
Mobil Van dengan logo TTV begitu mencolok, melaju memecah kepadatan jalanan ibukota saat malam mulai menjemput alam. Tak perduli seberapa padatnya jalanan ibukota, Van itu melaju dengan gagahnya. Terkadang bahkan, sang supir terpaksa harus menerobos lampu lali lintas yang hanya sepersekian detik akan berubah. Demi kejar tayang dsn berita penting, nyawa pun mereka pertaruhkan.
Sementara saat sang supir pak Bakrie masih tetap fokus menyetir, sesekali menenggak minuman berwarna di dalam botol, tiga manusia super kepo dan gudang ilmu pengetahuan itu masih sibuk tepekur mengobrol asik membicarakan mafia besar yang namanya mulai redup karena termakan oleh jaman. Sedangkan Ardy kameraman kaum rebahan, masih setia di bangku belakang dengan mata tertutup dan suara ngorok bagaikan lantunan musik di dalam mobil tersebut.
Stella masih terus mencatat poin-poin dari ucapan Alisa di dalam notesnya. Dia begitu teliti, seperti tidak rela ketinggalan satu saja poin penting cerita yang membuat bulunya bergedik sekaligus rasa penasarannya terpacu.
"Jadi semua korban yang di bunuh baik ayah Judika maupun kakek Judika itu sama. Meskipun publik mengetahui mereka melakukan pembunuhan dengan berbagai macam metode?"
"Iyap. Jadi meskipun polisi bilang wah kepalanya di penggal nih, atau tubuhnya di potong-potong tapi cara menghabiskan nyawa korbannya itu tetap sama, yaitu menjerat lehernya dengan sebuah tali pancingan atau senar gitar. Menarik leher korban hingga kulit mereka terkelupas hingga nadi."
Mata Stella menyipit. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang amat sangat ketika mereka di cekik seperti itu.
"Juga mereka selalu mengambil jari telunjuk korban, dan menjadikannya sebagai koleksi. Waktu penangkapan Marco, tau ga, sih? Polisi bahkan menemukan berlusin-lusin telunjuk manusia di dalam kotak hitam dengan pita berwarna kuning. Di bagian penutup kotak itu, ada sebuah tanggal yang di duga sebagai tanggal kematian korban."
"Iya... Iya, kalau itu gue pernah dengar. Pernah ada juga, salah satu blogger yang buat konten bahas tentang itu. Di sana lengkap deh, bahkan sampai terkaitannya pembunuhan berantai 1996 sampai 1997 dengan mafia Abute." Ridwan menimpali ucapan Alia.
"Blogger? Siapa?" Stella mendekatkan wajahnya ke kursi pengemudi sebelah supir. Memegang kedua bahu Ridwan dan mengguncanginya.
"Ada. Pokoknya konten di YouTube dia membahas sesuatu yang di luar nalar. Kaya konspirasi, iluminasi, cerita pembunuhan gitu, dan lain-lain deh. Dia udah terkenal, bahkan subscribenya aja udah 8 jutaan."
Sepertinya Stella mengenali akun YouTube itu. Ya, setelah pulang dari meliput jumpa pers Reza, Stella akan mencari akun YouTube itu. Mendengarkan dan berharap menemukan fakta baru yang dapat ia kumpulkan sebagai data baru Reza untuk dijual kepada Big Boss. Kepalanya mengangguk. Sepakat dengan isi otaknya.
Tak terasa mobil Van yang di tumpangi Stella sudah berhenti di sebuah hotel bintang lima di kawasan Bogor, Jawa barat. Segera keempat jurnalis dan kameraman itu turun dari dalamnya. Bergegas memapah barang-barang bawaan dengan langkah tergopoh-gopoh.
"Dia serius mau jumpa pers disini?" Isi Stella bertanya.
__ADS_1
"Jangankan cuma nyewa buat jumpa pers. Beli hotel ini dalam waktu lima menit juga bisa." Ardy si kameraman kaum rebahan itu berujar, sambil sibuk memasang kameranya tepat di depan panggung yang sudah tersedia.
Stella duduk di kursi yang telah di sediakan. Menyalahkan laptopnya. Oh, sial dia lupa membuat daftar pertanyaan. Itu adalah hal paling utama yang harus jurnalis bawa dan tak boleh di lupakan. Uh, Stella mengerutu kesal pada dirinya. Melirik jam tangan yang melingkar indah di tangannya, mengecek apakah masih ada waktu untuknya membuat daftar pertanyaan yang akan ia ajukan kepada Reza nanti. Pasti, mereka pasti membuka sesi tanya jawab. Tidak mungkin, tidak.
"What cuma sisa lima menit? Ah, sial."
Melihat Stella kesal entah karena apa, Alisa yang duduk lehesan tepat di bawah panggung berkumpul dengan wartawan lainnya berdiri, berjalN mendekati Stella dan mengelus punggung gadis itu.
"Lo kenapa?" tanyanya dengan suara uang begitu lemah.
Kepala Stella mendongak, melihat pancaran wajah Alisa yang terlihat begitu cantik dan meneduhkan.
