Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 33


__ADS_3

"Apa maksud kamu, bicara seperti itu Reza?" Suara Liliana tercekat. Menatap wajah dingin anak tertuanya itu lekat. "Aku jelas ibu kamu. Ibu yang telah melahirkan kamu."


Tiba-tiba suasana di ruangan itu memanas. Semua mata tertuju kepada anak dan ibu yang saling melemparkan pandangan dengan tatapan mereka masing-masing. Kecuali Stella. Yang tak berani mengangkat kepalanya, untuk sekedar melirik laki-laki yang telah menolongnya dari hinaan Liliana. Dia tau, siapa orang itu, bahkan sebelum Liliana menyebutkan namanya. Aksen bahasa juga bau tubuhnya, sudah begitu ketara oleh indra-indra tubuh Stella. Stella menghela napas. Memejamkan matanya sejenak sambil mengigit bibir untuk mengurangi rasa di dalam jiwanya. Ia seperti ingin meledak, berubah menjadi kepingan puzzle atau debu sekalian agar dapat menghilang dan tak berinteraksi dengan lelaki di sebelahnya itu. Dia amat begitu takut. Benar-benar takut dengan dosa-dosa yang telah ia lakukan kepada Reza.


Sementara Reza yang kini hanya mengenal Stella sebagai sahabat sekaligus orang yang juga memiliki hubungan dengan Joseph malah tersenyum dan melirik gadis sebelahnya.


"Kalau begitu saya beruntung tidak menuruni sifat sombong dan sok berkuasa seperti anda. Sangat menjunjung tinggi jabatan anda, hingga mampu menghina seorang gadis sederhana seperti dia." Mata Reza melirik Stella. Memberi kode siapa yang dirinya maksud.


"Kamu gak, nak siapa wanita ini. Tiga bulan lalu..."


"Menunggangi demostrasi mahasiswa, melempar sepatu kearah dewan rakyat saat berpidato. Bahkan melemparkan kata-kata kebencian saat sedang meliput salah satu menteri kabinet." Menyeringai dan merangkul bahu Stella.


Tubuh Stella bergedik ngeri. Saat tangan kekar itu menyetuh kulit bahunya. Rasa takut yang mendera pada dirinya naik berkali-kali lipat. Stella semakin ciut. Semakin menundukkan kepalanya lebih dalam lagi.


"Bukankah seharusnya anda bangga akan memiliki menantu jujur dan menjujung tinggi kebenaran sepertinya?" Menarik tubuh Stella hingga menempel pads dadanya. "Dia jurnalis yang berdedikasi tinggi dengan pekerjaannya. Rela mempertaruhkan nyawa demi menegakkan keadilan. Sangat jauh berbeda dengan orang-orang seperti kalian, yang menyebut diri sebagai wakil rakyat dan akan memperjuangkan hak rakyat justru nyatanya malah semakin menyengsarakan rakyat."


Liliana tercekat. Merasa terpojokkan dengan ucapan Reza. Memori-memori tentang, ia yang baru saja terlihat penggelapan uang kembali terputar. Tentang bagaimana, dia tergiur uang riba yang di berikan oleh salah satu rekan kerjanya di parlemen pemerintahan. Dirinya menyadari, jika ia salah satu wakil rakyat yang bukannya menjalankan tugas sesuai amanah dan sumpahnya, tapi malah mangkir dan melanggar sumpah itu. Liliana bisu, diam seribu bahasa. Tak tau lagi harus menjawab apa. Pandangan kini berpaling tak berani menatap anak tertuanya, tetapi kini menatap tajam ke arah Stella yang ia salahkan sebagi pemicu pertengkaran malam ini.


"Jika kalian sudah selesai dengan menilai hidup seseorang dan menghinanya. Lebih baik kita mulai makan malam, dan membicarakan surat perjanjian itu." Reza melepaskan rangkulannya, dan berbalik berjalan meninggalkan ruangan itu menuju meja makan.


Semua yang berada di sana seketika menghela napas lega. Saat tubuh Reza tak lagi menghilang. Mereka serentak menjatuhkan diri mereka lagi ke sofa dan segera meminum air untuk menenangkan diri mereka. Kecuali Stella, yang masih tetap berdiri diam membisu dengan bibir merahnya yang begitu kering. Lidahnya begitu keluh. Tulang-tulang pada tubuhnya juga seakan tak dapat di gerakan. Begitu kaku, hingga amat sulit untuk bergerak.


"Lo gak apa-apa, kan?" Judika menyentuh bahu Stella. Menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


Satu persatu orang-orang di ruangan itu pergi meninggalkan Stella dan Judika. Menyusul Reza yang pastinya telah menunggu untuk acara utama.


"Ma... Maafin gue yang gak bisa ngebe..."


"Gak apa-apa. Gak usah di pikirin, gue udah biasa dapat penghina seperti itu. Bahkan jauh lebih menyakitkan dari pada itu." Stella memaksa tersenyum. Berusaha menyakinkan Judika jika dirinya baik-baik saja, meskipun sejujurnya dia amat ingin sekali menangis.


"Abang lo baik. Gue pikir miliuner seperti dia..."


"Arogan, temprament, pendendam, juga jenius." Judika menyungingkan senyumannya. "Sifatnya asli dia."

__ADS_1


Stella berdecak. "Serius?"


"Kalau dia bilang, dia gak nurunin sifat nyokap gue yang sombong itu salah besar. Dia malah yang begitu mirip sifatnya sama nyokap. Dianya aja yang ga ngerasa dan terus merasa dirinya paling rendah hati di antara banyak miliuner di dataran Eropa."


