Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 87


__ADS_3

Di luar gedung pusat Hartanto Grup, kini telah ramai di penuhi oleh para wartawan dan kameraman yang siap meliput pengangkatan sementara posisi CEO Hartanto Grup yang akan di pegang oleh Reza. Mobil-mobil dari pihak militer maupun kepolisian juga damkar di kerakan untuk mengamani gedung pusat Hartanto. Sudah dari pagi-pagi buta, gedung itu di sterilkan. Diamankan dari hal-hal yang tak di inginkan seperti dua bulan silam.


Saat mobil TTV tiba di halaman gedung pusat, ekor mata Stella sudah di suguhkan dengan pemandangan puluhan polri yang berbaris rapih memagari gedung Hartanto. Memasang kawat berduri dan menyiagakan lima anjing pelacak.


Dia berdecak tak percaya, dengan penjagaan yang sebegitu ketatnya di gedung pencakar langit itu. Dia bahkan membandingkan dengan keadaan demo di gedung DPR beberapa bulan lalu, yang kondisinya tak jauh berbeda dari itu.


"Ini kita mau ngeliput pengesahan CEO baru Hartanto Grup, kan? Bukan demo mahasiswa?"


Tanpa di duga, Alisya sudah berdiri di sebelah Stella dengan menenteng tas laptop di tangannya.


"Kayanya gitu, tapi apa musti sebegini hebohnya, ya?"


Mereka menolehkan kepala serentak bersamaan. Saling melemparkan pandangan beberapa detik, sambil mencoba mencerna kondisi yang ada di depan mereka.


"Sultan mah emang beda," gumam Alisya masih dengan memandangi Stella dengan eksepsi wajah sulit untuk di deskripsikan.


Kepala stell mengangguk mengamini.


Mereka pun berjalan menerobos masuk ke dalan gedung Hartanto Grup yang kini telah di padati wartawan dan juru kamera dari stasiun tv nasional maupun internasional. Keadaannya begitu kacau, bagi Stella. Amat ramai dan bising lobi yang biasa sepi dan hanya di lewati oleh karyawan resmi Hartanto Grup saja, kini begitu ramai dengan lautan manusia yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang tengah menyiapkan siaran langsungnya, ada yang masih sibuk menyusun daftar pertanyaan, ada yang sibuk dengan kameranya, ada juga yang sedang melakukan siaran.


Jujur saja, Stella merindukan suasana seperti ini. Ini sudah amat sangat lama sekali, dia tidak merasakan suasana seperti ini. Berjubelan dengan sekerumunan wartawan lain untuk meliput satu berita penting di negaranya.


Meninggalkan Stella yang masih berdecak dengan suasana yang telah lama tidak ia rasakan. Reza masih berdiam diri bergelut dengan pikirannya sendiri. Berdiri di depan jendela kaca besar, dan menatap ke arah halaman Hartanto Grup yang di penuhi barisan polri. Dan, sementara Jones terlihat juga berdiam diri tanpa berceloteh seperti biasanya. Menatap punggung lebar tuannya, dengan hati khawatir.


"Sir, apa kau baik-baik saja?"


Reza tersenyum hampar mendengar ucapan asisten.


"Apa menurutmu aku sebegitu menyedihkannya, Jones?"

__ADS_1


Kepala Jones menggeleng cepat. "Tidak, sir. Aku hanya... Hanya khawatir dengan keadaan mu. Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya."


Reza memutar tubuhnya. Meraih gelas yang berisikan anggur putih dan langsung menenggaknya hingga tandas.


"Memang sebelumnya aku seperti apa?" Melirik Jones yang langsung menundukkan kepalanya dalam. Tak berani menatap wajah Reza yang memancarkan tatapan dingin dan mengintimidasi.


"Maaf, sir bukan maksud..."


"Untuk apa kau minta maaf? Aku bertanya bukan kepada mu? Mengapa mesti kau harus minta maaf?"


Jones tak berani menjawab, dia diam tak bergeming menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Seorang miliarder sekaligus Mafia kejam, bengis, dan brutal seperti ku apakah akan mendapatkan cinta layaknya Judika?"


Entah pertanyaan itu, Reza tunjukkan kepada siapa. Apakah untuk Jones, atau dirinya sendiri. Dia nampak begitu tenang, kembali memandangi halaman Hartanto Grup dengan senyum sinis di bibirnya.


