Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 81


__ADS_3

"Christopher?" Stella mengeryitkan dahi. Dia seperti nampak tak asing dengan nama tersebut.


"Ya. What? Apa ada yang salah dengan namaku?"


Melepaskan jabatan tanganya, dan mempersilahkan Chris untuk masuk ke dalam apartemennya.


"Tidak. Hanya saja aku nampak tak asing dengan nama mu. Chris." Memutar tubuhnya, menatap Chris dari atas hingga bawah sambil berjalan mundur.


"Dimana?" Mengangkat kedua tangan dan bahunya.


"Biografi Emmanuel Oxley."


Rahang Chris tiba-tiba mengerat. Entah mengapa, Stella tak mengerti tiba-tiba gurat wajah Chris berubah antara kaget, terkejut, dan marah.


"Are you ok, Chris."


"Ya. Aku baik-baik saja."


"Ok." Tersenyum. "Silahkan duduk. Aku akan mengambilkan mu sesuatu."


"Thanks you."


Segera, Stella meninggalkan Chris seorang diri di ruang tamu apartemennya. Dia beringsut menujuh dapur untuk menyediakan hidangan sebagai teman mengobrol mereka. Tak tanggung-tanggung, semua makanan yang berada di lemari pendingin dia keluarkan semua. Biskuit, ciki, jus, berbagai jenis permen, dan kue-kue kering.


Saat, dia menyiapkan itu semua di atas nampan entah mengapa ada sesuatu yang menggangu pikiran. Dia tau keputusan ini tak benar. Dia tidak tau siapa Christopher. Dia bukan hanya orang asing bagi Stella, tapi juga mungkin berbahaya terlebih dia adalah ketua dari Esocial.


Sejenak, Stella menyenderkan tubuhnya di meja dapur. Memandangi hidangan yang telah siap tersaji. Pikirannya berkelana di dalam otaknya. Entah mengapa, dia begitu percaya dengan Chris. Alasannya, dan juga kehadirannya. Meskipun, dia tak dapat menampik jika dirinya sendiri belum percaya kepada Chris. Dia orang asing. Benar-benar orang asing.


"Kau memiliki keluarga yang harmonis." Chris menunjuk sebuah foto keluarga yang berada di meja tv.


Stella menatap kearah mana jari Chris menujuk. Dia segera berdecak dan sedikit kikuk melihat foto keluarga yang sedikit kotor terpanjang di dalam bingkai kecil berwarna putih tulang, yang ia letakkan di atas meja tv.

__ADS_1


"Awh, ya." Menggelengkan kepala pelan dan menarik garis bibirnya keras. "Kau tau pribahasa 'jangan melihat sesuatu dari sampulnya?'"


Kepala Chris mengangguk. Saat ini, lelaki itu tengah duduk di sofa sambil menikmati hiburan dari televisi parabola yang di pasang Stella beberapa minggu yang lalu. Awalnya itu berfungsi untuk mengatasi rasa galaunya akan kehilangan Judika. Namun, itu tak berhasil karena Stella memang tak menyukai jenis hiburan apapun yang di tayangkan di televisi selain MCU.


"Ya."


"Ehmm, dan seperti itulah keluarga ku. Foto itu hanya sebuah formalitas, untuk menunjukkan kepada dunia kalau kami memiliki seorang keluarga." Meletakan nampan di meja kayu berkaca.


Sebuah garis senyum tiba-tiba muncul dari bibir Chris. "I no, Stella." Dia berdiri dan berjalan perlahan mendekati balkon tertutup dengan tirai berwarna putih. "Kau tak sendiri. Nasib mu sama dengan ku."


"Kau memiliki keluarga?" Stella mengigit bibir bawahnya. Sial, pertanyaan konyol macam apa itu. Jelas, dia juga memiliki keluarga. Kalau tidak lahir darimana dia?


"Aku minta maaf, bukan maksud ku..."


"Is ok, Stella." Chris memutar tubuhnya dan mencoba menyakinkan Stella jika ucapnya tidak menyinggung hati dia. "Aku mengerti. Memang tak banyak yang tau sebenarnya aku ini siapa. Hanya sedikit, bahkan mungkin bisa di hitung dengan jari tangan."


Kening Stella bertautan. Dia mencoba mendekati Chris, berdiri disebelah Chris, dan mensejahterakan tubuhnya. Mereka berdiri dengan diambang pintu geser balkon, melihat pemandangan malam ibukota dari atas sana.


"Dendam apa yang kau miliki kepada Reza... Uhm, maksudku Mr.Oxl..."


"What?" Stella menyibakkan rambutnya. Menyelipkan rambut yang menjuntai panjang itu ke belakang telinga. Mencoba menyakinkan pendengarannya. "Kau saudara..."


