Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
Episode 37


__ADS_3

Suara bariton keras menggelegar di beranda rumah utama, Liliana mendelikkan mata menatap lurus ke arah anak bungsunya yang sudah berlari cukup jauh meninggalkan rumah utama sambil menarik tangan pujaan hatinya. Liliana mengepalkan tangan erat, mengeram kesal dengan kelakuan anak lelaki satunya itu.


Melihat Liliana kesal bukan main karena celotehan Judika, Inggit bangkit dari duduknya. Berjalan mendekati Liliana, dan dengan lembut menyentuh punggung paruhbaya itu. Mengusapnya, mencoba untuk menenangkan Liliana.


"Tante jangan emosi, ya. Tante kan tau gimana sifatnya Judika."


Lagi. Liliana menghela napas, memejamkan matanya mencoba mengendalikan emosi yang terus-menerus meluap-luap di dalam dada. Kesal, memang menghadapi tingkah Judika yang kelewat nakal, bandel, dan susah di atur. Terlebih mulutnya yang kadang kala selalu saja berceloteh dan tidak takut melawannya. Membuat hari-hari Liliana selalu di hiasi teriakan dan makian kepada anak bungsunya itu. Liliana sadar, sulit untuk merubah jalan hidup Judika yang bebas. Namun, Liliana percaya Reza dapat merubah Judika, meskipun itu pasti akan sulit.


"Ya... Iya." Liliana menganggukkan kepala samar. Tersenyum hangat kepada Inggit. "Tante sudah biasa ngehadapin mulut Judika yang gak bisa di jaga itu. Ayo... Lebih baik kita masuk, Inggit."


Mereka berbalik. Berjalan memasuki rumah utama lagi, dengan Inggit yang merangkul Liliana. Mereka duduk kembali, bersama Reza yang tepekur dengan tablet di tangannya. Lelaki itu nampak tak terpengaruh sedikitpun dengan kejadian barusan. Dengan adiknya yang berbuat ulah, atau dengan teriakan begitu keras dari mulut Liliana. Lelaki itu tetap diam, fokus entah membaca apa.


"Apa yang kau baca, nak?"


Kepala Reza menoleh, melirik Liliana beberapa saat sebelum kemudian kembali terbenam dengan tabletnya.


"Membaca aksi kamisan yang tadi Stella ceritakan. Itu sangat menarik."


Liliana menghela napas kesal. Memijat keningnya yang kembali terasa pening setiap kali mendengar nama jurnalis itu. Entah mengapa, wanita itu amat sangat tidak menyukai Stella. Mungkin, dia takut kejahatannya akan ketahuan oleh Stella, jika Judika atau keluarga lainnya dekat-dekat dengannya.


"Untuk apa membaca artikel tidak penting itu? Membuang waktu. Lebih baik kita bicarakan masalah kesepakatan kita kemarin."

__ADS_1


"Tidak penting?" Kening Reza mengerut. Ia mematikan tablet. Meletakan tablet itu diatas meja kaca yang berisikan cemilan dan minuman-minuman berwarna dengan rasa yang berbeda dalam jumlah cukup banyak. "Bukan kah anda seorang wakil rakyat? Dan bukan sepatutnya anda tau juga akan sejarah ini?" Menatap Liliana dengan pandangan biru menelisik.


"Ya, ibu memang seorang wakil rakyat dan ketua partai. Namun, menghapalkan sejarah seperti itu bukan tugas ibu."


Alis Reza terangkat. Dia berdecak tak percaya akan jawaban yang keluar dari mulut ibunya. Sedangkan Inggit, gadis itu tak berani ikut campur dalam obrolan antara ibu dan anak itu. Dia lebih memilih diam dan bungkam sambil menundukkan kepala dalam.


