
Stella mengerutu frustasi kepada Judika yang tak mau menjawab saat ditanyai lebih detail tentang marga Abute di belakang namanya. Sesuatu menghantam kepala Stella dengan keras, hingga menimbulkan bunyi dengungan di telinganya. Dia frustasi, shock sekaligus was-was. Beribu-ribu pertanyaan menyergapi, memenuhi isi pikirannya. Bagaimana, jika mereka berdua adik kakak? Oh, tidak! Stella tidak akan bisa membayanginya. Jika Judika adik Reza, itu berarti sama saja dia menghancurkan perusahaan keluarga Judika. Lalu bagaimana, jika Judika akan berbalik membencinya. Dia akan kehilangan senyum teduh dan menenangkan yang selama ini mampu menjungkir-balikkan dunianya.
Tidak! Stella menggelengkan kepala, menyakinkan diri jika Reza bukanlah kakak kandung Judika. Mungkin saja hanya kebetulan, atau bisa jadi jika Mr.Robinson sedang membodohinya. Kepalanya menganggukan, alam bawah sadarnya mencoba menyakini hatinya. Meskipun logika, tetap bekerja was-was dan takut dengan spekulasi-spekulasi yang muncul memenuhi otaknya.
Ia menjatuhkan diri di kasur tanpa ranjang di kamar indekos yang sudah ia tempati kurang lebih empat tahun. Matanya menengadah, menatap langit-langit kamar indekos yang sebentar lagi pasti akan di tumbuhi jamur karena telah termakan usia. Dalam hati, ia mendesah. Takut? Tentu. Terlebih yang sedang ia hadapi bukanlah preman pasar baru yang sering memalakinya, saat ia meliput berita. Atau gengster tanah abang, yang selalu menodongkan senjata untuk menakut-nakutinya. Ini mafia, benar-benar mafia kehidupan nyata. Bukan drama korea apalagi film Hollywood yang sering di bintangi aktor sekelas Vin Diesel atau Ben Affleck. Dia menghadapi seorang pria dominan, penguasa Manchester, dan pemilik perusahaan senjata yang tentu cepat atau lambat menemukan identitas aslinya. Uh... Seharusnya Stella berpikir beribu-ribu kali saat hendak melakukan peretasan itu.
Namun, jujur saja Ia tak tahan dengan kehidupannya yang begitu pelik. Ia ingin bangun, menjadi orang kaya yang bisa membeli mulut semua orang yang pernah menghinanya. Ingin memegang dunia di bawa tangannya seperti orang-orang besar berpangkat itu lakukan.
Stella bangkit, dan duduk di tepi kasur lantai lusuh acak-acakan seperti sudah lama tak di beresi. Matanya cokelatnya berbinar penuh percaya diri. Ia meraih laptop berlogo buah apel tergigit, dan langsung membuka.
Jemari-jemari lentik itu dengan lihai beradu argument dengan papan keyboard, hingga menimbulkan suara yang begitu merdu bagi pendengar dan pencintanya. Matanya begitu fokus menjelajah website asing yang orang normal mungkin tak dapat mengaksesnya melalui desktop biasa. Stella masuk ke dalam website aneh berlatarbelakang hitam, hijau, dan putih. Sebuah chat masuk, menyambut dirinya dengan nama pengguna BIG BOS.
Stella tak tau siapa BIG BOS, mereka hanya bertemu dan berinteraksi di dalam website itu. Tak pernah benar-benar saling bertemu secara langsung di dunia nyata, Stella bahkan tidak menyakini jika BIG BOS adalah seorang manusia. Stella hanya mengenalnya sebagai seorang yang akan membeli data Oxley General yang ia jual. Dia juga seseorang yang membantu Stella menemukan informan yang berkaitan dengan Oxley General. Termasuk Mr.Robinson. BIG BOS, bagi Stella begitu hebat dan luar biasa. Dapat mengetahui semua pergerakan manusia, masalalu atau apapun itu. BIG BOS, ada di manapun. Semua teknologi yang manusia pakai, ia dapat mengendalikan dan mengambil alih dengan mudah. Saat serangan Rootkit kemarin pagi saja, Stella di bantu oleh BIG BOS.
[BIG BOS: Selamat datang Stella. Apa kau membawa apa yang ku inginkan?]
[Dandelion666: Maaf. Tetapi aku mesti harus menyelidiki sesuatu tentangnya yang lebih penting. Beri aku waktu enam bulan untuk mencari informasi penting itu.]
[BIG BOS: Baiklah. Tetapi harga jual mu akan berkurang satu persen setiap bulannya.]