"Secara teknis, Reza adalah kakakku. Usia kami terpaut lima tahun. Dia tiga puluh lima tahun dan aku tiga puluh tahun."


Mulut Stella menganga. Matanya mendelik menatap Chris. Dia masih mencoba mengumpulkan kewarasannya, juga mencerna apa yang baru saja di ucapkan oleh Chris.


Saudara. Adik Reza. What? Stella benar-benar tak percaya dengan situasi yang ada di depannya.


"Kau adik Reza? I... Itu tandanya, kau... Kakak..."


"Ya, secara teknis aku kakak Judika." Menunjuk dirinya sendiri sambil menolehkan kepalanya menatap Stella dan tersenyum. Tersenyum dengan senyum yang di paksakan.

__ADS_1


Stella memutar tubuhnya menghadap Chris. Dia menatap Chris, dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Terkejut, oh ya itu sudah pasti. Bagaimana bisa adik sendiri ingin menghancurkan kakaknya. Satu pertanyaan itu melesat begitu saja di dalam benak Stella.


"Chris, dendam apa yang kau miliki kepada Reza?" Stella memiringkan kepalanya sedikit, menatap Chris dengan sorot mata tak sabaran menunggu jawaban darinya. "Ka... Kau adiknya. Mengapa kau mau menghancurkan dia?"


"Sederhana." Chris memutar tubuhnya. Berjalan kembali dan duduk di sofa. "Aku iri kepadanya."


"Apa? Iri?" tanya Stella semakin tidak mengerti dan penasaran ingin mengulik lebih dalam lagi tentang kemelut keluarga Abute dan Oxley.


"Ayah kandungku selalu menyalahkan ku atas kelahiran ku, Stella." Chris mulai bercerita. "Katanya karena aku lahir istrinya pergi meninggalkan dia dan membawa Judika. Dia juga menyalahkan atas apa yang terjadi kepada Reza."


Stella menyipitkan matanya.


"Memang apa yang terjadi kepadanya."


"Dia menjadi seorang anak pembangkangan, selalu membuat onar, dan pembuatan masalah dimana pun."


Stella menganggukkan kepala tak ragu. Dia paham itu, pasti sulit bagi Reza menerima kenyataan pahit itu dulu. Kedua orangtuanya bercerai, ibunya pergi meninggalkan dia membawa adiknya dan ayahnya memasukkan orang baru yang tak ia sukai menjadi bagian dari keluarganya.


"Tak ada hari, tanpa ayah tidak memarahiku. Terlebih dengan otakku yang sangat jauh di bandingkan Reza..." Sejenak Chris menghentikan ucapannya menghela napas dalam-dalam sambil menundukkan kepala dengan kedua tangan saling bertautan.


"Kau tau, meskipun dia sering membuat onar dan menimbulkan masalah dia adalah anak jenius yang Sisilia punya. Otaknya sangat brilian, tak heran jika dia di juluki Tony Stark Eropa."


"Dan kau iri dengan kecerdasannya?" Stella duduk di sebelah Chris. Duduk dengan jarak yang begitu dekat. Keduanya pun duduk dengan posisi yang saling berhadapan. Dengan sedekat ini, entah mengapa Stella merasakan ada sesuatu luka yang amat dalam pada diri Chris.


"No. Aku tidak iri dengan otak manusia, Stella. Dan aku bangga menjadi seorang dokter, hanya saja aku..." Menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku... Aku ingin mendapatkan apa yang Reza miliki dulu. Khususnya kebahagiaan. Aku sangat menginginkan itu."


"Tapi dia menyayangi mu, Chris."


"Ya, I no." Chris merubah posisi duduknya. Dia lebih mendekat kepada Stella, bahkan kaki-kaki mereka pun saling menempel. "Stella kau mengerti, bagaimana rasanya hidup ditengah masyarakat yang selalu menghina mu? Mengatai mu anak haram, tak tau diri. Setiap hari kau selalu di salahkan, di hina bahkan di cemooh. Tak ada yang baik dari dirimu, bahkan kelahiran mu saja tak di inginkan."


Chris memandang wajah Stella begitu lekat. Binar matanya menunjukkan kesungguhan dan kejujuran. Tak ada kebohongan dari mata hijau itu, dan Stella dapat merasakan itu.

__ADS_1


"Ku pikir, dengan di angkatnya aku menjadi anak tuan Emmanuel tak ada lagi batas pemisah antara aku dan Reza. Aku pikir tuan Emmanuel akan memperlakukan ku sama dengan Reza, tak membanding-bandingkan kami." Sesaat ia tergelak. Stella melihat ada setetes airmata yang tumpah. Namun, buru-buru Chris hapus. Tak ingin menampakkan jika dia terluka dan cengeng.


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2