"Lalu bukan kah tugasmu, jika salah satu dari aksi itu menandatangani kalian dan meminta tolong kepada kalian untuk bicara dengan atasan kalian? Kalian bukan yang di sebut sebagai penyambung lidah masyarakat? Jika benar mereka tiba-tiba datang kepada orang seperti anda, dan orang seperti anda saja tidak tau bagaimana sejarah aksi ini, bagaimana bisa anda di sebut wakil rakyat? Membaca sejarah kelam negara saja anda tidak mau, bagaimana mau membantu kesulitan rakyat?"


"Baiklah... Baiklah aku mengalah padamu. Aku minta maaf. Lain hari aku akan membaca dan membantu mereka untuk bicara." Liliana menyerah dengan perdebatannya dengan sang putra sulung. Dia tau, jika dia melawan ucapan Reza takkan ada habisnya. Pasti ada seribu satu kalimat mematikan yang akan menikam Liliana terus. Lebih baik dia menyerah dan meminta maaf.


"Inggit, lebih baik kau pergi ke kamar. Ini sudah malam, aku rasa tidak pantas kau mendengar perdebatan aku dengan ibuku." Mata Reza menatap tajam ke arah Inggit. Suaranya terdengar begitu dingin, sama dinginnya dengan tatapan birunya. Buru-buru tanpa sepatah kata pun, Inggit bangkit, berdiri dan patuh dengan perkataan Reza. Ia berjalan cepat-cepat meninggalkan ruangan itu. Naik melewati tangga tinggi berwarna emas dengan karpet merah yang menjuntai dan menghilang di balik pintu kamar tamu yang letaknya tepat bersebelahan dengan kamar sakral milik Judika.


Mata Reza terus menyapu, mengikuti langkah kaki Inggit masuk ke dalam kamarnya. Knop pintu terdengar berbunyi. Reza sudah menyakini diri jika kini Inggit tak dapat lagi mendengarkan obrolannya dengan sang ibu. Bukan tanpa alasan, Reza melakukan itu. Untuk satu dua perihal obralan yang akan ia bicarakan dengan sang ibu memang cukup sensitif dan rahasia. Salah satunya adalah alasan dirinya menerima tawaran sang ibu untuk memegang kendali penuh Hartanto Grup selain karena ibunya yang kini sedang menderita penyakit mematikan.


"Aku akan melakukan jumpa pers besok sore, dan kau lakukan sesuai keinginan ku. Bungkam semua media, saat aku menyelidiki Joseph. Karena aku yakin, akan banyak korban yang berjatuhan di tangan ku."


"Kau tidak perlu khawatir, nak." Liliana bicara percaya diri. "Beberapa kantor media dan penerbit baik di ibukota dan luar kota kebanyakan di bawa kendali penuh Hartanto Grup. Termasuk kantor tempat jurnalis sialan itu bekerja."


Reza mendesah sesaat.


"Apa gadis itu seberbahaya itu?" Jujur saja, melihat sosok pribadi Stella yang tangguh seperti tadi Reza merasa sedikit khawatir. Apalagi mengingat masalalunya yang begitu luar biasa. Membongkar sindikat kejahatan cyber terkenal di negara ini.

__ADS_1


"Jangan pernah memandangnya sebelah mata. Untuk beberapa alasan jurnalis itu terlihat lugu bahkan polos, terlebih di dekat Judika. Tapi aku tau, itu hanya sebagai kamuflasenya menutupi sifat aslinya yang picik. Kau tau? Dia bahkan pernah membobol pertahan pemerintahan pusat, masuk ke dalam sistem dan mengacak-acaknya saat demostrasi mahasiswa beberapa waktu lalu. Dia mencuri semua data rahasia pemerintahan pusat dan membawanya ke KPK..." Liliana menjeda ucapannya sejenak. "Ibu harap kau berhati-hati dengan gadis itu."


"Kau tidak perlu khawatir. Aku memiliki Jones dan beberapa anak buah lainnya yang siap mati untukku." Berdiri dan meletakan dokumen yang tadi di bawa Jones. "Kau urus urusan mu sendiri. Biarkan sisanya aku yang mengurus. Untuk bocah itu, aku akan berusaha membuatnya berubah. Anggap saja ini kado terakhir ku sebelum kau benar-benar mati."


