
Tinjauan bertubi-tubi di layangkan dengan begitu keras kearah Jones. Dia beringsut, mencoba menjauh dari amuk sang tuan. Memang tinjuan itu tidak terlalu keras, namun tetap saja jika di tinjunya berulangkali rasa nyeri pasti terasa.
"Kau mau mati, ya? Dasar asisten ga ada otak," teriak kesal Reza.
"Maaf tuan, saya kan hanya berkata fakta dan ketakutan saya saja." Mengaruk-garuk tengkuknya yang tak terasa gatal.
"Sudah-sudah." Mengibas-gibas tangannya. "Cepat kau telpon Leo, dan cari tau siapa Big Bos. Kirim pesan dari Joseph ke emailku, biar nanti aku urus sendiri mengenai jurnalis itu."
Jones menatap heran kearah Reza.
"Lalu anda ingin kemana, sir?"
"Menemuinya. Pasti dia belum pergi dari hotel ini." Meraih gagang pintu dan berjalan keluar kamar.
"Sir, ingatlah dia kekasih adikmu. Jangan menikung adikmu sendiri, nanti kau kena karma," teriak Jones sambil berjinjit dan mendongakkan kepala ke arah pintu kamar.
Jones menunggu jawaban sang majikan. Namun, Reza tak menjawabnya. Lelaki itu seperti sudah benar-benar pergi. Seketika wajah Jones terlihat muram. Di raihnya ponsel di dalam saku celana, dan mengetik-ngetik papan nomer. Ia menempelkan benda pipih itu di telinganya. Berjalan mendekati jendela hotel, dan berdiri di sana sambil berkacak pinggang. Tak lama, telpon pun tersambung. Terdengar suara berat dari seorang lelaki yang nampak terdengar baru bangun tidur.
"Halo."
"Selamat malam tuan Leo."
"Ada apa?"
"Katakan, jika kau merindukanku?"
"Cih, buat apa aku merindukanmu? Asisten kurang ajar."
Jones pura-pura terlihat sedih, dan menghela napas keras. "Padahal aku sangat ingin bertemu denganmu. Ingin melamar pekerjaan sebagai asisten pribadi mu."
"Hah? Apa aku tidak salah dengar? Kau di pecat Reza memangnya?"
__ADS_1
"Belum. Tapi akan di pecat!" Jawabannya begitu percaya diri.
"Kenapa?" tanya Leo tak sabaran.
"Kau tau tuan, beberapa hari lalu sistem Oxley General di bobol oleh seseorang, seseorang itu mencuri data pribadi milik tuan Reza. Walaupun alamat IP si peretas sudah ketemu, tetapi ada fakta lain yang mengarah kepada seorang wanita uhmm..." Memutar matanya. "Cantik, misterius, dan segudang prestasi sebagai dalang sebenarnya."
"Lalu apa hubungannya dengan kau di pecat?"
"Jadi wanita itu sekarang sepertinya berhasil menjungkirbalikkan hidup tuan Reza." Menutup mulutnya dan melirik ke kanan dan kiri memastikan tak ada Reza di kamar itu. "Dia jatuh cinta, tuan," lanjutnya dengan nada berbisik.
Gelak tawa begitu keras terdengar di sebrang sana. Leo, lelaki itu tak kuasa menahan gelak tawa mendengar ucapan yang dikatakan oleh Jones. Sungguh, ini adalah sebuah keajaiban seorang miliader dingin dan misterius seperti Reza akhirnya jatuh cinta juga kepada seorang wanita.
"Tunggu, jadi kau takut akan di pecat karena bos mu itu jatuh cinta?"
"Lebih dari itu, tuan?"
"Hah? Maksudnya?" Leo benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Jones itu.
"Masalahnya terletak pada, jika benar wanita itu adalah dalang sebenarnya pembobolan sistem Oxley General, aku takut tuan Reza akan stress dan menjadi frustasi dengan berakhir gila masuk rumah sakit jiwa. Karena, prinsip hidupnya dan tradisi keluarga adalah membunuh dan menghabisi siapapun yang berani merusak dan menghancurkan dinastinya."
