
Setelah mobil mewah itu benar-benar pergi dari sana. Tiba-tiba saja gemuruh suara petir terdengar dari langit temaram malam ibukota. Stella yang masih terbenam megerutuki diri terperangah, hingga nyaris terjerambab jatuh ke tanah. Untung saja nyeri akibat luka lecet di kakinya menopang tubuh itu agar tak jatuh. Ia meringis merasakan kulitnya terbakar dan melepuh sakit.
Tanpa permisi hujan lebat pun datang. Menghantarkan Stella di ujung jalan itu seorang diri. Termangu meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan. Ia kembali duduk, mulai menghitungi tetesan air hujan yang jatuh. Oh, hujan mengapa dia selalu datang disaat hati Stella merasa sakit? Bagai tau, airmata akan jatuh menghujami pelupuknya malam itu. Hujan datang, bak teman yang akan mendampingi Stella melewati masa sulitnya.
Di ujung shalter itu, waktu terus berputar dari detik ke menit dan menit ke jam. Tak terasa sudah satu setengah jam hujan urung jua reda. Membuat tubuh Stella yang terbalut sweater tipis dan dress selutut menggigil. Ia bersedekap, memeluk tubuh-tubuh sendiri dan mencoba untuk menghangatkan diri. Namun, hawa dingin lebih pintar mencari cela. Meskipun ia sudah bersedekap dan mengeratkan sweaternya, tetap saja hawa dingin itu masuk menerpa kulitnya. Pipinya yang sudah merah padam semakin merona. Beberapa kali, ia pun mencoba menggesekkan tangannya, berusaha membuat tangan itu agar tetap hangat.
Saat dirinya masih setia menunggu hujan reda di bawah shalter. Seseorang berdiri di sebrang jalan di bawah kegelepan malam. Berdiri dengan payung hitam yang melindungi dirinya dari terpaan hujan dengan sorot mata tajam melihat ke arahnya. Mata tajam itu bak mata burung elang, yang sedang menandai musuhnya. Mencoba membaca situasi saat itu, sebelum akhirnya ia dapat menangkap dan melahap mangsanya. Stella tak menyadari itu, dia terlalu sibuk dengan rasa dingin yang terus-menerus menerjang kulitnya. Dirinya tak tau, ada mata yang sedaritadi memperhatikannya. Di ujung jalan sana, dengan sorot yang begitu menakutkan.
Sementara itu, saat hujan mengguyur ibukota mobil yang membawa Reza dan Jones baru memasuki tol. Melaju meninggalkan Jakarta dan masuk ke kota Bogor. Reza mendesah, menatap khawatir ke jendela kaca mobil. Entah mengapa pikirannya melayang, mengkhawatirkan Stella yang masih diam di shalter itu.
"Apa menurutmu gadis itu sudah pulang?" Bertanya kepada Jones sambil berpura-pura memejamkan mata.
"Siapa yang anda maksud, sir?"
"Nadila. Jurnalis itu. Hujan ini begitu lebat aku khawatir kepadanya."
"Apa harus kita kembali ke sana, sir?" Pertanyaan yang begitu klasik di tanyakan kepada seorang pria yang mengkhawatirkan seseorang yang sedang di sukai.
"Tidak perlu! Aku hanya mengkhawatirkannya sedikit." Kembali pada posisinya dan kembali merasakan detuman sakit di kepalanya.
Untuk beberapa alasan, Jones kembali berspekulasi kepada Reza. Ada yang tidak beres dengan otak tuannya. Jones menyakini jika itu semua karena sakit kepala yang saat ini sedang ia rasakan. Maka, bak seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya, tiba-tiba saja Jones menyentuh kepala Reza tanpa permisi tentunya. Membuat Reza kaget bukan kepalang. Dengan kasar, Reza menghempaskan tangan Jones yang menurutnya sangat kurang ajar itu. Matanya memancarkan biru yang cukup tajam, menatap Jones dengan sedikit api kekesalan.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya ingin memeriksa keadaan kepala mu, sir. Karena hari ini kau seperti bukan Reza yang ku kenal." Mengoyangkan kepalanya, dan mengangkat kedua bahunya dengan menunjukkan wajah datar tanpa dosa.
"Apa maksudmu?"
"Kau biasanya terkenal sadis dan bermulut racun. Apapun yang keluar dari mulut mu selalu melukai hati seseorang. Sifatnya juga pemarah dan temprament. Tidak menyukai manusia lain kecuali aku."
__ADS_1
Reza berdecak. Bagaimana bisa asistennya itu begitu percaya diri sekali dengan ucapannya. Dia pikir manusia hanya dia saja yang dekat dengannya. Ya, walaupun tak dapat menampik jika faktanya memang benar.
