
Setelah menyelesaikan misi dan membereskan urusannya dengan Rendy, Jones berserta anak buah Oxley General yang berada di Indonesia mohon undur diri terlebih dahulu. Mereka meninggalkan Rendy, Roy, berserta anak buahnya yang sedang membantu memulihkan keseimbangan Xiaonai. Semua di sana saling melambaikan tangan, sebagai salam perpisahan sebelum akhirnya Jones dan anak buah Oxley General menghilang di balik hutan belantara. Mereka kembali perjuangan melewati medan hutan yang terjal dan rimbun. Kembali menelusuri anak sungai dengan intensitas air yang cukup deras, juga harus membabat beberapa pepohonan dan benalu yang menghalangi laju mereka. Sampai setelah mereka menempuh perjalanan cukup melelahkan sekitar satu setengah jam, akhirnya mereka tiba di kampung di mana menjadi gerbang hutan. Mereka menelusuri kampung tersebut, tanpa memperdulikan warga-warga yang melihat mereka dengan tatapan aneh.
Apa ada film Rambo yang nyasar ke sini? Begitulah arti tatapan warga melihat wajah-wajah bule seperti mereka berjalan tanpa dosa di depan rumah mereka.
Ketika Jones sudah tiba di ujung desa, ia kembali mengecek ponselnya yang beberapa kali tak ada sinyal. Beruntung saat mereka tiba di ujung desa dan beberapa km lagi kota, sinyal ponsel Jones normal. Meskipun sesekali hilang-hilangan tak jelas. Dua puluh tujuh kali panggilan tak terjawab yang semua berasal dari Reza. Juga pesan baik WhatsApp maupun pesan biasa.
[Hari ini aku akan mengeksekusi Joseph sendiri. Sampaikan salam ku kepada Rendy dan Leo, jika kau bertemu. Dan jika kalian sudah selesai, bereskan bekas permainan ku.]
Begitulah salah satu isi pesan yang di kirimkan oleh Reza kepada Jones.
Setelah membaca pesan seperti itu, Jones segera bergegas. Mengintruksikan kepada anak buahnya yang sedang menghubungi bagian penerbangan untuk cepat datang menjemput mereka.
"Sir, mari kita cari lapangan untuk menunggu helikopter menjemput kita." Salah satu dari anak buahnya berujar. Dan, tanpa menunggu lama Jones berserta yang lain bergegas mencari lapangan terbuka untuk menunggu datangnya tranportasi untuk membawa mereka pergi dari Dieng.
Cukup lama mereka menunggu, kurang lebih lima belas menit. Hingga sebuah helikopter militer terbang ke arah mereka perlahan-lahan turun di lapangan terbuka tempat mereka berkumpul. Segera, Jones dan anak buahnya bergegas masuk ke dalam helikopter dan hanya persekian detik helikopter itu kembali melayang ke angkasa dan terbang meninggalkan dataran tinggi Dieng.
Sementara di Jakarta setelah menyapa Stella di luar lapas, Reza kembali masuk ke dalam lapas. Berjalan santai tak memperdulikan para petugas yang menatapnya berbeda-beda. Ia melangkah berjalan masuk ke dalam lorong lapas tak bercat, lantai semen sedikit kotor dan gelap. Pandangannya lurus ke depan, menghindari kontak mata kepada para petugas lapas yang ia lewati.
__ADS_1
Langkahnya berhenti tepat di depan pintu putih bertuliskan staf di bagian atas. Sejenak Reza mengamati sekitar lorong lapas. Tak ada satupun orang di sana. Dia sendiri. Segera Reza masuk ke dalam ruangan itu, dan langsung mengunci ruangan tersebut. Ada setumpuk loker berwarna putih biru disana, juga ruang ganti empat buah yang letaknya saling berhadapan. Ia maju beberapa langkah, mengamati ruangan tersebut hingga ia menemukan satu set seragam lapas berwarna biru. Tanpa berpikir, Reza langsung mengambilnya menanggalkan seluruh pakaiannya dan menggantinya dengan seragam lapas. Tak lupa, ia juga memakai topi dan nametag yang ternyata sudah jauh-jauh hari ia siapkan.
Setelah ia selesai dengan penampilan barunya; menyambar sebagai seorang petugas lapas, ia kembali keluar dari dalam lapas. Mengambil setumpuk kunci dari pos penjaga yang kosong, yang ia yakini adalah kunci sel. Ia tak tanpa ragu melangkah. Memperlihatkan wajahnya kepada para petugas lain yang ia lewati. Beruntungnya semua petugas di sana tak ada yang curiga, dengan kehadiran Reza yang sedang menyamar sebagai petugas. Dia lolos begitu saja, hingga tiba di gedung di mana para tahanan narapidana dikurung.
Reza membuka pintu gerbang, menguncinya kembali dan berjalan dengan angkuh menelusuri lorong yang kanan kirinya terdapat sel khusus yang hanya berisikan satu narapidana dalam satu ruang kecil dengan pentilasi udara minim. Mulutnya bergumam, menghitung setiap sel atau ruang tahanan yang ia lalui. Seratus tiga puluh, seratus tiga tujuh, hingga ia tiba di ruang tahan ke seratus empat puluh enam. Reza berdiri sejenak, menatap pintu besi dengan cela kecil yang biasa untuk meletakkan makanan. Menatap nanar pintu tersebut sebelum akhirnya ia melangkah, membuka kunci pintu besi sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna putih, dan mengenakan sarung tangan karet.
