Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
S2: Menginap


__ADS_3

"Kau sedang apa?" tanyanya sambil menatap lekat Stella.


"Hanya berdiri memandangi kota London. Tidak setiap hari aku bisa melihat kota ini, suatu hari setelah perusahaan selesai dari masalah ini aku akan pergi ke Afganistan untuk dokumentasi krisis ekonomi di sana dan aku mungkin tidak akan pernah kembali lagi ke sini." Ada rasa bahagia sekaligus tak rela ketika Stella berkata demikian. Bahagia karena cita-citanya perlahan mulai terwujud, dan tak rela meninggalkan Inggris dengan keanekaragaman keindahannya termasuk Reza.


"Jika kau tak ingin pergi tetaplah di sini." Sahut Reza dengan suara lembut.


Stella menolehkan kepala memandangi wajah basah Reza, menelisik, mencari-cari sesuatu yang kali ini mengganggu pikirannya.


"Tapi jika kau tetap ingin pergi atas dasar kemanusiaan, ingatlah dan pulang ke sini. Karena kau sudah memiliki ikatan dengan ku."


Deg...


Apa ini? Kenapa dia berkata seperti itu? Jantung Stella seakan berhenti berdetak saat itu juga. Tubuh beku ketika telinganya mendengar pulang dan ikatan yang di katakan oleh Reza. Dia tak mengerti apa artinya, namun yang jelas dua kata ajaib itu sukses membuat hatinya bergetar.


"Aku menunggumu. Meskipun nanti mungkin aku tidak menunggumu di dunia, Stella."


"Apa maksudmu? Kenapa kau bicara seperti itu?"


Sebuah senyum simpul tergambar di bibir Reza. Jika seperti itu, Stella seperti baru saja terkena sebuah sihir yang membuatnya terhipnotis lupa dengan realita.


"Tak ada. Aku hanya bergurau. Yang jelas..." Sambil meraih tangan Stella, dan membuka telapang tanganya, Reza menempelkan telapak tangannya dengan telapak tangan Stella, memandangi kedua tangan yang saling bertautan itu sembari melanjutkan perkataannya, "aku menungu mu di sini. Di tanah Britania negara impian mu tinggal."


Hangat menjalar di sekujur tubuh Stella saat telapak tangan mereka saling bersentuhan. Di pandanginya lekat wajah yang beberapa bulan terakhir menjadi fobianya itu. Kembali mencari sesuatu yang begitu aneh membuat hatinya terusik.


"Lebih baik kau mandi dan bersih-bersih."


Stella tersadar dan langsung mengerjapkan mata dan membuang pandangan setelah lama memandangi wajah Reza dan malah ketauan oleh pemilik wajah itu. Dia seketika langsung memundurkan tubuhnya dan menundukkan kepala. Menahan malu yang amat sangat karena ketangkap basah sedang memandangi lqwajah Reza.


"Ba... Baik." Daripada dia salah tingkah, buru-buru Stella meninggalkan balkon dan bergegas naik ke lantai atas untuk mandi.


Melihat tingkah Stella yang malu-malu membuat Reza tanpa sadar terkekeh. Wajahnya yang cantik dan manis, begitu indah dan imut terlebih pipinya yang merah karena menahan malu.


Apa ini yang di rasakan Jones ketika bersama istrinya dahulu? Hatiku seperti ada yang menggelitik, hingga mampu ku tahan. Sial.


Dari dua kamar yang ada di lantai dua, kamar paling ujung dengan pintu ganda berwarna coklat kayu menjadi pilihannya.


Stella pun masuk ke dalam kamar itu, dan langsung berdecak terkagum-kagum setelah melihat betapa besar dan megahnya kamar tersebut. Kamar yang berdominasi putih dan hitam dengan barang-barang mewah dan branded penghuni kamar dengan raja king size itu.


"Woah." Langit-langitnya menjadi daya tarik tersendiri oleh Stella. Bagaimana tidak, langit-langit kamar itu bergambarkan dewa zeus yang sedang memegang tongkat saktinya dan menatap tepat ke arah ranjang. Dia pun penasaran dan mencoba berbaring di atas sana. Pandangannya langsung bertemu dengan dewa zeus yang melotot, membuatnya seketika kembali turun dan sambil tergedik.


