Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 59


__ADS_3

Yang baca part ini, pastikan mengingat part 48 di bagian awalan ya. Biar tidak binggung. Happy reading.


***


Temaram menyapa sepenjuru kota Roma, dingin menyapu kulit remaja itu di dalam mobilnya. Tak perduli berapa lama, Reza mesti menunggu sang ibu tiri. Dia akan tetap di sana apapun yang terjadi.


Di sebelah kursi pengemudi, sebuah kotak besar berwarna hitam dengan pita kuning terletak. Reza menyingkapnya. Membuka tutup kotak tersebut dan meletakanya di pangkuannya. Sebilah pisau tak terlalu besar yang begitu lancip tertidur rapih di dalamnya, juga sebuah kampak, dan kail pancingan panjang berwarna bening tergulung rapih sedikit bernoda merah. Manik biru indah terus menatap lekat perkakas yang entah akan berfungsi sebagai apa untuknya. Sesekali, dia menyentuhnya dan mengelus-elus dengan lembut.


Hingga sebuah suara cekikikan seorang wanita, membuat pandangan teralihkan. Reza kembali menatap pintu masuk apartemen tadi dan melihat sang ibu tiri keluar dengan pakaian yang berbeda. Sebuah gaun selutut tanpa lengan, juga rambut yang sedikit acak-acakan. Dia kembali mencium pemuda itu, dari pipi kening hingga tertahan cukup lama di bibirnya. Sebelum kemudian masuk ke dalam mobilnya lagi dan pergi dari sana.


Reza menutup kotaknya. Meletakkan kembali di sebelah kursi pengemudi dan segera menancapkan gas mobil untuk membuntuti ibu tirinya. Dia kembali ke rumah flat kumuh tempatnya menitipkan sih kembar. Tak lama ibu tirinya keluar dari dalam mobil, masuk ke dalam rumah flat dan kembali keluar dengan menggendong kedua bayi kembarnya. Samar-samar, Reza melihat wanita kumel yang ia yakini sebagai penjaga sih kembar menoleh ke arah mobilnya. Menatap mobilnya beberapa saat, sebelum kembali menatap Marinna. Menyentuh punggung gadis itu dan berbisik. Entah apa yang di bisikan olehnya. Tapi yang jelas itu membuat airmuka Marinna berubah. Bahkan setelah wanita kumal itu berbisik, cepat-cepat Marinna membawa masuk sih kembar ke dalam mobil dan langsung menancap gas meninggalkan flat tersebut.


Tak mau tertinggal jejak, Reza juga menancapkan gas mobil. Kembali melewati wanita kumal tadi yang masih berdiri di depan rumah flatnya dan memandangi mobil Reza. Reza tau sekarang, jika wanita kumal itu mencurigainya. Masa bodoh. Pikir Reza. Dia juga bisa sekalian memberikan hadiah kepada wanita kumal itu jika dia berani ikut campur urusannya.


Mobil itu kembali melaju begitu cepat. Balap membalap pun tak dapat di hindari. Meskipun usianya masih belia dan belum memiliki SIM, tak sulit untuk Reza mengejar mobil Marinna. Dia terus menancapkan pedalnya. Mengejar mobil Marinna yang kini telah meninggal kota Roma.

__ADS_1


Sial, bagi Marinna dan beruntung bagi Reza saat mobil mereka melewati jalanan sepi. Begitu temaram dan tak ada rumah warga di sekitar sini. Membuat Reza sekarang yang memegang kendali sepenuhnya. Dia semakin menambah laju kendaraannya, tak lagi mengekori Marinna kini malah mencoba mengejar dan menghadang mobilnya. Parameter mobil tua yang di kendarai Reza telah mencapai titik maksimal. Reza tak memperdulikan, dia yakin bisa mengejar dan menghadang sang ibu tiri. Dan, nyatanya benar. Tepat di persimpangan jalan yang kanan kirinya terdapat sawah terbentang luas, gunung yang menjulang tinggi dengan pengelihatan temaram, Reza dapat menghadang laju mobil Marinna. Ia berhenti tepat beberapa inci di depan mobil Marinna, hingga membuat Marinna mau tak mau menghentikan mobilnya.