Jones tak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya atas ucapan Reza itu. Sungguh, apakah hanya karena acara makan malam itu membuat sikap Reza berubah total? Nampaknya honest tak mempercayai itu. Reza bukanlah seorang lelaki yang gampang berubah apalagi hanya karena lingkungan sekitar, lelaki itu amat sangat dingin, cuek bahkan minim empati kepada semua orang. Dia tidak mungkin berubah watak dan sifat sebegitu cepatnya. Jones yakin, jika ada sesuatu hal yang tengah menggangunya.


Kembali Reza tersenyum hambar. Memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celana bahannya.


"Tadi malam, otakku terus mengulang kejadian di bandara yang terjadi saat kita menjemput Judika. Kau tau?" Beberapa detik Reza menoleh dan menatap Jones, sebelum kemudian kembali berpaling menatap jendela kaca. "Melihat Stella menghambur mendekap Judika dan menangis di pelukannya, membuat hatiku menangis Jones..."


Kepala Jones menenggak. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Reza dan berdiri di sebelahnya.


"Wajah lelah Judika berubah seketika menjadi senyuman sumringah. Aku tau, dia merasa begitu bahagia mendapatkan cinta dari seorang wanita."


"Apa kau iri, sir?"


Reza tertawa hambar. Menertawakan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ya. Mungkin aku iri kepadanya. Selama tiga puluh lima tahun aku hidup, hanya satu impian besar ku yang selalu ku enyah kan dalam hidupku."


"Kehidupan mu sekarang, adalah mimpi bagi semua orang, sir. Lantas apa yang menjadi mimpi terbesar dari orang seperti mu?"


"Di cintai oleh seseorang wanita."


Reflek Jones menolehkan kepalanya. Mencoba mencerna ucapan yang baru saja di ucapkan oleh tuannya.


Apa aku tidak salah dengar?


Seperti dapat mendengar isi hati Jones, Reza pun berkata.


"Kau memang tidak salah dengar, Jones. Apa berdosa orang seperti ku menginginkan di cintai oleh seorang wanita?"


Jones diam tak bergeming. Menatap wajah Reza dengan binar mata yang mengasihani Reza.


"Melihat Judika di cintai Stella membuat ku berharap ada seseorang juga yang bisa mencintai ku layaknya Judika. Mengkhawatirkan aku saat aku tak ada kabar. Itu pasti sangat menyenangkan. Sebuah kebahagiaan yang tidak akan bisa di beli oleh uang-uang yang ku miliki."


"Aku mengerti keadaan mu, sir. Tapi..."


"Kau tidak mengerti keadaan ku, Jones," Dengan cepat Reza memotong ucapan Jones. Memutar tubuhnya menghadap ke arah asisten setianya itu.


"Kau tau, aku sedari dulu merindukan kasih sayang sang ibu? Di bawah hujan deras, sambil menuntun Chris di tengah pinggir jalanan Roma aku selalu berdoa agar Tuhan mengirimkan ibuku untuk menjemput aku dan Chris. Membawa ku ke sini, dan di perkenalkan menjadi anaknya. Di sayang dan banggakan layaknya Judika..." Sejenak Reza tergelak, menertawakan masalalunya yang kelam dan permintaan bodohnya kepada tuhan itu. "Namun, nyatanya hingga hujan reda tak ada seorangpun yang datang menjemput kami."


"Sir, kau adalah lelaki hebat yang pernah ku temui. Aku mengerti kau amat sangat merindukan kasih sayang seorang ibu, aku dapat merasakan itu, sir."


"Dan apakah aku berdosa, jika saat ini aku juga menginginkan cinta Stella untukku? Meskipun aku tau wanita itu adalah musuhku dan kekasih adikku? Cih," dia memejamkan matanya. Menyisir rambutnya yang acak-acakan itu mengenakan tangannya. "Wanita itu... Dia memiliki cinta yang besar dan tulus dan aku ingin memilikinya. Di cintai seperti dia mencintai Judika."


TO BE COUNTINUE...

__ADS_1


Jones yang menatap Reza dengan tatapan kasihan karena sepanjang hidupnya tak pernah mendapatkan cinta tulus dari seorang wanita.



__ADS_2