"Apa dia tidak takut? Lukisan mata dengan petir itu menyoroti dan memandanginya kala tidur?" Berdengus, Stella lebih memilih kembali berjalan dan masuk ke dalam walk in closet.


Ruangan serba biru dengan di kanan dan kiri kaca lemari berukuran besar dan panjang menyerupai lorong menyambut Stella. Pelan, Stella berjalan masuk menelusuri lorong ruangan baju itu. Kedua tanganya bekerja untuk membuka satu persatu kaca lemari di kanan dan kiri. Memperlihatkan isi beraneka rupa macam jenis baju yang semuanya datang dari desain ternama di dunia.


Tak main-main, dalam lemari pakaian itu bukan hanya baju yang di peruntukan untuk Reza pakai saja yang tersedia di situ. Tetapi juga baju wanita lengkap dengan dalaman beraneka jenis dan size juga aksesoris yang hampir seluruh terbuat dari berlian dan emas.


"Dia benar-benar seorang Billoner." Tangannya mengambil satu baju tidur dengan celana panjang dan kaos lengan pendek berwarna navy.

__ADS_1


Setelah memilih baju, Stella segera mandi dan turun ke bawah lagi bergabung dengan Reza yang sudah duduk i temani dengan seorang kakek-kakek.


"Mr.Lennon perkenalkan ini Stella Sasmita." Reza berdiri dan memperkenalkan Stella kepada lelaki bernama Mr. Lennon.


"Hai." Tangan Stella melambai sembari tersenyum kikuk.


Namun yang di senyumi hanya membalas dengan tatapan datar seperkian detik sebelum kemudian menolehkan kepala membuang pandangannya.


"Jadi ini wanita yang membuat hidup seorang Casanova tak tersentuh menjadi jungkir balik tak karuan?"


"Hei." Mata Reza melotot kearah Mr.Lennon.


Stella yang mengerti arah pembicaraan mereka berdua kemana, hanya dapat menggaruk-garuk kepala yang tak gatal itu.


"Duduklah nona. Bergabung dengan kami," Ajak Mr.Lennon kepada Stella.


Stella pun beringsut duduk di sebelah Reza, dengan kaki saling menempel dan tangan di atas paha.


"Kau tidak perlu seformal itu kepada ku. Karena setua apapun umurku, status ku hanyalah seorang pelayan untuk ayah dari anak dalam perut mu."


"Baik."


"Aku ingin besok kau pergi untuk mengurus semua aset pribadi milikku yang berada di Italia bersama Jones." Reza berkata sembari menyalahkan rokok.


Stella sedikit beringsut menjauh. Karena tak ingin menghirup asap rokok yang dapat membahayakan janinnya.


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu. Panggil saja Stella." Sungkan dan jenggah, Stella protes dengan panggilan nona jurnalis. Cukup Jones, asisten pribadi Reza yang memanggilnya dengan panggilan itu.


"Maafkan aku. Karena seharian ini Jones membicarakan mu di kantor dan memanggilmu dengan panggilan nona jurnalis, aku jadi ikut-ikutan memanggil."


Stella terkekeh. "Aku memiliki salinan KTP. Tetapi itu ada di flat tempatku tinggal bersama dengan teman satu profesiku. Jika kau mau aku membawa yang asli." Berniat untuk mengambil, tetapi Reza sudah menghentikannya saat Stella hendak melangkahkan kaki naik ke atas.


"Biar besok pagi saja," katanya. "Kau pergilah tidur. Ini sudah malam," lanjutnya yang langsung di balas dengan anggukan kepala.


Stella pun meninggalkan kedua lelaki yang masih asik mengobrol. Masuk ke dalam kamar yang menjadi tempatnya tadi mandi. Dia langsung merebahkan tubuhnya di kasur besar bersprai putih, mengeliat, dan berguling-guling.


