Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 31


__ADS_3

Mata Stella membelalak lebar. Sebuah getaran tanpa sengaja mengalir ke bagian tulang belakangnya. Menghantamnya menimbulkan rasa kaget, gusar dan takut bergabung menjadi satu padu. Saat tubuh kekar berbalut setelan jas hitam itu berdiri menantang pada pijakan anak tangga rumah utama, dengan terus menatapnya lekat. Sel-sel saraf pada tubuhnya pun bagai malfungsi, yang tak dapat mencerna lagi rasa. Bahkan  sakit yang seharusnya, ia rasakan akibat cengkraman kuat dua penjaga gerbang tak lagi terasa. Stella tergagap, gugup, dan tak mempercayai dengan apa yang sedang ia lihat di depannya. Seorang yang bisa dikatakan musuhnya saat ini, berdiri menantang tak jauh darinya dengan menatapnya tajam bak seekor serigala yang tengah menandai musuhnya.


Apa ini nyata?


Sedang apa orang itu di sini?


Apa ini mimpi?


Tetapi mengapa rasanya begitu nyata? Bahkan dirinya masih dapat merasakan terpaan angin malam ibukota yang menyapu kulit mulusnya. Tidak. Ini bukan mimpi.


Reza berdiri disana. Menatapnya, dan mengunci pandangan dengan raut wajah yang tak dapat Stella mengerti.


Apakah dia datang untuk menjemputnya?


Memasukkan ke dalam penjara yang ia buat untuk orang-orang sepertinya dan menyiksanya disana? Seperti apa yang ia dengar dari banyak orang mengenai penjara khusus Oxley yang begitu kejam, tak terawat, dan menakutkan?


Kepalanya menggeleng. Ia berusaha mencerna situasinya. Namun sia-sia. Rasa takut, gugup, dan shock sudah lebih dulu menguasai dirinya. Semua indra dan sel saraf-sarafnya beradu menyalurkan ketakutan pada darahnya. Mungkin, malam ini adalah malam terakhir untuknya dapat melihat indahnya dunia.


Masih terus berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya. Muncul seorang pria lain dari dalam rumah utama. Tak kala gagah, tampan, dan berkarismatik. Judika dalam kemeja hitam dan setelan jas maroon tak berdasi muncul dari dalam rumah. Sama menatapnya, tetapi dengan tatapan kaget juga bahagia. Ia tak memperdulikan keberadaan Reza di depannya, berlari dengan tergesa-gesa menghampiri gadis yang akan menyelamatkan dirinya dari perjodohan sialan itu.


"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan!" Mata Judika membulat kepada kedua orang penjaga gerbang.


"Ma... Maafkan kami, tuan. Kami pikir wanita ini adalah pengemis."


"Kalian gila! Emang ada pengemis pake dress kaya gue?" Ucapan tak sopan dari salah satu penjaga gerbang membuyarkan lamunan Stella. Dia menatap berganti penjaga gerbang itu, kemudian kembali menatap rumah utama. Tidak. Lebih tepatnya menatap Reza. Namun, saat matanya kembali lelaki itu sudah tak ada. Para pelayan yang berbaris pun sama menghilangkan. Beranda rumah utama sepi, hanya ada mobil mewah yang menjadi kendaraan yang dinaiki Reza terparkir disana.


"Lo kesini?"


Stella mengalihkan pandangannya menatap Judika yang sudah berdiri di sebelahnya.


"Gue pikir..."


"Gue minta maaf, dan makasih," potong Stella.


Kening Judika mengeryitkan binggung.

__ADS_1


"Makasih buat apa?"


"Buat di terima sebagai jurnalis di perusahaan TTV. Itu semua pasti berkat kedudukan lo, kan? Gak usah di perjelas. Makasih, ya."


Jujur saja, sebenarnya Judika tak mengerti apa yang di maksud oleh Stella. Apa hubungannya dia dengan keterimanya Stella sebagai jurnalis di TTV. Dia memang punya kedudukan khusus di kantor penerbit itu, dirinya juga ikut menginterview Stella kemarin, tapi untuk menentukan bakal jurnalis yang terpilih itu bukan tugasnya. Dan, Judika amat benci dengan bentuk kecurangan apapun.


"Lo kenapa, sih diam aja? Lo ga senang gue kesini? Yaudah gue balik lagi." Stella berbalik dan hendak berjalan pergi dari sana.


Dengan cekatan Judika meraih tangan Stella. Menariknya ke dalam dekapan dan memeluknya erat sambil memejamkan mata dan tersenyum. "Makasih. Makasih lo udah datang kesini. Makasih banyak." Dengan lembut Judika mengelus rambut Stella. Meletakan dagunya di atas kepala Stella dan mengeratkan pelukannya.