"Hey, tuan dia belum gila, hanya hampir. Dan apa selama kau mengenal tuan Reza apa pernah dia memandang seseorang dari gendernya?"
"Ah, benar juga, sih. Dia bahkan pernah menusuk leher wanita mengenakan pulpen di depan ayahku." Sesaat Leo kembali teringat dengan kejadian tak terduga dari seorang pengusaha persenjataan itu.
"Dia bahkan pernah menyilet seorang jal*ng dan menuangkan alkohol di lukanya."
"Dia gila! Tuan mu sudah gila."
Jones tak menjawab, tapi tanpa sadar kepalanya mengangguk membenarkan ucapan Leo, yang mengatakan jika Reza gila.
Telpon yang seharusnya dituju untuk mengatur pertemuan antara Leo dan Reza, malah berubah menjadi gibahan yang di tunjukkan kepada Reza. Mereka seperti dua orang bodoh yang saling melemparkan komentar kepada seorang yang jelas-jelas memiliki riwayat penyakit psikopat.
__ADS_1
****
"Semua kacau!" Gerutu kesal Alisa.
Keempat jurnalis dan kameraman itu, berjalan beriringan. Menelusuri lorong hotel, dan masuk ke dalam lift. Raut wajah mereka begitu kecewa sekaligus kesal. Sia-sia mereka datang jauh-jauh ke Bogor, dengan membawa barang-barang sebanyak ini. Kalau hanya mendapatkan berita, jika Reza adalah anak dari Liliana. Huft... Mungkin bagi jurnalis dari penerbit lain itu adalah berita besar dan menghebohkan. Namun, tidak bagi keempat jurnalis dan kameraman berwajah lesu dan masam itu. Kabar itu sudah basi. Sebelum mereka datang kemari, mereka sudah terlebih dahulu mengetahuinya dari Marcelo.
"Lo gak apa-apa, Stel?" Alisa heran dan khawatir melihat Stella yang sedaritadi, memijat-mijat bahu dan lehernya. Wajahnya juga nampak pucat dan kering.
"Iya. Muka lo pucat banget." Ridwan menambahkan.
"Lo sakit?" Mata Alisa berbinar khawatir menatap Stella.
"Gak kok. Gue gak apa-apa. Kalian gak perlu khawatir." Stella tersenyum. Menyakinkan ketiga temannya jika dia memang tidak kenapa-kenapa. Meskipun, sebenarnya dia merasa begitu lesu dan demam.
"Gue ada vitamin. Lo mau?" tawar Ardy.
Stella tersenyum dan menganggukkan kepala. Mungkin dengan meminum vitamin, tubuhnya akan merasa baikan.
Dilihat, Adry merogoh kantong celana bahannya. Meraih sebuah vitamin c berkemasan kuning, dan langsung memberikan semuanya kepada Stella. Stella menerimanya. Kembali tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Pintu lift terbuka, segera keempatnya keluar dari sana. Bergegas berjalan keluar dari hotel dengan bawaan yang begitu banyak di tangan mereka. Stella mengendong ranselnya. Membawa tas kamera dan handycam di tangannya. Sama dengan Alisa, wanita itu juga mengendong ransel, dan membawa tas kecil di tangan kanannya.
Saat pintu otomatis hotel terbuka, sebuah suara bariton memanggil Stella terdengar. Serentak keempat berhenti, dan menoleh kearah sumber suara.
"Stella!"
Seorang lelaki berpakaian casual; kemeja putih, dan celana denim di lengkapi sebuah sweater rajut dan kacamata, berdiri sambil bersandar di meja resepsionis hotel. Melambaikan tangan sambil tersenyum kearah keempat jurnalis dan kameraman itu.
Alisa, Ardy dan Ridwan mendelikkan matanya, mulut mereka menganga, bahkan napas mereka tertahan karena kaget sekaligus tak percaya melihat orang yang memanggil Stella adalah Reza.
"Guys, itu Reza, kan?" Ardy berkata dengan tatapan mata lurus melihat sosok miliarder itu.
__ADS_1
"Iya!" Sergah Ridwan dan Alisa bersamaan.
TO BE COUNTINUE...