"Akh, rasanya nyaman. Ternyata menjadi orang kaya menyenangkan juga." Tiba-tiba kembali bangun dan mengelus perutnya yang masih rata. "Semoga kamu bisa menurunkan kecerdasan ayah kamu, ya nak. Tapi jangan sifat dan profesi buruknya. Cukup menjadi anak pintar yang dapat memanfaatkan kecerdasannya untuk membantu orang lain." Tersenyum, dia membayangkan betapa bahagianya jika anak yang dia kandung terlahir di dunia.


****


"Aku ingin kau memindahkan semua aset milikku di Sisilia kepada Stella." Reza berucap sungguh-sungguh kepada Mr.Lennon.


Tentu hal itu membuat Mr.Lennon memelototkan matanya. Bocah yang di dulu, dia kenal sebagai bocah dingin, introvert, dan tak berperasaan kini telah berubah menjadi sosok lelaki bertanggungjawab yang sedang merasakan cinta dari seorang wanita. Mr.Lennon tersenyum. Dalam diam, hatinya bergumam mengucapkan rasa syukur karena tuhan telah menurunkan mujizat kepada lelaki dingin dan kejam seperti Reza untuk merasakan apa itu cinta. Dengan jail, Mr.Lennon bertanya


"Apa setelah memindahkan aset pribadi mu, kau akan segera menikahi nona jurnalis itu, huh?"


"Tidak," jawab Reza cepat. Dia mematikan rokok beraroma mentol itu. Menenggak minuman beralkohol yang tersaji di atas meja sambil menengadahkan kepalanya. "Sampai kapan pun aku tidak memiliki komitmen untuk menikah. Meskipun ada wanita yang menjungkirbalikkan kehidupan ku."

__ADS_1


"Apa kau tidak waras? Nona jurnalis datang dari dataran asia. Yang mana adat istiadat dan agama selalu di prioritaskan. Jika kau tidak menikahinya, tentu itu akan menjadi aib untuk dirinya. Karena jelas sudah melanggar adat istiadat dan agama yang berlaku."


"Hei, come on. Kita buka hidup di jaman batu yang menyelesaikan semua masalah dengan menikah. Lagi pula meskipun Stella datang dari dataran Asia, pola pikir wanita itu sama seperti kita. Freedom. Komitmen pernikahan bukanlah satu-satunya impian hidup dia," komentar Reza dengan nada suara yang sedikit besar dan ketus.


"Kau berkata seperti itu, memang kau tau bagaimana perasan terdalamnya? Kau pun mengenalnya karena dia salah satu musuhmu. Dan beruntungnya dia terbebas dari hukuman mu karena mengandung janin yang tak di inginkan." Tak kalah ketus, Mr.Lennon mengeluarkan uneg-uneg di dalam pikirannya kepada Reza. Masa bodo lelaki satu itu akan tersinggung atau tidak.


"Janin yang tak di inginkan katamu?" Sambil memincingkan mata, Reza berteriak dengan nada tak terima.


Tanpa kenal takut dengan lelaki yang sudah dia kenal hampir dua puluh lima tahun itu, Mr.Lennon dengan santai berucap. "Pikirkan pakai otak mu. Tidak ada di dunia ini wanita yang mau mengandung dari lelaki yang tak di cintai. Aku yakin, Stella pun terpaksa menerima mu, karena janin mu saja. Makanya dia berkata kepadamu untuk tidak berpikir menikahinya semata-mata dirinya hanya ingin terbebas dari lelaki seperti mu."


Reza tak dapat menjawab perkataan Mr.Lennon. Tubuhnya yang semula menegak semangat beradu argumen dengan Mr.Lennon, berlahan mengendur dan lemas hingga tersender di senderan sofa. Reza berdecak tidak percaya. Dalam hati, dia bertanya sendiri; apakah benar, Stella menerimanya hanya karena bayi di dalam kandungannya. Bukan semata-mata ingin menebus dosa atau bahkan mencintai dirinya.


"Merenunglah kau. Aku akan meninggalkan mu." Berjalan menjauh, Reza benar-benar di tinggal pergi Mr.Lennon sendirian di ruang tamu.


Detik berganti menit, menit berganti jam. Di bawah sana, Reza terduduk di lantai dengan sebotol minuman beralkohol di tangannya. Wajahnya merah merona menandakan dirinya yang sudah dalam keadaan mabuk berat.


