Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 97


__ADS_3

"Maaf, membuat anda menunggu lama." Stella muncul dengan baju yang telah dia ganti lagi. Kali ini, yang di pakai sebuah baju terusan berwana hijau cantik yang memperlihatkan lekukan indah lehernya.


Reza yang sedaritadi sedang melihat-lihat koleksi buku yang Stella punya memutar tubuhnya. Dia terkesima dengan penampilan Stella yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Tidak ada sepatu kets, rambut acak-acakan, atau setelah blazer formal atau non formal yang selalu melekat pada Stella. Bagai seperti ciri khasnya.


"Is ok, Stella," katanya datar dengan tatapan mata yang enggan berpindah dari Stella.


"Mau teh?" tawar Stella ramah.


"No. Saya benci teh."


"Kopi."


"Yes, Please. Thank you."


Selagi, Stella membuat kopi Reza beranjak duduk kembali di sofa. Terus memandangi setiap gerak-gerik Stella yang sedang sibuk menyiapkan kopi di dapur. Dia bisa melihat begitu jelas apa yang di lakukan Stella dari sana. Karena memang dapur milik, Stella letaknya menyatu dengan ruang tamu tanpa pembatasan dinding sedikitpun.


"Silahkan." Meletakan kopi buatan ke atas meja dengan beberapa cemilan yang dia miliki.


"So jadi apa yang ingin kau katakan, Stella?"


Stella merogoh kantung baju terusannya. Mengeluarkan flashdisk itu dari dalam sana dan meletakkannya di atas meja.


"Maaf aku baru mengembalikannya. Karena tidak ada keberanian ku untuk menghubungi mu lebih dahulu, Mr.Oxley."


Bungkam, Reza hanya melirik sesaat flashdisk itu dan kembali memandangi Stella dengan begitu lekat.


Lama, Reza memandangi tubuh Stella akhirnya membuat Stella sadar akan hal itu. Dia beringsut hendak berdiri, tetapi Reza telah terlebih dulu mencekal tangannya, menariknya hingga membuat Stella jatuh di pangkuan Reza.


Tubuh Stella bergetar hebat. Pandangan keduanya saling bertemu. Stella terdiam, terpaku, dan terpana melihat wajah Reza yang begitu dekat dengannya, dirinya bahkan dapat mendengar deru napas yang begitu stabil milik Reza.

__ADS_1


Stella sadarlah. Alam bawah sadar Stella bergumam menyadarkan dirinya sendiri.


Dia mengigit bibir bawahnya, dan tangan kanan yang merangkul leher Reza, sedangkan tangan satunya tanpa sengaja menyentuh dada bidang Reza.


"I'm sorry..." Stella hendak bangun dari sana, tetapi Reza kembali mencegahnya.


"Biarkan seperti ini untuk beberapa detik," katanya seraya mengeratkan pinggul Stella.


Stella terdiam, mati-matian menahan gejolak di dalam dadanya. Tubuhnya seakan terbakar, panas ketika Reza terus memandanginya dengan tatapan sensual dan mengintimidasi.


"What?" tanya Stella, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.


"You beautiful."


Mata Stella terpejam, di iringi senyum sarkasme. "Ternyata kau sama dengan Judika, Mr.Oxley."


"Ya... Seorang penggoda dan playboy."


Wajah Reza mengerat tak terima, "Saya tidak pernah mempermainkan wanita, Stella."


Stella hendak menjawab, tetapi dering telpon miliknya berbunyi.


"Maaf, aku harus mengangkat telpon ku." Meminta ijin kepada Reza.


Setelah Reza menganggukkan kepala mengijinkannya, Stella bangkit dari pangkuan Reza. Meraih ponselnya yang ada di dalan tas jinjing yang tadi dia bawa.


Matanya nampak membelalak terkejut, saat mendapati jika yang menelpon adalah Chris. Sialnya lagi dia menyimpan nomer Chris dengan nama Big Bos.


Kepala Stella menoleh, melirik Reza yang tengah asik menyeruput kopinya dan menikmati cemilan murah yang dia beli di pasar tradisional. Mungkin jika dia pergi dari sana, Reza takkan mendengar pembicaraannya dengan Chris.

__ADS_1


Kakinya melangkah meninggalkan ruang tamu. Dia pergi menujuh balkon dan menutup pintu balkon. Memastikan kembali jika Reza benar-benar tidak akan mendengar pembicaraannya Chris. Barulah, Stella mengangkat telpon itu.


"Chris, dari mana saja kau?" tanya Stella dengan suara mendesis.


"Stella, aku minta karena menghilangkan beberapa hari lalu. Ini genting, Stella. Sangat genting?"


"Ada masalah apa?" Stella berkacak pinggang bertanya dengan nada setengah was-was.


"Kau ingat perkataan ku jika Nick memiliki seorang isteri?"


"Ya." Tidak mungkin Stella tak ingat, sewaktu berkenalan dengan Nick, dirinya bahkan di perlihatkan foto pernikahan dengan isterinya itu. Dia wanita cantik, seorang keturunan Belanda.


"Isteri Nick, bernama Morgan. Dia adalah tangan kanan Joseph yang paling berbahaya. Sebelum Joseph mati karena di bunuh, Morgan menemui Joseph di lapas dan memerintahkan sesuatu kepadanya yang entah apa."


"Lalu apa masalahnya, Big Bos?"


"Stella, kau tidak takut jika Joseph memerintahkan Morgan untuk membunuh mu. Please tinggalkan apartemen mu, dan datang kemari. Kita akan melancarkan aksi kita untuk menghancurkan Oxley General dua hari lagi, setelah aku mendapatkan bantuan dari Red Army."


"Red Army? Maksudmu hacker terbesar di Amerika?"


"Ya. Dia akan membantu kita untuk menghancurkan kantor Oxley General yang berada di California."


"Ok, Big Bos aku akan..." Ucapan Stella terjeda, ketika dia memutar tubuhnya dan mendapati Reza tengah berdiri di ambang pintu balkon memperhatikannya dengan tatapan mata tak bersahabat.


"Stella! Stella?" Di sebrang sana, Chris terus memanggil-manggil Stella. Seperti tahu, jika wanita itu sedang dalam masalah.


"Mr.Oxley."


TO BE COUNTINUE....

__ADS_1


__ADS_2