
Mobil Jeep itu melaju meninggal halaman stadion, di dalamnya ada dua lelaki yang menjaga Stella dengan mengikat erat-erat wanita itu. Sedangkan Stella sendiri kini tak sadarkan diri akibat obat bius yang tadi di bekap kan ke mulutnya. Dia tepat tertidur dalam posisi menyender di kursi mobil. Sementara barang-barang yang Stella bawa, Reza sendiri yang meminta untuk di berikan kepada Jones asistennya.
Suasana di dalam stadion kembali senyap, ketika Reza memulai pidatonya. Douglas, Kate, bahkan Gwen begitu fokus merekam dan mencatat apa saja yang dikatakan oleh lelaki tampan di depannya. Mereka begitu amat fokus, saking fokusnya tak menyadari jika mereka kehilangan teman mereka sendiri.
Reza berpidato di depan para jurnalis yang meliput dan memberitakan live. Dalam pidatonya, Reza mengklarifikasi jika apa yang terjadi pada Oxley General ulah dari seseorang dari luar perusahaan. Dirinya berkata, jika ada musuh dari masa lalu Oxley general yang menuntut balas dendam dan menciptakan kekacauan seperti ini dengan memanfaatkan seseorang yang ahli dalam bidang Cyber. Dirinya juga berkata, akan segera memperbaiki semuanya, bertanggungjawab dengan kerusakan yang terjadi dan juga pasti akan bertanggungjawab dengan para korban-korban yang berjatuhan.
Namun, Reza bungkam saat satu jurnalis menanyakan keterlibatannya dengan sindikat kejahatan internasional dan organisasi-organisasi gelap di timur tengah. Dia juga bungkam kala di tanya perihal senjata yang Oxley General dirumorkan sebagai senjata pemusnah massal.
"Sepertinya hanya itu yang bisa saya katakan. Saya berjanji akan segera memperbaiki semua yang terjadi dan kembali seperti semula lagi. Jika ada pertanyaan yang lain, bisa rekan-rekan jurnalis tanyakan kepada asisten saya Jones Anderson." Satu kalimat penutup yang di ucapkan oleh Reza sebelum kemudian lelaki itu benar-benar turun dari atas podium.
Berjalan dengan angkuh dan tak memperdulikan sorak teriak para jurnalis yang terus melemparkan pertanyaan kepada dirinya perihal senjata pemusnah massal dan keterlibatannya dengan sindikat terorisme dan kriminal internasional.
"Kau sudah mencatat semua?" Kate menutup jurnal kerjanya.
"Sudah. Aku tinggal meminta foto yang bagus kepada, Stell..." Gwen menoleh ke kanan dan kiri baru menyadari ketidak adaan teman satu asramanya itu. "Kemana Stella? Apa kalian melihat, Stella?" Gwen mulai panik pasalnya tak ada sedikit pun jejak Stella berada di sana. Netranya menatap sekeliling lapangan guna mencari keberadaan Stella.
"Mungkin dia pergi ke kamar mandi," seru Douglas yang di anggukan kepala oleh Kate.
"Tidak mungkin. Dalam situasi sepenting ini masa dia pergi ke kamar mandi. Tidak mungkin sekali." Gwen merasa ada yang aneh. Pasalnya sejak Reza naik keatas podium, dirinya tak merasakan kehadiran Stella di sekitarnya. Namun, sialnya kedua orang jurnalis dari amerika itu tidak menggubris rasa khawatir Gwen. Masih berpikir jika Stella dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
"Come on, Gwen. Kita akan tertinggal rombongan." Kate meraih tangan munggil Gwen. Mengajak wanita itu untuk segera keluar dari area lapangan. Karena Douglas baru saja mendapatkan kabar dari rekan jurnalis yang sedang meliput di area luar stadion mengatakan, jika massa aksi bentrok oleh petugas keamanan dan memaksa masuk ke dalam area stadion untuk bertemu dengan Reza.
"Aku yakin Stella baik-baik saja. Mungkin malah dirinya sudah berada di dalam mobil menunggu kita." Lanjutnya.
Mendengar pernyataan Kate yang begitu menyakinkan akhirnya membuat Gwen mengenyahkan pikiran negatifnya tentang Stella. Dia beringsut, berjalan keluar area lapangan mengikuti Kate. Mobil iring-iringan yang membawa jurnalis pun keluar area stadion old Trafford, melewati para massa yang mengamuk melempari petugas keamanan menggunakan batu dan lain sebagainya. Kate, Douglas, dan Gwen yang melihat aksi itu langsung tak menyia-nyiakan kesempatan. Di ambil foto-foto para demonstran itu menggunakan kamera digital dan ponsel mereka masing-masing. Memotret kerumunan massa yang terus memberontak memaksa masuk ke dalam arena Stadion kebanggaan Manchester United.
