Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
S2: Menginap


__ADS_3

"Kita akan menginap di mana?" sambil memegang ponsel Reza dan melihat foto yang tadi ia ambil di London Eye Stella bertanya. Tanpa memalingkan wajah sedikit pun kearah Reza yang tengah duduk di sebelahnya di dalam mobil.


"Kita akan makan malam di apartemen ku. Setelah itu kau harus istirahat karena besok pagi-pagi kita menuju kota liverpool."


"Pagi butanya London adalah subuhnya aku tau."


Mata Reza memicing kearah Stella. Bukan takut, wanita itu malah tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih.


"Aku tidak salah kan? Di Indonesia matahari terbit pukul 6 bahkan terkadang pukul 7. Sedangkan di Inggris matahari terbit pukul 5 dan terbenam hampir jam 9 malam." Dia berkata sambil berpikir keras menjalankan kehidupan di Inggris nampak juga sulit. Mengingat porsi waktu siang yang lebih banyak di bandingkan malam hari. Pasti akan berdampak pula dengan jam kerja di Inggris yang makin di perlambat.


"Apa kita akan pergi ke liverpool menggunakan mobil?"


"Tidak, nona." Kali ini Jones yang menanggapi. "Saya tidak dapat mengantarkan anda dan Mr.Oxley ke kota liverpool."


"Lalu apa kita akan naik Rambo Rogers?"


"Rambo Rogers juga sedang di bengkel untuk mengupgrade sistem terbaru."


"Jangan katakan kalau aku dan dia akan naik kereta ekspres ke sana?" Diam-diam, Stella melirik Reza yang masih diam tak bergeming.


"Saya akan membelikan tiket kereta menuju Liverpool. Saya sudah memesan untuk satu gerbong penuh."


Terkejut, mata Stella membelalak.


"Satu gerbong? Memang siapa saja yang akan ikut?"


"Kalian berdua" jawab Jones singkat.


Hah, apa dia bercanda? Hanya untuk kami berdua mengapa dia harus membeli tiket satu gerbong penuh?


"Mr.Anderson bukankah itu terlalu berlebihan? Aku sungguh tidak masalah harus duduk bersama para penumpang lainnya kok."


Sejenak, Stella memang berpikir alasan Jones membeli satu gerbong penuh itu untuknya. Namun, sayang malu seketika melenyapkan moodnya yang sedang sangat baik saat asisten Jones berucap

__ADS_1


"Ini bukan untukmu, nona. Tetapi untuk Mr.Oxley. Kami tidak mau, beliau bertemu dengan orang lain dahulu sebelum masalah oxley general selesai. Kami takut nyawa Mr.Oxley dalam bahaya ketika menempatkan di hadapan publik secara langsung."


Huh, kalau begitu kenapa tidak sewa supir lain saja untuk menyupir ke liverpool. Dasar orang kaya terkadang jalan pikirannya tidak mudah di tebak.


Dalam perjalanan menuju apartemen yang di maksud Reza, Stella tak banyak bicara. Wanita itu asik berselancar di sosial medianya menggunakan ponsel milik Reza. Masa bodoh, batinnya. Siapa suruh ponsel miliknya di sita. Sudah tau kalau cewek sulit di pisahkan dengan yang namanya sosial media. Tak peduli, Reza yang duduk di sebelah memasang wajah cemberut. Stella terus sibuk, sesekali cekikikan membalaskan DM dari Arsilla.


@Arsilla_Maharani : Jadi bagaimana apa di sana enak?


@StellaSas : Enak. Tapi tetap rindu makanan warteg depan kantor.


@Arsilla_Maharani : Behh, kalau itu mah gak usah di tanya. Enak, murah yang terpenting porsi kuli gak pernah berubah. Btw, di sana lo ketemu bule ganteng gak? Kaya Harry cavill atau Tom Felton gitu?


@StellaSas : Banyak banget. Lebih ganteng dari mereka juga ketemu. Tapi sayang kebanyakan belok. Hahaha.


@Arsilla_Maharani: What the hell?! Seriously? Itu Inggris atau Jerman?


Tak tahan lagi melihat Stella yang asik di dunianya sendiri, Reza merebut ponsel miliknya dan langsung melemparkan pandangan mengerikan. Stella tertunduk dalam, menatap jari-jarinya yang saling bertautan. Dia bukan takut kalau-kalau Reza marah kepadanya. Dirinya justru sedang berusaha menahan tawa yang ingin meledak akibat chattingan bersama Arsilla tadi.


"Kau benar-benar, ya. Sudah puas ku ajak berkeliling setelahnya bukan mengucapkan terima kasih, malah asik dengan dunia mu sendiri."


Baru juga Reza hendak berkata lagi, di depan Jones sudah menginjak rem mobil hingga membuat mobil berhenti di sebuah apartemen mewah di kawasan perumahan elite Chelsea.


mendengus kesal sambil merapihkan kera kaosnya, Reza membuka pintu mobil dan keluar dari dalam sana meninggalkan Stella. Cepat, Stella segera menyusul. Berjalan dengan tergopoh-gopoh mengikuti langkah kaki Reza yang begitu cepat dan lebar seperti jerapah.


Jones hanya tersenyum geli melihat tingkah bosnya itu. Sambil melihat punggung keduanya yang berlahan menghilang di balik pintu lift dia berkata dalam hati, "Akhirnya anda segera akan merasakan apa itu bucin."


