Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 28


__ADS_3

Malam beranjak pergi, membawa awan kelabu dan menggantinya dengan awan biru. Meskipun mentari belum datang menyapa, Stella sudah siap dengan pakaian khasnya; setelan blazer lengan panjang, dengan rambut yang di kuncir tinggi menyisahkan poninya yang dibiarkan terbentang begitu saja menutupi kening, membawa dua buah tas selempang yang berbeda ukuran. Yang ia lilitkan di bahunya menyerupai huruf X. Satu tas berukuran sedang, berisikan segala keperluannya mulai dari dompet, pouch make-up hingga ponsel dan jurnal kecil. Sedang tas satunya hanya sebuah tas serut kecil yang berisikan lembaran uang dua ribuan juga recehan, untuk para pengamen yang ia jumpai di jalanan. Tak ketinggalan juga, sepasang sepatu kets dengan kaos kaki super super pendek, yang hanya menutupi hingga mata kakinya. Selainnya merasa nyaman dengan kaos kaki pendek tersebut, ia juga dapat menghindari dari kata 'Alay' yang di sematkan oleh mulut netizen saat melihatnya memakai kaos kaki panjang, bak anak SD yang akan melakukan upacara bendera.


Pagi ini, ia siap berangkat mencari segala keperluan untuk acara makan malam nanti di rumah Judika. Mulai dari dress, sepatu, hingga tas Stella rela membeli baru agar terlihat menarik dan tidak membuat Judika malu di depan anggota keluarganya.


Setelah menyakini dirinya telah rapih, dengan langkah penuh percaya diri ia keluar dari kamar indekos. Melangkah menelusuri lorong rumah indekos berlantai dua itu, dan menghilang di balik pagar besi dengan penjaga satpam dua puluh empat jam. Tujuan pertamanya adalah singgah kesebuah butik ternama di kota Bekasi. Tepatnya berada di kawasan jati asih, Narogong. Cukup mengendarai ojek online dengan waktu tempuh tiga puluh menit saja, Stella telah sampai di tempat tujuan. Bukan sebuah butik besar nan mewah, seperti punya artis ibukota. Namun, cukup terkenal karena baju-baju yang di keluarkan begitu bagus.


Setelah lebih dari dua jam, memilah-milah baju yang cocok untuknya. Pilihan akhir jatuh kepada dress berwarna hitam selutut. Dress polos tanpa lengan, yang terlihat simple dan elegan. Kata perancangannya itu sangat cocok dipakai Stella yang memiliki kulit putih, dan tubuh mungil apalagi dengan kaki leher Stella yang bagus, pasti membuat siapapun akan terpukau. Selesai memilih dress, tujuan berikutnya adalah menyambangi pusat pembelanjaan modern yang berada di kota Bekasi, tepatnya di jalan KH Noer Ali. Ada tiga pusat pembelanjaan yang saling berdekatan di sana, dan semuanya Stella masuki satu persatu demi mendapatkan barang yang cocok untuk ia kenakan.


Ini memang kali pertama, Stella belanja seperti ini. Biasanya, ia selalu membeli baju online dan begitu jarang datang ke pusat pembelanjaan seperti itu. Hal itu, membuat Stella sedikit merasa binggung dan aneh. Di sana begitu ramai, meskipun pandemi sedang melanda. Orang-orang tak menaati protokol kesehatan, saling berdekatan bahkan berkerumun untuk memburu diskonan. Tak terelakkan memang, kebiasaan belanja para wanita. Jika sudah melihat harga diskon-diskonan pasti jiwa menghamburkan uang akan meronta-ronta pada diri mereka. Tapi itu tidak berlaku untuk Stella. Entah mengapa gadis itu tak memiliki selera dengan harga banting dari toko-toko itu. Bagi, Stella semua produk itu sama. Ga musti bermerek dan menunggu diskon, cukup beli produk yang dipakai nyaman Stella sudah merasa bersyukur dan bahagia. 


Pukul tujuh malam, Stella berdiri di depan cermin kamar indekosnya. Menatap dirinya dari ujung kaki hingga kepala. Cemas sesaat menghampiri dirinya, takut jika ia akan bertindak aneh-aneh yang mana dapat membuat Judika malu. Tapi, kembali ia meyakini dirinya untuk membantu sahabat karibnya itu. Hanya dengan cara ini, Stella dapat membalas budi yang telah Judika lakukan. Ia berharap, setelah ini perjodohan antara Judika dan Inggit di batalkan.


Sebuah mobil MVP berhenti di depan indekos Stella. Itu adalah taksi online yang ia pesan beberapa saat yang lalu. Buru-buru, Stella melompat keluar dari dalam kamar indekos. Berjalan dengan sepatu hills super tinggi menuruni satu persatu anak tangga. Beberapa penghuni kamar indekos lainnya yang tak sengaja berpapasan dengan Stella, nampak menoleh dan menatap Stella dengan raut wajah binggung juga aneh. Pasalnya, baru kali ini mereka melihat penghuni kamar indekos yang memiliki sifat introvert itu keluar dengan pakaian semi formal seperti itu. Terlebih dengan dress sebagus yang sudah tentu pasti mereka dapat menebak berapa harga yang di banderol.