"Ternyata dia tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun kepadaku. Apalagi cinta. Dia datang hanya semata-mata karena janin milikku yang bersembahyang di dalam perutnya. Bukan karena rasa bersalah karena telah menyebabkan perusahaan ku hancur, atau mencintaiku." Terus bergumam sendiri, Reza mengerutuki sikap bodohnya yang memperlakukan Stella dengan manis penuh perhatian seperti seharian tadi.


Di lantai atas, Stella terbangun dari tidurnya yang lelap ketika merasakan haus menderanya. Dia segera bangkit dari tempat tidur dan melangkah kaki keluar kamar untuk mengambil air di dapur.


Kening Stella mengerut, ketika melewati lorong lantai dua yang begitu gelap. Tak ingin ambil pusing karena lorong lantai dua yang begitu gelap, Stella melanjutkan langkahnya menapaki satu persatu anak tangga turun ke lantai satu.


Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati di lantai satu ada Reza yang duduk bersumbu dengan botol-botol minuman beralkohol mengelilinginya. Lelaki itu nampak begitu berantakan, dengan celana tidur yang ia kenakan, dan jubah mandi putih yang terbuka. Sedikit memperlihatkan bagian tubuhnya yang atletis.


Rasa haus yang mendera Stella pun berganti was-was dan mual karena aroma alkohol yang menyeruak di indra penciumannya. Namun, meski mual Stella berusaha kuat untuk mendekati Reza. Dia bersimbu di depan tubuh Reza yang menyender di sofa. Meraup wajah lelaki itu dan menatapnya dengan pandangan cemas.


"Hei, kau tak apa?" tanya Stella lembut. Dia mengusap rambut hitam milik Reza berlahan. Menyentuh pipinya untuk melihat kondisi wajahnya yang sudah tak karuan.


Melihat seperti ada bayangan Stella di hadapannya, Reza terkekeh. Menunjuk Stella dengan tangannya yang masih memegang botol berisi alkohol.


"Wanita sialan itu ada di hadapan ku." Dia mulai berkata melantur.


"Reza, kau kenapa?" Stella yang masih tidak mengerti mengapa Reza mabuk seperti ini terus berusaha menyadarkan lelaki itu. Mengusap kepalanya dengan lembut dan meraup kedua pipinya ketika kepala itu tak mampu menengadah.


"Kau..." Belum selesai berkata tiba-tiba Reza ambruk dan pingsan.


Stella berdecak. Berdiri dan mulai berpikir apa yang akan dia lakukan kepada lelaki itu.


Kepalanya setengah menengadah. Memandangi anak tangga yang tinggi berselimut karpet merah. Tanpa berpikir panjang pun, Stella meraih tangan Reza mengangkat tubuh lelaki itu dan memapahnya naik ke lantai dua.


Susah payah Stella membawa tubuh kekar Reza itu hingga sampai ke lantai dua. Sialnya ketika tiba di lantai dua, pintu kamar yang berada di sebelah kamar Stella terkunci dan Stella sendiri tidak tau di mana Reza meletakkan kunci kamar tersebut. Dengan amat sangat terpaksa pun, akhirnya Stella membawa tubuh Reza masuk ke dalam kamarnya, membaringkan tubuh itu dan menyelimuti tubuhnya hingga nyaris ke atas kepala.


"Apa dosa mu sebanyak itu hingga badan mu berat sekali?" Cerecos Stella ngelantur dengan napas yang menggebu-gebu sebelum akhirnya ngeloyor pergi.


Namun, belum juga kakinya melangkah tiba-tiba sebuah tangan mencekalnya. Kepala Stella menoleh dan melihat tangan Reza yang menggengam tangannya. Baru juga Stella ingin melepaskan cekalan itu, tetapi Reza tiba-tiba saja menariknya hingga membuat Stella jatuh ke dalam pelukan Reza. Stella gelagapan. Berontak untuk berusaha melepaskan diri dari Reza. Sialnya, bukan berhasil kini tangan satu lagi milik Reza sudah mengunci sepenuhnya pergerakan Stella.


"Tidurlah di sini. Temani saya."

__ADS_1


TO BE CONTINUE....


__ADS_2