Melihat massa yang semakin beringas, Jones datang menghampiri Reza yang sedang duduk mengistirahatkan diri di ruangan.
"Sir, sepertinya anda harus terbang menggunakan helikopter untuk ke luar stadion."
"Bagaimana dengan, Stella?" tak menggubris perkataan Jones, Reza justru balik balik bertanya.
"Jurnalis itu sudah di bawa ke Base scura."
"Yes, sir."
***
Mobil yang membawa Stella berhenti di sebuah kastil bergaya khas eropa. Tubuh lemah stella di angkat paksa untuk di bawa masuk ke dalam kastil tersebut.
__ADS_1
Kastil itu sebenarnya begitu indah, di bangun di atas lahan seluar 15 hektar kastil itu dulu milik keluarga kerajaan Inggris yang telah di beli oleh keluarga Oxley. Berdiri dengan bentuk melingkar yang di kelilingi pandang rumput hijau segar dan danau cantik di belakangnya, sejatinya kastil itu dahulu adalah bekas penjara Oxley general yang telah beralih fungsi sebagai markas anak buah Oxley general. Di dalam juga terkubur lebih dari 150 tahanan yang pernah di penjarakan oleh Reza di sana termasuk ayah dari Anne, istri Chris. Di sana juga, beristirahat dengan tenang Ayah baptis dari Reza dan Chris.
Meskipun telah berganti fungsi bukan lagi sebagai penjara, hawa mengerikan dan mencekam masih begitu terasa saat menginjakkan kaki ke dalam kastil tersebut. Ruangan yang masih beralas tanah dan berdinding batu dengan penerangan ala kadarnya, membuat kastil yang dulu pernah di jadikan tempat penyiksaan tahanan itu semakin bertambah menyeramkan.
Kastil itu juga di jaga ketat dengan teknologi super canggih. Dua puluh empat jam, para penjaga terlatih bergantian menjaga di posko-posko yang telah di bangun sekitar kastil. Alasannya tentu, untuk menyembunyikan sesuatu yang di sembunyikan oleh Reza di dalam kastil tersebut.
Tubuh mungil Stella di letakan di kursi kayu usang. Diikat erat-erat supaya wanita itu tidak dapat meloloskan diri sebelum Reza datang. Setelah menyakini tali yang menjerat Stella terikat dengan kuat, lelaki yang berjumlah 2 orang itu pergi meninggalkan ruangan gelap tersebut meninggal Stella seorang diri.
Pintu dikunci dari luar, dua penjaga dengan wajah garang di tempatkan untuk berjaga di ambang pintu dengan senapan laras panjang siap menembak siapa saja yang berani masuk ke dalam tanpa seizin mereka. Pandangan mata mereka awas mengawasi sekitar kastil, menjaga Stella hingga Reza tiba.
Setengah jam berlalu, akhirnya Stella sadar dari pingsannya. Matanya berlahan mulai mengerjap. Kepalanya terasa amat pening, mungkin efek dari obat bius yang tadi di bekapkan ke mulutnya. Saat kesadarannya berlahan mulai kembali, Stella menyadari dirinya tengah berada di ruangan asing gelap dengan tubuh terikat.
Apa yang terjadi? Kenapa aku disini? Melongok sambil memutar ingatan beberapa jam yang lalu.
Stella terperangah setelah otaknya mengingat apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Matanya langsung menerawang setiap sudut ruangan kastil berlembab dan gelap itu. Memeriksa jika tidak ada seseorang yang berada di dalam ruangan itu sedang memperhatikannya atau mengawasinya. Jujur saja, pasalnya tatapan menakutkan dari seseorang yang berdiri di sebelah Reza sewaktu dirinya sebelum di culik kini terngiang-ngiang di benaknya. Bagimana tidak, sosok yang berdiri di sebelah Reza pasalnya adalah sosok yang selama ini dia takuti dan hindari.
Stella bergeding ngeri membayangkan wajah seram milik lelaki itu. Berkali-kali, dia menggelengkan kepala mengenyahkan bayang-bayang menyeramkan dari otaknya.
__ADS_1
*Tidak... Tidak mungkin Abraham ada disini. Cyberfriend sudah musnah. Pasti aku hanya salah melihat.
TO BE CONTINUE*...