk gitu dari pulang tadi?"


Judika mengerutkan alisnya, memandangi Inggit dengan mata di sipitkan. "Maksudnya? Aku biasa aja, tuh."


Menepuk bahu Judika dengan lembut, Inggit berkata. "Kamu bisa bohongi orang lain Judi, tapi gak sama aku. Aku tau kamu yang lagi ada masalah, sama yang gaada masalah." Tersenyum, pandangan keduanya saling bertemu. "Kamu ada masalahkan sama, Stella?"


Terdengar, Judika menghela napas berat. Memalingkan pandangannya dari Inggit.


"Apa setiap wanita ngeliat cowok dari materinya aja?"


Inggit terheran-heran dengan pertanyaan Judika. Tapi dengan sebisa mungkin dia menjawab sesuai dengan pemandangan versinya.


"Di dunia, hidup gak cuma ngandelin cinta, Judi. Cinta emang penting, tapi materi jauh lebih penting. Kamu boleh aja mencintai seseorang wanita, tapi kamu juga perlu modal untuk hidup dan mempertahankannya wanita itu. Kenapa tiba-tiba nanya gitu, apa Stella nyuruh kamu ngelamar dia dengan mahar yabg besar?" Mata Inggit berbinar cerah menatap Judika tak sabaran.


"Stella bukan wanita seperti itu," pungkas Judika dengan hati sedikit tak terima.


"Lalu kenapa tiba-tiba nanya kaya gitu?"


"Gak apa-apa, kok. Cuma nanya aja."


Apa, dia harus seperti Abangnya dulu baru bisa bersaing dengan wanita-wanita impiannya. Termasuk Stella. Entah mengapa, ucapan Stella di mobil sore tadi benar-benar menjadi tamparan telak untuk Judika. Seakan-akan, selama ini pekerjaan yang dia anut tidak dapat dan di percaya bisa memenuhi masa depan dan tuannya bersama istri dan anak-anaknya.

__ADS_1


Judika mendesah keras, dan berkata "Hidup udah gak asik, semua tergantung harta dan fisik."


TO BE CONTINUE...


__ADS_2