Stella memutar matanya, mencoba mencari solusi untuk melengkapi data Oxley General yang akan dia jual kepada BIG BOS. Cukup lama, ia berpikir, tengelam di dalam pikirannya sambil menyapu setiap inci dinding indekos kecil itu.
Hingga, ia menjentikkan jarinya. Sebuah ide tiba-tiba mengalir di otaknya. Ia segera mengetik membalas pesan dari BIG BOS.
__ADS_1
[Dandelion666: Aku akan menyelesaikan pesanan mu. Asalkan kau membantuku satu kali lagi.]
[BIG BOS: Apapun untuk data rahasia Oxley General.]
[Dandelion666: Bantu aku menemukan semua keturunan marga Abute dari Sisilia. Dan aku butuh uang untuk melanjutkan studi ku di Inggris.]
[BIG BOS: Akan ku carikan sesuai keinginan mu. Namun, aku tidak bisa memberikan mu uang muka sepeserpun sebelum kau menyelesaikan pesanan ku.]
****
Tv layar datar di sebuah kamar seluas kontrakan tiga pintu menyiarkan berita, Liliana yang meminta Reza untuk memegang kursi Presdir sementara Hartanto Grup. Sementara di sofa yang berada tepat di depan tv, Judika duduk dengan sebuah gitar di pelukannya. Baru saja sebuah lagu dari Coldplay selesai ia bawakan. Sambil matanya terus fokus menatap ke arah Tv layar datang di depannya.
Seringaian tak dapat, ia tahan saat sang ibu, Liliana mengatakan jika semua akan di konfirmasi oleh Oxley General tercipta. Entah, itu akan menyenangkan atau malah memperburuk keadaan sampai benar Oxley General akan mengambil alih kursi Presdir sementara Hartanto Grup. Judika tak memikirkannya. Malah bisa di bilang tidak mempedulikannya. Toh, selama dua puluh tujuh tahun dia hidup, tak ada sedikitpun keinginannya untuk mengambil alih perusahaan besar yang di bangun oleh ibunya dari rasa dendam kepada, Marco.
Ia mendongakkan kepalanya, melirik dari balik sofa kamar mencaritahu siapa gadis yang berani menganggu ketenangannya.
Seorang gadis bergaun rumahan berdiri diambang pintu masuk kamar Judika. Menatap Judika dengan tatapan mata yang begitu indah dan berkilau. Sedetik Judika mengunci pandangan dengannya, sebelum ia kembali sibuk memetik gitar akustik kesayangan.
"Kapan datang?" tanya dingin Judika.
"Dari pagi, pas kamu pergi kuliah," jawabnya yang diikuti langkah kaki memasuki kamar megah mewah, tetapi berantakan itu.
Gadis itu menjatuhkan dirinya di atas ranjang besar milik Judika. Merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk berseprei logo klub sepakbola asal Inggris.
__ADS_1
"Saya gak butuh di temani kamu. Saya sudah besar."
Gadis itu melirik Judika, lalu terkekeh. "Saya disini bukan mau nemanin kamu, kok."
"Lalu?"
"Menegaskan kamu, tentang kekasih dan posisi yang ditawarkan Tante Liliana."
Judika meletakan gitarnya dengan hati-hati di atas sofa. Kemudian bangkit dan berjalan mendekati gadis itu. Tangannya terjulur, menarik dengan kasar agar gadis itu bangkit dari atas ranjangnya.
"Saya gak suka kamu tidur disini. Ini bukan kamar kamu."
"Tapi akan jadi kamar kita nanti."
Judika mendesah, mengacak-acak rambutnya kesal. Jika sudah berhadapan dengan gadis menyebalkan dan tak tau diri seperti dia, rasa-rasanya Judika ingin sekali mati atau jatuh ke bawah kerak bumi lalu menghilang. Dia terlalu menyebalkan untuk diabaikan ataupun dilawan. Dan Judika sudah membuktikannya.
"Jangan mimpi kamu tinggal di kamar saya. Kamu boleh mendapatkan hati ibu saya, tapi tidak untuk hati saya."
"Berapa kali saya bilang sama kamu, Judika. Jika saya mencintai kamu." Tegasnya dengan suara lantang, dan napas terengah-engah.
Judika tersenyum masam. "Tapi saya tidak mencintai kamu. Saya sudah memiliki hati yang harus saya jaga, saya mencintai di..."
"Tapi dia tidak mencintai kamu, Judi. Stella tidak mencintai kamu!"
__ADS_1
TO BE COUNTINUE