"Tapi dia punya hak itu." Stella ikut tersenyum. "Dia punya jabatan yang bahkan ratu Inggris aja ga bisa miliki. Apalagi otaknya, Albert Einstein jaman now."


Judika menganggukkan kepala setuju. "Sekali lagi gue minta maaf, karena nyokap..."


Stella meraih tangan Judika. Menggenggammya erat dan kembali tersenyum. "Judi!" Menatap Judika dalam. "Gue bilang gak apa-apa. Gak masalah. Lupain aja. Ok."


"Ok. Sekarang kita ke meja makan. Kali ini gue janji bakal belain lo, kalau nyokap atau keluarganya yang lain menghina lo."


Stella tergelak. Membuat Judika menatapnya binggung.


"Keluarga nyokap lo. Keluarga lo juga Judika."


Judika tersenyum masam. "Bisa jadi."


"Udah-udah, ayo. Nanti kita di tungguin."


"Dia..."


"Inggit."


Jadi wanita itu adalah Inggit. Cinta pertama Judika yang telah berhasil membuat raga Judika tak ada di tempatnya selama kurang lebih 2.5 tahun. Dia cantik. Pantes saja Judika cinta mati kepadanya. Stella mengerucutkan mulutnya. Menendang-nendang kakinya samar, sambil memasang wajah tak bersahabat. Dan, tanpa Stella sadari dua pasang mata yang sedang duduk di kursi makan terus menatapnya penuh dengan arti.


"Halo, pasti kamu Stella?" Inggit wanita bergaun pastel cantik itu bangkit dari duduknya. Tersenyum hangat dan menjulurkan tangan berjari-jari panjang itu kepada Stella.


Dengan canggung Stella meraih jabatan tangan Inggit. Membalas senyum ramah Inggit, kemudian duduk tepat di depan Reza. Sementara Judika duduk di sebelah Stella. Mulai mengambilkan nasi dan lauk-pauk untuk gadis itu.


"Kamu mau makan apa?"


"Hah?" Kepala Stella menoleh menatap Judika binggung. Binggung tiba-tiba saja Judika memanggilnya dengan sebutan 'kamu'.

__ADS_1


"Iya. Kamu mau makan apa sayang?"


"Ah, a... Apa aja," jawab Stella terbata-bata. Sungguh, jujur saja jantungnya seakan ingin melompat keluar mendengar Judika memanggilnya sayang. Kini wajahnya pun bersemu, malu sekaligus bahagia mendapatkan jackpot seperti itu. Persetan dengan wajah menyeramkan Reza yang terus menatapnya penuh tanya, juga ucapan ibunda Judika yang telah sukses membuatnya sakit hati. Anggap saja ini imbalan, bukan? Untuknya bersikap sabar, menghadapi orang-orang kaya semena-mena seperti mereka.


"Jadi ini pacar baru Judika, ya?" Tiba-tiba seorang paruhbaya berkebaya maroon dengan sanggul tinggi berucap.


"Masih pacar. Masih bisa di tikung," jawab sinis Liliana, dan kemudian tersenyum hangat kembali kepada Inggit. Meraih tangannya dan mengucap pucuk tangan gadis itu.


Runtuh sudah kebahagiaan Stella dalam sekejap. Hatinya kembali sakit dan harus bersiap menerima lagi hinaan dan sindiran yang akan di lontarkan oleh orang-orang di sana.


"Buk, bisa ga si gak usah mulai nyalahin api?" Judika bertanya dengan nada kesal.


"Siapa yang ngalahin apa?"


"Mulut ibu tuh, gak bisa di kontrol. Niat kita makan malam ini buat nyambut kepulangan bang Reza, kenapa musti Stella mulu si yang di bahas?"


"Loh, katanya dia pacar kamu? Masa ibu kamu sendiri gak boleh si ngomong sama calon istri anaknya. Toh itu juga buat pendekatan, biar nanti kalau jadi istri kamu dekat dan bisa mengimbangi dengan kehidupan kami ini." Tak mau kalah paruhbaya berkebaya itu mulai menyerang Stella. Menatapnya dengan tatapan sarkasme dan tak bersahabat.


"Ngomong apa? Pendekatan apa yang nada dan berkatanya merendahkan gitu? Belum cukup omongan bang Reza tadi?"


Liliana diam tak menjawab, dia kembali melanjutkan makannya. Sementara paruhbaya berkebaya yang tadi memang tak ada di ruang keluarga, menatap binggung ke arah Liliana. Memberikan kode berupa tatapan mata, untuk memberitahukan apa yang sebenarnya tadi terjadi.


"Ia. Jangan bikin suasana makan malam jadi mencekam. Kita kan di sini buat merayakan penyambutan bang Reza." Inggit tersenyum menatap Reza. Namun, yang di tatap tak menghiraukan dan terus menatap Stella lekat-lekat. "Stella maaf, ya kalau mama ku dan tante Liliana buat kamu tersinggung."


Kepala Stella menoleh kearah Inggit dan mengangguk. Hanya seperdetik, sebelum ia kembali menunduk dan meneruskan makannya.


"Ngomong-ngomong sekarang kamu kerja di mana?" Tiba-tiba sebuah pertanyaan melesat dari mulut Reza. Membuat semua mata langsung memandangi dengan pandangan begitu horror.


Sementara yang ditanya malah diam seribu bahasa tak menanggapi. Seperti tak mendengar atau malah pura-pura tak mendengar. Judika yang melihat itu, langsung menyenggol lengan Stella. Membuat gadis itu menatapnya terheran-heran.


"Stella! Saya bertanya kepada kamu?" Reza mengetuk-ngetuk meja makan.


"Eh..."

__ADS_1


TO BE COUNTINUE....


__ADS_2