Kadang-kadang memang ucapan Reza terdengar begitu sangat menyakitkan hati. Tak perduli dengan siapa, ia berucap dia begitu mirip dengan Judika yang sama-sama memiliki mulut pedas.


Tanpa menunggu lagi jawaban dari sang ibu, Reza berdiri. Merapihkan jas mahalnya, dan mengancingi jasnya tersebut hingga membuat lekukan tubuh kekarnya terlihat jelas.


"Aku harap kau bisa sembuh. Lakukan kemoterapi atau metode pengobatan sejenisnya, agar anak bungsu mu itu tidak tersiksa karena kekangan hidup dari mu." Dia tersenyum. Menunjukkan senyum sarkasme tanpa sedikitpun terlihat bersedih melihat ibunya sakit. Kemudian Menepuk bahu Jones dan berjalan keluar dari dalam rumah utama.


Saat dirinya dan Jones keluar, Judika telah kembali. Dengan membawa sebuah kantung plastik yang entah berisikan apa. Sejenak Reza menghetikan langkah kakinya, menatap wajah adiknya itu lekat. Judika mengedus. Membuang mukanya tak suka melihat abangnya yang selalu menatap orang dengan begitu intens. Dan, jujur saja untuk beberapa alasan Judika masih terus berspekulasi negatif akan kehadiran abangnya ke sini. Ia meyakini ada sesuatu yang sedang Reza buru, atau masalah yang sedang menjerat dirinya hingga mengharuskan dia turun tangan sendiri dan mau merendahkan diri pulang ke kampung halaman ibunya.


"Jujur sama gue, apa alasan lo nerima jabatan itu? Perusahaan lo ga bangkrut kan?" Pertanyaan macam apa itu? Judika menggelengkan kepalanya. Bahkan lima Hartanto Grup saja tak cukup untuk menyaingi keberadaan Oxley General. Dan bangkrut? Oh, ayolah! Bahkan dua hari yang lalu dia baru melihat berita tentang Oxley General yang melakukan kerja sama dengan pemberontak di negara teluk.


"Daripada kau menelisik alasan ku berada di sini. Lebih baik kau urusi ibu mu. Dia sedang sekarat, lebih baik kau cepat nikahi nona jurnalis itu sebelum ibu mu mati."


"Dia ibu mu juga, sialan."


Reza menyeringai. "Aku tau, makanya aku berada di sini. Sudah minggir." Dengan kasar Reza menabrak tubuh Judika. Berjalan dengan angkuh memasuki Rolls-Royce. Sedangkan Jones, lelaki itu diam seribu bahasa sedaritadi. Tidak seperti biasanya yang selalu mengeluarkan ucapan savengenya. Hari ini, ia benar-benar terlihat seperti seorang asisten yang begitu patuh dan nurut dengan perintah Reza. Tanpa batahan ataupun perdebatan seperti hari-hari lainnya. Sikapnya juga sangat sopan, seperti lelaki itu telah mempelajari budaya sopan orang-orang Indonesia. Membungkukkan badan dan berjabat tangan mencium pucuk tangan orang yang lebih tua darinya. Termasuk kepada Judika sekarang, dengan penuh hormat Jones membungkukkan badan tersenyum tulus yang sudah ia latih sebelum-sebelumnya dan berjalan masuk ke dalam mobil.


Judika hanya termangu diam di tempatnya. Menatap nanar mobil yang berlahan pergi meninggalkan rumah utama penuh dengan pertanyaan di dalam otaknya. Sekarat? Apa maksud perkataan Reza yang bilang ibunya sekarat? Apa ada sesuatu yang di sembunyikan ibunya yang tidak di ketahui oleh dirinya? Sungguh, Judika mengerutuki dirinya sendiri. Mengapa, ia harus lahir di dalam keluarga super misterius seperti Hartanto dan Abute.

__ADS_1


TO BE COUNTINUE...


__ADS_2