"Kamu marah, Za?" Tertatih dan beberapa kali nyaris tersandung Stella berusaha menyamakan langkahnya dengan Reza. Namun, seperti menghindar lelaki itu secara sengaja mengambil langkah yang besar agar Stella tak dapat menyamai langkahnya.


"Astaga. Dasar orang kaya, selain punya kebiasaan aneh dengan naik kereta membeli tiket satu gerbong penuh, ternyata memiliki sifat baperan." Sambil menghentakkan kakinya, Stella bermonolog.


Berdiri mematung di dalam lift, dalam hati Stella bersumpah serapah melihat sikap Reza yang berubah drastis tidak seperti tadi. Sesekali wanita itu memberikan kode sebuah tarikan napas, atau dengusan besar agar lelaki kaku seperti kanebo kering di sebelahnya peka dengan keberadaannya di sana. Namun, dasar memang kulkas dua pintu yang memiliki sifat alami dingin seperti bongkahan es batu, hingga pintu lift itu terbuka pun Reza tetap diam bergeming tak memperdulikan Stella yang dia tahu sedaritadi mencuri-curi pandangan ke arahnya.


Ketika pintu lift sepenuhnya terbuka, Stella tercengang, berdiri tepat di tengah ambang pintu lift kala melihat tak ada koridor apapun di depannya seperti kebanyakan apartemen lainnya. Hanya ada sebuah pintu ganda hitam di sebelah kiri dengan di atasnya bertuliskan Mr.Lennon si pemilik apartemen tersebut.

__ADS_1


"Apa kau menyewa apartemen ini untuk kita bermalam?" Menarik lengan baju Reza, berharap lelaki itu menjawab pertanyaannya.


"Ini apartemen ku." Sambil menekan sandi pintu, Reza tak mempedulikan Stella yang berdiri di depannya dengan tangan yang masih menarik kaos putih tulangnya.


Pintu terbuka, Reza mempersilahkan Stella masuk sembari berkata "Masuklah. Di dalam sudah ada bapak tua bau tanah menyebalkan yang sudah menunggu mu."


Hembusan angin menyapa Stella. Sebuah ruangan yang sudah di dekorasi begitu romantis menjadi hal pertama yang wanita itu lihat ketika kakinya sempurna melangkah masuk ke dalam apartemen. Sunyi, tetapi romantis adalah satu kalimat yang cocok menggambarkan ruangan yang begitu megah itu.


Lampu di ruang tamu itu di matikan. Diganti menjadi lampu-lampu kecil berwarna-warni dan lilin merah besar yang terbentang di setiap sudut alas ruangan. Ruangan yang semula menjadi ruang tamu, kini berganti fungsi menjadi ruangan makan yang begitu indah. Sofa yang menjadi duduk Reza tadi siang pun tak luput berganti fungsi menjadi meja makan besar dengan dua kursi yang saling berhadapan di ujungnya. Segala jenis makanan Western dan Asia khususnya Indonesia tersedia begitu banyak memenuhi meja makan.


Namun, tiba-tiba mata Stella terpejam, mencoba menghirup lilin merah yang ternyata adalah lilin aromatik yang menyegarkan. Dia tersenyum, merasakan getaran maha dashyat yang seketika menghantam tubuhnya. Tenang dan nyaman.


Matanya kembali terbuka, kala mendengar suara gesekan kursi makan di geser.


"Duduklah." Reza sudah berada di belakang kursi makan. Menyuruh Stella untuk duduk di sana dan memakan makanan yang telah dia sediakan.


"Terima kasih." Menerima kursi yang di geser Reza sambil tersipu malu.


Mereka duduk saling berhadapan, mulai menyantap hidangan yang tersaji dalam hening. Baik Reza maupun Stella memang tidak suka ngobrol dalam keadaan makan. Itu tidak sehat, kata mereka berdua.


Dan setelah selesai makan, Reza pun naik ke lantai atas untuk mandi dan bersih-bersih badan. Sedangkan stella memilih menunggu di rooftop depan. Dia berdiri di sana melihat keindahan kota London di balik kegelapan malam. Indah. Dengan lampu berkelap kelip dan berwarna-warni. Kepalanya pun menengadah, melihat ke atas langit sana yang di huni bintang-bintang indah.


Lama dia berdiri di sana, menikmati semilir angin sejuk sambil merekam dengan otaknya keindahan kota London. Dan saking menikmatinya pun tanpa sadar ternyata Reza sudah berdiri di sebelahnya. Memakai celana tidur dan jubah mandi tak tertutup. Membuat perut mirip roti sobek itu menyembur seakan ingin keluar memperlihatkan betapa atletisnya tubuhnya itu.


Stella menahan salivanya. Buru-buru, dia langsung membuang pandangnya dari Reza dan kembali menyibukkan diri merekam kota kuno indah itu. Tapi sialnya, perut sixpack milik Reza sudah mengambil alih pikirannya.


TO BE CONTINUED...


**Alhamdulillah sudah update lagi...


Semoga masih suka dengan cerita ini...


Sebelumnya Author berserta keluarga mengucapkan Minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin...

__ADS_1


Dan turut berdukacita dengan musibah yang sedang terjadi di Al-Quds... Semoga saudara saudara muslim kita di sana di berikan kesabaran dan kelapangan jiwa🙏🙏 #SavePalestine


[Jangan tanya author kapan up lagi karena author capek abis buat kue lebaran, mau menikmati suasana lebaran, dan kalian juga harus tau kalau isi bab 1 bab lebih dari 2000 kata. Hahaha capek mikirin idenya**]


__ADS_2