Segera dia turun dari dalam mobil. Tak lupa membawa kotak hitam berpita kuningnya mendekati mobil Marinna. Suara tangisan bayi, langsung tertangkap jelas di telinga Reza. Tetapi, lagi-lagi remaja itu tak mempedulikannya.


Dengan kasar, dia memecahkan kaca mobil Marinna mengenakan Kampak. Beberapa kali, begitu kuat hantaman sampai kaca mobil hitam gelap itu hancur.


Prang...


Pekikan keluar dari mulut Marinna, ketika kaca mobilnya berhasil Reza pecahkan. Dia beringsut menjauh dari kursi pengemudi berniat meraih bayi-bayi dan melindungi mereka. Namun, sayang belum sempat Marinna meraih si kembar yang dia letakkan di bangku belakang sebuah tangan sudah menggenggamnya. Kepalanya menoleh dan mendapati sebuah wajah tak asing untuknya sedang melototinya.


Marinna berteriak, meminta tolong sambil menangis berurai air mata. Tetapi naas, usahanya sia-sia. Tak ada yang mendengar teriakannya di sana.


Reza mendorong tubuh Marinna hingga jatuh tersungkur tanah. Kemudian dengan ekspresi datarnya, ia menarik kail pancingan itu menyeret-nyeret tubuh Marinna hingga beberapa meter.


Marinna merasakan cekikan di lehernya begitu amat pedih. Bukan hanya dia tak dapat bernapas lagi, tapi ia juga merasakan melepuh dan sakit amat mendera di lehernya. Rasanya lehernya seperti ingin putus, karena tajamnya kail pancingan yang menjerat lehernya.

__ADS_1


Suara pekikan, rontahan yang semula begitu kencang berlahan-lahan mengecil bahkan nyaris tak terdengar lagi. Reza yang sedaritadi fokus menyeret-nyeret tubuh Marinna sambil mencekik lehernya tanpa mau menoleh sedikitpun ke arah ibu tirinya, kini berhenti. Melepaskan kail pancingannya dan menoleh.


Dia tersenyum saat manik birunya melihat ceceran darah menggenangi jalanan. Turun dan luruh dari leher Marinna. Kini pandangannya tertuju kepada Marinna, yang tergeletak bersimbah darah sekarat. Matanya mendelik keatas langit-langit malam kota Italia, dia seperti seekor ikan yang tergelepak di atas daratan.


Sebuah senyuman terukir di bibir Reza. Remaja itu kemudian duduk dan melihat kearah mana mata Marinna tertuju.


"Bagaimana, bu? Kau sudah melihat wajah ayah? Bagaimana keadaannya? Apa dia sehat, bahagia atau justru sengsara?"


Setelah berkata demikian, Reza kembali berdiri. Ia merentangkan tangan-tangannya untuk mengendurkan otot-ototnya yang tegang. Sebelum kemudian, ia menginjak kepala Marinna dan menarik rambut wanita itu hingga kulit kepalanya terlepas.


Reza merogoh sesuatu di dalam kantung jaket yang ia kenakan. Mengambil sebuah kotak hitam berpita kuning tapi dengan ukuran lebih kecil. Ia meletakkan rambut ibu tirinya di dalam sana, dan beringsut kembali jongkok di depan perut Marinna.


Kembali Reza merogoh kantung jaketnya, kini sebilah pisau keluar dari dalam jaketnya. Dengan senyum penuh kemenangan, Reza mengangkat tangan ibu tirinya mengiris jari telunjuk Marinna dan meletakkannya bersama di rambut Marinna di dalam kotak hitam berpita kuning.


Setelah puas menghabisi nyawa Marinna dan mengambil apa yang menjadi barang koleksi tradisinya. Reza berjalan kembali menujuh mobil Marinna. Mengambil sih kembar, dan langsung melemparkan bayi-bayi tanpa dosa itu ke hamparan sawah yang luar. Satu persatu bayi-bayi mungil itu dia lemparkan. Di lemparkan Seperti sedang melemparkan sebuah bola kasti.

__ADS_1


Dan, malam itu adalah pembunuhan pertama yang Reza lakukan seorang diri. Tanpa bantuan Joseph, orang kepercayaan ayah angkatnya sekaligus orang yang mengajarkan dia cara membunuh seseorang dengan kejam dan otak dari pembunuhan Marinna.


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2