"Sama-sama," jawab Stella pelan.


Judika melepaskan pelukannya. Mencengkeram kedua bahu Stella dan menatap gadis itu lekat. Matanya berbinar, tak dapat di tampik jika ia benar-benar begitu bahagia dengan kedatangan Stella. Dia bagaikan dewa penyelamat untuk hidupnya.


"Kita masuk. Gue bakal kenalin lo sama orangtua gue." Judika berpaling dan melangkahkan kaki berlahan meninggalkan Stella.


"Judi!" Mulut Stella mengerucut. Ia menghentak-hentakan kakinya kesal menatap bahu lebar Judika.


Lelaki itu kembali menoleh, melongok menatap Stella binggung.


"Lo bilang mau kenalin gue sama keluarga lo sebagai pacar. Gue di gandeng juga gak. Malah di tinggalin. Gimana mereka mau percaya kalau gue pacar lo, yang ada gue malah dianggap pengemis kaya penjaga lo barusan."


Judika tertawa. Menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal, dan kembali menghampiri Stella. Meraih tangannya, dan menggenggamnya erat.


"Ayo pacar."


"Judi!" Pipi Stella bersemu merah. Ia merasa malu dan juga seperti melayang-layang di angkasa saat Judika berkata seperti itu. Mereka pun berjalan, sambil bergandengan tangan mesra memasuki rumah utama.


"Judi, barusan gue liat orang mirip sama miliuner Eropa..."


"Reza Pratama Oxley."


Deg...


Langkah kaki Stella terhenti tepat di depan pintu rumah utama. "Pratama? Lo kenal pemilik perusahaan persenjataan itu?"

__ADS_1


"Dia abang gue."


Mata Stella membelalak lebar. "Ma... Maksud lo? Gak... Gak mungkin. Lo pasti bohong kan. Dia orang ..."


"Gue tau ini mustahil. Tapi itu faktanya. Reza Eerste Oxley adalah abang gue. Abang kandung gue. Pratama adalah nama tengahnya. Dia ganti nama menjadi Eerste yang berarti pertama dalam bahasa Belanda, ya biar keren. Supaya menutupi indentitas aslinya."


Seketika tubuh Stella ambruk. Mulutnya tak berhenti ternganga karena penjelasan Judika. Dadanya bergemuruh. Darahnya berdesir hebat Stella benar-benar tak dapat lagi mengendalikan tubuhnya.


"Eh, lo kenapa?" Judika memegangi tubuh Stella. Menopangnya agar tubuh itu tak ambruk.


Ditatapnya wajah teduh nan menenangkan yang selalu mampu membuatnya nyaman. Ada rasa khawatir yang begitu mendera pada manik biru Judika, melihatnya tiba-tiba ambruk seperti sekarang. Entah apa yang terjadi pada Stella Judika tak mengerti. Tapi satu pasti, dia begitu amat khawatir.


"Lo gak apa-apa? Muka lo pucat banget."


Stella tergagap.


"Ja... Jadi Reza abang lo?"


"Ia. Lo kenapa shock begini sih?"


"Jadi, marga Abute itu?"


"Keluarga bokap gue dulu, sebelum nyokap gue cerai dan abang gue diangkat anak sama kakek tua kaya asal Inggris. Lo itu kenapa si? Kita kan udah pernah bahas ini. Kenapa lo kaya kaget gitu? Apa jangan-jangan masalalu lo ada hubungannya sama abang gue?"


"Hah?" Kepala Stella menggeleng samar. Masih dengan mengunci pandangan lekat.


Andai saja Judika tau bukan masalalu Stella yang berhubungan dengan kakaknya. Melainkan masa sekarang dan masa depannya. Apakah lelaki ini akan membelanya atau justru sama dengan sang kakak; menghabisi dan memenjarakannya seumur hidup?


"Lo mau pulang? Biar gue anter."


"Ga perlu. Gue harus bantuin lo. Ayo kita masuk ke dalam." Stella bangkit dan berdiri lagi. Membetulkan gaunnya yang agak berantakan, dan kembali menggenggam tangan Judika erat. Tak dapat di pungkiri kini dirinya di dera rasa gugup dan takut bukan main sebab akan bertemu dengan seorang yang hidupnya ingin ia hancurkan.


"Ready?" Judika menatap ambang pintu rumahnya, kemudian sekilas melirik Stella yang tangannya bergemetar bukan main.


"Yes, sir." Tersenyum dan melangkahkan kaki berlahan menyeimbangkan langkah Judika.

__ADS_1


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2