"Kau pikir aku ini monster..."
"Saya tidak berkata demikian, tapi beberapa wanita yang pernah di kencani oleh anda berkata demikian saat mereka meminta ganti rugi untuk luka di tubuhnya."
Pletak...
Satu sentilan keras mendarat mulus di kepala bagian belakang Jones. Jones meringis, mengerakkan kepalanya ke kiri dan kanan untuk merendahkan rasa sakit itu. Sementara yang menyentil malah terlihat cuek dan tak perduli akan perbuatannya. Ia justru kembali menenggelamkan pandangan ke jalanan ibukota yang basah akibat guyuran hujan.
"Kau tau bagaimana rasa sakit kepalaku? Seperti aku menyentil kepala sialan mu itu."
"Maafkan saya, Sir. Saya hanya berkata kejujuran."
"Cih, memang selama ini kau pernah berkata bohong untuk menyanjung tuan mu. Aku malah merasa kau memiliki dendam kusumat kepadaku, hingga selalu berkata jelek mengenai ku."
"Mana mungkin, jika saya memiliki dendam kusumat dengan anda mungkin saya sudah seperti Joseph yang berusaha membunuh dan merebut perusahaan anda."
"Kau mau mati, ya?" Berkata kesal, sambil mengangkat tangannya ingin memukul Jones.
Jones menghindar. Memundurkan tubuhnya hingga membentur pintu mobil. Tangannya terangkat mencoba melindungi wajahnya dari serangan Reza. Namun, serangan itu tertahan karena dering ponsel dari hape Jones berbunyi. Ia merogoh ponselnya dan mengeluarkan dari dalam saku jas.
Nomer tak di kenal terlihat menghubungi. Itu nomer Indonesia. Entah siapa, padahal Jones sendiri tidak memiliki kenalan orang Indonesia selain Judika, adik majikannya. Di geser layar pipih itu, dengan gerakan kaku dan sedikit tidak yakin ia mengangkat telpon itu. Berdehem sesaat untuk membuat suaranya terdengar agar lebih keren.
"Halo selamat malam waktu Indonesia bagian barat."
"Hai Mr. Jones, apa kau kabar? Apa kau mengingat ku?"
Kening Jones mengerut, ia nampak familiar dengan suara dari sebrang sana. Siapa? Otaknya mencoba mengingat. Namun, sial karena pandangan Reza yang menyeramkan membuat otaknya tidak maksimal berpikir.
__ADS_1
"Untuk apa saya harus mengingat anda? Apa anda selingkuhan mantan istri saya? Yang membuat saya akhirnya bercerai."
"Cih." Reza melengos geli mendengar ucapan gamblang dan sangat memalukan Jones. Bagaimana ia bisa masih mengingat mantan istrinya yang sudah enam bulan ia ceraikan itu? Dan membicarakannya di depan dia pula.
"Hei sialan, aku ini Leo. Leo Pyordova. Kau ingat?"
"Ah, si buaya darat rupanya." Jones mendesah, otaknya langsung menangkap gambaran bocah yang telah membuatnya bekerja ekstra beberapa hari lalu.
"Sialan kau. Mana bos mu? Aku ingin bicara dengannya."
"Dia sedang mengalami gangguan parah saat ini." Memutar tubuhnya menghadap jendela mobil dan bicara sambil berbisik. "Saya sarankan, anda lebih baik bicara dengan saya saja."
"Gangguan? Gangguan apa?" Suaranya terdengar khawatir. Pasalnya selama Leo berkenalan dengan Reza, tak pernah sedikitpun ia melihat Reza sakit apalagi memiliki gangguan. Ya, mungkin kalau gangguan kejiwaan memang Leo merasa.
"Ini hanya menurut suara hati ku saja. Ku pikir otaknya sedang dalam masa rehabilitasi. Hari ini dia nampak aneh, seperti orang abnormal yang berpura-pura normal."
Terdengar gelak dari sebrang sana.
"Kau... Kau benar-benar asisten kurang ajar, ya. Berani sekali menghina tuan mu macam itu."
"Saya hanya berkata fakta tuan."
"Baiklah, baiklah terserah apa katamu. Aku sedang dalam kondisi genting. Aku butuh bantuan koneksi tuan mu."
Alis Jones terangkat. Untuk seperkian detik dia menatap Reza yang sudah dalam kondisi tertidur. Wajahnya nampak teduh jika dalam mode seperti itu. Dia tidak nampak seperti orang jahat, mafia, apalagi mengindap kelainan sadisme. Wajah teduh amat teduh tentunya juga tampan, dengan brewok tipis yang menutupi bagian dagunya.
"Bantuan seperti apa?"
TO BE COUNTINUE...
__ADS_1