"Gimana dong, gue lupa bikin daftar pertanyaan?"
Alisa membuang tatapan. Kini beralih ke layar laptop Stella yang menampilkan world yang kosong melompong berwarna putih. Dia tersenyum, dan kembali mengusap lembut bahu Stella.
"Ya ampun, Sa iya ya kenapa gue ga kepikiran. Bentar gue tulis dulu pertanyaan-pertanyaan yang lo buat." Tangan Stella mulai bekerja. Mengetik dan menyalin semua daftar pertanyaan milik Aliya ke laptop miliknya.
Sedangkan di tempat yang sama, Reza terlihat begitu gagah dengan setelan kemeja putih berkerah, dan sebuah celana flanel berwarna biru tua, serta sepasang sepatu berwarna hitam mengkilap. Sementara Jones, tidak seperti biasanya. Asisten bermulut cabai itu, nampak tak memakai setelan jas yang biasanya sehari-hari ia kenakan. Lelaki itu lebih memilih kemeja sama dengan tuannya hanya berbeda warna, dengan di balut sebuah jaket kulit cokelat tebal dan sepasang sepatu kulit import dengan merek Chennel. Mereka nampak seperti seorang pangeran yang jatuh dan nyasar ke bumi. Siap memperlihatkan ketampanan dan kegagahan mereka di depan awak media, juga penjuru Indonesia bahkan dunia.
"Sir, apa kau gugup? Jika iya, biarkan saya membelikan coklat untuk kau makan." Jones berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan Reza yang sedaritadi terus bercermin.
"Bagaimana dunia malah mengejekku Jones?" tanyanya dengan nada kekhawatiran.
Jones memejamkan matanya. Menghela napas berat. Kadang dirinya binggung dengan sifat tuannya yang terkadang cenderung dominan, dan bengis, tapi terkadang bisa berubah seperti seorang artis yang tak rela imagenya jelek di depan khalayak. Bahkan terkadang dia bisa berubah dari bersikap begitu kasar, menjadi lelaki humoris atau bahkan manja seperti seorang bocah lima tahun. Sedari dulu, Jones memang meyakini tuannya itu bukan hanya mengidap penyakit psikopat, dan sadisme tetapi juga kepribadian ganda.
__ADS_1
"Aku malah berpikir, dunia akan memujimu karena telah berbaikan dengan ibunda anda, sir."
"Cih, ibunda. Terdengar sangat menggelikan sekali." Reza tak bisa menyembunyikan rasa jijiknya, saat mendengar Jones menyebutkan kata ibunda. "Bagaimana, kau sudah menghubungi Leo?"
"Sudah, sir. Tetapi tua Leo berkata, jika dirinya ingin bicara dengannya setelah jumpa pers. Katanya ada sebuah hadiah khusus untukmu dari dirinya dan tuan Rendy sebagai ucapan terimakasih."
"Huft baiklah. Kirim pesan kepadanya, aku akan segera menghubungi dirinya setelah acara selesai."
Jones menganggukan kepala mengerti. Segera, ia merogoh celana flanelnya, mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan untuk Leo.
Saat, ia selesai mengirimkan pesan kepada Leo. Seorang paruhbaya menghampiri kamar mereka. Masuk ke dalam kamar hotel tersebut tanpa permisi dan langsung berkata
"Ayo, semua awak media telah berkumpul."
Mereka berdua pun berjalan keluar dari dalam kamar hotel. Masuk ke dalam lift dan beranjak pergi menujuh ballroom yang telah di pesan.
Jones menahan laju Reza. Menahan pintu ballroom untuk selanjutnya mempersilahkan Reza untuk masuk. Reza berjalan dengan begitu angkuh, naik ke atas podium dan menatap satu persatu wartawan yang datang malam itu. Silaunya flash yang keluar dari jepretan kamera ke arahnya, membuat pandangan matanya sedikit agar kabur. Dirinya bahkan sesekali harus menyipitkan mata untuk menghindari lampu yang begitu menyilaukan matanya.
Dirinya terus memperhatikan satu persatu wartawan yang hadir di sana malam itu. Baik wartawan di depannya, yang duduk secara lesehan dan melanggar protokol kesehatan. Maupun wartawan yang duduk di kursi yang telah di sediakan dengan laptop mereka masing.
Terus pandangan menyapu semua wartawan yang hadir. Hingga matanya berhenti saat melihat seorang wanita berkaus hitam dengan cardigan peach menjuntai ke bawah, sedang tepekur dengan laptop dan jurnal kecil di mejanya. Rambutnya di kuncir tinggi, dengan meninggalkan anak-anak rambut yang menyembur keluar.
Wanita itu sangat cantik. Begitu amat cantik. Reza tak bisa melepaskan pandangannya dari pesona jurnalis itu apapun alasannya. Dia seperti sebuah magnet yang ditarik masuk ke dalam jurang pesona seorang wanita. Matanya berbinar-binar, ia menatap nanar jurnalis wanita itu sambil bergumam
"Aku akan menangkap mu kali ini, Nadila."
__ADS_1
TO BE COUNTINUE...