Reza masuk ke dalam. Matanya langsung tertuju kepada seorang paruhbaya yang tengah duduk bersila membelakanginya. Duduk sambil menatap dinding lusuh tak bercat yang nampak kumuh dan tak terawat. Entah apa yang sedang ia lakukan. Mungkin dia sedang betapa, atau sedang memutar otak, mencari cara untuk dapat kabur dari sana sebelum dirinya di pindahkan ke lapas Nusakambangan.
"Aku tak mau makan. Wanita sialan itu sudah membuat nafsu makan ku hilang." Joseph berkata tanpa berniat menoleh sedikitpun.
"Wanita siapa?"
Degup jantungnya berdebar begitu kencang hingga rasanya jantung itu ingin keluar dari dalam sana. Pias tentu nampak jelas terlihat dari wajahnya, lebih-lebih lagi keringat dingin yang tiba-tiba datang tanpa permisi membasahi pelupuk keningnya.
"K... Kau." Napasnya tersengal, suaranya bahkan terdengar tercekat. Joseph tak menyangka dengan kedatangan Reza yang bagai malaikat maut di depan matanya tiba-tiba.
Reza meleparkan kumpulan kunci ke sembarang arah. Tangan kanan yang menggenggam kotak kecil berwarna putih itu terangkat. Ia menarik ujungnya kotak, yang ternyata berisikan benang pancingan tebal. Reza membentangkan benang pancingan berwarna bening itu, memperlihatkannya kepada Joseph. Pias semakin nampak di wajah lusuh tak terawat itu, dan keringat turut keluar bersamaan dengan rasa takut yang semakin mendera.
__ADS_1
Perlahan Reza berjalan mendekati, semakin Reza berjalan mendekati Joseph, semakin Joseph berusaha menghindar. Ia bahkan mulai berteriak, mengibas-gibas tangannya untuk mengusir Reza. Sayang hari itu bukanlah hari keberuntungannya, saat mulut paruhbaya itu berteriak minta tolong dengan cepat Reza langsung membungkam. Mengalungkan tali pancing ke leher Joseph dan langsung menariknya dari belakang. Menariknya hingga Joseph tercekik. Tubuhnya ambruk. Ia di seret tanpa ampun oleh Reza mengelilingi ruangan. Napasnya tersengal-sengal, Joseph mulai merasa sesak juga sakit yang amat luar biasa karena darah segar tak lama rembes dari lehernya.
Krek... Krek... Krek. Suara tulang leher berbunyi.
Joseph meronta-ronta. Kedua tangannya mencoba melepaskan tali pancingan itu. Namun, sayang semakin ia berusaha melepaskannya semakin Reza menarik kuat-kuat tali pancingan itu di lehernya. Kulit lehernya robek seketika. Membentuk lingkaran mengikuti jejak tali pancing itu melingkar. Darah berliter-liter terus keluar menggenangi lantai semen sel. Suara Joseph yang begitu kencang semakin melemah, sejurus dengan raganya yang perlahan meninggalkan tubuhnya.
Joseph langsung tergeletak dengan darah yang membanjiri tubuhnya. Ia tergelepak seperti ikan yang berada di atas daratan. Matanya mendelik ke atas, mulutnya menganga, dan lidahnya menjulur keluar. Reza berdiri tepat di sebelah Joseph, tersenyum puas penuh dengan kemenangan menyaksikan Joseph yang sedang menghadapi sakratulmaut.
"Hukuman mu sudah usai bajing*n tua. Kini saatnya kau menghadap penciptaan mu. Mempertanggungjawabkan apa yang selama empat tahun kau kerjakan." Berjongkok dan merogoh kantung celananya.
Sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan tutup yang di lengkapi pita berwarna kuning. Reza meletakkannya di lantai, kemudian mengambil pisau lipatnya di kantong celana lainnya. Tanpa aba-aba Reza memotong jari tangan Joseph yang masih dalam keadaan sekarat. Seketika itu pula Josep berteriak, merasakan sakit yang amat sangat saat jarinya di potong.
"Ini yang korban mu rasakan bajing*n. Saat kau tanpa ampun memotong-motong tubuh mereka. Mengeluarkan organ-organ mereka dan menjualnya," ucapnya sambil memasukkan jari Joseph ke dalam kotak hitam berpita kuning.
Mata biru tajam bak burung elang itu kembali menatap Joseph. Kali ini, lelaki paruhbaya yang telah melakukan dosa selama empat tahun lamanya dengan profesi yang dia lakukan; mafia perdagangan organ tubuh manusia, rentenir, juga penjual wanita-wanita telah menghembuskan napasnya. Matanya mendelik, membulat lebar menatap ke arah langit-langit ruang tahanan. Darah masih terus mengalir, menggenangi lantai semen ruangan. Reza tersenyum, memasukkan kotak berisi jari Joseph, kemudian menepuk-nepuk pipi Joseph lembut seraya berkata
"Salam kan rinduku kepada ibu tiri ku yang telah kita bunuh beberapa tahun lalu."
__ADS_1
TO BE COUNTINUE