__ADS_1


"Sesuai aplikasi, ya pak." Stella masuk ke dalam mobil taksi online. Mencari posisi duduk senyaman mungkin. Ia menghela napas, menatap ke jendela kaca mobil yang berlahan berjalan meninggalkan indekosnya.


Sepanjang perjalanan menujuh ke kediaman Judika, Stella terus menatap pepohonan yang berada di balik jendela mobil. Ia sangat menyukainya, mengingatkan akan sosok ibunya yang entah sekarang keberadaannya di mana. Stella berharap suatu saat nanti dapat bertemu dengannya lagi, dan hidup bahagia bersama tanpa harus menyakitkan satu sama lain.


"Ibu, apa kau pernah sekali seumur hidupmu merindukan aku?" Stella tersenyum hambar, sambil bersedekap. Menghangatkan tangan-tangannya dibawah terpaan dingin AC mobil.


Mobil tiba di sebuah rumah berpilar tinggi, nampak begitu mewah dengan pagar besi yang mengelilingi. Sejenak, Stella berdecak tak menyangka sahabat satunya itu, yang selalu terlihat seperti gembel memiliki rumah yang begitu mewah dengan penjagaan super ketat dan canggih.


"Mau cari siapa?" Seorang lelaki berpakaian serba hitam, berbadan tegap, dan berwajah menakutkan menghampiri Stella yang berdiri sambil menganga menelisik setiap sudut bangunan rumah berwarna cat emas dan putih itu.


Pria itu menatap lekat Stella.


"Jangan mengaku-ngaku. Tidak mungkin tuan muda Judika memiliki kekasih gambel seperti mu."

__ADS_1


Stella berdecak tak percaya dengan ucapan yang baru saja dikatakan pria itu. Memang apa yang salah dengan penampilannya?


"Saya benar-benar kekasih Judika. Kau gak percaya silahkan tanya langsung dengan Judikannya."


"Udah minggir sana. Jangan mengaku-ngaku menjadi kekasih tuan muda Judika, jika niatmu hanya untuk meminta uang kepadanya." Mendorong tubuh Stella hingga hampir terjungkal ke pinggir gerbang utama, sambil meleparkan dua lembar uang seratus ribuan.


Kesal dengan perilaku tak sopan penjaga gerbang rumah Judika, Stella menghampiri. Menarik kera baju yang pria itu kenakan dari belakang dan langsung meninju pipinya yang sedikit chubby hingga ia sempurna tersungkur ketanah.


"Gue ngomong baik-baik, lo malah nyolot si? Gue ini Stella. Stella Sasmita pacar Judika." Stella bicara menggebu-gebu sambil berteriak dan menujuk dirinya sendiri memperkenalkan nama dengan penjaga gerbang kurang ajar itu.


Mendengar ribut-ribut di gerbang depan dua orang pria dengan pakaian sama datang menghampiri. Memegangi kedua tangan Stella dengan erat. Stella memberontak, meronta-ronta berusaha melepaskan diri.


"Judika! Judi gue di luar. Judika Dwi Hartanto, keluar ih gue datang." Stella berteriak-teriak memanggil Judika untuk keluar. Namun, dua penjaga gerbang itu dengan kasar mengusir Stella dari sana. Mereka benar-benar tidak percaya jika gadis bergaun hitam sederhana itu adalah kekasih dari tuannya. Mereka menyeret dan memaksa Stella untuk segera meninggalkan kediaman Hartanto.

__ADS_1


Saat dirinya masih terus meronta-ronta dan memanggil nama Judika sambil di seret pergi menjauh dari sana. Sebuah mobil Rolls-Royce abu-abu metalik dengan kaca tertutup rapat dan dua mobil pengawal yang membututi berjalan melewati Stella, memasuki pagar besi menjulang tinggi itu dan berhenti tepat di depan rumah utama. Stella terdiam. Sama dengan dua penjaga gerbang lainnya yang masih setia mencengkeram kedua tangannya erat. Berlahan seorang pria berjas rapi turun dari kursi pengemudi, berlari membuka pintu penumpang. Stella bertanya dalam benaknya; apakah itu kakak lelaki Judika yang baru tiba? Namun seperdetik itu pula, matanya terbelalak kaget saat seorang pria turun dari kursi penumpang. Berdiri dengan angkuh sambil mengancingkan jasnya yang berwarna gelap. Matanya menatap semua pelayan yang berbaris rapi menyambutnya, memperhatikan satu persatu wajah-wajah itu, sebelum kemudian mata itu tertuju kearah Stella. Menatapnya dengan tatapan yang begitu dingin namun memikat hati.


TO BE COUNTINUE....


__ADS_2